Sunday, August 24, 2014

Cerpen Judul REL



  Rel
Dongkelan 1950,
                        THUUUT!..............THUUUT!
            Loko kereta diesel membunyikan semboyan tanda melanjutkn perjalanan. Gerbongnya hanya berjumlah dua dengan kursi seadanya dan sebagian besar berisi tumpukan barang milik pedagang. Kereta penumpang tersebut berfungsi ganda, jurusannya pun hanya beberapa stasiun yang dilaluinya.
            “Pagi sore pasti kita bertemu, piye gedangmu Dab, laris ora?” Berkata seorang penumpang lelaki gendut dengan peluh masih bercucuran.
            “Lah seanane Pak De, sing penting dodol kanggo nyambung urip,” Yang ditanyapun menjawab sambil duduk bersandar di dinding gerbong barang.
Kereta bergerak pelan menuju selatan, Masinis sudah mengangkat tanda berjalan kereta dengan meniup peluit.
                        GREK…… GREEK…..GREK….. JEZZ…….JEZZZ….
            Melajulah roda kereta mendesis karena berimpitan dengan besi rel. Ibarat diadu besi dengan besi, hanya saja satunya kecil memanjang sedangkan di atasnya besi melingkar membuat pergerakan gelombang barisan Aritmatika. Bisa dihitung dengan rumus sinus cosinus!
            Gerbong yang semula ribut karena calon penumpang masuk dan bercakap-cakap kemudian berhenti. Bunyi mesin diesel dan derak roda beradu besi rel membuat pekak telinga. Gerbong-gerbongpun bergoyang menimbulkan cicit bunyi tak berirama. Malaju pelan kemudian agak cepat sampailah sekitar sepuluh menit di sebuah stasiun kecil.
            Bergegas orang turun sambil menurunkan barang bawaannya.
            “Aku mudun kene Mas, kapan-kapan enteni maneh ya, matur nuwun!” Seorang Mbok-mbok berkata riang karena tujuannya sudah sampai. Seharian tadi di stasiun Tugu Ia menunggu dengan sabar karena jadwal kereta hanya ada pagi dan sore hari. Padahal jarak yang ditempuh hanya kurang lebih lima belas kilo meter.
            Uh tapi tak ada keluhan apa-apa dari mulutnya, kereta ini adalah satu-satunya penghubung antar stasiun di daerah sepi, jadi semua penduduk di beberapa kecamatan itu sudah harus bersyukur karena adanya kereta tersebut.
Lepas dari kereta ada sebuah andong yang menunggu penumpang sebagai penghubung tujuan penumpang. Kusir andong ini sengaja mangkal di depan stasiun menyesuaikan dengan jadwal kereta lewat. Kereta api itu sendiri tak bernama, PJKA menyebut sebagai kereta Feeder.
“Ayo Mbok cepat naik, simbok jadi orang terakhir yang turun di stasiun ini. Anak-anak simbok sudah menunggu dengan cemas gara-gara sudah tiga hari ditinggal di rumah.” Kusir andong itu berkata demikian karena mengenal perempuan yang turun dari kereta diesel.
“Piye putuku tak tinggal telung dina, pada rewel ora?” Kata si Mbok sambil menaiki andong bertanya yang lain.
“Magelang ramai nggak Mbok, mana oleh-olehnya?” Bukannya menjawab pertanyaan si mbok, malah kusir andong bertanya yang lain.
“Kotane ya ramai mas, seumur-umur nembe sepisan aku gutul Magelang. Gara-gara ne anakku entuk bojo wedok Mungkid.” Tak terasa mereka pun bercakap-cakap dengan kabar-kabar yang didapatnya sepanjang perjalanan kereta.
Sementara kereta membunyikan semboyan lagi tanda melanjutkan perjalanan yang tidak seberapa jauh itu. Mungkin sampai pemberhentian di stasiun teakhir sudah jam tujuh sore dan penumpang terakhir hanya tinggal operator kereta.
Sampai di stasiun terakhir loko dilepaskan dari gerbongnya dan kemudian dilangsir untuk ditempatkan di gerbang depannya lagi untuk esok harinya.
“Sudah selesai, ayo pulang ke rumah. Hanya kita saja penghuni stasiun ini.” Seorang yang biasa disebut Masinis kereta berkata menyudahi pekerjaan.
Sementara di stasiun kecil itu masih berjaga seorang Kepala Stasiun wilayah dengan membuat laporan melalui kabel telepon antar stasiun. Setelah itupun hanya lampu listrik yang menyala di dekat loko yang sengaja dihidupkan sebagai keamanan aset kereta.
“Huh selalu saja merinding badanku bila lewat kretek di Winongo itu,” Berkata Masinis membayangkan perjalanan sore itu. “Ingatanku selalu saja ada yang menakutkan di daerah itu,” Lanjutnya lagi.
“Iya sudah beberapa bulan kejadian orang mati ketabrak sepur kita. Tempatnya persis di kretek. Mungkin itu gara-gara orang menyeberang sungai lewat kretek, tak mungkin kita menghindarinya karena belum waktunya menurunkan kecepatan kereta.” Yang lainpun menambahkan peristiwa yang pernah terjadi di sekitar jembatan.
“Akupun ngeri bila ingat kejadian itu. Kepalanya copot menggelinding beberapa meter. Kita terpaksa minta tolong ke stasiun Winongo untuk mengurusi mayatnya.” Temannya menambahkan. “Jangan-jangan kepala copot itu sekarang jadi hantu gundul pringis!”
Merindinglah orang-orang tersebut membayangkan hantu-hantu menakutkan. Bergegas mereka meneruskan perjalanan kerumah dinas PJKA. Sebuah barak dengan isi beberapa orang karyawan PJKA. Setelah itu suasana sepi, daerah stasiun terakhir itu hanya terdiri dari beberapa kampung yang jaraknya saling berjauhan.
Itulah Palbapang dan Pajangan Bantul, stasiun terakhir tempat kereta diesel feeder melakukan tugasnya setiap hari. Jadwalnya pagi-pagi subuh menuju stasiun Tugu. Setelah itu sorenya jam lima sore dari stasiun Tugu kembali menuju Palbapang.
Bunyi binatang malam seperti jangkrik atau tenggoret di rumpun bambu masih begitu nyaring terdengar. Daerahnya berupa bulak sawah dan dukuh-dukuh terpencil. Bantul menjadi kota yang dianggap paling ramai karena adanya pasar, terutama hari pasarannya yang masih berpedoman Jawa Kuna.
Ada juga kebun-kebun tebu yang sangat luas. Tempat-tempat tersebut selalu identik dengan begal kriminal yang bisa tiba-tiba merampok orang yang lewat. Jarang orang berani keluar rumah melewati kebun-kebun tebu yang luas itu. Orang-orang di pedukuhan lebih suka bekumpul malam-malam di areal lapang saat terang bulan purnama penuh. Dunia terasa begitu luas di mata mereka. Pameo banyak anak banyak rejeki masih menjadi santapan harian. Begitu pula dalam bekerja selalu ada kata-kata alon-alon asal kelakon dll.
                                                == 00 ==
Sekarang!
Di sebuah kelas satu sekolah SMA di daerah Pugeran. Seorang guru mata pelajaran sejarah sedang menjabarkan sejarah nasional.
“Anak-anak coba sebutkan benda-benda di sekitar daerah Yogya yang mengandung nilai sejarah? Coba Kamu dulu Jo!” Langsung sambil bertanya sekaligus menunjuk seorang siswa.
Pujo yang ditunjuk celingukan. Orangnya sebenarnya ketahuan tidak meyimak kata-kata guru sejarah di depan kelas.
“Apa? Apa Bu Guru?” Kebingungan Pujo berkata membuat seluruh anak-anak kelas satu memandangnya.
“Ha Ha Ha !” Terdengar gelak tawa teman-teman Pujo setelah tahu anaknya ngiler ketiduran di bangku kelas.
“Payah Kamu Jo, begadang nonton bal-balan ya!” Seorang temannya semeja menepuk bahu Pujo yang jadi malu.
“Makanya tidur yang teratur Jo, ayo tunjukan benda-benda di sekitar daerah Yogya yang mengandung nilai sejarah!” Bu Guru melanjutkan pertanyaannya.
“Apa ya? Keraton Bu.” Jawab Pujo dengan sigap merasa pasti jawabannya benar.
“Itu salah satunya,” Bu Guru kemudian menerangkan benda-benda yang menjadi sumber rujukan sejarah. “Pujo coba Ibu bertanya lagi ya, mana lagi yang mengandung nilai sejarah tapi berada di sekitar sekolah kita?” Ibu Guru sejarah itu bertanya serius.
“Bekas stasiun Dongkelan Bu.” Setelah berpikir cukup lama Pujo menjawab.
“Huuh itu sih gara-gara Pujo berangkat dan pulang jalan kaki, pasti selalu lewat bekas stasiun itu!” Temannya yang lain berkomentar.
Stop! Stop! Anak-anak apa yang di jawab Pujo itu benar. Sebenarnya benda-benda bersejarah bertebaran di sekitar rumah dan sekolah kita.” Guru sejarah itu kembali memberikan materi pelajaran tentang berbagai peristiwa sejarah yang berkaitan dengan jaman perjuangan perebutan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kereta Api merupakan sarana transportasi yang penting, jadi jawaban Pujo banyak benarnya. Coba yang lain sebutkan jenis-jenis benda yang memiliki nilai sejarah.” Berkata Bu Guru menerangkan.
Maka siswa-siswa dalam kelas menyebutkan benda-benda yang memiliki nilai sejarah.
“Bagus semua sudah tahu atau pasti bisa menjawab. Nah tugas kalian masing-masing Siswa adalah membuat karya tulis tentang benda-benda bersejarah yang kalian sebutkan tadi. Ingat! Bikin semacam karangan yang cukup detil untuk menambah nilai kalian.” Akhirnya kata-kata terakhir itulah yang membuat Siswa kelas satu berkerut kening. Karya tulis yang tentu harus mencari berbagai rujukan sumber-sumber penulisannya, Tidak mudah!
Masing-masing sudah menjawab di depan Guru sejarah. Nah inilah tugas Pujo yang sudah terlanjur menjawab pertanyaan Gurunya dengan menyebutkan nama sebuah tempat.
“Huh sialan bagaimana caranya mencari rujukan tentang sejarah kereta api. Ini yang jadi obyeknya pun sebuah stasiun yang sudah tak terpakai lagi.” Membatin Pujo kebingungan.
“Langsung saja nanti pas waktu pulang sekolah.” Itulah tekadnya dengan beberapa rencana.
Lonceng berbunyi membuat anak-anak berseragam putih abu-abu segera berhamburan keluar gedung sekolah. Pujo pun berjalan kaki menuju rumahnya di Senggotan seberang sungai Winongo dari jembatan jalan Ring Road Selatan.
Beberapa temannya mendahului dengan membunyikan klakson sepeda motor atau bersuit minta lewat. Ada juga beberapa cewek yang berdiri di depan pintu gerbang sekolah mananti jemputan. Kalau yang sudah punya pacar segera janjian bertemu lewat SMS handphone.
Pujo yang tak punya kendaraan bermotor menelan ludah, terkadang iri bila melihat teman-temannya memegang handphone dan berkomunikasi dengan teman-temannya  yang lain begitu mudah. Pujo tahu di rumah seluruh keluarga hanya memiliki HP yang digunakan bersama, lebih banyak dipakai bapaknya yang punya usaha kecil-kecilan.
“Hei Jo, kalau jalan kaki jangan menunduk terus, kayak nggak punya semangat saja!” Itu pasti Retno suaranya perempuan berkata. Wajahnya biasa saja bahkan badannya agak gemuk kurang gerak. Memang makmur anak ini setiap hari bersepeda motor Mio kemanapun. Konon bapaknya seorang pengusaha batik sukses. “Jo ayo ikut mbonceng motorku, sampai di Ringroad pun cukup mengurangi capekmu,” Berkata Retno menawarkan diri.
“Nggak aku jalan kaki saja. Tuh si Roni melotot cemburu melhatku,” Menjawab Pujo menolak halus dengan menyindir Retno yang memang kata orang sedang ditaksir siswa lain kelas.
“Uh sombong apa minder nih, nggak pernah naik motor ya?” Retno tak sakit hati di tolak oleh Pujo atas tawarannya. Hari-hari memang ia biasa berboncengan dengan Roni yang mencoba memberi perhatian.
“Terimakasih Ret, lain kali saja ya. Aku nanti singgah di toko sembako beli telur sama gula untuk jualan penganan Ibuku.” Itu alasan Pujo untuk menghindari Retno.
“Ya udah, Aku pulang dululah.” Retno tak bisa apa-apa lagi. Ia segera menancap gas motornya untuk pulang kerumahnya di Niten jalan Bantul.
Pulanglah Pujo menyusuri jalan Bantul. Sebenarnya Ia punya tujuan untuk membuat karya tulis dengan pengamatan langsung.
Itu dia sebuah besi memanjang terlihat di ruas jalan Bantul JokTeng Kulon. Besi memanjang yang disebut rel itu tersembunyi di bawah aspal dan beton trotoar jalan raya. Besi-besi itu sudah sangat merana, orang-orang berjalan-jalan diatasnya sudah tak menyadari kalau itu sebuah situs sejarah. Mereka menginjak dan menimbunnya dengan berbagai bahan bangunan untuk menyesuaikan dengan trotoar dan halaman ruko maupun rumah di sepanjang jalan.
 Ah itukan tata kota Yogyakarta saja yang memiliki rencana lain. Ada beberapa benda situs sejarah terpelihara dengan baik seperti Pojok Beteng Kulon itu, bahkan sangat terpelihara untuk menjaga identitas budaya lokal. Nah rel itu sebenarnya salah satu benda cagar budaya sama dengan pojok beteng tetapi nasibnya terlantar.
            Pujo menyeberang perempatan dan menuju halaman masjid Pugeran. Dari sana terlihat pemandangan ke utara. Sebuah gang yang di perkirakan dulunya adalah jalan kereta api lewat menembus perempatan menuju Taman Sari. Hilang begitu saja terkena jalan, mungkin sudah terbongkar karena pembangunan sekarang lebih mementingkan kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor.
            Pujo berjalan ke selatan, harusnya ia berjalan di sisi kiri yang banyak bus jurusan Bantul, Samas, Srandakan mencari penumpang. Itu tempat ngetem mereka seolah-olah menjadi terminal tak resmi. Dengan berjalan kaki di sebelah barat Ia mencari jejak rel yang tersisa. Sebuah gereja berdiri megah, jelas sudah tua sebagai sebuah petunjuk dulunya itu pengaruh penjajah Belanda.
            Berjalan kaki sekitar satu kilometer benar-benar terlihat rel memanjang terutama di sekitar kampung Dukuh. Sebagian diantaranya sudah berdiri lapak PKL dan usaha warung makan bakso dan tambal ban. Rel-rel itu sudah tidak menyeramkan seperti waktu tempo dulu. Mungkin ketika kereta api lewat, jalan raya Bantul hanyalah sebuah jalan setapak.
            Eit nanti dulu, bukankah di Dongkelan terdapat masjid pathok negoro?
Masjid itu dulunya tentu ramai bahkan mungkin sebagai tanah perdikan memiliki semacam aturan sendiri biarpun masih tunduk pada kekuasaan keraton Yogyakarta.
            Berjalan kaki terus dipanas matahari menyengat membuat peluh bercucuran dan tenggorokannya kering. Pujo hanya menelan ludah saat lewat di depan warung kecil yang menyajikan es kelapa muda. Uang sakunya sebenarnya cukup untuk membeli, tapi tetap di tahannya rasa hausnya. Sebuah swalayan membuat Pujo terhenti memandanginya. Supermarket itu sama sekali tak ada hubungnanya dengan rel yang memanjang, yang bercerita bahwa daerah itu dibuka dengan perintis alat transportasi yang sudah ketinggalan jaman.
            Sampailah Pujo di sebuah stasiun yang sama sekali tak ada aktifitasnya. Pemkot Yogyakarta hanya memugar bangunan itu menjadi sebuah monumen bersejarah. Bangunan yang tak ada lagi rel memanjang di depannya. Bangunan kolonial ukurannya sekitar 3 *15 meter. Gaya bangunannya kentara sekali bikinan Belanda terlihat dari tingginya yang jauh berbeda dengan bangunan-bangunan orang kuno Jawa. Belum lagi jendelanya yang terlihat menyesuaikan tinggi dan lebar untuk udara keluar masuk. Tapi bangunan stasiun Dongkelan ini sudah dipugar dan dicat putih terpelihara. Beberapa lampu kuno terlihat di beberapa sudutnya biarpun itu bukan benda antik jaman dulu, hanya tempelan benda sebagai pemerkuat identitas bahwa itu dulunya sebuah stasiun.
            Dan yang jelas jika malam hari, eks stasiun Dongkelan ramai karena sudah disewa orang sebagai tempat semacam restaurant. Ya dari pada kososng melompong lebih baik disewakan asal tidak merubah bentuk bangunan kolonial tersebut.
Setelah mengamati cukup lama di bekas stasiun Dongkelan, Pujo melanjutkan perjalanan jalan kaki. Mungkin sudah jam setengah dua, matahari masih menyengat membuat seragamnya terasa kasap karena bergaram.
            Eh rel dan gudang, wah itu cap Gudang Garam!
            Dongkelan persis seperti itu, sebuah logo kota yang tersisa. Tidak menarik bahkan bila dikisahkan untuk anak-anak jaman sekarang. Tidak seperti Gudang Garam sebagai rokok yang terkenal tak peduli bila logonya itu sebenarnya hanya sebuah gudang garam yang kotor.
            Pujo mempercepat jalannya pulang, di beberapa lapak PKL sekitar Ringroad selatan terlihat rel sebagai besi terselip di dalam warung-warung yang menjajakan buah-buahan. Rupanya empunya warung dan orang-orang sekitar biarpun tak peduli dengan benda-benda tersebut tapi tahu bahwa situs tersebut di lindungi undang-undang.
Sampai di rumah di sebebrang jembatan kali winongo Pujo tinggal istirahat. Tekadnya baru dimulai malam hari dengan menulis pembukaan kata.
Kereta api feeder jurusan Tugu Bantul adalah perpanjangan dari jalur kereta api Semarang – Magelang – Yogya. Dulunya jalur tersebut didirikan oleh pengusaha swasta Belanda (Maskapai Transportasi Rel). Setelah itu menjadi milik Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Di dalam jurusan ini jalur kereta stasiun Tugu berlanjut ke stasiun Ngabean hinngga sampai stasiun Dongkelan. Semuanya stasiun kecil yang kurang di perhitungkan komesialnya.
…………………………..
Sampai di situ Pujo kebingungan,
“Entah masih ada berapa stasiun lagi menuju selatan setelah stasiun Dongkelan?”
Ini dia masalahnya, Pujo tak punya referensi apa-apa tentang perkereta apian di daerahnya sendiri. “Wah ternyata sulit membuat karya tulis ini, Aku salah mengambil topik pembahasan.” Kecewa Pujo jadinya.
Terbayang untuk mencari referensi ia harus datang ke stasiun Tugu dan bertanya atau meminta penjelasan dari karywan PERUMKA sekarang.
“Uh sebel tenan! Guru sejarah itu menjadikan aku konyol sekarang.” Pujo berkata seperti menyesali kecerobohannya. “Ah coba dulu dari surat kabar, mungkin ada artikel tentang kereta api.”
Pujo pun mencoba ke beberapa kios koran di sekitar jalan Bantul. Wah ternyata tidak banyak yang didapat. Dari beberapa koran bekas ia hanya mendapatkan artikel tentang kereta api jalur selatan Yogya Bantul yang wacananya akan dihidupkan lagi. Tapi dengan referensi yang ada cukuplah menambah beberapa kalimat karya tulisnya.
“Uh rupanya masih belum cukup nih, tulisanku cuma keterangan tentang wacana yang akan datang. Belum tentu itu bisa terlaksana. Aku harus melihat langsung keadaan di lapangan.” Pujo jadi berpikir terus agar karya tulisnya cukup memadai.
Bila lewat Dongkelan petunjuk satu-satunya hanya bekas stasiun yang menjadi ikon pasar tanaman agrobisnis dan pasar burung pindahan Ngasem.
Maka hari minggu saat libur rencananya bisa dilaksanakan. Cuma sayang tak bisa terlaksana pagi hari. Setengah hari ia terpaksa menunggui warung di rumahnya karena ibunya ada keperluan arisan RT.
“Bu aku main dulu ke rumah teman ya, tidak jauh kok cuma di Niten saja.” Berkata pujo minta ijin keluar.
“Niten ke rumah Retno kan. Ya boleh saja, kadang-kadang ibu ketemu lo dengan ibunya Retno di pasar Niten. Sugih juga temanmu itu ya!” Ibunya tak keberatan Pujo bermain, lagi pula kewajibannya sudah dipenuhi walaupun tadi pagi sepertinya harus bertengkar karena Pujo enggan melaksanakan perintahnya. Ibunya tahu kelemahan Pujo, asal ia yang cerewet bakalan kewalahan anak itu karena tak tahan omelannya.
Hi Hi Hi strategi mulut perempuan.
Berangkatlah Pujo jalan kaki dengan sandal jepit saja. Ibunya sempat berkata, “Hei pakai sepeda bapakmu saja Jo, capek kamu nanti di jalan!” Huh mulut bawel ibunya membuat Pujo tak perlu menjawab, langsung tancap pergi dari rumah.
Sampailah Pujo di perempatan Dongkelan, ia melihat ke selatan dari Pos Polisi lalu lintas. Ia merasa pasti dulunya rel kereta api berada di atas Pos Polisi tersebut. Terus berjalan seratus dua ratus meter, nah rel tersebut hanya tinggal sebelahnya tetapi memanjang menjadi semacam halaman dan semen beton beberapa lantai rumah dan toko. Ada beberapa rumah kuno yang mungkin usianya sama dengan rel itu terlantar kurang terawat.
Terus Pujo melangkah, sampai SD Jarakan rel tersebut masih terlihat dan kemudian ternyata masuk gang. Itulah dukuh Kweni sebelah kanan.
“Ini dia alur jalan kereta yang benar-benar tersisa, sekarang hanya terpakai sebagai jalan kampung.” Pujo benar-benar tertarik dengan apa yang dilihatnya. Terus dilangkahinya menuju gang yang benar-benar bekas rel, mungkin saat dulunya rel tersebut masih berfungsi bantalan rel masih dari papan kayu jati. Sekarang sih sudah jadi gang dengan cor-coran semen beton.
“Ini tanah Perumka, entah tanah ini masih dijadikan hak mereka atau tidak ya?” Pertanyaan Pujo tak ada yang menjawab, tapi nyata semuanya itu masih berbadan hukum. Yang benar gang tersebut di pinggirnya terdapat balai pertemuan warga.
            THOONG… THONG…. THUNG THUNG!
Terdengar bunyi kentongan dibunyikan sore jam tiga. Seorang perempuan gemuk mungkin seumuran ibunya yang berkepala empat membuat kentongan jaman kakek nenek terdengar. Tradisional banget!
“Ei ada acara apa Bu?” Terdengar seorang ibu yang lebih muda bertanya dari rumahnya yang berseberangan dengan balai pertemuan.
“Rapat pengurus PKK untuk acara minggu depan.” Ibu gemuk itu menjawab langsung masuk balai pertemuan membuat persiapan acara lainnya.
Pujo tak peduli terus melangkah menyusuri bekas rel kereta api tersebut. Beberapa rel memanjang terlihat di halaman rumah warga. Sedikit berbelok membuat Pujo tak yakin itu asli jalur rel.
“Mana ada kereta langsung berbelok tajam begini, paling-paling warga sekitar sini saja yang membangun rumah di atas rel,” Lagi-lagi Pujo bergumam sendiri. Benar tak ada kereta atau rel yang memotong sangat tajam, harus ada jarak ratusan meter untuk berbelok kanan atau kiri.
“Itu ada tanjakan jembatan, ganjil juga kereta bisa mendadak naik ke atas jembatan,” Pujo tertawa dalam hati. Mungkin jembatan itu hanya tiga meter lebarnya. Tapi yang bisa di lewati hanya semeter lebih menandakan tempatnya lebar rel dulunya.
“Kuatnya jembatan jaman dulu, sampai sekarang masih bisa terpakai,” Membatin Pujo menyeberangi jembatan. Pujo tak tahu konstruksinya dari apa. Semen beton cor nampak membuat tingginya terus bertambah menimbun balok-balok kayu bantalan rel kereta api. Benar-benar rel tersebut masih utuh walaupun tersingkir di pinggirnya yang membuat gundukan tanah tinggi dan menjadikan bangunan rumahnya terasa sekali di bawahnya. Sebagian besar bangunan rumah menjadikan gundukan bekas rel sebagai bagian belakangnya. Hanya tak mungkin mobil bisa melewatinya.
Sementara satu sepeda motor lewat, jembatan bekas rel membuat sepeda motor lain di seberangnya menanti bergiliran untuk menyeberang. Sungai Winongo di bawahnya dangkal berarus deras.
Pujo terus melangkah di atas tanah tinggi bekas rel, beberapa pagar bambu menandakan batas sungai dan kandang sapi peliharaan penduduk memanfaatkan tanah tinggi bekas rel sebagai pembatas alami.
 Berjalan lagi beberapa ratus meter terdapat bekas rel yang menyempit tergeletak dengan sambungan baut.
“Ini pasti  bekas rel dua jalur stasiun, Sering digunakan untuk melangsir loko atau gerbong agar bisa di jalur pemberangkatan atau penurunan barang,” Pujo meneliti sekitarnya. Tempat itu terdiri dari kebun kelapa dan di baratnya terhampar bulak persawahan.
Rel tersebut sangat berat tersisa karena sangat sulit diangkat dan dibongkar. Sedangkan di depannya sudah terisi rumah penduduk semi pemanen. Pujo terus melangkah hingga terdapat rumah jawa tua seperti balai pertemuan. Sore itu banyak anak-anak kecil berlatih menari, mungkin itu semacam sanggar milik RT setempat.
Sampailah Pujo benar-benar di sebuah stasiun kecil, bangunan seperti gudang karena pintu-pintunya tertutup rapat dengan gembok kuno. Benar-benar merana tidak seperti bekas stasiun Dongkelan yang menjadi ikon setempat. Beberapa rumah penduduk ada di samping dan belakang bekas stasiun, ukurannya paling-paling 4 * 10 meter.
“Ini stasiun apa namanya? Lebih mirip gudang?” Pujo berkata sendiri agak risih karena beberapa pasang mata warga menatap heran dengan kehadirannya yang berjalan kaki. Sempat dilihatnya di seberang terdapat rumah besar dengan pagar-pagar besi dari bekas bantalan rel. Terdapat papan nama hak kepemilikan tanah. Semuanya ternyata atas nama pabrik gula Madukismo.
Pikirannya tertuju ke jalan Bantul,
“Ya di Niten ada pasar tradisional, dulunya pasar Niten, stasiun dan pabrik gula Madukismo menjadi tiga sektor ekonomi di daerah ini. Sekarang pasar Niten dilalui jalan Bantul yang ramai, jadinya stasiunnya yang mati sekarang.”
Sampailah Pujo di jalan Bantul, rel-rel itu sejajar dengan jalan Bantul yang ramai, sudah banyak di tempati lapak PKL. Terus Pujo menyusuri jalan Bantul berlawanan arah dengan arus lalu lintas.
“Itu bekas pasar Niten, katanya rumah Retno berada di sekitar itu. Ei bagaimana kalau ketemu dengannya nanti?” Pujo berkata sendiri mempercepat jalannya.
Melewati bekas pasar Niten serasa langkahnya harus dipercepat. Ia takut bertemu dengan Retno yang pasti bakalan keheranan dengan kelakuannya hari itu. Retno yang sekelas dan sering pulang bersamaan, biarpun ia naik motor karena arahnya ke selatan.
Beberapa dukuh sudah dilewati, mungkin ada sekitar empat kilo meter jalan. Kakinya terasa pegal juga berjalan, keringat membasahi kaos dan bila diraba karena sudah kering membuat lapisan garam di kulit kasap sekali.
Tapi rel memanjang itu memaksanya terus menyusurinya. Di beberapa jembatan kecil terlihat menonjol dengan besi yang menghitam. Benar-benar barang rongsokan.
Akhirnya tibalah Pujo di gapura batas kota Bantul. Rel menghilang tepat di bangunan tersebut, menyambut kedatangan Pujo di kota kabupaten. Tak ada lagi rel, Pujo kehilangan jejak bahkan sampai di sebuah perempatan jalan utama Bantul.
Haripun semakin sore benar-benar gelap. Pujo melihat tak ada lagi Bus mikro yang menuju Yogyakarta. Yang ada seorang tukang ojek bertepuk tangan menawarkan jasanya. Pujo melambaikan tangan tanda menolak.
Kini di senja hari di kota Bantul Pujo menoleh ke utara, beberapa bus mikro lewat semuanya hanya menuju ke selatan untuk mengantar penumpang terakhirnya.
“Berangkat jalan kaki pulang pun kembali jalan,” Badannya terasa pegal kecapean membuatnya terduduk di halte yang tak mungkin disinggahi bus lagi karena sudah tinggal dirinya yang menuju ke Yogyakarta.
Saat duduk seorang anak perempuan kecil menyodorkan brosur kredit motor dari sebuah dealer sepeda motor. Aduh mak! Pujo dianggap sebagai calon pembeli motor kreditan baru. Pujo cuma tertawa dalam hati.
“Sial aku dianggap punya duit banyak rupanya. Mbok ada mobil kek yang bisa mengangkut aku sampai rumah,” Agak nelangsa perasaannya di sebuah tempat di kampungnya tetapi terasa asing karena jaraknya jauh dari rumahnya.
Tak mungkin lagi Pujo berdiam diri, mulailah satu persatu langkah kakinya menuju tujuan rumahnya. Bahkan jalan pun semakin cepat, untung hari petang, badannya biarpun berkeringat tetapi tidak panas tersengat matahari. Gara-gara rel Pujo punya acara konyol seperti itu.
Cuma sekarang ia tak menyusuri rel lagi, jalan Bantul Yogya dilaluinya. Rumah Retno pun cepat-cepat dihindarinya. Soalnya benar-benar persis di depan jalan utama tersebut. Jangan-jangan Retno melihat dirinya berjalan kaki sendirian, bisa-bisa di singgungnya besok di sekolah.
 Hatinya lega setelah mencapai jembatan Winongo, hanya tinggal dua tiga kilo meter sampai di rumahnya. Jam delapan barulah badannya menggelosoh begitu saja di dipan kamarnya. Omelan ibunya tak terlalu dipedulikan. Bahkan tanpa membersihkan tubuhnya akhirnya tidur lelap sekali.
Hari selasa Retno menyapanya saat pulang sekolah,
“Hai sudahlah wong kita sejurusan saja setiap hari menolak boncengan denganku. Ayo nih sudah kusediakan helm buatmu.” Retno berkata sambil menyerahkan helm SNI kepada Pujo.
“Baiklah tapi aku nggak enak loh dengan Roni.” Pujo bersedia tapi tetap menyindir.
“Sialan kamu, biarin saja Roni itu, ayo naik!” Perintah Retno yang emosi membuat Pujo terdiam. Mereka berbarengan menuju Niten.
“Ibuku bilang kepadaku, katanya bertemu dengan ibumu di Pasar. Kata ibumu saat hari minggu kamu main ke rumahku, yang benar Jo?” Retno dari motor Mionya bicara mendadak. “Kemana sebenarnya hari minggu kamu pergi?” Wah Retno menyelidiki.
“Ah ngak aku nggak kemana-mana, aku kesal di rumah saja terus-terusan menunggu warung. Begitu ada alasan, minggat deh dari rumah refreshing.” Pujo menjawab gelagapan.
“Refreshing sampai jam delapan malam? Aku juga dijadikan alasan rumahku sebagai tempat main. Ibumu khawatir Jo kamu keluyuran tak tahu waktu.” Retno ngomel tapi tak mungkin terus bertanya. Apa lagi sampai di Ring Road Pujo turun dan langsung minggat walaupun melambaikan tangannya sebagai tanda terimakasih.
Sorenya Pujo merasa bebas dari tugas yang diperintahkan ibunya segera mengayuh sepeda untuk mencari jejak rel yang hilang. Tapi kali ini ia mengayuh sepeda ke jalan Parangtritis dulu menuju selatan.  Sampai di perempatan Bakulan barulah menuju barat di perempatan Palbapang.
Uuts di perempatan Palbapang Pujo bingung, rasanya harus menuju kemana dulu. Tapi pilihannya ke kiri jurusan Samas. Sekilo dua kilo tak ada sama sekali jejak rel akhirnya menyerah. Terpakssa ia balik lagi ke perempatan Palbapang. Nah kali ini keputusannya menuju barat Pajangan. Jalan itu demikian lebar lebih bagus dari pada jalan-jalan di dalam kota Bantul. Dengar-dengar itulah calon jalan lintas selatan selatan.
Lagi-lagi tak ditemuinya apapun, pandangannya hanya tertarik dengan terminal Palbapang. Bangunanya mirip dengan stasiun, apalagi adanya kompleks ruko dan los pasar tradisional. Bila dipikir jaman dulu itu semacam pusat keramaian di ruas jalan Pajangan hingga gua Selarong. Gagal sudah apa yang dicarinya.
Ya sudah balik lagi keputusannya menuju Bantul yang pasti akan bertemu rel yang membuatnya penasaran. Pikirannya berjalan, dimana stasiun terakhir di daerah Palbapang. Sayang tak ditemukannya.
Rel ditemukan di pinggir kiri sebagai rel terakhir di selatan Bantul. Mau tak mau Pujo mengayuh sepedanya menyusurinya. Akhirnya rel tersebut hilang di jalan dalam kota Bantul. Pujo menyerah, tak mungkin lagi bakalan ditemukan rel yang hilang tertimbun aspal kota. Sejak kecil ia tahunya hanya pasar Bantul yang ramai setiap hari pasaran tertentu. Tak ada cerita kereta api lewat membunyikan semboyan atau melangsir gerbong.
Pantatnya sudah terasa kebas kelamaan di sadel sepeda. Aliran darah di selangkangan seperti terhenti membuatnya harus turun dari sepeda dan duduk di trotoar jalan yang teduh oleh pepohonan. Sepi, Bantul kota kecil kalah jauh dengan Kodya Yogyakarta yang berdenyut dua puluh empat jam.
Diarahkannya pandangan ke sekeliling jalan. Pandangannya terletak pada sebuah rumah makan. Mendadak Pujo takjub dengan apa yang ditemukannya. Papan nama rumah makan terpampang jelas “Rumah Makan Stasiun”.
“Uh jauh-jau2 aku mencari tak tahunya sudah berada di depan hidungku!” Pujo berkata dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
 Biarpun pantatnya masih kebas membuatnya harus duduk lama di trotoar tetapi apa yang ditemukannya sudah seperti harta karun. Bangunan rumah makan itu sedikit mirip dengan yang ditemukannya di jalan Palbapang- Pajangan. Tapi di kota Bantul ini kecil saja paling-paling ukuran 4*10 meter. Separuhnya menjadi rumah makan dan separuhnya lagi tertutup rapat. Tetapi Pujo menduga itulah salah satu stasiun yang dicarinya biarpun relnya mungkin sudah tertimbun jalan beraspal dalam kota.
Sudah ditemukan, Pujo tinggal pulang dengan lebih santai menuju Yogyakarta. Kayuhan sepadanya di hari menjelang maghrib tak sekencang saat berangkat melalui jalan Parangtritis.
“Hei Pujo dari mana kamu?” Suara berat seseorang dengan mengendarai motor Tiger langsung dikenalnya sebagai Roni.
“Hai Roni wah kalian lagi kencan ya.” Pujo berkata saat menyadari Roni berboncengan dengan seorang yang diketahuinya sebagai Retno.
“Kami baru dari pantai Samas, ayolah kami duluan.” Roni seperti gengsi mendapati teman sekelas pacarnya ini hanya mengendarai sepeda onthel. Ia segera tancap gas meninggalkan Pujo yang segera ketinggalan jauh karena tak punya mesin. Sepintas Retno memandanginya seolah-olah bertanya apa yang dilakukannya beberapa hari ini.
Sampai di rumah Pujo tak terlalu lagi banyak ditanyai ibunya karena pulang tidak terlalu larut seperti hari minggu kemarin. Paling-paling komentarnya seperti menyindir,
“Ke tempat Retno lagi ya, patah hati kamu nanti Jo. Retno tuh banyak yang naksir.” Ibunya berkata tahu saja urusan anak-anak remaja. Pujo yang sebal karena ia dianggap jatuh cinta dengan temannya yang sekelas itu.
Esoknya Pujo bertemu Retno di kelas, anaknya cemberut saat bertatap muka dengannya. Sempat keluar kata-kata dari mulutnya, “Jangan kasih tahu bapak ibuku kalau aku pergi bersama Roni ya.” Retno berkata seperti memohon.
Pujo diam saja, masalah Retno dan Roni itu bukan urusannya. Kebetulan saja ia memergoki mereka berdua kencan, mungkin agak kelewatan karena untuk tujuan seperti itu Retno harus membohongi orang tuanya.
Saat pulang sekolah Retno melewatinya begitu saja tanpa menyapa lagi. Hari-hari kemudian Pujo sudah kehilangan teman perempuan yang beberapa hari yang lalu akrab dengannya. Retno seperti tak ingin berbicara dengannya karena jelas Pujo akan bertanya macam-macam tentang hubungannya dengan Roni. Lebih baik menghindar apa lagi jika nanti beritanya menyebar sampai ke telinga orang tuanya.
Tapi Pujo tidak begitu tahu bahwa kelakuannya yang terlihat ganjil beberapa hari kemarin berbuntut panjang. Ibunya langsung menginterograsi,
“Jo ibu tanya kepadamu, beberapa hari kemarin Retno melihatmu di jalan Bantul. Sebenarnya apa yang sedang kamu cari?”
“Ah nggak ada apa-apa kok Bu, masa jalan-jalan dan ngonthel refreshing tidak boleh, lagi pula kan tugas yang dikasih ibu sudah selesai Pujo kerjakan.” Pujo tak ingin tujuannya di ketahui orang tuanya terutama ibunya, tapi tampaknya Retno malah yang memberitahu langsung kepada ibunya.
Ibunya memandangnya sekejap, tak tega juga bertanya terus menerus walaupun dari Retno ia mendapat kabar kelakuan anaknya yang aneh-aneh belakangan ini.
“Memangnya Retno bilang apa tentang aku Bu?” Pujo bertanya mencoba mencairkan keadaan mereka berdua yang seperti bentrok.
“Tak apa ibu hanya khawatir dengan mu Jo, beberapa hari ini tampaknya kelakuan mu aneh, jalan-jalan sendirian saat hari minggu pulang jam delapan malam itu.” Akhirnya ibunya berkata apa adanya.
Dalam hati Pujo mengumpat Retno, “Uuh sudah kuhindari sebisa-bisanya tetap saja cewek itu melihatku. Huh cerewet sekali anak itu!” Pujo gregetan juga dengan temannya si Retno itu.
Esoknya bertemu lagi di kelas, Pujo hari itu usil sekali terhadap Retno. Beberapa kali pundak cewek itu dilemparnya dengan kertas kecil yang dibuatnya bulatan. Tentu saja Pujo duduk persis di belakang Retno. Hari iru biarpun masing-masing tidak bersuara tetapi beberapa kali Retno melotot tak senang karena terganggu. Keduanya hari itu seperti saling ejek mengejek. Tak ada kompromi diantara mereka.
Hari minggu setelah sholat subuh, He He He Pujo termasuk angin-anginan kalau sholat lima waktu. Tapi minggu pagi itu diusahakannya benar bangun pagi. Kemudian ikut-ikutanan berjamaah sholat subuh di belakang Bapaknya di rumah. Begitu selesai sholat subuh ia menghampiri ibunya yang lagi wiridan.
“Bu aku jogging ke Alun-alun ya, kasih uang saku dong?” Merajuk Pujo dengan manja.
“Hah Pujo kadingaren olah raga, dapat mimpi apa semalam kamu?” Sang ibu bertanya tak kuasa menolak keinginan anaknya. Dompetnya yang biasa ditaruh di lemari dikeluarkannya dan melayanglah uang lima ribu rupiah untuk jajan anaknya ditengah perjalanan.
Menerima uang cukup banyak Pujo bersuka cita, diraihnya sepatu serba guna yang dikenakannya pergi kemanapun bila ada acara. Tentu saja wong itu sepatu yang biasa di kenakannya pergi ke sekolah. Tak ada lagi sepatu lainnya, cuma itu alas kaki yang dimiliki.
Sekeluarnya dari rumah, langsung start jogging dimulai dari Ringroad.  Jalan Bantul dilibasnya, hari masih gelap tapi ia tak sendirian. Banyak saja orang-orang keluar pagi hari untuk berolah raga. Tapi masih kalah dengan pedagang-pedagang pasar yang mulai hidup dini hari untuk berjualan.
Biarpun hari masih dingin, tetap saja keringat bercucuran di badan Pujo. Ada beberapa orang berlari pagi, tak kalah pula anak-anak kecil melangkah. Terkadang lewat seorang cewek ABG bersama anjingnya yang dirantai. Semua orang berusaha memanasi badannya untuk mendapatkan udara segar. Siang hari itu tak mungkin dilaksanakan, panas menyengat juga polusi kendaraan tak baik buat kesehatan.
Berlari sampai di depan gereja Katolik, Pujo tak kuat lagi. Ia berhenti berlari tapi tak berani duduk mengaso. Ia coba berjalan kaki menelusuri trotoar hingga ssampai Jokteng Kulon. Jika ia belok kanan sampailah di Alun-alun kidul, kata orang Alkid pagi hari minggu ramai orang berolah raga.
Niatnya bukan ke Alkid, tapi mencari jejak rel yang hilang. Lorong gang bekas rel sudah menjadi jalan kampung di sebelah barat Jok Teng Kulon. Masih terdapat rel ditengah-tengah jalan kampung dengan rumah-rumah di samping kanan kirinya menjadikan sebagai halaman depan rumah. Terkadang ada sepeda motor lewat mendahului langkah Pujo.
Sampailah Pujo di sebuah pasar kecil. Itu pasti pasar di seberang gapura jalan menuju Taman Sari. Seorang ibu penjual gudeg menawarkan kepada Pujo,
“Mangga Mas sarapan, mumpung masih anget,” Berkata ibu penjual gudeg mempersilahkan.
Pujo menggeleng dan berkata, “Ah nggak Bu, Aku takut kereta lewat bisa ketabrak nanti.”
“Ha Ha Ha sampeyan ki lucu. Jalur kereta sudah mati. Pas ibu masih kecil saja kereta lewat. Dulu tempat ini sepi menyeramkan sekali.” Nyerocos suara ibu penjual gudeg bicara. Sempat disinggungnya tentang kereta-kereta yang lewat pada jaman kemerdekaan.
Uuh itulah yang jadi tambahan Pujo untuk karya tulisnya. Riwayat atau kisah yang menjadi kenang-kenanganan ibu tersebut dimasa lalu. Sangat berguna sebagai salah satu sumber tulisan.
Sayang Pujo tak berani lama-lama didepan lapak warung gudeg itu. Harus makan gudeg sedangkan uang sangunya yang lima ribu tak cukup untuk sarapan jaman sekarang.
“Nggak deh Bu aku belum selesai jalan-jalan, sampai di Ngabean nanti baru jajan.” Halus Pujo menolak kemudian mohon diri.
Terus langkahnya ke utara, sayang rel hilang di telan taman berisi rerumputan liar dan dibatasi pagar, Pujo hanya bisa lewat di sampingnya yang tetap menjadi gang memanjang seolah-olah menjadi wakil rel yang tertelan bangunan. Apa lagi seterusnya terdapat sebuah balai desa yang benar-benar berdiri di atas rel menjadi buntu meninggalkan riwayat moda transportasi jaman dulu.
Sampailah Pujo di Ngabean, sekarang kompleks itu adalah taman parkir luas untuk bus-bus wisata. Beberapa ruko kecil mepet di pinggir areal luas parkir. Sayang taman parkir seluas itu kata orang sepi. Bus-bus wisata lebih sering langsung masuk Alun-alun utara, Taman parkir Abu bakar Ali, atau di samping Bank Indonesia.
Pujo langsung mendekati situs yang kemungkinan adalah bekas stasiun. Benar saja, terlihat sisa rel menjadi situs resmi bahwa itulah sejarah terakhir rel kereta api yang tersisa. Beberapa As roda gerbong kereta tergeletak di rel tersebut, jika dilihat berada di bawah lantai conblok, jadi areal parkir ini sudah ditinggikan sekitar 50 cm. Dari aslinya yang berupa rel-rel memanjang untuk aktifitas kereta. Dikelilinginya bangunan yang dipelihara Pemkot menjadi bangunan cagar budaya. Di samping atas sebelah selatan tertulis dengan jelas NGABEAN. Huruf tercetak dengan cetakan semen tak dirubah-rubah lagi.
Hari menjelang siang, mungkin sudah jam setengah sembilan. Pujo pun memutuskan pulang ke rumah. Sudah cukup penelusurannya terhadap rel yang diyakininya cukup untuk sebuah karya tulis. Dan segelas teh hangat serta beberapa gorengan cukup untuk mengganjal perutnya.
Retno memperlihatkan karya tulisnya kepada Pujo. Judulnya Lingkungan Taman Sari dan sejarahnya. “Nih aku salin saja punya Roni. Asal pendekatan dan traktir mau nggak mau Roni antar aku ke Taman Sari, He He He sekalian kencan di sana.” Berkata Retno menantang Pujo.
Pujo cuma cengengesan, ia pun tak kalah gengsi mengeluarkan hasil karya tulisnya sayang judulnya rahasia. Pokoknya tak kalah dengan teman yang lain dan pastinya juga biayanya lebih irit.
                                               
           
                                               

  ……Tamat……

Kelanjutan Beteng Baluwarti Kotagede

Wah sudah berapa tahun penulis berlatih Pencak Silat dan Yoga?
Gara-gara berlatih inilah banyak pengamatan penulis terhadap lingkungan dan menjadi tulisan dalam blog walaupun mungkin tak diminati para pembaca.
Seperti pagi hari minggu ini....
Bangun!!!
Sempat sholat subuh langssung ngeloyor menuju sebuah tempat favorit berlatih. Teras pertokoan Perwita Regency tapi ini juga tempat yang agak tersembunyi karena tidak kena jalan utama yang ramai jalan Parangtritis. Soalnya masuk jalan kampung yang dirawat oleh pengelola perumahan hingga mulus aspal hotmiks.
Menghadap ke depannya adalah tanah luas eks kampus STIEKERS yang terbengkalai dan menjadi jujugan pembuangan sampah tak resmi walaupun ada larangan keras.
Ya sambil berlatih dikeremangan pagi itu ada beberapa motor berhenti dan penumpangnya melemparkan bungkusan plastik besar segala macam sampah.
Biarin saja....penulis tetap berlatih keras.
CIIAAAAT     HIAAAAATTTT
wkwkwkwk gak ada tuh teriakan seperti itu dalam kamus penulis, tak bisa mencontoh film atau komik Wiro Sableng, Kho Ping Ho dll.
Bagi penulis itu yang penting bagian inti dari Bela Diri dan Yoga bisa terlaksana, yaitu Jurus dan Asana, keduanya menjadi bagian yang dihayati seumur hidup...ingat jangan tumpang tindihkan dengan agama ya?
Terutama urusan Yoga...penulis khawatir karena sudah ada fatwa haram dari MUI tahun 2009, fatwa tersebut tak efektif karena penghayat yoga tak banyak di Indonesia. Mau apalagi gara-gara Yoga itu dari unsur Hindu maka dimungkinkan ada ajaran yang menuju Syrik yang harus dihindari.
Kalau menurut pendapat penulis, masih banyak unsur yoga yang bisa dipelajari menjauhi unsur syrik dan tetap bisa mengambil manfaatnya.
Mungkin manfaat yang dirasakan penulis inilah yang menjadikan penulis tetap mempertahankan latihan, juga sebuah kenyataan fatwa MUI itu kayaknya terlalu terlambat berlaku.
Kasihan orang-orang yang sudah berlatih puluhan tahun harus menghentikan semua latihan gara-gara sepotong surat edaran HARAM dari MUI.
Sesungguhnya sulit bagi penghayat Yoga yang sudah terlanjur terjun dalam bidang ini untuk berhenti begitu saja....pendalaman Yoga begitu menarik untuk dipelajari dan manfaatnya bukan cuma untuk sekedar sehat badan saja. Salah satunya adalah pendalaman MISTIK Yoga, itu nanti yang sedikit dibahas dalam tulisan lain.
Kesan bahwa sulit Yoga dan Jurus diterima masyarakat umum adalah biarpun banyak saja penulis mendapati orang-orang berjalan-jalan pagi tapi tak pernah mengusik penulis dan bertanya macam-macam urusan pribadi ini.
Jadi penulis hingga bertahun-tahun berlatih tetap MERDEKA!!!
Oh penulis mulai berlatih Asana dan Jurus itu tahun 1998...itu berada jauh di pedalaman Kalimantan. Semuanya bukan tanpa sebab...kejiwaan penulislah taruhannya.
Penulis mengalami kebimbangan dalam hidup...istilahnya jiwa tergoncang karena kurang pondasi kerohanian. Pelariannya adalah membangkitkan pelatihan yang sudah lama terkubur yaitu saat bernaung dalam sebuah Perguruan Pencak Silat saat masa kecil penulis.
Kenangan itulah yang digali kembali hingga saat ini.
Kok tidak mempelajari agama saja?
Ya inilah kekurangan penulis, biarpun saat berlatih awal mula tahun tersebut diiringi pendalaman ibadah seperti sholat dan mencoba membaca buku-buku agama tapi dasar pengetahuannya kurang jadi tak berkembang sama sekali. Bayangkan mungkin dalam soal agama penulis itu tahunya cuma pelajaran agama Islam sesuai sekolah formal saja, jadi sampai sekarang dasar agama penulis adalah sama dengan kurikulum pelajaran SD tahun 1977, kurikulum SMP tahun 1983 dan SMA tahun 1988, tak sebanding dengan lulusan Pondok Pesantren tentunya.
Tak apalah, sekarang sudah usia empat puluh empat tahun, tinggal mempertahankan apa yang penulis peroleh selama ini. Mungkin sedikit menuliskannya dalam karya tulis pribadi adalah salah satunya...ya bisa bentuk NOVEL atau buku populer nantinya...itu cita-cita penulis.
Yak kembali pada jounal latihan, wow sudah selesai sesi Jurus dan Asana.
Sesi Jogging mengakhiri dengan rute menyusuri RingRoad selatan menuju timur Kotagede.
Lumayan perjalanan cukup jauh tersebut dilakukan dengan langkah kaki lari kecil. Tak tergesa-gesa karena tidak dikejar waktu, keringat tak bercucuran banyak masih pagi hari belum panas...juga hati ini tak panas karena emosi sih! Hi Hi Hi
Ringroad selatan tetap ramai biar hari masih pagi...sampailah tujuan di sebuah beteng baluwarti yang sering disinggahi penulis setiap menjalani sesi jogging di kotagede. Hal yang jarang bagi pengunjung wisata atau peziarah karena inti kunjungan biasanya hanya di pasar Kotagede,  kampung bekas Alun-alun dan masjid besar Mataram atau hanya gerai-gerai kerajinan perak.
Perkembangan menarik adalah penulis mendapati makin panjangnya eksavakasi beteng Baluwarti hingga nampak sosoknya sebagai bekas pusat kerajaan Mataram Islam pada jamannya.
Terpikir betapa sebenarnya kita bila membuat kisah petualangan tak kalah dengan Barat...tentang penemuan sebuah kota kuno di sebuah hutan. Lokasi yang penulis dapatkan adalah salah satunya, sebuah gerumbul semak-semak yang menutupi sebuah kota kuno dari kanal-kanalnya hingga mungkin beberapa taman dan Jeron Beteng yang kini berupa rumah-rumah warga tetapi masih menyisakan keteraturan karena menyesuaikan dengan bekas reruntuhan bangunan beteng sebuah kerajaan Islam tahun 1500 M.
He He He penulis terus menjelajahi seluruh bekas beteng yang kemungkinan akan menarik sebagai kunjungan wisata...tetapi pemugaran ini juga memperlihatkan kekakuan karena sebenarnya hanya menampakkan yang pernah ada dahulu kala. Coba lihat sebenarnya....hampir semua yang tersusun adalah batu isian cor...tidak sesuai dengan aslinya yang dari batu kali dipahat persegi, yah memang sulit menemukan semuanya sebagai bagian utuh yang bisa ditata ulang agar kebesaran keraton Mataram itu nampak.
Tapi itu memang upaya agar kota Yogyakarta tidak kehabisan situs kunjungan nantinya. Keraton dan Taman Sari di Yogyakarta sudah sangat mudah diakses, dengan adanya pemugaran bekas beteng keraton Kotagede tentunya tahun-tahun mendatang bisa menambah destinasi waisata kota Yogyakarta. Itulah  gelagat yang tercium oleh penulis.
Makanya lihatlah sekeliling kita, mungkin banyak hal remeh yang bisa dikembangkan sebagai sebuah ikon dimasa mendatang.
Di kampung penulis mengontrak ada situs Kandang Menjangan, itu juga belum dilirik sebagai tempat wisata. Harus ditata menjadi taman dengan ikon yang bisa mengundang pengunjung mendatanginya. Pokoknya tak habis Yogya ini digeledah semuanya beberapa puluh tahun mendatang. Jangan kalah kita oleh Singapura yang harus membuat negaranya semodern mungkin karena hanya itulah yang bisa dijual kepada wisatawan. 
Sudah dulu deh.....

Sunday, August 17, 2014

Merdeka!!!

Pokoknya hari ini temanya cuma merdeka....
Merdeka dari segala tugas jualan koran, buka kios stempel. Uh besok saja lagi semuanya dilanjutkan. Tapi kalau kegiatan Yoga, Pencak Silat dan Jogging tetap setelah waktu subuh. Journal ini sudah tercatat di buku DIARY yang tertulis mulai tahun 1997 saat merantau di Kalimantan. Kenang-kenangan dari awal berlatih hingga sekarang berlanjut menjadi karya tulis berupa naskah Novel yang menghimpun kegiatan harianku.
Berarti sudah ada kemajuan cukup besar. Amin
Kalau naskah Novel mulai bermula tahun 2009 awal, sebelumnya cuma corat-coret di buku tulis tanpa ada kejelasan untuk apa nantinya.
Naskah ditulis di kertas kwarto secara manual sedikit demi sedikit sampai dua tahun??????
Akhirnya diketik komputer....hasilnya naskah pertamaku mencapai lebih 600 halaman....EDAN TENAN!!!!
Ya itulah kegilaan Penulis, memangnya untuk apa ya?
Membabi buta saja tanpa tahu kegunaannya, walaupun berminat juga diterbitkan nantinya.
Yaaa....hhhh ternyata menembus penerbit itu tak mudah, sampai tahun 2014 ini sudah empat naskah dikirim belum satupun dianggap layak terbit.
Harus terus belajar nih!
Sampai sekarang naskah pertamaku tak bisa diapa-apakan, cuma tersimpan manis di Folder komputer. Mungkin pantasnya memang masuk BLOG ini saja
Hi Hi Hi Hi.......by by

Sunday, July 13, 2014

Hambatan saat berlatih

Hari minggu pagi lagi 13 juli 2014,
Journal latihan dimulai lagi setelah hari kamis mengalami sakit flu.......
Ini salah satu hambatan yang paling sering terjadi. Begitu virus flu menyerang dan tubuh mengalami demam seluruh kegiatan fisik juga terhenti, tubuh hanya merasakan sakit walaupun untuk bekerja masih bisa dipaksakan.
Minum obat dan istirahat, semua dilakukan bila ada waktu sela setelah bekerja. Kegiatan hanya difokuskan untuk kerja yang bisa menghasilkan uang. Kegiatan lain seperti Jurus dan Asana dihentikan bahkan ibadah pun ikut Absen.
Menulis apalagi....pasti tak mampu...itu membutuhkan konsentrasi yang baik dalam melaksanakannya.
Semua tak bisa dipaksakan.
Setelah reda barulaah hari minggu start kembali, bisanya pagi hari sesuai journal latihan, sedangkan untuk sesi hari jumat sudah ditinggalkan, anggap saja libur sehari.
Karena sudah niat berlatih jadinya semangat juga naik tinggi sekali, bahkan setelah santap sahur disempatkan minum segelas kopi hitam untuk doping.
Wah pokoknya segar sekali badan saat berlatih, otot tubuh yang biasanya agak kaku jadi cepat lentur dan ringan menjalaninya. Itulah pengaruh kafein dalam tubuh gara-gara minum kopi sebelum berlatih.
Latihan Jurus dan Asana jadi lancar bahkan serasa cepat biarpun tetap harus mengontrol perut yang terguncang karena makanan dalam lambung belum tercerna.
Masih ada sisa sakit flu yang belum tuntas di tenggorokan yang mungkin sedikit meradang hingga sering terbatuk....juga lendir hidung berupa ingus yang belum kering  tuntas.
Menyebalkan sekali!!!
Ada sedikit pengertian tentang Asana, hanya tambahan saja karena banyaknya tafsir yang beredar. Penulis coba menyederhanakan,
"Apa yang dilakukan seorang Model?"
Ia tentu melakukan sesi foto dengan sebuah gaya yang menarik.
Nah Asana itu sama dengan pose saat seseorang melakukan gaya seorang model. Hanya saja gaya yang dilakukan bukan untuk sebuah hasil gambar tetapi adalah bentuk spiritual. Jadi lebih meluas dari pada hanya seorang model untuk pakaian atau foto sampul majalah. Tujuannya dianggap lebih tinggi karena pose bisa mencapai kelenturan tubuh dan keluwesan hidup sehari-hari.
Demikian tambahan yang bisa Penulis kemukakan, silakan bila hendak mengembangkannya sendiri.
Kembali ke sesi latihan,
Tinggal sesi Jogging dengan rute Alkid sesuai rencana. Sambil berlari-lari kecil yang menyehatkan badan walaupun waspada bila perut terlalu terguncang, alamat perut mual muntah. Tapi itu jarang terjadi untuk mereka yang sudah terlatih.
Nah hambatan lain datang....
Hujan mengguyur biarpun hanya gerimis, memakssa Penulis berhenti di sebuah teras toko. Perasaan mulai pesimis, setelah reda dilanjutkan hingga ke Alun-alun kidul.
Mulai berputar di Alkid, tapi baru  dua putaran sudah hujan lagi, berhenti lagi dan akhirnya menyerah. Langsung pulang dibawah hujan gerimis. Itupun kemudian benar-benar hujan lebat.......memakssa Penulis berteduh di teras toko lagi hingga hampir setengah jam.
Tetap juga tak berhenti akhirnya berbasah-basah ria pulang hingga sampai di rumah kontrakan.
seharian hanya berebah tiduran menghangatkan badan.
Begitulah hambatan dalam berlatih, siapapun bisa mengalaminya.
Cukup dulu di lain tulisan, wasalam.

Saturday, July 12, 2014

Meditasi Lanjutan

18 mei 2014,
He He He sekali-kali diberi tanggal penulisan. Biar hapal mengingatnya....
Kembali dengan teknik meditasi yang dibahas sebelumnnya. Sebelumnya penulis berlatih hari minggu cukup sukses, semua sesi berhasil dilatih walaupun tak bisa mengakuinya sempurna...ya kita manusia biasa tak mungkkin mencapai kesempurnaan hidup.
Agak mengherankan, satu minggu ini bisa berlatih normal, biasanya cukup banyak penghalang karena masalah bisa datang sewaktu-waktu. Contohnya adalah rasa was-was akan pendapatan dari pekerjaan penulis. Sering mencemaskan karena dibandingkan dengan rekan sesama profesi tukang stempel, penulis adalah yang paling banyak sialnya alias sedikit rejekinya.
Itu terjadi karena faktor lokasi yang kurang mendukung, sulit sekali pengunjung masuk kios penulis. Biasanya hanya dilihat tapi tak akan disinggahi karena sulit diakses dari jalan.
Sering penulis gigit jari melihat keberuntungan rekan sesama pengusaha stempel, begitu mudah mendapat uang dari hasil usahanya. Terkadang penulis berpikir untuk berganti usaha...tapi itu hanya khayalan saja. Penulis belum-belum berpikir sulit karena semua harus dari nol lagi, sangat sakit menjalaninya.
Entah pendapat pembaca?
Karena sulit segala-galanya penulis melarikan masalah dalam berbagai bentuk aktifitas fisik, juga dengan mengasong koran yang hasilnya tak seberapa...oh kenapa mengeluh...begitu banyak orang  lain disekitar penulis yang juga kurang beruntung,
Jadi penulis saja yang kurang bersyukur ya?
Begitulah pergulatan hati penulis, satu sisi merasa sial, sisi lain harus sudah bersyukur karena melihat sekitar lingkungan tempat tinggal.
Segala jenis latihan ini ternyata menjadi ajang hiburan  penulis, saat berlatih berhasil melakukannya dari satu sesi ke sesi lain membuat semangat timbul dan gairah hidup berkobar kembali...esok bisa bertarung lagi walaupun tetap menelan kekalahan telak.
Ujar seorang  rekan kios stempel sebelah yang melihat kondisi usaha penulis,
"Pulang saja ke Puerto rico sana....hidup sebagai petani ladang....dst..." sangat menyakitkan hati!
Ayo lupakan semuanya dengan MEDITASI
Kembali ke asana padmasana, ini yang paling sering menjadi asana meditasi, bila melihat patung budha dimanapun biasanya melakukan asana ini dengan segala pernak-perniknya yang mencapai kebesaran tahapan mencapai NIRVANA.
Ah kita hidup biasa saja, sambil mencicipi jalan kebenaran yang ditunjuk seorang Budha di masa lalu MEDITASI....
MEDITASI versi II ini cukup rumit, tapi itu dalam olah pranayama, visualisasi, mantera dan latihan getaran suara. Kalau dari luarnya tetap duduk semedi biasa saja, jadi olah pikiran saja yang rumit bahkan serius sekali walaupun dalam praktek penulis sering santai mengerjakan karena tak mau REPOT...Okeeeey.
Mulai,
Fokus berbeda dengan GROUNDING yang merasakan adanya langit bumi. Dalam sesi ini semua merasakan dari tubuh bagian bawah...ya dari cakra dasar lah mistiknya walaupun tak harus begitu.
Karena jumlah cakra ada tujuh jadi selalu berhitung tujuh kali...he he he pokoknya ini adalah teknik mistik walaupun sekali lagi tak harus begitulah.....

*Afirmasi atau mantera
Ini diambil dari buku kundalini karangan Adnan krisna, setiap cakra disebut etape.
Sudahlah pokoknya ikuti dan silakan pembaca bila melatihnya boleh berimprovisasi sendiri, termasuk penulis.
Hirup nafas dalam-dalam, hembuskan...tahan.
-Etape Pertama:
"Aku bertanggung jawab penuh atas hidupku ini"
Ulangi tiga kali dalam kondisi taahan nafas, tarik nafas afirmasi lagi ucapkan kata-kata tersebut tiga kali, tahan nafas ulangi lagi kata-kata tersebut tiga kali, hembuskan nafas lagi sambil mengucapkan afirmasi tiga kali lagi, tahan nafas ...terus seperti yang dilakukan pertama tadi.
 -Etape kedua:
"Hidup ini bagaikan suatu lagu yang indah"
-Etape ketiga:
"Aku sehat, sejahtera dan bahagia"
-Etape keempat:
"Aku hidup dalam kasih", atau "Aku adalah kasih"
-Etape kelima:
"Aku bebas dari segala macam noda", atau "Aku bersih"
-Etape keenam:
"Aku sadar akan diriku, segala sesuatu sekitar aku dan lingkunganku"
-Etape ketujuh:
"Itulah aku", atau "Aku adalah kamu, kamu adalah aku"

 Rasakan saja setiap etape sebagai jalur jalan yang dilewati, tak usah membayangkan sebuah chakra yang demikian rumit berkembang misalnya sampai mekar, sampai berjumlah lipatan berapa kelopaknya misalnya...ini tak harus dengan bayangan chakra agar tidak terlalu menyulitkan tekniknya. Pokoknya sederhanakan semuanya, sampai selesai cukup memakan waktu tak lama agar urusan lain yang berhubungan dengan masyarakat tidak terabaikan.
Kita ini biarpun praktisi meditasi tapi bukan seorang petapa atau yang hidup dalam sebuah ashram yoga. Harap semua dikembalikan pada dasarnya yaitu ASANA, ringan sekali kan....

*Latihan Getaran Suara
Memiliki etape dari satu sampai tujuh, pranayama sedikit berbeda dengan latihan afirmasi atau mantera seperti diatas. Semua ini adalah versi penulis walaupun untuk latihannya mengambil dari buku Kundalini karangan Adnan Krisna...
 Kundalini itu apa?
Wah makin rumit, itu adalah mistik untuk pengembangan Yoga yang di ajarkan seorang Yogi yaitu Patanjali Sutera...ya ya ya tak usah sampai kesanapun tak apa, yang berminat serius pun tak harus mencapainya, cukup sebagai bacaan pengetahuan saja, banyak buku tentang kundalini beredar bila menyinggung Yoga maupun Meditasi.
Tahan nafas, hitung dari satu sampai sepuluh, taarik nafas hitung dari satu sampai sepuluh, tahan nafas hitung dari satu sampai dua puluh, hembuskan nafas dengan getaran suara......
-Etape Pertama:
"Aaaaaa"
-Etape Kedua:
"Iiiiiiiii"
-Etape Ketiga:
"Uuuuuu"
-Etape Keempat:
"Eeeeeee"
-Etape Kelima:
"Ooooooo"
-Etape Keenam:
"Eeeeengggg" (Suara dengung lebah"
-Etape Ketujuh:
"Aaaaahhhhh"

Rasakan getaran suara ini, bila tak merasakan apa-apa berarti sama dengan pengalaman penulis, lantas apa faedahnya berlatih mati-matian?
Biarpun bukan manfaat besar tapi inilah bukti yang penulis rasakan. Manfaatnya sampai saat ini sikap hidup penulis lebih tenang, lebih mudah menerima perbedaan karena yang kita latih ini tak sama dengan kegiatan orang lain dan janji penulis adalah sedikit menambah awet muda....ini bukan bohongan, banyak sekali peristiwa yang penulis alami berhubungan dengan urusan awet muda...inilah salah satu janji tersebut.
Panjang getaran suara sesuaikan dengan panjang hembusan nafas yang dilakukan saat berlatih meditasi.

*Latihan membersihkan Chakra
Latihan ini bersama dengan latihan getaran suara dan afirmasi menjadi satu paket, soalnya biar praktis, sesuaikan dengan bidang kehidupan lain seperti pekerjaan dan ibadah. Meditasi jangan dimasukan sebagai bagian ibadah looooooh..... nanti jadi aliran sesat menurut penilaian orang lain. Sekedarnya saja, bukan tujuan utama dalam hidup....ingat hiburan dan rekreasi sifatnya. Sesekali juga menggali budaya lama mungkin peradaban Hindu-Budha yang pernah ada di Indonesia.
Contoh bentuk meditasi banyak sekali terabadikan dalam panel arca dan patung baik itu kedewaan maupun profil Budha di candi-candi yang tersebar di seluruh wilayah Jawa maupun daerah lainnya. Kita bukanlah bangsa yang menyendiri tetapi dinamis mendapat pengaruh  dunia sekitar kita sampai saat ini.
Latihan membersihkan chakra ini banyak mendapati mistik, ini diambil penulis dari buku Kundalini karangan Irmansyah Efendi. Sebenarnya penulis sendiri juga tak paham dengan keterangan dari tulisan dan teknik yang dibeberkan pengarang buku tersebut. Sangat rumit menurut penulis, tetapi bisa menjadi contoh untuk memahami keadaan pendalaman Yoga berdasarkan mistik. Oooh salah....Yoga dengan menggunakan unsur mistik.
Sekali lagi mistik disempitkan dalam urusan Yoga dan terutama latihan praktek Meditasi, jangan dikembangkan untuk segala urusan dunia yang lain...soalnya sering tak sesuai dengan kenyataan....OKE!
Hembuskan nafas dulu, tahan.......Masuklah dalam latihan membersihkan chakra...ssambil juga membaca wirid Laillahaillah.....terus menerus dari satu chakra hingga berakhir.
Kok gak bikin sistem sendiri untuk mistik-mistik seperti ini?
Ah penulis tak mau sendirian urusan meditasi ini je, biar sedikit sama dengan praktisi lainnya biarpun beda bidang. Yang dikutip ini dari praktisi penyembuhan REIKI TUMO sedangkan penulis menjadikannya sebagai bagian Yoga praktisi yang super simple agar tidak mengganggu urusan lainnya seperti ibadah agama, pekerjaan, hobi atau kehidupan rumah tangga yang lebih bermakna dan beramal pahala besar. Ingat Yoga dan Meditasi bukan ritual mencari pahala seperti sholat, puasa, zakat dan Haji atau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Semuanya dikembalikan pada dasarnya yaitu ASANA sebuah postur yang nyaman dilakukan untuk tubuh selama mampu.
Penulis tidak mutlak mengikuti saran dalam buku Kundalini karangan Irmansyah Efendi karena akhirnya mengikuti kepraktisan yang di dapat sendiri. Tentu dalam mengembangkan latihan akan banyak bertemu penghalang dan mungkin sebuah penemuan walaupun bukan hal yang hakiki. Ini hanya contoh saja, silakan mengembangkannya sesuai kebutuhan orang yang berlatih rutin...percayalah itu akan menjadi gaya hidup dan tujuan tersendiri.
Inilah kutipan dari buku tersebut,
@Tariklah nafas melalui hidung secara perlahan dan dalam. Tariklah nafas hingga memenuhi paru-paru tanpa memaksakan diri. hembuskan nafas melalui mulut seakan-akan meniupkannya melalui sebuah sedotan. Saat mengeluarkan nafas, bayangkanlah bahwa seluruh ketegangan dihembuskan keluar dari tubuh sehingga seluruh tubuh menjadi santai dan tenang.
@Lakukanlah langkah diatas tiga kali, setelahnya tidak perlu memikirkan mengenai nafas.
@Cakra utama pertama, yaitu cakra dasar. Terletak di ujung tulang ekor. Cakra ini adalah pusat vitalitas, keinginan untuk hidup dan tubuh fisik. Bayangkanlah cahaya merah menyala memasuki cakra dasar, memenuhi seluruh anggota tubuh di sekitarnya, turun ke kepala memenuhi kedua mata, memasuki dan memenuhi lutut, turun ke kaki sampai ke jari-jari kaki dan memenuhi seluruh kaki. Sambil turun, cahaya merah tersebut membawa seluruh energi negatif yang ada pada bagian tubuhnya dan membuangnya melalui telapak kaki. Tariklah lebih banyak cahaya merah sehingga seluruh jalur tadi menjadi terang dan mendorong seluruh energi negatif keluar melalui telapak kaki secara tuntas.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Sekarang beralih ke cakra yang kedua, cakra seks. Yang dikenal juga sebagai pusat tubuh emosi, di mana semua perasaan diproses. Bayangkan cahaya berwarna orange masuk ke cakra yang terletak di alat kelamin.Cahaya masuk terus menerus memenuhi seluruh alat kelamin dan alat reproduksi. Cahaya bergerak ke arah atas, ke paru-paru dan jantung. Bayangkan seluruh bagian tubuh yang  dipenuhi oleh cahaya ini bersianar oleh cahaya orange. Sekarang, cahaya tersebut keluar dari cakra jantung dengan membawa seluruh energi dan perasaan negatif yang ada.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Cakra ketiga yang diasosiasikan dengan tubuh mental. Mengontrol seluruh pikiran, pendapat, dan  penilaian terletak di pusar. Sekarang, bayangkan cahaya berwaran kuning memasuki pusar, memenuhi seluruh  organ-organ di perut dan  rongga perut. Cahaya tersebut membuat seluruh organ-organ dan sel menjadi lebih sehat. Lalu bawalah cahaya kuning ke bagian atas tubuh ke cakra jantung dengan mengeluarkan seluruh energi dan emosi negatif dari bagian perut.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Cakra jantung sebagai cakra keempat juga dikenal sebagai pusat tubuh intuisi. Cakra ini adalah pusat dari dari cinta kasih, kasih sayang, dan seluruh perasaan yang positif dan halus. Untuk cakra ini dapat dipergunakan warna hijau muda atau merah muda. Hijau muda berfungsi untuk pengobatan sedangkan merah muda untuk cinta kasih. Cahaya hijau muda atau merah muda dapat dipergunakan secara bergantian pada latihan yang berbeda. Untuk beberapa latihan pertama dianjurkan untuk menggunakan warna hijau yang akan menyembuhkan semua trauma atau emosi negatif yang terpendam. Bayangkanlah cahaya berwarna hijau muda yang menyembuhkan memasuki cakra jantung. Cahaya penyembuhan ini memenuhi seluruh rongga dada dan memasuki paru-paru dan jantung. Cahaya ini masuk terus menerus memenuhi bahu, tangan, sampai ke jari-jari. Cahaya ini turun ke bawah memenuhi seluruh tubuh sampai ke jari kaki dan ke atas ke tenggorokan memenuhi leher, dan ke kepala memenuhi rongga kepala dan  otak. Pastikan bahwa cahaya ini memasuki seluruh bagian kepala, seperti gusi atas, gusi bawah, gigi, telinga, sisi kiri dan kanan kepala, dan sebagainya sambil mendorong seluruh energi negatif keluar dari seluruh pori-pori tubuh. Cahaya hijau muda ini menyembuhkan seluruh organ-organ dan sel yang ada di tubuh dan lapisan-lapisan tubuh lainnya.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Sekarang proses pembersihan sampai pada cakra kelima. Cakra ini adalah pusat dari tubuh atma yang terletak di tenggorokan di lokasi pita suara. Cahaya berwarna biru laut memasuki dan memenuhi tenggorokan, turun ke dada dan memenuhi dada dan jantung. Jantung dan tenggorokan sekarang terhubung langsung dengan cahaya berwarna biru laut. Dengan adanya hubungan ini seluruh hambatan antara tenggorokan dan jantung dihilangkan. Seluruh perasaan yang ada akan dapat diekspresikan dengan lebih mudah melalui kata-kata.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Cakra keenam adalah pusat energi yang terletak diantara kedua alis mata. Cakra ini sering juga disebut sebagai mata ketiga, yang merupakan pusat dari tubuh cahaya (tubuh nomad). Bayangkan cahaya berwarna lembayung muda memasuki cakra mata ketiga, terus ke dalam kepala. Cahaya ini memenuhi kepala dan  otak, menerangi pikiran dan jiwa. Cahaya ini turun ke tenggorokan dan memenuhi dada sambil membawa energi spiritual ke jantung.
@Janganlah melakukan apapun selama 5 detik.
@Cakra keetujuh terletak di puncak kepala dan biasa juga disebut sebagai cakra mahkota, sebagai pusat dari tubuh ilahi (hanya istilah saja). Bayangkan cahaya putih yang terang benderang turun ked alam kepala melalui cakra mahkota. Cahaya ini juga turun memenuhi otak, pikiran dan jiwa (roh) dengan energi spiritual dari Tuhan (abstrak). Cahaya ini juga turun memenuhi tenggorokan sampai dada, memenuhi dada dan cakra jantung dengan energi spiritual yang tidak terbatas.

Kutipan ini sengaja ditulis agar nantinya bisa ditelaah sampai ke mistik Yoga.....
Bayangkan apa itu cakra?
Apa itu lapisan (pusat) tubuh?
Kayaknya untuk membahasnya membutuhkan tempat tersendiri.
Penulis sendiri belum tahu hal yang sesungguhnya dari isi tulisan walaupun mungkin dalam prakteknya mudah saja melatihnya. Cukup membuat visualisasi semua bagian tubuh dan organ yang dimaksud segala urusan sudah beres.
Itu masih ditambah mistik aura, elemen atau unsur alam dll.
Bahkan juga bisa memasuki Yin Yang, Pat Kwa (delapan mata angin), Zodiak,Shio yang semuanya sudah beredar di masyarakat luas....itu semua masuk MISTIK.
Kalau di Jawa Primbon itu sudah turun temurun menjadi perhitungan untuk acara panduan bagi suku Jawa dalam memenuhi hajatnya, walaupun semuanya bukan hal yang mutlak.

Yang penting bukan urusan mistiknya, penulis berlatih sebagai praktisi Yoga sesi meditasi.
Dalam berlatih petunjuk diatas tersebut sudah sangat disederhanakan, itulah yang penulis temui karena lebih praktis dan sesuai dengan keseharian hidup.
Dalam pose Padmasana mulailah melatih membersihkan cakra.
Satu pernafasan (pranayama) dilakukan visualisasi cakra dan cahaya menyesuaikan dengan bagian pusat tubuh yang dimaksud diatas tulisan berupa kutipan tersebut.
Latihan membersihkan cakra ini menurut Penulis adalah yang paling rumitnya karena berbagai teknik dipersatukan untuk mencapai meditasi.
Ya biarlah walaupun semuanya bisa disederhanakan toh masing-masing praktisi akan menjadi seorang pencipta metoda meditasi yang paling cocok untuk dirinya sendiri.
Silakan menjadi penemu......

 




Sunday, July 6, 2014

Jogging di bulan puasa

Hari minggu, ini sudah minggu pertama memasuki ibadah puasa.
Penulis memastikan diri mampu menjalani rutinitas berupa journal latihan Jurus dan Asana serta Jogging setiap hari minggu.
Habis sholat subuh mulailah latihan berjalan, di sebuah teras Ruko Perwita.....
Rasanya itu sudah beberapa kali terulang, makanya  langsung ke sesi Jogging sebagai oleh-oleh perjalanan. Satu jam berlatih jurus dan asana paling ada tekanan di perut karena pengaruh sahur, ya makanan yang masuk tentu belum tercerna semua, jadinya harus perlahan-lahan melakukan gerakan agar perut tidak terguncang.
Rasanya sukses saja kok!
Barulah kaki ini diajak melangkah menyusuri jalan menuju utara menuju Malioboro dengan lari-lari kecil. Tak memaksakan diri karena bukan lomba balapan. Masih agak remang-remang sudah banyak anak-anak jalan-jalan setelah sholat subuh berjamaah di masjid.
Aduh mak....suara mercon berdentum mengagetkan  telinga penulis. Beberapa kali bila berjumpa dengan rombongan anak jalan-jalan pasti membunyikan mercon berbagai ukuran. Ramai tetapi bagi penulis mulai merasakan gerah, soalnya perasaan tidak nyaman terkaget-kaget mendengar bunyi letusan mercon tersebut. Ya inilah efek usia menua, banyak memori trauma berkelebatan karena ingatan akan bahaya dan kemampuan tubuh yang sebenarnya sudah berkurang dari pada saat remaja.Walaupun begitu penulis merasakan efek lain dari usia menua, yaitu rasa kebijaksanaan timbul lebih arif dari emosional yang meledak-ledak tak terkendali. Ya itulah karena kesadaran akan tubuh yang makin berkurang misalnya mata yang plus, lemak yang makin membusungkan perut, gigi yang makin rapuh bahkan mulai ompong karena beberapa tahun mendatang minta dicabut dan penyakit kulit akibat alergisitas yang sulit sembuh seperti semula. Semuanya memukul kejiwaan bahwa pada akhirnya semua menuju pada kebinasaan...
Sampai masuk dalam kota baru terasa suasana lain, bila di wilayah Bantul banyak anak-anak keluar dan membunyikan mercon terutama saat penulis jogging minggu sebelumnya di Ringroad selatan kini suasana berbeda terasa....jalanan kota sepi, biarpun masih banyak anak-anak jalan-jalan tetapi tidak membunyikan mercon, ya sesuatu telah terjadi di kota Yogyakarta ini.
Tentu itu karena ketegasan peraturan daerah yang tidak membolehkan suara ribut saat ini...semua terjadi karena belakangan banyak terjadi kisruh di wilayah Yogyakarta saat musim kampanye, jadinya sekarang inilah aparat tegas melarang siapapun melakukan hal-hal yang bisa membuat keonaran di Yogyakarta.
Penulis jadi nyaman sekarang jogging menyusuri rute yang biasa ditempuh bila menuju Malioboro, ganjalannya cuma harus berhenti melangkah. Lambung sakit karena makanan sahur belum tercerna baik sudah terguncang-guncang hampir membuat penulis muntah.
Ah ngaso dulu ya...
Selingi dengan jalan kaki, selanjutnya lari lagi dengan irama pelan supaya perut menyesuaikan. Tapi selama menjalani rute yang ditempuh sampai dua kali penulis berhenti dengan perut sedikit kesakitan.
Lambung tetap protes diajak bekerja berat, pasti berteriak...
"Bandel banget kamu ya!"
"Ya ya ya....." Jawabku sambil berhenti dengan melangkah memberi kesempatan perut tidak tersiksa karena terguncang isinya.
Sampailah di Malioboro, sepi tak banyak orang jalan-jalan sebagaimana biasanya. Yah ini pengaruh bulan puasa ditambah lagi memang tak  ada lagi anak-anak diperbolehkan menyalakan mercon.
"Huh tahu kayak gini dari minggu kemarin aku jogging di dalam kota." Kataku terus melenggang lari perlahan penuh semangat.
Apalagi sempat juga bertemu dengan seorang cukup tua sama jogging berlawanan arah, kami sempat bersalaman tanpa menghentikan langkah lari masing-masing.
Ya senangnya bukan main, jarang seorang pelari jogging saling mengetahui keadaan orang yang memiliki hobi sama sampai berkenalan. Orang-orang yang sudah ketagihan jogging lebih merasakan itu sebagai hak privacy masing-masing. Lebih ke masalah kejiwaan karena seorang yang biasa jogging sering merasakan sensasi nikmat bahkan nyaman dalam kesehariannya.
Itulah yang selalu membuat seorang yang biasa jogging sulit meninggalkan hobi ini, kenyamanan tubuh yang didapat seperti mendapat suntikan morphin....begitu nikmat dan membahagiakan.

Ha Ha Ha ayo siapa yang mau ketagihan seperti PENULIS?
Virus itu gratis hanya perlu ketekunan belaka....

Sunday, May 11, 2014

Sesi Meditasi

Masuk bulan Mei, seperti biasa Penulis melakukan latihan sesuai journal kegiatan. Ya puncaaknya adalah hari minggu. Bagaimana pendapat pembaca mengenai journal yang dilatih ini?
Penulis berada di Yogyakarta, ibaratnya mulai menjalaninya sudah tahun ke sepuluh.......
Wah tentu sangat mencengangkan, biarpun mungkin dalam menapaki journal terjadi perubahan tetapi keteraturannya adalah sebuah keajaiban bagi penulis pribadi.
Tentu itu tidak terjadi begitu saja, modalnya sudah terkumpul  sejak dari perantauan Penulis di Kalimantan, dan pelatihan di saat kecil dan remaja saat di Purwokerto mulai dari sekolah dasar hingga sekarang.
Sebenranya materinya juga bukan hal yang luar biasa, masiiiiiih saja hafalan seperti masa kecil. Perubahannya tak banyak, tetapi kemungkinan pendalamannya yang lumayan karena bersanding dengan pengalaman dan pendalaman kejiwaan yang sudah dewasa.
"Masa umur sudah empat puluh empat tahun pandangan hidup masih sama dengan masa pubertas?"
Wah tentunya sangat rugi!!!!
Apakah di usia yang makin tua ini latihan makin bertambah porsinya?
Jawabannya adalah  fisik makin menurun dan kelenturan tubuh makin berkurang, Penulis menyadari mungkin nantinya ketrampilan yang susah payah dilatih hanya tinggal kenangan nantinya.
Seperti latihan Yoga ini,
Sebenarnya lebih peenting mana Yoga dengan Pencak Silat?
Sesungguhnya Penulis mendapatkan Yoga adalah saat menjadi anggota sebuah perguruan Pencak Silat. Jadi Yoga adalah materi tambahan saja dalam perguruan tersebut. Dan kebanyakan Penulis mendapati anak-anak murid perguruan tersebut tidak mendalami Yoga karena bukan bagian penting dalam ajaran perguruan tersebut.
Penulis saja yang kemudian terobsesi mengembangkannya sebagai bagian hidup tersendiri, sedikit nyleneh karena hasilnya adalah praktisi autodidak. Jadi hasilnya menjadi murni versi penulis sendiri.
Nah salah satu pendalaman Yoga yang menjadi versi sendiri adalah sesi Meditasi.
Dalam perguruan Pencak Silat yang pernah Penulis ikuti tak ada sesi ini, jadi pengajarannya adalah menjadi hak Penulis sebagai PRAKTISINYA.

Meditasi itu apa?
Wah Penulis tak akan membeberkan segala definisinya karena bukan ahli bahasa.
Langsung Penulis masuk Meditasi sebagai jenis latihan pendalaman ASANA.
Semuanya bermuara pada ASANA, karenanya Penulis mendahulukan artikel ASANA sebagai semacam dasar sebelum memasuki sesi Meditasi.
Setelah berlatih banyak pose Asana tinggallah masuk sesi latihan Meditasi. Asana begitu banyak nama dan olah tubuhnya, kalau meditasi.....ternyata sederhana sekali.
Hanya ada beberapa ASANA yang terpakai untuk mencapai meditasi. Biarpun mungkin semua asana memungkinkan untuk meditasi tetapi yang favorit dilakukan hanya pose-pose yang nyaman dilatih, nyaman dirasa, tak menyakitkan untuk beberapa otot, dan tidak mengalami kontraksi yang berlebihan. Apalagi akan ada banyak latihan yang tidak berhubungan dengan fisik lagi seperti pernafasan dan visualisasi atau bahkan pernyataan kalimat sebagai Mantera.
Coba langsung masuk Meditasi, prakteknya......
Penulis menjadikan sesi ini dalam dua sesi. Jangan kaget versi ini merupakan pengalaman Penulis dengan mengambil dari beberapa kutipan buku karangan Firmansyah Efendi dan Adnan Krisna walaupun Penulis bukan murid mereka.
Ya hanya inilah yang bisa Penulis latih, Kita mulai sekarang.....
SESI MEDITASI versi I,
Disebut GROUNDING (Terhubung ke langit dan bumi)
Artikelnya masih dari karangan Firmansyah Efendi tetapi variasinya dan penafsirannya asli dari Penulis, begitu juga cara prakteknya. Yah jangan kaget biarpun ada misalnya buku panduan tetap saja kita sebenarnya bebas menafisrkan dan menyesuaikan dengan diri pribadi kita sendiri karena mungkin banyak ketidaksesuaian dengan misalnya kepercayaan dan keimanan agama masing-masing. Pokoknya jangan mutlak melatih diri hanya mengikuti ajaran seseorang!
Adaptasikan setiap jenis latihan dengan tubuh dan sifat diri pribadi, mungkin hati nuranilah pemandu kita yang sebenarnya.
Inilah GROUNDING versi Firmansyah dari bukunya yang berjudul KUNDALINI.
*Bayangkanlah cahaya putih (atau kuning emas) yang terang benderang dari atas turun memasuki cakra mahkota. Cahaya tersebut menghangatkan cakra mahkota dan membuat cakra mahkota membuka dengan besar seperti sebuah bunga teratai dan bercahaya terang benderang.
*Cahaya tersebut menembus cakra mahkota dibagian tengahnya, cahaya mulai memasuki kepala.
*Semakin banyak cahaya yang memasuki kepala memenuhi seluruh kepala, dan mulai mendorong cakra mata ketiga dari dalam, mengaktifkan cakra mata ketiga juga mekar sepenuhnya.
*Cahaya memenuhi seluruh kepala dan turun memenuhi tenggorokan, mendorong cakra tenggorokan untuk mekar sepenuhnya.
*Cahaya yang telah memenuhi kepala dan tenggorokan turun ke rongga dada dan mendorong cakra jantung hingga mekar sepenuhnya. Cahaya juga memenuhi seluruh perut, membuat cakra pusar, cakra seks dan terakhir cakra dasar mekar sepenuhnya.
*Cahaya turun melalui kaki. Bagi yang melakukan teknik Grounding ini sambil berdiri,bayangkan cahaya turun dari kedua telapak kaki, sedangkan bagi yang melakukannya sambil duduk bayangkan cahaya turun dari cakra dasar.
*Cahaya yang telah turun keluar dari tubuh dari cakra telapak kaki ataupun cakra dasar memasuki bumi, menembuss seluruh lapisan bumi, hingga sampai ke pusat bumi, berkahilah bumi dengan cinta kasih sepenuhnya.
*Menerima cahaya dan cinta kasih, bumi akan  membalasnya dengan cahaya berwarna hijau yang naik dari pusat bumi ke tubuh.
*Perintahkan pikiran bawah sadar untuk menjaga agar tubuh selalu terhubung dengan cahaya dari langit dan bumi ini dan menarik kedua sinar tersebut terus menerus.

He He He pusing gak membacanya?
Banyak sekali pengertian yang tidak diketahui oleh pembaca dan penulis sendiri.Inilah pendalaman Yoga.....Ingat semua hal dari Yoga sebenarnya adalah mistik. Jadi pendekatan mistik adalah bagian dari pengajaran MEDITASI.
Lihat saja, bayangkanlah....ini visualisasi. masih bisa diterima akal.
CAKRA.....ini mistik yang rumit, kita sederhanakan saja dalam tubuh terdiri dari tujuh bagian secara fakta. Padahal jika membaca buku KUNDALINI karangan Firmansyah ini ada ratusan cakra...nah lohhhhh....kemudian bagian cakra, wah tambah rumit. Penulis tidak sampai mendalaminya, tak akan habis satu buku dan mungkin juga kurang bermanfaat.
Sederhanakan sajalah, tujuh cakra itupun anggap saja sudah mistik minimalis. Tak ada kewajiban mendalaminya karena hanya memusingkan kepala. ambil saja logikanya, sebagai analogi. Pokoknya tak ada cakra yang terlihat di tubuh, hanya tambahan untuk masuk pendalaman YOGA....itu saja oke.
Mistik nanti akan dibahas tersendiri itupun bukan sebagai kewajiban untuk mendalaminya, hanya menambah pengertian.
Yang diurusi Penulis adalah latihannya, sesi meditasi...jadi versi tersendiri walaupun mengambil dari buku karangan praktisi penyembuhan REIKI TUMO.
Asana Padmasana, tubuh tegak dan sedikit membayangkan adanya bumi dan langit, itu nyata dan bisa diterima akal. Pranayama...menghirup nafas....sengaja penulis tambahi dengan wirid Lailahaillalah....tahan nafas tetap membaca wirid tersebut....hembuskan nafas tetap membaca....tahan nafas tetap membaca. Begitulah seterusnya,satu pernafasan untuk satu cakra hingga terjadi tujuh kali sesi pernafasan.
Begitu juga saat sudah dari cakra dasar naik keatas caranya sama dengan yang diatas paling visualisasinya yang membedakan warna dari putih menjadi cahaya hijau. Itupun diringankan lagi supaya tidak berat membayangkan cahaya, cukuplah seperti ada yang lewat setiap menjalani pernafasan.
Entah...mungkin bagi mereka yang peka bakalan merasakan sensasi tersendiri. Penulis tak mendapatinya jadi cukup sebagai sesi latihan....ingat latihan ini juga tak mudah dilakukan, kata kucinya adalah harus betah duduk bersila padmasana.
He He He satu tahun berlatihpun belum tentu dapat apa-apa, paling hanya ada keyakinan bahwa latihan ini berguna mengendalikan tubuh dan pikiran dari berbagai khayalan yang tak berguna.
ITU SAJA!!!! Ha Ha Ha
Untungnya meditasi ini bukunya banyak beredar dalam berbagai judul, jadi silakan menjadikan manfaatnya sebagai perbandingan dengan yang dilatih oleh masing-masing praktisinya.
Bila Anda betah dan menyukainya....itu sama dengan pengalaman Penulis.
Meditasi versi II dibahas dilain judul, soalnya sama rumitnya. Sementara membandingkan dengan hidup sehari-hari Penulis begitu sederhana bahkan lebih praktis dan apa adanya.
Ini yang membuat Penulis agak iri, sementara Pencak Silat materinya sulit sekali di dapat dimanapun berada maka YOGA berlimpah materi.Ditelusuri sampai jaman Hindu India maupun Budha semuanya ada.