Wednesday, March 30, 2016

TARUNG RAGA

Perhatikan tarung-tarung gagasan yang Penulis paparkan. Ada Tarung Etang, kemudian Tarung Jurus versi I dan versi II. Titik berat dari tarung-tarung itu adalah area serangan di tubuh untuk mendapatkan nilai sebagai pemenang. Gagasan ini mendasarkan kaidah bela diri Pencak Silat yang dilatih oleh Penulis sendirian.
Terutama untuk tarung Jurus versi I, sebisa mungkin kandungan dari jurus bisa diperagakan dalam pertandingan ini. Coba nama jurus, ada jurus Teguh, jurus Liwat, jurus Potong, jurus Giles dll. Dari nama jurus tersebut seorang atlet bisa memiliki karakter saat penerapan dalam even Tarung.
Di dalam masing-masing jurus banyak peragaan teknik. Nah saat pertarungan terjadi bisa dilihat seorang atlet memperagakan teknik andalan melumpuhkan lawannya. Jika terjadi teknik Sapuan berhasil menjatuhkan lawan maka itu adalah karakter dari jurus mana yang dilatih sang atlet. Jadilah atlet tersebut seorang ahli Sapuan sebagai ciri dan Tema suatu pertandingan yang dilakoni sang Atlet.
Jurus yang dilatih Penulis yang mana ada teknik Sapuan adalah jurus keempat, jadilah nama jurus keempat itu sebagai Tema tarung yang mengantarkan atlet menjadi pemenangnya. Tentu menghadapi atlet lain akan berbeda teknik dan strategi yang dijalankan, semuanya dinamis berubah-ubah sesuai tipe lawan yang dihadapi. Seorang Petarung mampu menjatuhkan lawan dengan teknik yang berbeda-beda tentulah Dia seorang yang cerdas. Di sinilah Tarung Jurus versi I diwujudkan, TARUNG bukan sekedar baku hantam belaka.
Juga bila teknik yang berhasil menjadi poin kemenangan, sebisa-bisa disamakan atau menyesuaikan nama jurus yang dilatih sang Atlet. Jadi itu bisa menjadi kebanggaan dan kenang-kenangan akan sebuah latihan yang tidak sia-sia dari penghayat jurus, bahkan tentu akan membanggakan nama perguruan tempatnya bernaung. Ini manfaat secara tidak langsung bagi perkembangan bela diri Pencak Silat nantinya.
Setiap perguruan memiliki nama-nama jurus yang berlainan. Nah nama jurus dari Atlet pemenanglah yang berhak menjadi Tema utama. Begitulah suatu teknik berhasil mengantarkan seorang menjadi pemenang atau poin maka nama jurus yang dilatih dimana ada teknik yang telah mengalahkan lawannya itulah pemegang Temanya.
Sangat banyak teknik di dalam jurus-jurus Pencak Silat milik perguruan, suatu aliran, maupun Pencak Silat kedaerahan. Semakin banyak teknik bela diri ini berhasil diperagakan untuk mencapai kemenangan maka akan semakin banyak Tema yang bermunculan. Coba pikir suatu daerah misalnya Betawi, di sana banyak aliran Pencak Silat yang beredar. Sangat disayangkan bila kekayaan tersebut tak terakomodasi dalam suatu even pertandingan kan?
Contoh dari Penulis pribadi, misalnya menjadi pemenang suatu pertarungan kelas XX di pertandingan tingkat YY...maka misalnya yang berhasil diperagakan untuk mengalahkan lawan adalah teknik bantingan, tinggal merujuk pada jurus wajib yang dilatih yang mengandung teknik ini. Untuk Penulis jurus yang memiliki teknik bantingan adalah jurus kelima yaitu jurus Pat Potong.
Jika teknik Sapuan itu jurus keempat yaitu jurus Loro Tendet, jika teknik Giles menjadi andalan maka itu teknik menggempur kuda-kuda lawan agar buyar ya itu jurus Giles yang biasa dilatih Penulis dinomor urut ketujuh. Jika teknik kuncian, jurus pertama dari jurus wajib yang dilatih yaitu Jurus Teguh dll.

                                                             ***
Bagaimana dengan TARUNG RAGA?

Tarung gagasan Penulis ini sudah diluar kaidah Bela diri Pencak Silat.
Tujuannya adalah untuk mengayakan jenis Tarung dalam even kejuaraan tersendiri. Penulis sendiri belum mendapatkan gambaran teknik-teknik baku yang diperagakan maupun harus dilatih atletnya. Semua ini masih berupa imaginasi yang kemungkinan bisa dipertandingkan.
Tentulah bila dilatih peragaan dari tarung Raga ini menjadi semacam jurus tersendiri yang sangat berbeda dengan tarung yang dibahas sebelumnya. Ya mungkin sama dengan tarung Etang yang Penulis gagas dari awal.
Bila dilihat dari tarung Etang, Tarung Jurus versi I maka titik beratnya untuk mencapai kemenangan adalah area serangan di tubuh serta gempuran pada kuda-kuda lawan, sedangkan Tarung Jurus versi II lebih mirip Kick Boxing karena area serangan cukup bebas kecuali bagian belakang kepala dan kemaluan.
Nah untuk Tarung Raga berbeda prinsipnya. Bobot tubuh adalah mutlak. Kedua petarung memang mengandalkan bobot tubuhnya untuk mengalahkan lawan. Langsung terbayang atlet petarungnya, tentu berbobot di atas rata-rata atau berbadan besar dan berperut menonjol.
Di masyarakat banyak orang memiliki tipe badan seperti itu. Mereka menjadi gemuk bukan karena obesitas tetapi memang faktor keturunan. Tak mungkin orang-orang berbobot lebih dari rata-rata ini berlatih peragaan jurus bela diri Pencak Silat yang misalnya banyak memperagakan teknik melompat dan mengangkat tubuh atau kuda-kuda satu kaki, apalagi bersalto....wah dilarang keras!
Untuk itulah Penulis membuat gagasan Tarung Raga sebagai akomodasi buat kalangan masyarakat yang memiliki tipe tubuh berbobot diatas rata-rata ini. Prinsipnyaa adalah bodi tubuh atau Raga sebagai sarana mencapai kemenangan. Memang tetap ada tekniknya tetapi sasaran untuk mendapatkan poin adalah dari tubuh lawan.
Dari prinsip tarung Raga lawan Raga ini bisa diperoleh berbagai teknik dan jenis latihan yang diperlukan. Nama-nama teknik ini bisa distandarkan nantinya dalam sebuah lembaga penyelenggara Tarung Raga supaya resmi.
Penulis tertarik dengan satu jenis mamalia di hutan Kalimantan, yaitu orangutan. itulah inspirasi Penulis, kemudian adanya jenis gulat di Jepang yaitu Sumo. Pemaparannya masih mentah, bila diperagakan akan terdapat banyak kekurangannya. Penulis hanya mencoba berimaginasi tentang Tarung Raga sebagai pengayaan khasanah versi Penulis.


 Hasil gambar untuk orangutan kalimantan tengah
 Kira-kira seperti ini Atletnya wkwkwkwk...HUSS

Penulis memaparkannya dalam sebuah draft Novel fiksi yang lebih bebas penguarainnya, soal bisa diterapkan atau tidak silakan pembaca menilainya....tinggalkan jejak loh bila sudah membacanya, boleh juga kok dikritik habis-habisan atau dicacimaki karena terlalu banyak khayalannya, TRIMS



                                                              Tarung Raga
Walaupun ini hanya sebuah fiksi tetapi beberapa jenis latihan yang tertulis dalam novel ini merupakan kenyataan. Bela diri Pencak Silat hidup dalam latihan intinya yaitu Jurus. Adakah orang lain yang sama menapakinya sebagai bagian hidupnya?
            “Aku menapaki latihan jurus ini banyak dukanya dari pada sukanya.” Didengarnya kata-kata itu dari dalam hatinya sendiri. Surip merasakan benar bagaimana dirinya berlatih demikian keras tanpa ada yang menghargai kegiatannya tersebut.
            Surip memulai latihan saat berumur delapan tahun di desanya di Beji. Menonton orang-orang berlatih Pencak Silat dilapangan volley RT setempat dan kemudian bergabung.
            Berlatih Pencak Silat dan kemudian menjadi anggota sebuah perguruan Pencak Silat tidaklah stabil. Setahun giat berlatih, berhenti dulu. Disuruh berlatih lagi setelah vakum kegiatan di perguruan. Jurus-jurus yang dikoleksipun tidak langsung lengkap. Setahun berlatih ia hanya menghafal empat jurus, setelah itu mengulangi lagi dari jurus satu karena vakum setahun dua tahun. Kemudian dipaksakannya mencapai sepuluh jurus.
            Bukannya Surip yang malas, tetapi perguruan Pencak Silat Al-Jurus tempatnya bernaung juga pasang surut. Setahun di desa latihan sangat intensif ternyata bubar karena pelatihnya keluar kota mencari pekerjaan.
Surip kecil pun tidak menjadi anggota perguruan lagi, setelah di SMP bahkan sudah tidak ingat lagi apa-apa yang pernah dilatihnya. Semuanya hanya menjadi kenang-kenangan.
            Suatu ketika ada program Training Pelatih di perguruan Al-Jurus. Nah Surip direkrut lagi secara sukarela untuk dilatih lagi. Berlatih beberapa bulan saat itu sekolahnya menginjak SMA. Kemudian dipercaya melatih di desanya. Entah musibah atau bukan perguruan Al-Jurusnya bubar karena guru besarnya pindah rumah ke lain daerah. Perguruan Al-Jurus yang kecil itu ternyata rapuh, beberapa masalah yang terjadi pada guru besarnya ikut menyurutkan nama perguruan.
            Tinggallah Surip sebagai salah satu anggota perguruan ikut pasif. Tak ada gerakan apapun dari anak-anak murid Al-Jurus untuk kembali mengorganisir perguruan karena memang sangat lemah dibidang organisasi. Suriplah yang mengalami tantangan sendiri dengan berbagai masalah hidup. Di Kalimantan inilah kenang-kenangan terhadap Pencak Silat timbul dan membuatnya berlatih kembali walaupun minim sekali modal materinya.
            Jadi dimana sukanya?
            Tidak ada.
            Dan di hutan latihannya bisa intensif dua tiga tahun dengan berbagai prinsip disiplin yang ditemukannya. Jadi dibandingkan dengan latihannya saat di kota Purwokerto kini ia menuai hasilnya.
            Sayang masyarakat pada umumnya tidak menghargai kegiatan-kegiatan Surip. Semuanya hanya dianggap mengada-ada. Bagi masyarakat umum lebih menakjubkan film-film kungfu Cina dan atraksi tenaga dalam. Latihan yang Surip jalani hanya soal sepele, siapapun bisa melakukannya.
            Beberapa orang di camp hanya menjadikan kegiatan Surip sebagai guyonan saat senggang nonton film televise.
            “Wah hanya Surip yang bisa menyaingi Jet Lee di camp ini.”
            Atau saat seseorang pernah menyaksikan latihan Surip di hutan.
            “Wah mirip Jean Claude Van Dame ya.” Katanya membandingkan dengan actor laga dari Belgia kalau nggak salah.
            Orang-orang tersebut tidak memuji Surip sebagai pribadi tersendiri, tetapi membandingkan dengan actor-aktor film laga luar negeri.
            Yang lain lagi ada,
            “Surip itu latihan karate di hutan.”
          Nah orang ini benar-benar tak tahu bedanya Pencak Silat dengan Karate, ia hanya pernah mendengar tentang orang-orang berlatih bela diri karate saja karena gaungnya memang lebih mendunia.
            “Aku pernah lihat seorang Cina kepala bengkel di bagian produksi juga melatih bela diri sendirian tapi kelihatannya lebih hebat karena asli Tiongkok.”
            Ada seorang berkomentar mengenai orang-orang Cina kontrakan yang dianggapnya lebih mahir dari pada Surip biarpun sudah tak ada sosoknya sama sekali karena sudah kembali pulang ke negaranya. Yang ini tentunya membuat Surip tak berkutik karena apa yang dilatihnya tidak sehebat orang Cina yang disaksikan seseorang di camp.
            Surip tak mampu membantah anggapan-anggapan orang camp terhadap dirinya dan juga tak mampu membela bela diri Pencak Silat yang menjadi bagian hidupnya. Pencak Silat sangat kecil lingkupnya dibandingkan bidang-bidang kehidupan lainnya seperti pekerjaan dan jabatan. Juga dengan olah raga populer lainnya atau bahkan dengan panggung politik praktis.
            Surip masih terus melanjutkan latihannya. Ia kini mencoba materi baru dari pemikirannya sendiri.
            “Aku memasukan jenis tarung-tarung ini dalam lingkup Al-Jurus. Sebab gagasannya murni milikku. Jika ada persamaan gagasan orang lain atau jenis bela diri lain itu adalah masalah teknis. Memang kuakui gagasanku ini konsepnya mengambil contoh-contoh yang sudah ada di masyarakat.
            “Aku menambah lagi jenis tarung, jika dilihat dari lingkupnya sama sekali tidak masuk kategori bela diri Pencak Silat. Tetapi bagiku ini masuk pengayaan jenis tarung dengan pengembangan pada atlet-atlet yang berbobot badan diatas kelas-kelas normal.
            Bayangkan seorang yang bertubuh gembrot atau misalnya seorang atlet berbobot lebih dari delapan puluh kilo gram. Kalau dalam Tinju itu masuk  kelas berat dan masih mampu menghunjamkan pukulan keras. Tapi suruh orang-orang berbobot diatas delapan puluh  kilo gram itu menendang, melompat, atau bersalto... Eiiit jangan suruh mereka melakukan itu yaaa!
            Makanya Surip memasukan dalam bentuk tarung lain untuk kekayaan jenis tarung walaupun tidak masuk kategori Pencak Silat.
            “Di hutan aku belum pernah menyaksikan orang utan itu berkelahi. Bisa diduga orang utan tidak mengandalkan kepalan tangan. Jika terjadi perkelahian orang utan itu lebih mengandalkan tubuhnya untuk saling mengalahkan. Baru setelah itu tangannya mencakar, kakinya mendorong atau menjatuhkan tubuh lawan, atau bahkan mulutnya menggigit menyakiti lawan.”
            Yang aneh dalam setiap perkelahian binatang-binatang itu tak pernah ada peristiwa pembunuhan. Seekor macan atau harimau bisa memangsa anaknya sendiri tetapi tak akan memangsa induk betinanya. Begitu juga berbagai jenis binatang lain.
            Jika kedua binatang berkelahi yang ada adalah supremasi untuk mendapatkan betina atau menguasai suatu kawasan. Contoh yang ada adalah kucing-kucing jantan, mereka akan mempertahankan kawasan yang dikuasai, menandainya dengan cipratan kencing di tempat tertentu. Kemudian jika mendapati ada pejantan lain barulah ia bertarung untuk mengusirnya. Tak pernah kucing-kucing itu saling bunuh membunuh seperti manusia.
            “Aku mengambil konsep tarung badan lawan badan dengan nama tarung Raga. Dalam tarung Raga ini bobot tubuh sebagai penentunya.”
            Masuk kategori gulat, tetapi disesuaikan dengan lingkungan masyarakat dan alam Nusantara. Yang dicontohkan Surip itu orang utan. Dalam evolusinya orang utan itu mengandalkan tangan dan kaki sebagai perangkat yang nyaris sama. Badan yang tambun, tangan memiliki bobot berat, begitu juga kaki dengan fungsi pergerakan dari dahan ke dahan lain.
            Ibaratnya jika tangan orang utan itu memegang dahan yang sama besarnya masih sangat mudah dipatahkan. Begitu juga kedua kakinya bila mencengkeram sesuatu pastilah dengan mudahnya diremukan. Kedua tangan dan kaki orang utan masing-masing hampir sama fungsinya, bedanya hanya anggota atas dan bawah tubuh.
            “Tak usah tarung Raga ini disamakan dengan keperkasaan orang utan di rimba Kalimantan. Yang penting sudah ketemu prinsipnya, yaitu tarung badan lawan badan.” Surip tak perlu bertambah panjang berpikir.
            Dalam peragaan kedua petarung yang jelas-jelas berbobot gembrot atau di atas normal akan saling berhadapan. Keduanya membungkuk menatap lawan dalam hal ini mengincar tubuh lawan. Mungkin pembaca pernah melihat tarung Sumo Jepang. Tarung Sumo itu tak pernah dilakukan di luar wilayah Jepang. Jadi boleh saja kita mencontoh tarung Sumo itu sebagai khasanah budaya kita, tentu dengan norma-norma yang sesuai adat Nusantara.
            Wasit memberi aba-aba mulai, kedua petarung menabrakan diri ke masing-masing tubuh lawan. Setelah itu barulah kedua tangan dan kedua kaki berfungsi dengan menyerang tubuh lawan menjatuhkan, mendorong, atau mengunci lawan. Teknik-teknik kuncian tak perlu serumit gulat internasional, yang penting lawan terjatuh di lantai tak berdaya lagi mengangkat tubuhnya, ya sudah jadilah seseorang dinyatakan pemenang.
            Seseorang yang sama-sama gembrot bertarung, mampukah salah satu mengangkat tubuh lawannya dari matras ring?
            Jika mampu itulah jenis teknik dengan kemenangan sempurna.
Dalam tarung ini kemenangan tak perlu dihitung dengan poin, tetapi dari nama teknik yang diperagakan.
            Misalnya          - Mengangkat tubuh lawan                      : RAGA               
- Mendorong keluar dari ring                   : SURUNG
- Menjatuhkan lawan dari lantai matras   : TIBA
- Mengunci lawan                                     : BEKUK
            Wasit memberi kemenangan sesuai dengan teknik yang diperagakan petarung sesuai dengan nama tekniknya. Bila ada teknik lain yang belum tecantum boleh ditambahkan.
            Dalam setiap laga Petarung diberi kesempatan mencapai tiga teknik peragaan. Dengan demikian jika salah satu petarung mampu mencetak salah satu atau dua teknik tersebut diatas sudah bisa menjadi pemenang. Kemenangan sudah tercapai begitu salah satu petarung berhasil menaklukan lawan tiga kali berturut-turut atau tiga kali lebih dulu dari lawan.
            Dengan imaginasi saja tarung Raga ini sudah terlihat. Dua Petarung misalnya sudah mencapai masing-masing kemenangan telak atau draw, maka akan ditentukan satu kali lagi untuk mendapatkan seorang pemenangnya.
            Terlihat jelas setiap kali kedua petarung Raga ini melakukan benturan antar badan paling tidak sekitar lima kali. Ronde tak dibutuhkan, setiap satu benturan dan kemudian didapat seorang pemenangnya masing-masing diberi kesempatan istirahat beberapa menit untuk mengatur strategi dan persiapan ke gelanggang lagi.
            Wasit berhak menentukan sah tidaknya teknik yang diperagakan, juga berhak membatalkan bila salah satu petarung melanggar aturan pertandingan. Aturan-aturan lain tarung Raga ini bisa didapat saat dipraktekan di arena pertandingan. Yang penting prinsip  tarung Raga ini sudah didapat yaitu badan lawan badan, memanfaatkan berat badan untuk mendapatkan kemenangan dll.
            Jenis-jenis latihannya tentu sangat berlainan dengan tarung Etang maupun tarung Versi I dan II Al-Jurus. Orang-orang berbadan gemuk memiliki problematika sendiri. Sebagian besar orang-orang berbadan gemuk karena sudah keturunan. Mereka tetap perlu berolah raga biarpun terbatas gerakannya. Tarung Raga inilah jawabannya.
            Bagaimana dengan orang-orang berbadan gemuk karena kurang gerak?
            Mereka tak masuk kategori kelas dalam tarung ini. Seorang yang mengalami kegemukan karena kurang olah raga tak mungkin dilatih lagi, tuntutan untuk orang-orang ini adalah mengurangi berat badan demi kesehatan.
            Dalam tarung Raga teknik yang berhasil diperagakan menentukan peringkat. Seorang Petarung yang berhasil mengalahkan beberapa lawannya dengan teknik RAGA (mengangkat tubuh lawan) dihitung beberapa kali teknik tersebut berhasil dilakukan. Setelahnya teknik lain seperti BEKUK juga menjadi poin tersendiri.
            Dibawahnya kemudian mendorong (SURUNG), dan menjatuhkan lawan (TIBA). Bayangkan seorang Petarung raga telah menghadapi sembilan peserta dalam satu even. Berarti terdapat peragaan teknik 9x3=27 teknik. Nah dua puluh tujuh teknik ini bisa diuraikan dalam contoh berikut.
1.      Semuanya teknik RAGA (27 kali)     Sempurna
2.      Teknik   RAGA  20
Teknik   BEKUK 7
3.      Teknik    RAGA 10
Teknik    BEKUK10
Teknik    SURUNG 7
4.      Teknik…..dll.
             Tentunya jika teknik RAGA mencapai dua puluh tujuh tentu itulah juaranya. Selebihnya menurun sebagai peringkat di bawahnya.
            Uraian diatas masih mentah, belum ada prakteknya di lapangan. Masih harus dikaji sebagai bentuk tarung baku yang diakui sebuah lembaga tersendiri.
                                                                      ***
            “Hiyaa!” Seseorang menepuk punggung Surip. Kemudian terdengar kata selanjutnya. “Ela mengkhayal Lek, kesurupan kareh ikau.” Meldi berkata seraya duduk di tepi palbet tempat tidur Surip.
            Surip yang tadinya terlonjak kaget bisa meredam dirinya yang tadi tak terkendali. “Uuuh copot jantungku Mel!”
            Sebaliknya Meldi berdendang lagu kerungut. Surip tertawa mendengar lagu kerungut yang dinyanyikan Meldi.
            “Aku tak mengira ikau mahir krungut Mel, ayo ajari aku.” Surip berkata memuji pura-pura memohon meminta sesuatu.
            “Kawa ae tapi aku laku kaos barumu Lek.” Meldi menunjuk kaos yang baru dibelinya di Kuala Kurun. “Kareh aku huruf dengan uang Lek.”
            Surip melongo, kaos yang dibelinya ternyata ditaksir Meldi. “Heh Mel dari pada ikau ambil kaosku jewu kita je Kurun nukar yang lebih behalap.” Surip berkata memberitahu Meldi akan keadaan kaos barunya yang dibeli murah dan pasti ada yang lain yang lebih baik.
            “Dia aku ambil ayung ikau Lek, behalap tutu.” Ujar Meldi mengerasi maksudnya.
            Masih Surip mencoba mempertahankan hak miliknya, tetapi Meldi tetap ngotot. Sebenarnya heran juga Surip dengan kelakuan Meldi ini. Akhirnya terpaksa Surip menyerah, dibiarkannya Meldi sesuka hatinya mengambil kaos barunya yang kemudian langsung dipakai Meldi.
            “Uiih rupanya ini watak Meldi yang tersembunyi, orangnya bila sudah menyukai sesuatu akan terus mengejarnya hingga dapat.” Kata Surip dalam hati. “Yang diperebutkan hanya pakaian kaos rupanya Meldi sangat suka penampilan sedikit mewah.”
            Hampir-hampir mereka berdua bertengkar hanya gara-gara pakaian. Meldi yang sudah mendapat baju kaos Surip terus berdandan dan berdecak kagum dengan penampilan barunya. Mulutnya tak henti-hentinya melagukan kerungut. Ada-ada saja watak manusia di dunia ini, Surip kini tahu jenis manusia seperti Meldi ini.
            Baru kali ini Surip bersama dengan meldi. Saat ini Surip membawa regu pembebasan I, sedangkan Meldi di regu kegiatan ITT (Inventarisasi Tegakan Tinggal) bagian Perencanaan. Masing-masing regu mengerjakan petak dan berlokasi yang sama.
            Meldi hanya tukang masak, itu pekerjaan spesialisasinya. Orangnya memang pemalu. “Aku heran dengan ikau Mel, dia puji aku mendengar ikau menyanyi kerungut bila ada bubuhannya?” Surip bertanya.
            Kini di depan matanya Surip menjadi saksi keahlian Meldi melagukan kerungut atau pantun Dayak. Surip tak tahu arti-arti pantun dalam bahasa Dayak, tetapi lagunya sering diperdengarkan radio RRI Palangkaraya.
            “Jurus Pencak Silat pun di beberapa daerah selalu diiringi dengan musik. Irama kerungut dan musik-musik daerah pada umumnya monoton. Hitungannya memang bisa disesuaikan dengan tarian atau Pencak.” Surip lagi-lagi menghubungkan keadaan lingkungan Dayak dengan bidang yang digelutinya.
            Biarpun berbeda tetapi tetap terasa persamaan lingkungan antara satu daerah dengan daerah lain di seluruh Nusantara ini. Termasuk juga dalam olah raga bela diri Pencak Silat. Semuanya bisa saling berhubungan walaupun berlainan suku dan bahasa. Itu menunjukan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia dulunya berasal dari suatu daerah sama.
            Ternyata setelah teman-teman seregunya berdatangan, Meldi tak seriang saat berdua dengan Surip. Meldi pemalu dan merasa paling bodoh diantara anggota regu perencanaan. Sejak mengenalnyapun Surip tahu bidang yang dikerjakan hanya di bagian dapur melulu. Sekarang Surip tahu diam-diam Meldi memiliki bakat dibidang lain, itulah feelingnya. Dengan jalan tersebut ia mengambil lagu daerah sebagai basis mengenal musik lain.
            Di hari-hari selanjutnya bakat Meldi terasa saat mencoba berlatih gitar di camp. Beberapa lagu ternyata langsung mampu dinyanyikan terutama lagu-lagu Pop bernada diatonic. Dari gitar pinjaman Meldi terus berinovasi mencoba berbagai lagu dan jenis musik walaupun tetap basis dasarnya dari musik kerungut. Terasa kemajuan perlahan karena ia berlatih insentif. Bakat lain ternyata muncul juga dari Meldi ini, begitu mulai mencoba berlatih bulutangkis ia bisa bergerak lincah melangkah ke kanan ke kiri mengitari lapangan untuk memukul bulu angsa.
            Ah dunia memang seperti itu, bila mau belajar bakat terpendam di dalam diri kita akan keluar biarpun latihannya sedikit demi sedikit. Surip mencontohkan dirinya sendiri yang berlatih bela diri Pencak Silat di hutan. Semuanya dirasakan tak tergesa-gesa, perlahan tapi pasti mendapatkan kemajuan yang tak terduga.
            Kegiatan pembebasan I dan Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT) memang berada dalam satu RKT (Rencana Karya Tahunan). Hanya saja kegiatan ITT akan lebih cepat selesai karena hanya mendata tegakan tanpa perlakuan apapun. Sebenarnya data ITT itulah yang menjadi acuan kegiatan pembebasan I dan selanjutnya. Sayang biasanya setahun dua tahun pembebasan masuk, bekas-bekas data ITT sudah hilang. Terpaksa kegiatan pembebasan mulai lagi dari awal.
            Seperti biasa Surip keluar saat menjelang sore, jadwal latihannya masih berjalan. Jangan salah, apa yang dilakukan Surip itu adalah kegiatan selingan. Kegiatan intinya tetap berupa pekerjaan mencari rejeki. Dan itu bisa didapatnya dari perusahaan HPH. Pekerjaan yang berada jauh di dalam hutan bebas menafsirkan kegiatan yang dipegangnya.
            “Aku umba Lek, bosan aku je pondok terus.” Meldi tiba-tiba beranjak cepat mengikuti Surip yang sudah berada di jalan logging. Surip agak gelagapan, diikuti Meldi berarti batal latihannya.
            “Ayolah kita ke bekas camp tarik, lumayan tege pucuk jawau je hitu.” Surip berkata mengalihkan maksud tujuannya.
            Jadilah mereka berdua jalan-jalan sore itu di petak kegiatan pembebasan. Bekas camp tarik yang dimaksud Surip berada di hulu sungai tempat mereka berpondok. Untuk mencapainya melalui beberapa tanjakan bukit jalan logging truck.
            Mereka berdua berjalan sambil ngobrol, tak lupa keduanya menenteng masing-masing sebilah parang. Ini di hutan, perasaan lebih aman bila membawa senjata. Tak lupa Meldi membawa ketapel bikinannya sendiri (Uh Meldi ini mengingatkan Surip tentang dirinya yang ternyata berzodiak sama yaitu kepiting, orangnya sensitive dan rata-rata pemalu). Dengan ketapel ini ia menyesuaikan dengan lingkungannya. Ia terlatih menggunakan ketapel untuk berburu burung. Berlawanan sekali dengan teman-temannya yang membawa senapan angin.
            “Belok kanan Lek lebih cepat sampai kita di bekas camp tarik.” Meldi menunjuk jalan dorongan traktor.
             Surip yang kelabakan, “Jalan te tertutup semak belukar Mel, kita ikuti jalan yang nyaman saja.” Tentu saja itu salah satu tempat rahasia Surip berlatih.
            “Ah kejau Lek, ie te jalan pintas.” Meldi langsung terus belok kanan tak peduli dengan kata-kata Surip.
            Sebentar kemudian Meldi berteriak keras,
            “Oi Rip tege jejak aneh je hitu!” Teriaknya makin membikin Surip senewen.
            “Sialan Meldi ini, itu tempat aku berlatih tahu!” Suara itu terdengar dalam hatinya saja.
            Sementara Meldi terus berkomentar atas penemuannya.
            “Mias jejak te, binatang narai sampai berkeliaran je hitu?” Kata-katanya polos karena bingung dengan apa yang ditemukannya. Tapi kemudian dugaannya tepat,
            “Ah paling ini jejak manusia, tapi narai gawean uluh te?” Meldi tetap bingung karena tak ketemu jawabannya.
            Surip pun diam saja, dibiarkannya Meldi dengan berbagai dugaan terhadap apa yang ditemukannya di jalan traktor. Tempatnya cukup datar dengan lapisan tanah empuk. Jejak-jejak itu paling menonjol di satu garis tapak-tapak kaki terhunjam di tanah.
            “Biari Mel. Ayo nanjung ke bekas camp tarik.” Cepat-cepat Surip mengajak Meldi meninggalkan salah satu tempat favorite berlatih jurus.
            “Jejak eweh Rip, hanya kita yang berpondok je petak te?” Meldi bertanya curiga tapi terus melangkah menuju tujuannya.
            Ini adalah hal-hal konyol yang dialami Surip gara-gara kegiatannya berlatih bela diri Pencak Silat. Meldi hanya sekali ini saja berpondok bersama Surip. Kegiatannya di Perencanaan lebih sering masuk petak hutan yang masih perawan (Hutan Primer).
            Orangnya rupanya merasa rendah diri diantara teman-teman kerjanya. Rata-rata orang survey bagian Perencanaan memang tenaga pilihan. Kepala Bagiannya orang Banjar bekas alumni UNLAM. Ada seorang yang direkrutnya  konon didikan dari pemain club sepak bola Barito Putra. Karenanya anak buahnya  ini tidak hanya diandalkan untuk ikut survey saja tetapi sering menjadi anggota team  sepak bola perusahaan sehingga selalu menang di Kuala Kurun bila ada kejuaraan.
            Meldi menjadi satu-satunya orang kampung yang ikut kegiatan Perencanaan. Tentu hanya bagian dapur saja. Ini bagian yang paling dijauhi anggota regu manapun. Dengan Surip Meldi di camp cukup akrab. Sering mereka berdua berjalan-jalan di Kuala Kurun. Beberapa bagian sifat Meldi seperti cermin bagi Surip, introvert dan menutupi berbagai kemahirannya karena malu.
            Seiring dengan statusnya yang meningkat, Meldi mulai memperlihatkan ketrampilannya. Pergaulannya membuat ia mencoba berbagai fasilitas yang ada di camp. Bakat alamiahnya dari lingkungan Dayak di coba dalam musik modern dengan iringan gitar. Ternyata feelingnya cukup tajam untuk menentukan perbedaan nada, sehingga lagu-lagu pop bisa dinyanyikannya. Bahkan dalam bidang olah raga yaitu bulu tangkis ia demikian lincah mempermainkan raket dan kock bulu angsa melebihi Surip yang hanya sekedar ikut-ikutan di camp. Demikian Meldi di camp Rimbawan. Rendah diri dengan berbagai bakat alamiah yang disembunyikan.
            Lain lagi dengan Harahap. Segudang perantauannya di berbagai daerah Indonesia hanya menjadi bualannya saja. Banyak sekali kisah petualangannya yang demikian seru terlalu dilebih-lebihkan. Hanya enak didengarkan tapi tak mungkin benar-benar terjadi, lebih mirip film yang disesuaikan dengan tempat-tempat yang pernah disinggahinya.
            Beberapa kejadian tak nyaman dialami Surip dalam bergaul dengan Harahap yang satu ini. Berbeda dengan Agus Lenong yang sama bermarga Harahap tetapi memiliki tenggang rasa tinggi. Harahap yang ada di camp Rimbawan menjadikan Surip sebagai sarana menonjolkan diri di camp.
            Klaimnya bahwa dialah yang melatih Surip dalam bela diri membuat orang-orang camp mengaguminya. Kegiatan apapun yang Surip lakukan diperhatikan orang camp. Tentu Surip memperlihatkan berbagai disiplin hasil latihannya dalam Pencak Silat. Semuanya dianggap sebagai jasa seorang bernama Harahap.
            Disiplin adalah hasil sampingan seseorang berlatih kegiatan bela diri. Dua puluh empat jam sehari terbagi menjadi beberapa sesi kegiatan. Kebiasaan bangun pagi baik itu di camp maupun di pondok kerja tak bisa dibantah lagi. Pagi-pagi dengan udara dingin segar membuat tubuh bergerak dalam latihan-latihan ringan mencapai kebugaran.
            Perbandingannya sangat terasa saat bersama-sama dengan orang lain berjalan kaki di jalan menanjak bukit. Orang-orang yang tak berlatih akan tersengal-sengal nafasnya dan kepalanya merasakan pening. Surip mampu menanjak bukit tanpa banyak kesulitan, staminanya meningkat hingga menjadi kebiasaan positif.
           Lagi hasil latihan yang berhubungan dengan moral, yaitu kejujuran. Sesi-sesi latihan jurus melatih tubuh mengakui jujur tidaknya hasil latihan. Hari ini hanya mampu push up lima puluh kali tak mungkin tubuh bicara seratus kali. Tubuh sedang sakit juga jujur akan angkat tangan dipaksa berlatih. Porsi-porsi latihan cukup terukur, satu juruspun tahu berbagai kesulitannya, porsi tempaan fisik seperti push up, scot jump, sit up menjadikan Surip tahu tubuhnya mampu digenjot dalam latihan-latihan berat.
            Tak ada orang camp atau sesama orang survey mencapai kemajuan dalam porsi berlatih seperti Surip. Bisa orang di camp trampil bermain bulutangkis, bola volley, sepak bola, atau tenis meja. Tapi semuanya lebih diikuti orang karena unsur hiburannya. Semuanya hanya sebatas permainan seperti remi, domino, atau catur. Semua permainan tersebut bisa ditinggal sewaktu-waktu atau terlupakan.
Pencak Silat yang dilatih Surip justru melebur menjadi bagian hidupnya. Berbagai sesi di dalamnya adalah ritual seperti upacara. Berbagai pandangan hidupnya terhadap lingkungan diambilnya dari disiplin yang ditemukannya sendiri. Pencak Silat menjadi semacam semangat bertahan hidup. Menjadi sebuah doktrin seperti keimanan dalam agama. Tentu tidak setinggi agama, tetapi mengiringi agama yang dianutnya. Itulah Al-Jurus, sebuah pandangan hidup dengan dasar bela diri.
Beberapa bulan Harahap menjadi sopir Rimbawan. Bualannya terbukti di bidang tersebut, mobil rimbawan tak pernah beres di tangannya. Ada-ada saja masalahnya, mesin mogok, bensin selalu kurang, bermain-main dengan barang-barang yang diangkutnya, semisal minta jatah setiap kali mengantar ke suatu tempat, dan mencoba main mata sebagai jasa angkutan dengan orang kampung menjadikan Kabag pembinaan dan perencanaan memberi sanksi.
Setelah itu Harahap hanya menjadi kenang-kenangan orang camp Rimbawan sebagai sopir paling tidak disiplin yang pernah ada. Ia meninggalkan masalah yang dikeluhkan oleh penggantinya. Surip sendiri merasakan getahnya juga secara pribadi. Ada tenaga harian tetap mendapat jatah kasur perorangannya. Tentu saja karena mendapat jatah adalah haknya langsung diambil.
Eee…. Sebulan baru dipakai, setelah masuk kegiatan survey. Kasur itu disikat Harahap. Tentu saja Surip protes dan mempertanyakannya. Saat itu awal-awal Harahap menjadi sopir Rimbawan. Jawaban Harahap membuat Surip geleng-geleng kepala,
“Kamu itu harian tetap, aku ini sopir statusnya bulanan. Lebih tinggi aku ketimbang kamu!” Kasar sekali kata-katanya merendahkan Surip. Sayang saat itu tak ada yang membela Surip. Semuanya membiarkan kejadian itu karena perbedaan status karyawan. Surip yang menjadi korban kenakalan Harahap.
Hidup di masyarrakat dengan berbagai latar belakang membuat tanggapan terhadap kegiatan Surip berbeda-beda. Harahap paling  menonjol karena memanfaatkan kegiatan Surip untuk mendongkrak popularitasnya di camp Rimbawan. Banyak saja orang-orang camp yang tahu dan hanya menyinggung sekedar sebagai bahan obrolan supaya nyambung.
Orang-orang seperti Gundam dan Junaedi misalnya tidak akan ikut campur apa lagi mempengaruhi Surip dengan merendahkan kegiatan yang dilakukannya. Bagi mereka masing-masing juga memiliki bidang dan dunia sendiri-sendiri.
Gundam dengan berbagai kelebihannya sudah sibuk dengan berbagai masalah keluarganya. Perbandingannya dengan urusan keluarga yang memaksanya untuk turun tangan membantu kedua orang tuanya membuatnya sadar lebih sulit mengurusi diri sendiri dari pada mencampuri urusan orang lain.
Junaedi, ia dituakan dalam kelompoknya sendiri. Ia adalah mantan gangster di Banjarmasin. Biarpun ia mencoba mengubah perilaku untuk tidak terlibat dalam tindakan-tindakan kriminal, tetapi cap sebagai gangster tetap melekat. Keluyurannya pun tak jauh-jauh amat dari dunianya dahulu seperti tempat karaoke atau bergaul dengan gangster-gengster di Kuala Kurun.
Di sanalah ia mendapat tempat terhormat. Dituakan dan menjadi panutan karena kewibawaannya. Dengan Surip Junaedi bergaul akrab, kadang berdiskusi tentang pekerjaan dan masalah agama. Dari Surip Junaedi cukup banyak mendapatkan pengetahuan tentang perbandingan agama karena adanya misi gereja di pedalaman.
Ada beberapa hal yang Surip sering tidak mengerti di camp Rimbawan. Biarpun orang-orang camp tahu kegiatan dan kemajuannya baik itu dalam karier di perusahaan maupun kegiatan latihannya. Anggapan orang-orang camp tetap seperti pada awal-awal dirinya masuk di camp.
Beberapa kejadian yang pernah dialaminya seperti kena rengas, tubuhnya yang kurus kerempeng terkesan kurang makan, apa lagi kejadian saat dirinya menebas semak belukar ala penyabit rumput, selalu diungkap. Mereka selalu menjadikan kelakuan Surip sebagai tolok ukur kemampuannya. Begitulah kesan Surip hidup di camp, kemampuannya tidak meningkat bahkan cenderung dibodoh-bodohkan.
Kenapa bisa demikian?
Ada semacam kebiasaan dil ingkungan camp syang mengikuti kebiasaan orang local. Apapun kegiatan di mana seseorang terlibat didalamnya hanya dianggap hebat bila selalu melakukannya dengan taruhan (judi). Olah raga apapun jenisnya selalu dengan taruhan, biarpun itu hanya berupa sekaleng minuman bersoda. Main remi, domino, belum lagi permainan dadu gurak biarpun diam-diam. Ada larangan bermain judi di camp, tetapi itu sekedar papan larangan bertulisan besar. Praktek judi tetap marak dan orang-orang yang melakukannya itulah yang dianggap sebagai orang hebat di camp.
Kebiasaan lain adalah minum-minuman beralkohol. Siapapun yang masuk lingkungan ini sepertinya akan begitu banyak memiliki teman pergaulan. Hari ini traktir orang-orang itu minum, besok pasti diajak ke tempat lain untuk bergabung sesuai giliran. Jadi siapapun tinggal pilih jika ingin luas pergaulannya.
Dan Surip salah satu orang yang tersisih dalam pergaulan. Apa lagi seleranya jauh berlainan dengan kebiasaan-kebiasaan mayoritas orang camp. Prestasi Surip yang diakui di camp hanyalah kemampuannya mengetuai regu kegiatan pembinaan. Jika itu sudah hari-hari hendak masuk survey, orang-orang camp kongkalikong untuk bisa ikut menjadi anggota regu yang dimandori Surip.
“Umpat Surip itu nyaman, gaweannya tidak menekan dan mudah diajak kompromi.” Itu ujar orang-orang camp diam-diam di belakang Surip.
Terus berbagai peristiwa dilalui Surip, bagian novel ini menceritakan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan journal latihannya. Kegiatan-kegiatan pembinaan makin mengerucut pada bagian pembebasan. Bagian ini terdiri dari Perapihan, Pembebasan I, II, III, dan Penjarangan I, II, III. Spesialisasi mulai berjalan dan Surip mendapatkan kegiatan Perapihan. Jadi jika setahun ada sepuluh bulan efektif masuk hutan bisa delapan bulan adalah kegiatan Perapihan dan lainnya hanya berperan sebagai pengganti mandor lainnya yang sedang berhalangan.
Sebaliknya dinamika perusahaan juga tidak konstan. Situasi politik nasional hingga tingkat kedaerahan sangat mempengaruhi maju mundurnya perusahaan. KalTeng termasuk kantong partai-partai Nasionalis. Partai-partai yang mengusung ideologi nasionalis tradisional seperti PDI dan sempalan-sempalannya sangat kuat di pedalaman. Panutannya adalah ketokohan pahlawan nasioanl Cilik Riwut yang berkolaborasi dengan Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Palangkaraya menjadi tolok ukur Dwi Tunggal panutan orang-orang KalTeng. Kedua tokoh itulah penggagas ditentukannya perpindahan ibu kota NKRI dari Jakarta ke Palangkaraya. Suatu cita-cita yang tetap terpendam daalam dada setiap warga KalTeng.
Surip berada di KalTeng antara runtuhnya Orde Baru digantikan Orde Reformasi. Tumbangnya rezim Soeharto diikuti dengan aksi penjarahan aset-aset konglomerat dan rasialisme terhadap warga Cina. Setelah itu mulailah kerusuhan-kerusuhan di setiap daerah bernuansa separatis dan etnis. Dan KalTeng adalah salah satu daerah yang menyimpan konflik antar etnis. Perselisihan antar etnis menjadi fenomena bom waktu, kapanpun bisa meledak.
Dunia Surip sangat kecil tak sebanding dengan lingkungan sekitarnya. Journal latihannya tak bakalan masuk agenda politik tingkat manapun. Di camp tempat tinggalnya hanya ia seorang yang berlatih dengan dalih ingin berbeda dengan yang lain.
Komik dan film selalu menggembar-gemborkan adanya dunia bawah tanah yaitu dunia persilatan. Pengaruhnya digambarkan mampu menjangkau altar Kakaisaran China. Pendekarnya digolongkan dalam golongan hitam dan putih yang selalu berseteru. Ternyata di dalam alam nyata tidak sehebat itu.
Di Sicilia ada mafia, dunia bawah tanah dengan hukum tersendiri yang selalu bersinggungan dengan kriminalitas. Hukum di Italiapun yang jadi negara intinya mensub bagiankan golongan mafia ini. Tapi hanya tindakan kriminalitasnya saja yang bisa dijerat. Organisasinya timbul tenggelam dan tidak nampak di permukaan. Seseorang pelaku kriminal yang telah membunuh didakwa pasal pembunuhan tidak menjangkau kejadian persaingan antar organisasi mafia yang saling berebut pengaruh.
Dunia Persilatan baru sebatas budaya lokal, digerakan oleh perguruan di seluruh Indonesia dan dicoba disatukan dalam wadah olah raga di IPSI. Didikannya baru sebatas mental spiritual, perkembangannya dicoba distandarkan oleh IPSI.
Paling tinggi dunia persilatan adalah jasa keamanan terhadap lingkungan baik itu bayaran maupun partisan saja. Ada perselisihan antar perguruan yang berujung pada perkelahian massal, sangat mudah dikategorikan sebagai tindak kriminal.
Bagaimana status Surip di bidang yang digelutinya ini?
Ia adalah mantan siswa anggota dan pelatih di sebuah perguruan Pencak Silat. Al-Jurus diambilnya hanya untuk mendapatkan lingkup legalitas kemampuannya. Kemungkinan di Indonesia banyak orang-orang yang mengalaminya. Mencintai bela diri Pencak Silat bahkan melatihnya tetapi sudah tidak bernaung dalam perguruan manapun.
Anda termasuk di dalamnya?
Kembali ke sebuah kegiatan Perapihan di perusahaan PT Johanes Arnold Pissy Kuala Kurun. Tak usah diceritakan detail Surip dan anak buahnya masuk regu Perapihan. Di sebuah pinggir sungai di bawah naungan pepohonan hutan hujan tropis. Pondok Perapihan hari itu kedatangan beberapa mahasiswa magang.
Wahab berbisik di telinga Surip, “Bungas bebinian magang Rip, ikam paraki nah..” He He He ternyata itu cewek satu-satunya anggota mahasiswa magang tersebut. Orang hutan (survey) bertemu cewek?
Tak ada yang memberi komando, pasti semuanya beraksi cari perhatian. Tak terkecuali Surip yang jadi mandor di regu tersebut. Perkenalan sudah terjadi, Surip komandannya paling dulu berjabat tangan.
“Martha.” Surip mengulangi nama perempuan tersebut. Tubuh ramping berkulit putih cantik seperti kata Wahab. Sedikit jerawatan dengan status mahasiswi magang, sangat terpelajar.
“Ya ngaran panjangnya Martha Nahas Evangel.” Ujarnya menambahkan. Wou keren banget, jauh dari nama Surip yang berbau ndeso (tapi nama Surip ini asli nama Jawa bahasa kawi alias Jawa kuno).
“Tinggal dimana ikam di Banjar baru?” Surip bertanya. Orang-orang ini mahasiswa dari UNLAM Banjarbaru, itu tempat keluyurannya Surip dulu. Ini semacam nostalgia Surip di perantauan.
“Perumahan Guntung payung.” Martha menjawab dengan senyum manis sekali. Duillah lelaki mana yang nggak naksir dengan Martha ini, Surip pun tahu dirinya tertarik olehnya.
Surip segera bercerita tentang dirinya yang pernah tinggal di jalan Purnama dan sekaligus teman-temannya yang ada di Banjarbaru. Rental Silva komputer yang ternyata sudah bubar, bahkan menunjukan rumah Pak Sastro yang pernah disinggahinya sehingga tahu Martha itu berada di blok mana di perumahan Guntung Payung.
“Berarti ketika Mas Surip di Banjarbaru Martha baru semester dua ya.” Martha ternyata tidak rikuh ngobrol dengan Surip. Saat Martha memanggil Mas...waah berdesir hati Surip.
“Ei aku ada kenalan cewek di jalan Purnama, ngarannya Evi dari Tamiang Layang. Berarti kalian sama-sama Dayak Manyan ya?” Terus Surip ngobrol dengan Martha membuat anak buahnya yang lain mundur memberi kesempatan. Juga orang magang yang lelaki tak keberatan si Martha didekati lelaki wong alas ini. Kalau orang magang lelaki itu langsung sibuk bermain kartu melawan Wahab Cs. Apalagi masing-masing juga tahu mereka sesama orang Banjar.
Entah kenapa Surip yang agak dingin menghadapi cewek kali ini bisa terbuka dengan Martha. Bahkan beberapa kali Surip agak nakal menyentuh bagian sensitive Martha. Tak ada protes dan ceweknya menerima pasrah.
Di pondok sering ngobrol, di hutan pun saat bekerja seperti sepakat berpasangan. Orang-orang anggota regu dan teman-teman cowok Martha tak ada yang bertanya macam-macam. Sepertinya memaklumi keadaan Surip yang sebagai lelaki juga normal membuat pendekatan terhadap perempuan.
Tapi Martha ini juga memperlihatkan diri sebagai pelajar yang kritis.
“Masak masuk hutan begawai sebentar saja Mas. Mana target tebasan  dua hektar sehari?” Pertanyaan seperti ini yang sering menyulitkan Surip sebagai ketua regu.
“Ya ini istilahnya estimate saja, yang penting masuk hutan setiap hari. Soal tebasan kemampuan manusia sangat terbatas. Berapa kali aku mencobanya satu jalur ternyata baru benar-benar tembus tiga hari. Jadi ini sudah kompromi di dalam hutan, kita tahu sama tahu sajalah.” Surip terpaksa menerangkan keadaan kegiatan yang dibawanya.
Tetapi orang-orang seperti Martha yang dibekali konsep kehutanan sering mendebat Surip. Surip menyerah tak mungkin masuk teori-teori kehutanan yang tak mungkin bakalan pernah dilahapnya. Di lapangan ia sebagai mandor menafsirkan kegiatan perapihan seenak udelnya sendiri. Bayangkan masuk hutan bekerja dengan dominasi tebasan saja dan ternyata tak pernah dituntut membuat laporan kegiatan yang dibawanya. Laporan perbulan itu ada yang membuat sendiri di kantor.
“Untuk urusan laporan kegiatan langsung saja ikam bertanya kepada Asisten Pembebasan di kantor. Kami di hutan tak lebih hanya dipasang sebagai pion untuk memenuhi persyaratan HPH TPTI.” Karena kewalahan Surip pun mencoba memberi keterangan keadaan dirinya dan nasib sebenarnya orang-orang survey.
Hanya alat pengumpul kekayaan atasan di perusahaan!
Pernyataan Surip justru tampaknya memuaskan Martha cs. Mereka fair dengan pernyataan yang dikeluarkan Surip. Keterangan Surip tercatat sebagai data lapangan untuk laporan terhadap pihak civitas akademika.
Sebuah kenyataan di lapangan, orang-orang survey seperti Surip cs kurang atau minim sekali aksesnya terhadap atasan di kantor. Begitu juga perannya terbatas sekali, gembar-gembor bahwa kegiatan survey adalah tambang uang bagi pelakunya tidak terjadi. Orang-orang lapangan tidak akan pernah tahu berapa besar anggaran kegiatan dan juga tidak diberi kesempatan mengelola sendiri. Alhasil Surip cs hanya pekerja dengan upah sesuai statusnya masing-masing di perusahaan.
Kepada Martha Surip berkata tentang dirinya,
 “Aku lebih takut menganggur dari pada masuk hutan yang paling menyeramkan sekalipun.”
Di sini Surip menyembunyikan kegiatannya yaitu Pencak Silat. Tak ada kaitannya civitas akademika dengan dirinya yang hidup dengan pendekatan praktisi bela diri. Sesuatu yang berbeda, logika rasional dengan praktisi ritual. Keduanya memiliki journal sendiri-sendiri. Surip berada di jalan praktisi ritual, sebuah dunia yang kegiatannya menjadi audisi individual.
Hanya beberapa hari Martha cs di regu yang dimandori Surip. Surip terkesan dengan cara bergaulnya Martha, ada perasaan tertarik Surip dengannya. Mungkin Dewi Amor datang memperlihatkan dirinya mengusik Surip sebagai lelaki.
Terus hari-hari mendekati akhir bulan, setiap regu kegiatan akan turun ke base camp di km 4. Itulah hari-hari yang ditunggu orang-orang survey karena jenuh hidup di dalam hutan. Orang-orang survey adalah manusia yang terkucil, paranoid dan haus akan hiburan.
Pernah anda mengalaminya?

                                                                          ***
Semua bentuk karya tulis ini masih imaginasi Penulis.
Bila ada orang lain mengakuinya sebagai pencipta Tarung dan banyak memiliki kemiripan dengan yang Penulis paparkan Dia tetap berhak mendapatkan Hak Cipta. Apalagi bila mampu mengembangkannya sebagai prestasi Atlet dalam even pertandingan resmi.
Sesungguhnya lembaga-lembaga bela diri terutama dalam lingkup Pencak Silat memiliki tugas utama sebagai pengejawantahan praktek di masyarakat adalah sebagai Pembela dari Hak Cipta di lingkup bela diri ini.
Hal tersebut akan Penulis paparkan dalam tulisan lain.

 



Sunday, March 20, 2016

TARUNG JURUS versi I dan II

Jurus adalah pengejawantahan dari kandungan bela diri Pencak Silat. Berbagai nilai dan kaidah bela diri apapun paling mudah menghayatinya dengan melakukan rangkaian teknik jurus.
Jurus sangat penting karena di sanalah segala unsur bela diri Pencak Silat bisa dibedakan dengan bela diri lain. bahkan antar perguruan karena berbeda nama, asal daerah, dan tekniknya akan berbeda-beda, begitu juga alirannya.
Bagaimana dengan Tarung Pencak Silat?
Pertandingan-pertandingan Pencak Silat sudah diatur sedemikian rupa dalam sebuah organisasi nasional maupun internasional. Penulis tak akan merubahnya, tinggal mengikuti untuk pencapaian prestasi bagi atlet-atletnya.Pertandingan Pencak Silat even nasional maupun internasional merupakan kesepakatan bersama agar Pencak Silat bisa lebih mendunia. Jadi cakupannya sangat luas dan menyatukan berbagai unsur-unsur yang ada di masyarakat Nusantara bahkan Asia Tenggara dll.
Penulis memiliki gagasan yang lebih sempit jenis Tarung. Tarung gagasan Penulis dimaksudkan untuk mengakomodasi kandungan jurus, terutama yang dilatih secara pribadi oleh Penulis. Mungkin juga akan bermanfaat untuk mereka yang memiliki jurus karena bernaung dalam perguruan dan aliran yang kurang berkembang di era modern.
Banyak perguruan-perguruan kecil yang berdiri melatih muridnya dengan jurus-jurus secara tradisi atau turun temurun. Bahkan dalam kasus tertentu banyak penghayat bela diri Pencak silat yang sudah tidak bernaung dalam perguruan karena berbagai alasan.
Penulis sendiri mengalaminya, sulit untuk kembali bersatu dalam perguruan lama yang pernah bernaung sampai sekarang. Berlatih sendiri walaupun jurus dan amalannya sama dengan perguruan tersebut. Menghayatinya sampai mencapai tataran tertentu.
Pencak Silat menjadi milik pribadi dan tak pernah berpikir mencapai prestasi apapun. Misalnya hendak ikut even pertandingan tentu mustahil karena tak berhak dengan alasan apapun. Hal tersebut hanya menjadi impian di siang bolong saja....apa lagi sampai Go Internasional ckckckck
Gagasan Tarung yang dijabarkan Penulis menyesuaikan dengan jurus-jurus maupun pengalaman Penulis yang didapat dari lingkungan sekitar. Jadi akan sangat berbeda dengan kejuaraan-kejuaraan resmi yang sudah baku aturannya.
Bagi Penulis Tarung ini sempit cakupannya, hanya untuk mengakomodasi latihan jurus yang dilatih sesuai journal pribadi. Coba perhatikan jurus-jurus yang dilatih ini,

Lanjutan Jurus Pencak Silat.

Sekarang kita mulai masuk Jurus.
Hari minggu berlatih di teras ruko Perwita Regency seperti biasa pasti menyesuaikan dengan journal yang biasa dilakukan Penulis. Journal ini telah berkembang sedemikian rupa dengan penyesuaian pekerjaan. Journal ini nantinya dibeberkan tersendiri sebagai koleksi Penulis. Tentu ini adalah journal latihan perubahan dari perubahan latihan yang lalu. tentu tak sama saat dengan Penulis masih di hutan. Penulis anggap saat di areal hutan Kalimantan itu adalah journal yang  paling kerasnya berlatih. Berbagai cara dicoba, kemudian penempaan fisik yang luar biasa keras. Waktu berlatih yang panjang dan teknik-teknik yang coba dilatih seperti penemuan bagi Penulis. Ibaratnya tubuh Penulis yang paling kuatnya adalah saat berlatih di Bumi Kalimantan. Sungguh kenangan yang tak terlupakan.
Catatan ini juga oleh-oleh dari Saat Penulis berada di Kalimantan tahun 1995 sampai tahun 2001. Jadi sudah cukup tua, bolehlah ini disebut sebuah pusaka. Biarpun penulis mengakui tulisan tersebut masih mentah dan kata-katanya mungkin janggal.
Ah tidak apa-apa, Penulis coba mengembangkan kemahiran hingga sekarang masuk sebuah dunia tulis menulis FIKSI.
Penulis melihat buku tua kenangan tersebut, terkadang malu sendiri, sedikit demi sedikit menulis, berbagai topik begitu mentah pembahasannya. Tak mungkin bisa menjadi sumber literasi yang baik, semuanya hanya menjadi kenangan dan bila  coba menyalinnya dalam sebuah blog ini.
He He He pokoknya kalah jauh dengan anak sekolah sekarang,
Mulai masuk JURUS,
Pembukaan Jurus:
Posisi awal, sama dengan gerakan jurus dasar ke satu.
-Dalam posisi kuda-kuda kanan depan, dua tangan dikepal julurkan ke depan dengan kepalan tangan kanan lebih ke depan dari tangan kiri.
-Gerakan lengan kanan di depan ke samping kanan tubuh. Gunakan tangan kanan yang sudah di samping kanan tubuh untuk menangkis ke kiri sambil badan digerakan mengimbangi tangkisan lengan kanan. setelah menangkis, kaki kanan yang telah digeser ke samping sepakkan ke depan.
-Berdiri dengan kuda-kuda kanan depan seperti gerakan jurus dasar ke satu dan siap melakukan jurus inti.
Jurus yang dilatih Penulis terdiri sepuluh jurus wajib. Merupakan ajaran dari sebuah perguruan KBPS ASMA di Purwokerto. Latihan telah berubah-ubah mengikuti selera Penulis. Apa lagi di Yogyakarta ini, Penulis lebih merasakan santai dari pada saat berlatih di hutan Kalimantan. Lagi-lagi Kalimantan, ya itu kebanggaan Penulis, biarpun tak ada dunia Persilatan tetapi berlatih di hutan adalah kenangan yang menakjubkan. Karena tak ada yang pernah menandingi baik itu secara pribadi maupun kelompok. Semua orang di sana cuma heran dan bingung dengan dunia yang Penulis jalani. Sesuatu yang tidak lazim tetapi tetap masuk logika nalar.
Bila dipikir kenapa Penulis memasukan jurus sebagai bagian hidup Penulis?
Ah tidak apa-apa, ini kenangan yang tak terlupakan. Bukankah semua orang punya memori manis dalam hidupnya dan kemudian sering mencoba mengabadikan dalam sebuah tulisan, gambar atau benda kesayangan.
Anggaplah ini sebagai benda tak berbentuk materi, sebuah tulisan yang menjadi abadi. Soal akan dihargai atau tidak mungkin seseorang akan mencoba masuk sebuah situs yang sama dengan milik Penulis.
Hari minggu merupakan puncak latihan Penulis dalam Asana, Jurus, berbagai jenis tempaan fisik dan Jogging.
Tanggal 19 januari 2014, di sebuah teras ruko Perwita Regency, pagi-pagi sehabis sholat subuh. Penulis keluar langsung menuju tempat favorit berlatih.
Biasanya Penulis berlatih dua jurus,
Untuk hari minggu adalah jurus dua (Tendet) dan jurus empat (Loro Tendet), kemudian berbagai asana dan tempaan fisik serta diakhiri dengan jogging. Kali ini jogging mencapai rute Kotagede di situs batu Geteng dan batu Gilang, konon inilah Keraton Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Matarram Islam. Sempat juga mencapai masjid Kotagede dan  Sendang Selirang, kemudian menysuri lorong-lorong perkampungan kuno di Jagalan.
Kita langsung masuk Jurus sebagai inti tulisan.

1. Jurus Teguh.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Pukul dengan tangan kanan, tarik kembali ke posisi semula.
-Tangkislah dengan  tangan kanan, sambil menangkis pukulkan tangan kiri ke depan (Hampir serempak).
 -Sepak kaki kiri ke depan. lakukan gerakan di atas dengan bagian tubuh kiri. Pertahankan posisi tangan memukul dan menangkis.
-Pusatkan perhatian di tangan kanan, pelintir pergelangan lengan kanan seolah-olah mencoba melepaskan pegangan lawan yang terkunci.
-Beset dengan tangan kiri lakukan hingga kuda-kuda berubah menjadi kuda-kuda bangku.
-Sikut dengan lengan kanan. Caranya majukan kaki kanan ke depan sembari menyerang dengan sikut kanan. Dalam keadaan menyikut pukulkan tangan kanan ke atas.
-Balikkan tubuh ke belakang hingga kuda-kuda berubah dari kanan menjadi kuda-kuda kiri depan dan tangkis lengan kanan kiri menyilang lengan kanan. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepakkan kaki kanan ke samping kanan dan kembali ke posisi siap melakukan jurus.
-Lakukan empat kali dengan posisi empat arah.
2. Jurus Tendet.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Pukul dengan tangan ganda (tangan kanan dan kiri memukul bersama dalam keadaan rapat).
-Tarik kembali dan tangkis ganda ke bawah, setelah menangkis bawa kedua tangan ke atas dan tangkis ganda ke atas.
-Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kiri ke depan. lakukan hal yang sama dengan di atas dengan tubuh bagian kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. lakukan hal yang sama dengan di atas dengan tubuh bagian kanan.
-Tahan tangan kanan saat pukul kanan kiri. Pelintir pergelangan tangan kanan. Lakukan sikut tanpa merubah kuda-kuda kanan di depan. Selesaikan dengan pukulan ke atas.
-Gerakan tangan kiri ke atas seolah-olah menangkis dan barengi dengan tangan kanan menangkis ke bawah.
-Lemparkan tubuh ke belakang dan langsungg berdiri dengan kaki kiri diangkat (pasangan kaki tunggal).
-Lengan kiri tangkis ke bawah dan melangkah ke depan dengan kaki kanan serta langsung pasangan pembukaan jurus.
-Ganti  langkah kanan dengan kaki kiri. Majukan kaki kiri sejajar dengan kaki kanan. Lengan  kiri menyilang dan menangkis. kaki kanan mundur ke belakang. Lakukan pukulan kanan kiri.
-Lakukan pasangan kuda-kuda rendah pancingan. Pertama ke belakang dilanjutkan ke depan.
-Saat kuda-kuda rendah pancingan menghadap ke depan, putar tubuh ke belakang. Tarik kaki kiri ke belakang dan lepaskan tendangan dengan kaki kanan. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Pasang pembukaan jurus lagi. lakukan pergantian langkah sama seperti gerakan di atas sekali lagi.
-Dalam posisi kuda-kuda kiri depan. lakukan sepak putar. Sepak kaki kanan ke depan, langsung tarik ke belakang memutar tubuh. dalam keadaan masih berputar lepaskan tendangan kaki kiri ke depan. lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepakkan kaki kanan ke depan. Pasang pembukaan jurus.
-Lakukan teknik kelit.
Angkat lengan kiri menangkis ke atas gerakan tangan kanan ke bawah. putar tangan kanan 180* sampai lengan kanan berada di atas. Luncurkan tangan kanan ke bawah menangkis (seolah-olah melepaskan diri dari tangkapan lawan terhadap kaki). Loncat dan lakukan pergantian langkah kaki kanan ke belakang dan kaki kiri ke depan. saat jatuh ke lantai buat pasangan kuda-kuda rendah pancingan.
-Dalam keadaan  kuda-kuda rendah sepak dengan kaki kanan ke depan dan  lepaskan pukulan tangan kanan saat masih menendang.
-Kembali ke pasangan pembukaan jurus, jika ingin meneruskan dalam posisi empat arah, lakukan teknik membalikan badan sama dengan gerakan jurus satu.
3. Jurus Loro Jeblak.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Kuda-kuda kanan depan. Lakukan gerakan jurus dasar keempat sampai selesai. Susul dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kiri ke depan. lakukan gerakan jurus dasar keempat dengan tubuh bagian kiri. Susul dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan dan segera pasang pembukaan jurus.
-Gerakan tangan kiri menyabet pasangan jurus lawan, susul dengan sabetan tangan kanan.
- Pasang kuda-kuda rendah pancingan. Pertama kanan depan setelah itu kiri depan. Iringi dengan gerakan tangan menyesuaikan diri.
-Pada saat kuda-kuda rendah pancingan di kiri depan. Sepakkan kaki kanan ke depan dan lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan tangan kiri menyilang dengan kanan seolah-olah menangkis ke atas. Ayunkan tangan kiri menangkis bawah sambil menggeser kaki kiri ke belakang tubuh. Saat tubuh berbalik gerakan tangan kanan menyambar kaki lawan dan tetap menahan posisi kaki lawan.
-Tolak/ Lemparkan kaki lawan sambil menendang kaki kanan ke samping kanan.
-Saat kaki lawan masih di atas menyepak. Gerakan kaki kanan tersebut menyilang kaki kiri dan lakukan duduk sempok (duduk seperti sikap miring vakrasana).
-Setelah beberapa saat duduk sempok gerakan tangan kiri menangkis sambil mengangkat kedua kaki dan loncat sepak kiri ke samping kiri. Lakukan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan. Pasang pembukaan jurus.
-Lakukan teknik membalikkan tubuh sama dengan jurus kesatu.
4. Jurus Loro Tendet.
-Lakukan Pembukaan jurus.
-Lepaskan pukulan kanan, susul dengan tangkisan  ke kanan tubuh. Gerakan tangan kiri menangkis ke dalam menyusul tangkisan kanan tadi. Letakkan kedua tangan di sisi kanan tubuh.
-Silangkan lengan kiri dan gerakan menangkis ke sisi tubuh sambil melangkah kaki kiri ke depan. Saat kaki kiri sudadh melangkah sempurna susul dengan tangan kanan menangkis ke dalam. Letakkan kedua tangan di sisi kiri badan.
-Silang ke dua tangan dan angkat ke atas menangkis pukulan dobel lawan.
-Sepak kaki kanan ke depan. Gerakan kedua tangan yang masih dalam posisi menangkis tadi menyabet ke depan mengiringi tendangan kanan.
-Pasang pembukaan jurus. Lakukan teknik kelit sama dengan jurus kedua. Saat meloncat, lepaskan tendangan kiri ke depan. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Jatuhkan tubuh dan gerakan kaki kanan ke depan menyilang kaki kiri menyapu kedudukan kaki lawan. Iringi dengan gerakan tangan hingga tubuh seimbang. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. Pasang pembukaan jurus. Gerakan lengan kiri menyilang tangan kanan menangkis ke sisi kiri tubuh. Ayunkan lengan kiri yang masih di atas tersebut ke bawah (Menyelundup, mengincar kaki belakang lawan) dan balikan tubuh dengan mengangkat kaki kiri ke belakang hingga kedudukan kuda-kuda menjadi kiri di depan. Gerakan tangan kanan menyusul seolah-olah sudah menangkap kaki lawan, langsung susulkan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. Pasang pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan jurus kesatu.
5. Jurus Pat Potong.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Lakukan gerakan jurus dasar kelima, susul dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kiri ke depan lakukan kembali gerakan jurus dasar kelima dengan tubuh bagian kiri. Susul dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan tubuh. lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan ke dua tangan ke depan seolah-olah memegang pundak lawan. Majukan kaki kiri sejajar dengan kaki kanan.
-Saat kedua kaki sudah sejajar lakukan bantingan dengan menggerakan kaki kanan seolah-olah menggaet kaki lawan hingga mundur menjadi di belakang.
-Dengan posisi kuda-kuda kiri depan, lakukan sekali lagi teknik bantingan tersebut di atas dengan tubuh bagian kiri.
-Posisi kedua tangan harap diperhatikan. Ikuti bantingan kaki dengan gerakan tangan seolah-olah menolak tubuh lawan.
-Setelah melakukan bantingan dengan tubuh bagian kiri, jadilah kuda-kuda kanan depan. Segera lakukan pasangan kuda-kuda rendah pancingan menghadap depan dan disusul menghadap ke belakang.
-Lakukan tendangan berputar seperti pada jurus kedua.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan tubuh. Lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan jurus kesatu.
6. Jurus Potong.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Lepaskan pukulan kanan ke depan.
-Kaki kiri maju ke depan segera lepaskan pukulan kiri ke depan.
-Kaki kanan maju lakukan gerakan menyikut dengan tubuh dan tangan kanan, segera pukul dengan tangan kanan ke atas.
-Saat tangan kanan di atas (seolah-olah tertangkap lawan) lakukan bantingan dengan kaki kanan ke belakang menggaet kaki lawan. Ikutilah gerakan bantingan dengan gerakan tangan menolak tubuh lawan.
-Sepak kaki kanan menyerang ke samping kanan, jatuhkan kaki kanan ke lantai. Saat kaki kanan sudah berada di lantai angkat kaki kiri ke atas. Lakukan pasangan dengan kaki tunggal.
-Ayunkan tangan kiri ke bawah seolah-olah menangkis, letakkan kaki kiri ke lantai dan susul dengan gerakan kanan maju ke depan melakukan pasangan pembukaan jurus.
-Lakukan pergantian langkah sama seperti gerakan di jurus kedua susul dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. letakkan langsung kaki kanan di lantai. dalam posisi kaki kanan sudah di lantai langsung putar tubuh terpelintir hingga untuk memancing serangan lawan.
-Sepakkan kaki kiri ke depan dengan mengubah kaki kanan bergerak ke belakang mengecoh lawan. Lakukan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan. Lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan gerakan jurus kesatu.
7. Jurus Giles.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Lakukan gerakan sama dengan jurus dasar ketujuh.
-Badan mengikuti gerakan tangan ke belakang hingga berputar menghadap ke depan lagi. Akhiri dengan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kiri ke depan. Lakukan gerakan jurus dasar ketujuh dengan tubuh bagian kiri.
-Majukan kaki kanan ke depan hingga sejajar dengan kaki kiri dan berdiri biasa.
-Lakukan bantingan dengan kaki kanan menggaet kaki lawan ke samping kanan hingga badan menghadap ke samping kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. Jatuhkan sebentar ke lantai dan langsung angkat hingga kuda-kuda pasangan kaki tunggal.
-Gerakan kaki kanan yang diangkat dan kedua tangan melakukan bantingan terhadap lawan hingga posisi berubah dari menghadap ke depan menjadi ke belakang.
-Sepak kaki kanan ke samping tubuh kanan. Lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Lakukan teknik kelit seperti pada jurus kedua, dan langsung lepaskan tendangan kaki kiri ke depan.
-Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke depan. lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan gerakan jurus kesatu.
8. Jurus Liwat.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Lakukan gerakan sama dengan gerakan jurus dasar kedelapan.
-Lakukan bantingan dengan kaki kanan menggaet kaki lawan. Badan langsung menghadap ke samping kiri.
-Pasang kuda-kuda rendah pancingan pertama ke belakang dan kedua ke depan.
-Lakukan gerakan sama dengan gerakan jurus dasar kesembilan.
-Lakukan tendangan putar kanan kiri dengan kaki kiri lebih dahulu. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Lakukan teknik kelit dan langsung tendang kaki kiri ke depan. Lepaskan pukulan kanan kiri.
-Sepak kaki kanan ke samping kanan tubuh. Langsung pasang pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan gerakan jurus kesatu.
9. Jurus Colok.
-Lakukan pembukaan jurus. Posisi tangan dengan jari mencolok.
-Lepaskan pukulan dengan jari mencolok ke muka lawan. Pakailah jari telunjuk dan tengah dengan tangan kanan.
-Gerakan tangan kiri menyilang lengan kanan, memancing mengincar mata lawan, menangkis ke samping kiri. Lepaskan sekali lagi pukulan jari mencolok mata lawan dengan tangan kanan.
-Gerakan tangan kiri menyilang lengan kanan tetap mencolok mata lawan dan kaki kiri maju mengiringi gerakan tangan kiri.
-Gerakan kaki kanan maju ke depan dan sikutlah dengan tangan kanan. Pukullah dengan jari tetap mencolok mata lawan.
-Usahakan seluruh gerakan dengan posisi menyerong ke kanan.
-Ayunkan tangan kanan ke bawah dan tangan kiri ke atas.
-Loncat ke belakang dan langsung kuda-kuda bangku (rendah) sambil melepaskan pukulan dengan kedua tangan mencolok mata lawan.
-Geser kaki kanan ke depan diiringi dengan gerakan tangan mengincar mata lawan. Usahakan posisi menyerong ke kanan.
-Lakukan gerakan mengincar mata lawan ini 3x sambil bergeser maju selangkah-langkah. Posisi kuda-kuda kanan tetap di depan.
-Lakukan teknik kelit, tendang dengan kaki kiri ke depan.
-Sepak kaki kanan ke depan dan barengi dengan pukulan jari kanan mencolok mata lawan.
-Lakukan pasangan pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan gerakan jurus kesatu.
10. Jurus Jujur.
-Lakukan pembukaan jurus.
-Dalam posisi berdiri gerakan kaki kanan menggaet kaki lawan dan banting menghadap ke depan. Iringi dengan gerakan tangan mengikuti  bantingan. Teknik ini merupakan serangan posisi kuda-kuda lawan yang melakukan teknik kelit.
-Gerakan kedua tangan ke atas menangkis silang.
-Sepak kaki kanan ke depan, barengi dengan sabetan tangan ke depan. Pasang pembukaan jurus.
-Lakukan teknik kelit seperti pada jurus kedua. Langsung sepak dengan kaki kiri ke depan.
-Sepak kaki kanan serong ke kanan.
-Sepakkan kaki kiri serong ke kiri, majukan kaki kanan ke depan dan langsung angkat pasangan kaki tunggal.
-Ayunkan tangan kanan ke bawah menangkis, sepak kaki kanan yang terangkat menyerong ke kanan.
-Sepak lagi dengan kaki kiri serong ke kiri.
-Terakhir sepak kaki kanan ke depan dan langsung pasang pembukaan jurus.
-Gerakan selanjutnya sama dengan gerakan jurus kesatu.

Sedikit catatan di tahun 2002 saat masih di Purwokerto,
-Latihan sabetan tangan.
Mirip dengan teknik karate, yang menjadi sasaran adalah batang pohon di sekitar rumah Penulis. Latihan ini juga rutin saat masih aktif di sebuah perusahaan eks Tanjung Raya di Kuala Kurun.
-Latihan pukulan dengan sansak, ini pernah dilakukan Penulis saat  di hutan Kalimantan. Tidak penuh setahun hanya beberapa bulan. Sansak terbuat dari ban karet dalam mobil.
-Latihan kembangan seperti Shantung, Cimande, Cikalong sudah tak hafal lagi. Penulis dominan hanya berlatih sepuluh jurus wajib disela-sela pekerjaan.
-Kegiatan mingguan berupa jogging dengan berbagai rute:
Beji- Baturraden (lewat Kebumen)
Beji-Kebumen-Purwosari.
Semuanya menjadi sebuah kenangan karena tercatat di sebuah buku.
Tanggal 26 januari 2014 selesai ditulis dalam blog dengan catatan journal latihan tidak terselenggara karena badan kelelahan.
Sebagai gantinya hanya sesi jogging dilakukan dengan rute Eks STIEKERS mencapai Malioboro via taman parkiran Abu Bakar Ali.
Saat berada di nol kilometer sedang ada acara senam aerobik dan dimulainya sistem pedestrian jalan Malioboro.
                                                                   ***