Monday, September 11, 2017

Karya Tulis Tarung Etang



       TARUNG ETANG   
      (Sebuah Karya Tulis)
Sudah ada tulisan artikel di blog Penulis tentang Tarung Etang, tapi isinya mengadopsi dari sebuah draf naskah novel milik Penulis. Karena itu Penulis mencoba memulainya sebagai karya tulis tersendiri untuk menguatkan bentuk gagasan Tarung sebagai kejuaraan dari bela diri Pencak Silat. Nomor Tarung ini merupakan pengayaan dari bentuk-bentuk tarung yang sudah diselenggerakan secara resmi baik itu tingkat Nasional maupun Internasional.
Penulis coba membahas Tarung Etang lebih detail. Tarung ini sudah ada jauh sebelum Penulis lahir. Bahkan jejaknya ada dalam sebuah Tarian milik Pura Mangkunegaran. Soal nama tarian klasiknya Penulis kurang mengetahui, Penulis mendapatkan sumbernya dari sebuah artikel di sebuah surat kabar Kompas tapi sudah tak hapal tanggal dan tahun penerbitannya.
Dinyatakan permainan Etang dijadikan sebagai pembuka sebuah tarian untuk menggambarkan suasana damai di sebuah wilayah kerajaan Mataram Islam. Tentu menarik dikaji bahwa saat itu permainan ini sudah digemari anak-anak di jaman berkuasanya raja-raja Mataram. Dengan demikian permainan Etang adalah sebuah jejak sejarah, sudah dikenal di seluruh wilayah pecahan-pecahan kerajaan Mataram Islam.
Nama permainannya Etang tanpa Penulis mengetahui dari bahasa mana berasal kata tersebut. Penulis tak memusingkan asal-usul nama dan bahasa penamaannya, pokoknya Penulis tahunya sejak kecil itu permainan Etang.
Permainan Etang menjadi kenangan masa kecil Penulis bersama dengan teman-teman sebaya. Saat itu adalah era tahun delapan puluhan, terutama menginjak sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD). Kemudian bersekolah di SMP Penulis sudah tidak mendapati permainan ini dilakukan anak-anak kecil lagi. Lenyap juga berbagai permainan ketangkasan lainnya seperti Gobag Sodor, Barlen, Anggar dll. Permainan yang masih eksis sampai sekarang adalah berundi kelereng, Yoyo, Gasing, atau Petak Umpet.
Penulis tertarik dengan permainan Etang karena bisa dikembangkan mencapai nilai olah raga. Yaitu menjadi nomor Tarung yang bisa diselenggarakan sebagai ajang prestasi dalam sebuah kejuaraan resmi. Sayang sampai menjadi karya tulis ini semuanya bagi Penulis masih cita-cita dan angan-angan belaka. Tapi tak apa Penulis tetap mencoba membuat artikelnya agar bisa dibaca dan diketahui khalayak ramai.
Sederhananya permainan ini dilakukan dua orang saling berhadapan. Jadi sengaja atau tidak dua orang saling berhadapan sebagai lawan, dalam bela diri posisi kuda-kuda bertarung. Kuda-kudanya ringan saja, sikapnya tak sampai seperti jenis kuda-kuda Pencak Silat yang berbagai macam ragamnya. Kedua tangan menjadi alat untuk mencapai sasaran di tubuh lawan. Sasaran serangan adalah seluruh area kepala dan area kaki dari mulai paha sampai lutut. Tangan sebagai senjata tangan kosong harus bisa menyentuh dua area tubuh lawan untuk mendapatkan poin (Nilai).
Saat di masa kecil, begitu tangan mengenai area kepala dan kaki seseorang bisa disebut pemenang. Sang pemenang berhak maju menghadapi orang lain untuk mendapatkan siapa paling banyak mencapai kemenangan dari beberapa pemain yang hadir. Misalnya terdapat tiga orang anak, satu orang akan berhadapan dua kali. Bila bisa mengalahkan keduanya maka ia lah juaranya. Jadi terdapat urutan pemenang satu sampai tiga, tentu yang urutan tiga belum pernah menang sama sekali. Semakin banyak pesertanya semakin banyak lawan yang dihadapi. Saat masih kecil Penulis sangat bangga bila menang biarpun tidak keseluruhan, asalkan yang dihadapi misalnya lawan yang lebih tua atau berbadan besar itu berarti sangat hebat.
Yang dicontohkan Penulis adalah sederhananya permainan saat masih kecil. Bila tangan seorang lawan berhasil mengenai sasaran serangan, yang terkena disebut MATI atau tak berkutik. Soalnya permainan ini tanpa wasit, apalagi juri penilai.
Untuk menjadi nomor Tarung sebagai ajang meraih prestasi maka permainan yang sederhana ini harus dimodifikasi. Terutama untuk bisa diterima sebagai nomor tarung mencapai prestasi kejuaraan. Gagasan Penulis adalah dalam pemaparan berikut ini.
Diperlukan seorang Wasit pemandu pertarungan, satu juri netral dan dua juri dari masing-masing kubu Petarung. Dan tak lupa peserta (Petarung) pertandingan yang jumlahnya cukup banyak untuk tercapainya sebuah even kegiatan. Jadilah tarung Etang ini sebagai sebuah nomor Tarung tersendiri dalam kejuaraan bela diri Pencak Silat.
Di sini Penulis artikel menyatakan klaim sebagai HAK CIPTA dari ; TARUNG ETANG
Karena latar belakang Penulis dari bela diri Pencak Silat maka nomor tarung ETANG bisa menggunakan arena matras kejuaraan Pencak Silat. Matras arena pertarungan Pencak Silat adalah berupa garis melingkar di tengahnya terdapat dua garis untuk petarung saling berhadapan. Gambarannya Penulis tak terlalu mendetail karena mencukupi dengan aturan arena pertandingan berbagai kejuaraan dunia Pencak Silat masa kini.
Seorang Wasit adalah berposisi sebagai pemandu pertarungan sekaligus pemberi nilai bila seorang Petarung berhasil mengenai sasaran di tubuh lawan. Karena itu Wasit dipilih betul-betul dari pihak netral agar tidak subyektif saat menyatakan keberhasilan Petarung mengenai sasaran dan menyatakan sebagai pemenang sebuah pertarungan. Bila seorang Petarung berhasil menyarangkan serangn dengan menyentuh area sasaran serangan yang telah ditentukan Wasit segera harus menyatakan sebagai Poin.
Satu serangan tangan Petarung berhasil menyentuh area serangan tubuh lawan menjadi poin bernilai satu. Pertarungan dihentikan lebih dahulu untuk mendapatkan pengesahan dari tiga juri pertandingan. Poin diumumkan Wasit menjadi poin yang terkumpul seorang Petarung yang berhasil menyarangkan serangan di area serangan lawan. Begitu seterusnya.
Seorang Petarung menjadi pemenang setelah terkumpul poin sesuai kesepakatan even pertandingan, mislanya tercapai sepuluh (10) Poin. Maka ada kemungkinan kedua Petarung mencapai nilai sembilan (9) bersama-sama. Nah sebagai penentu pemenangnya diperlukan satu angka lagi sebagai pemenang pertarungan yaitu siapa yang lebih dulu menyarangkan serangan ke area serangan lawan.
Dengan sistem seperti di atas maka setiap Petarung akan mendapat giliran satu persatu dari peserta sebuah even pertandingan, dan mungkin dalam sebuah kelas tertentu pula. Melihat cara bertarungnya pertandingan nomor Tarung Etang adalah memiliki ketangkasan dan kelincahan bergerak. Seorang Petarung dituntut memiliki kecepatan dan harus saling dahulu mendahului mengumpulkan poin.
Kemungkinan lebih banyak Petarung nomor Etang ini bertubuh ramping. Bobot/ berat badan tubuh Petarung nomor ini mungkin banyak yang di bawah 80 kg. Soalnya dalam tarung ini tidak diperlukan melumpuhkan lawan sampai Knock Out (KO), tangan cukup menyentuh area tubuh serangan lawan yaitu area kepala dan area kaki dari paha ke bawah sampai tumit (Mata kaki).
Keputusan Wasit mutlak tak bisa digugat apa lagi setelah disahkan bersama tiga juri pertandingan. Poin yang terkumpul bisa dilihat Penonton di papan arena seperti halnya poin-poin di kejuaraan bulu tangkis atau tenis meja.
Bila kedua Petarung masing-masing berhasil menyarangkan serangan ke lawan bersamaan, maka hak Wasit menentukan poin kemenangan terhadap seorang Petarung yang lebih dahulu menyarangkan serangan berdasarkan pengamatannya. Ini hak mutlak Wasit karena berada di jarak paling dekatnya para Petarung bertanding.
Dengan sistem pertarungan di atas maka setiap even pertandingan bisa diperoleh peringkat Petarung. Misalnya terdapat sepuluh Petarung bertanding akan diketahui siapa Petarung paling banyak menangnya dan poin yang diperoleh, juga berurutan dari peringkat satu sampai sepuluh di mana Petarung peringkat sepuluh paling banyak kekalahannya dan poin paling sedikit terkumpul. Mungkin nantinya peringkat-peringkat di bawah lima bila sebuah even pertandingan terselenggara berkesinambungan setiap tahun bisa didegradasi sehingga akan tercipta semacam kompetisi divisi I, divisi II, dan seterusnya.
Setiap pertarungan tetap diperlukan Ronde. Jadi ada ronde 1, 2, 3, dan seterusnya. Waktu ronde samakan saja dengan ronde pertarungan Tinju, misalnya 3 menit. Ronde diperlukan untuk memberi kesempatan Petarung beristirahat dan mengatur strategi pada ronde berikutnya untuk mendapatkan poin dan pemenang. Tapi jumlah ronde tidak mutlak diatur, sebuah pertarungan bila sudah ada seorang Petarung mendapatkan nilai (Poin) sepuluh (10) dinyatakan pemenang biarpun masih di ronde pertama sekalipun.
Di sini Penulis menyatakan sebuah pemikiran tentangWwasit dan Ronde sebagai perbedaaan dengan jenis Tarung lainnya. Biasanya sebuah jenis Tarung dipimpin Wasit memandu pertarungan hanya untuk memisahkan, memberi peringatan, memulai pertarungan dan memerintahkan Petarung istirahat ketika bel ronde berbunyi atau berakhir. Penilaian masuk serangan dilakukan oleh Juri pertandingan di luar arena.
Di dalam Tarung ETANG dan jenis Tarung ciptaan Penulis Wasit memiliki kekuasaan mana sebuah serangan Petarung dinyatakan Poin. Tentu setelah juga disahkan Juri pertandingan di laur arena, jadi kesahihan masuk serangan menjadi poin bisa dipertanggungjawabkan semua pihak. Karenanya Wasit benar-benar orang terpilih dan diketahui latar belakangnya sebagai orang netral dan tidak menilai berdasarkan subyektifitasnya sendiri.
Ada Jeda setiap Petarung berhasil menyarangkan serangan ke lawan untuk disahkan oleh Wasit dan tiga Juri pertandingan menjadi poin. Waktu ronde tetap berlanjut sampai selesai, Jeda setiap pengesahan poin Petarung adalah bagiannya. Jadi bisa dihitung setiap ronde kemungkinan telah diperoleh beberapa poin untuk masing-masing Petarung.
Bila demikian kemungkinan setiap Petarung untuk mencapai seorang pemenangnya selalu di bawah lima ronde. Lima ronde terhitung cukup memeras stamina atlet Petarung Etang juga memuaskan Penonton. Jadi ronde diperlukan hanya benar-benar untuk istirahat Petarung, mendapatkan instruksi dari Pelatih, dan perapihan penampilan Petarung misalnya pengeringan keringat, memberi minum pada Petarung yang kehausan dll.
Gagasan Tarung ini masih mentah, belum dipraktekan di arena manapun. Jadi akan banyak kekurangannya diketahui bila coba dipraktekan. Yang penting bagi Penulis mencoba memaparkannya sebagai sebuah hasil Hak Karya Cipta lebih dahulu walaupun hanya melalui tulisan.
Kemudian saat dipraktekan tentu akan banyak ditemui berbagai aturan baru yang bisa dikembangkan. Juga kemungkinan mana bentuk-bentuk pelanggarannya, misalnya saat menyerang area kepala adalah mata tidak boleh menjadi sasaran serangan. Sangsinya ditentukan berat ringannya, tentu menyerang mata sangat berat sangsinya karena bisa berupa pengurangan nilai atau bahkan didiskualifikasi. Bayangkan saja seorang Petarung yang matanya tersentuh tangan lawan, tentu sangat sakit bahkan bila terluka bakalan gagal melanjutkan pertandingan. Jadinya untuk Petarung yang sengaja maupun tidak menyerang mata terpaksa didiskualifikasi dan pengurangan poin karena pelanggaran berat.
Imaginasi Penulis saat mencoba Tarung ETANG.
Dalam latihan jurus yang rutin dilatih Penulis ada jurus Colok. Jurus ini berasal dari perguruan Pencak Silat KBPS Asma di Purwokerto. Jurus ini banyak menggunakan tangan terutama bagian jari dengan menyasar arah mata lawan.
Tentu sangat berbahaya!
Juga di arena pertandingan Penccak Silat mengincar mata lawan atau area kepala lawan hanya akan mendapat ganjaran sangsi dan diskualifikasi, ibaratnya wong cuma memukul kepala saja sudah pelanggaran sangat berat.
Tapi karena ada jurus Colok yang tetap dilatih jadinya Penulis menghubungkannya dengan nomor TARUNG ETANG, ternyata sangat cocok. Sasaran diubah cukup hanya menyentuh area kepala dan ditambah dengan area kaki mulai dari paha hingga mata kaki. Juga dengan cara demikian jurus Colok yang hanya menyasar mata dikembangkan agar tidak hanya menyerang bagian mata lawan saja, juga mencari celah lawan yang lemah di bagian kakinya.
Jadi jurus Colok tetap bisa dipraktekan tanpa mengubah tujuan mengalahkan lawan, cuma harus diperhalus dan terarah tanpa melukai siapapun. Bahkan serangan dikembangkan tidak hanya area kepala tapi juga ditambah area kaki dari paha sampai mata kaki lawan.
Tarung Etang hanya menyasar menyerang area kepala dan kaki lawan, terus bagian tubuh yang lain boleh tidak menjadi sasaran untuk mendapatkan poin?
Nah untuk bagian tubuh terutama badan, dalam Pencak Silat sudah diatur sebagai sasaran mendapatkan nilai yaitu pukulan dan tendangan, terutama untuk bagian dada dan perut. Tapi untuk urusan Tarung bagian ini Penulis sendiri sudah menyusunnya dalam jenis tarung berbeda yaitu Tarung Jurus versi I dan Tarung Jurus versi II.
Saat berimaginasi Tarung Etang Penulis mendapati,
Memiliki teknik menyerang dengan tangan bebas ke area kepala dan area kaki lawan mulai dari paha hingga mata kaki. Kuda-kuda ringan bisa bergeser kanan maupun kiri. Kedua tangan selalu bergerak mencari celah sasaran atau bersentuhan dengan kedua tangan lawan yang juga mengincar bagian kepala dan kaki kita. Maju mundur menyorongkan tangan ke sasaran, menangkis bila tangan lawan hendak menyentuh kepala atau kaki kita. Kaki jarang terangkat karena beresiko kena sentuhan tangan lawan.
Selalu waspada dan cermat karena biarpun kita agresif menyerang tetap beresiko kebobolan oleh trik serangan lawan. Dan yang pasti karena sebuah pertandingan tetap harus mensupremasikan fair play. Kalah menang adalah suatu kepastian dari sebuah pertarungan di pertandingan kejuaraan manapun. Itu adalah prestasi yang didambakan setiap Atlet olah raga apapun.
Penulis menerima kritik, saran, masukan untuk menjadikan kesempurnaan karya tulis ini. Juga menerima segala kelengkapan media apapun misalnya artikel rujukan untuk melengkapi pengetahuan Penulis yang terbatas ini.
Penulis berusaha untuk terus menambahai kelengkapan karya tulis ini agar semakin lengkap dalam bentuk misalnya Foto dokumentasi, Video contoh tarung ETANG, atau bahkan Revisi terus menerus menjadi jurnal Nomor TARUNG ETANG.
Demikian paparan Penulis sebagai Pencipta TARUNG ETANG.
Semoga bermanfaat dikemudian hari……..NUWUN.

      


Journal Latihan



          Journal Latihan
Apa yang ditulis Penulis ini sangat subyektif. Sifatnya sangat pribadi, tapi tak apalah menjadi tulisan agar bisa dibaca publik. Toh yang ditulis bukan keseluruhan kegiatan sehari-hari. Penulis membatasi bidang yang boleh dinyatakan menjadi bagian hidup sebagai praktisi. Kegiatan lain seperti ibadah, pekerjaan, ataupun kegiatan rumah tangga bukan merupakan konsumsi publik.
Perubahan adalah sesuatu yang abadi. Begitu juga dengan Journal Latihan yang dipraktekan Penulis. Latihan sepuluh tahun yang lalu adalah berbeda dengan keadaan sekarang. Semakin lanjut usia kematangan jiwa makin beranjak kedewasaan. Sepuluh tahun yang lalu fisik sedemikian bugar sekarang mulai merasakan berkurang, mungkin sepuluh tahun lagi journal latihan yang tertulis ini hanya menjadi kenangan belaka.
YOGA, PENCAK SILAT, JOGGING
Ketiga bagian praktisi ini campur aduk dalam diri Penulis. Menjadi warna-warni kehidupan rutin harian, menjadi teman seumur hidup, media hiburan, ajang profil diri agar berbeda dengan orang lain dll.
Penulis menjabarkan kegiatan di suatu hari,
Jam 3 dini hari, Penulis terbangun dari mimpi karena mendengar suara adzan awal dari masjid terdekat. Penulis bisa bangun dini hari seperti ini sebagai rutinitas sudah sangat berbahagia. Orang pada umumnya sedang terlelap dibuai mimpi……
Mulailah kegiatan Penulis secara berurutan,
SESI MEDITASI
Terdiri dari dua bagian, dilakukan dalam asana Padmasana (Teratai). Padmasana merupakan sikap mayoritas yang digunakan untuk mencapai ketenangan sekaligus kesahajaan. Banyak bukti-bukti asana ini sebagai jalan mencapai keseimbangan hidup. Candi Borobudur dengan profil Budha adalah yang mudah ditemui di lingkungan sekitar kita. Puncaknya adalah stupa yang merupakan nirwana (moksa, bebas dari hukum inkarnasi). Eiitt….tak usah diperpanjang bagian ini……He He He Penulis bukan pakarnya.
Meditasi yang dipraktekan Penulis terdiri dari campuran.
1.      GROUNDING (Terhubung Bumi dan Langit)
2.      Afirmasi (Mantra), Getaran Suara, Pembersihan Cakra
Grounding dan Pembersihan Cakra diambil dari buku Kundalini karangan Hermansyah Efendi. Sedangkan Afirmasi, Getaran suara dari buku Kundalini karangan Adnan Krishna. Pelaksanaannya tidak mutlak persis buku tersebut, Penulis berkreasi sendiri karena yang tahu keadaan diri ini adalah pribadi kita sendiri. Persoalan Kundalini sendiri Penulis tak tahu apa-apa, bukan beban untuk mendalaminya.
Pemaparannya dalam bentuk tulisan cukup rumit tapi melatihnya sederhana sekali, juga tak membutuhkan waktu lama. Meditasi tak usah dipaksakan, setiap kali berlatih akan terasa tidak pernah sempurna. Kuncinya adalah betah dalam sikap Padmasana, siapapun yang pertama kali melakukan meditasi bakalan banyak mengalami kebingungan terutama dalam mengolah pikir berupa visualisasi, apa lagi unsur dalam pelaksanaannya terdapat berbagai mistik seperti cakra, mantra, dan Getaran suara yang sejatinya semu belaka.
Hanya waktu yang akan menjawab kenapa kita membutuhkan Meditasi hingga akhirnya menjadi kebutuhan harian.
Soal manfaat Penulis tak begitu peduli, pokoknya melatihnya rutin karena bila beberapa hari meninggalkannya rasanya ada yang kurang. Yang penting jangan menjadikan meditasi ini lebih penting dari beribadah dan bekerja untuk mencari penghasilan. Juga pelaksanaannya carilah waktu yang tidak bertabrakan dengan kedua kewajiban kita hidup di dunia ini.
SESI ASANA
Latihan asana ini juga campuran, Penulis tidak mutlak menerapkan asana Yoga dengan dasar-dasar dari lembaga kursus resmi. Cara Penulis berlatih hanya mencontoh dari gambar literatur sebuah perguruan Pencak Silat Asma berupa gerakan dan manfaat serta ditambah doa Asma Ul-Husna.
Justru Penulis mengagumi Guru Besar perguruan KBPS Asma yang telah menggabungkan Asana dengan doa Asma Ul-Husna, ini semacam terobosan di dalam akulturasi spiritual tanpa mencampuradukan ajaran agama. Hasil pemikiran Beliau telah membuat Penulis berketetapan melatihnya tanpa perlu khawatir terjadi sinkritisme agama.
Setelah itu Penulis berlatih mencontoh dari gambar buku-buku Yoga yang ada di pasaran Indonesia. Salah satunya buku berjudul Yoga dan Seks karangan Yogi Chetanand, yang lainnya adalah dari berbagai jenis latihan teman-teman Penulis biarpun bukan bagian dari Yoga Asana.
Sering saat berada di pondok kerja Penulis berlatih asana, nah teman-teman Penulis tak mau kalah melakukan gerakan keahliannya. Penulis pun sering mengagumi kemampuan beberapa teman Penulis dalam olah gerak yang jarang bisa dilakukan orang. Nah beberapa gerakan tersebut diadopsi Penulis untuk menambah variasi asana.
Bisa dikatakan Penulis melatih Yoga secara otodidak, kuncinya sederhana, seringan mungkin (Pelan-pelan) menyesuaikan dengan kemampuan tubuh. Waktulah yang akan menjawwab peningkatan kemampuan asana. Pertama menjalaninya dari gerakan pelan-pelan yang tidak sempurna itu semakin hari akan semakin tertantang dari segi fisik.
Jangan khawatirkan tentang tubuh, sungguh tubuh itu karunia dari Tuhan yang paling ajaib. Segala kemampuan sampai tingkat kesulitan yang tinggi sekalipun bila melatihnya rutin akan tercapai semacam kelenturan yang luar biasa.
Penulis mendapatkan pengalaman berlatih adalah keterbatasan tempat di hutan Kalimantan. Tempat berlatih terbatas di palbet untuk tempat tidur, terdiri dari dua zak beras/kain yang dibentangkan dalam pondok darurat kegiatan survey perusahaan.
Dari pengalaman berlatih di pondok kegiatan survey inilah teknik berlatih didapat. Karena itu hasil latihan bila dipraktekan untuk orang lain tidak disarankan karena tingkatnya berbahaya. Lebih baik berlatih mengikuti lembaga kursus Yoga yang resmi karena lebih berstruktur dan bertahap dari pemula, ini saran dari Penulis.
Asana-asana yang bisa dilatih saat di palbet dominan dalam posisi duduk dan berbaring. Asana dengan posisi berdiri tak memungkinkan bahkan dihindari. Di sinilah kelemahan utama saat berlatih di palbet pondok kegiatan survey.
Asana-asana latihannya: Salabhasana, Cobra, Unta, Dhanurasana, Halasana, Sit up dll. Sikap Sirsasana malah dapat diperagakan karena kedua tangan maish bisa berpegang pada dua kayu penyangga palbet kanan kiri.
Ketika mula-mula berlatih setiap Asana dilatih sekedar dilakukan, ini jadi semacam cara menaklukan tubuh sedikit demi sedikit, tujuannya anggap saja sebagai Kemenangan atas Asana. Jadi bayangkan saja ada sepuluh Asana dilatih maka setiap satu sesi tersebut hanya memakan waktu tidak lebih empat menit. Itupun belum mahir, Asana yang belum sepenuhnya dikuasai biarkan apa adanya dilakukan sekedar mencapai jumlah yang sudah dikoleksi.
Perlahan dari satu dua bulan, kemudian berganti tahun setiap Asana makin mahir dan membutuhkan waktu lebih panjang. Tapi juga tidak pernah berdurasi lama, paling banter sesi Asana sekitar lima belas menit. Benturannya adalah kegiatan lain yang juga menjadi produktivitas kerja sehari-hari, utamakan hal ini.
SESI JURUS
Jurus berasal dari kenangan Penulis berlatih di Perguruan Pencak Silat KBPS Asma di Purwokerto. Tak ada kemajuan berarti dalam melatihnya, hanya hafalan terus menerus. Kenangan itu dipraktekan di perantuan Penulis di Kalimantan.
Jurus dan Asana dilatih di tempat berbeda, bila Asana dilatih saat berada di pondok kerja dan waktunya malam hari, maka latihan Pencak Silat dilakukan bebas di tempat terbuka di siang hari. Kalau mengingatnya Penulis bisa tertawa sendiri, saking bebasnya sampai telanjang cuma memakai celana dalam, aman.
Waktu berlatih biasanya setelah istirahat siang dari survey mencari tegakan kayu di blok kegiatan. Tempat berlatih mencari yang bertanah datar biasanya ketemunya di jalan angkutan kayu, dorongan traktor penyeret kayu, bekas camp tarik penebang kayu, tepi sungai dan telaga berpasir yang datar dll. Yang penting ternaungi rindangnya tajuk pepohonan supaya tidak kepanasan.
Tertulis di diary Penulis,
27 November 1998
Musibah menimpa pondok kerja Pembebasan III, sepotong pohon meranti telah roboh ditimpa angin ribut dan menghancurkan segala-galanya. Seorang anak buahku sekaligus temanku mengalami kecelakaan (Idrus/Bima).
Peristiwa terjadi tgl 15November jam setengah empat sore saat Aku hendak Berlatih SILAT.
Keadaan tak bisa kuatasi, yang jelas Aku hanya bisa secepatnya minta bantuan dengan turun ke camp km 4…….dst.
Latihan di hutan Kalimantan (1996-2001) boleh dikatakan merupakan puncak kebugaran tubuh Penulis. Latihan menggenjot stamina dan penempaan fisik hampir seperti keajaiban, mungkin tak pernah bisa tercapai lagi. Push up 100x, Scot jump 100x, Sit up 100x itu sudah biasa. Latihan Jurus berupa dua Jurus masing-masing dengan bagian tubuh bagian kanan dan kiri hingga sampai empat kali peragaan.
Peragaan Jurus dilakukan dengan tubuh bagian kanan dan kiri bisa jadi Hak Penulis, semacam penemuan biarpun tidak diPatenkan. Hal ini karena anggapan Penulis metode ini menjadikan keseimbangan tubuh yang sangat bermanfaat, jadi kita yang berlatih dengan metode ini tetap tidak kalah dengan seorang yang kiddal. Tentu tetap berbeda berlatih dengan bagian tubuh kiri, terasa tetap lemah. Tujuan Penulis adalah sebagai variasi dan membiasakan rutinitas hidup menggunakan bagian tubuh kanan dan kiri dalam waktu hampir bersamaan.
Tidak nyaman mula-mula berlatih Jurus dengan cara kidal ini, Penulis melihat di perguruan manapun cara ini tidak lazim. Tapi juga Penulis melihat sebagai celah kelemahan setiap peraga sehingga bila mampu melakukannya itu menjadi kebaikan bagi tubuh maupun kejiwaan. Urusan ini bagi Penulis masih gelap, sebab tidak membuatnya sebagai semacam observasi atau penelitian, tak ada data dukungannya.
Puncak kebugaran tubuh Penulis mencapai puncaknya berupa kemampuan seperti push up yang mencapai 100x, Sit up 100x, Scot jump 100x dll. Otot-otot terbentuk tak kalah dengan orang yang biasa berlatih di club-club Fitnes. Semuanya berguna bagi kegiatan Penulis sebagai surveyor di hutan blok kegiatan perusahaan kayu. Bila orang lain misalnya menaiki bukit nafasnya sudah sangat tersengal-sengal maka Penulis bisa mendakinya sedikit lebih ringan. Di sinilah Penulis menyadarinya sebagai ajang profil membedakan diri dengan orang kebanyakan.
Di camp perusahaan Tanjung Raya di Kuala Kurun Penulis berlatih seorang diri. Banyak saja jenis olah raga yang dilakukan penghuni camp tapi biasanya dilakukan karena ditunjang fasilitas perusahaan. Ada tenis meja, bola volley, bulu tangkis, sepak bola dll. Apa yang Penulis lakukan sangat pribadi sifatnya hingga sekarang di perantuan Yogyakarta ini.
Seperti sekarang ini,
Berdasarkan pengalaman berlatih maka perubahan latihan lebih banyak karena pembagian waktu. Di Yogya ini Penulis lebih sering berlatih malam hari, atau bahkan pagi hari sebelum panas menyengat. Itu karena waktu siangnya banyak tersita untuk jenis pekerjaan sebagai pengusaha kecil setingkat Pedagang Kaki Lima (PKL).
Dua jurus tetap dibiasakan melakukannya lebih ringan bahkan tidak terlalu bertenaga karena dilakukan di ruang sempit kamar kos. Gerakan teknik jurus jelas tidak sempurna, seperti kelit misalnya sering hanya dilakukan imaginasi belaka. Walaupun hal tersebut tidak mengubah esensinya sebagai rangkaian teknik jurus berkaidah Pencak Silat.
Jujur saja Penulis sulit mengembangkan latihan lebih baik lagi yang penting urutannya sudah benar misalnya untuk jurus Giles, jurus Potong itu di mana inti gerakannya sebisa-bisa tetap sesuai fungsinya, atau jurus Teguh yang begitu sederhana tapi sikap tubuh dituntut sesuai sifat jurusnya teguh pendirian dll. Tak lupa setiap memperagakan jurus pasti terbayang semacam bentuk tarung imaginasi. Rupanya inilah nilai seni dari peragaan jurus, sebuah keindahan yang terbentuk karena hidup sebenarnya adalah bentuk pertarungan sesuai naluri bela diri.
Tapi jangan salah biarpun gerakannya sudah sangat diringankan ternyata nafas tetap tersengal-sengal. Terkadang setiap selesai peragaan satu jurus harus berhenti barang sebentar atau membungkukan tubuh untuk mengurangi mual di perut. Satu jurus yang hanya satu dua menit itu cukup menguras tenaga dan pikiran.
Kok pikirran?
Menghafal kan sudah kerja pikiran, Oke!
Karena gerakan jurus sudah mendarah daging membuat sikap tubuh menyesuaikan dengan gerak otot motorik yang teratur. Kejujuran itulah hasilnya, tubuh tak bisa menipu bila sedang lelah, atau hanya berhasil melakukan jogging sepuluh putaran lapangan Alun-alun kidul, He He He yang tentunya bisa dibanggakan karena kebenarannnya.
Dari sepuluh jurus dibagi dalam waktu seminggu ternyata tidak cukup, biasanya semua baru bisa diperagakan dua minggu. Itupun bila lancar tanpa halangan, sejatinya hidup di dunia ini pasti ada saja halangan yang memaksa kebiasaan kita tersendat. Jadi sepuluh jurus bisa terlaksana sampai tiga minggu bahkan satu bulan itu sudah biasa.
Seminggu bisa melakukan semua jenis olah raga sampai tiga kali sudah sangat baik. Biasanya bila sudah tiga hari berturut-turut berhasil melaksanakannya nah tubuh seperti menuntut istirahat atau jenuh. Liburkanlah barang sehari toh menu tiga kali seminggu itu sudah sangat memenuhi syarat di kalangan olah raga apapun.
Bila sakit misalnya yang paling sering dialami Penulis adalah Flu, hentikan senua jenis latihan. Istirahat dan berobat agar secepatnya sembuh, olah raga bukan penyembuh dari sakit seperti itu. Olah raga adalah kegiatan yang mendukung kesehatan manusia, jadi jangan salah seorang atlet prestasinya bagus seperti apapun bila sakit ia tetap harus berobat.
Demikian Journal Latihan ini sebagai artikel dianggap selesai, di masa mendatang Penulis bersyukur bila masih mampu menapakinya sebagai menu harian.
Wasalam

Saturday, February 4, 2017

Jurus dan permasalahannya

Banyak kosa kata bahasa Indonesia yang berkaitan dengan jurus, sering tanpa sadar kita menggunakannya dalam berbagai bidang tanpa menyadarinya. Jadi urusan bela diri Pencak Silat sebenarnya orang Nusantara tidaklah asing, hanya TIDAK SAYANG.....itu saja.

Bersilat lidah = Debat
Jurusan         = Arah, pencapaian akademis
Jawara         = Juara, Orang yang berkali-kali menjuarai atau orang yang dijagokan
Debus          = Pertunjukan seni bela diri dengan kemampuan atraksi tenaga dalam
Carok          = Duel antar pribadi demi kehormatan untuk etnis Madura
Suduk          = Tikam (Istilah Melayu Banjar)
Kelit             = Mengelak
Dll

Kita sering tak sadar kata-kata tersebut digunakan dalam keseharian bermasyarakat. Berbagai praktisi bidang manapun sering menggunakan kosa kata yang berhubungan dengan jenis bela diri Nusantara ini. Misalnya untuk menyatakan kepandaian berdebat seseorang akan disebut pandai bersilat lidah. Coba orang yang menyebutkan kata tersebut biarpun tidak mengenal Pencak Silat tapi terbayang dibenaknya bahwa seseorang yang pandai adu kata berarti memiliki keahlian yang disamakan dengan ketrampilan bela diri.

Jadi kesimpulannya walaupun samar-samar dunia bela diri Pencak Silat adalah ada.

Kehadirannya tidak menjadi dunia yang hingar bingar seperti dunia politik, agama, seni dan budaya, atau paling mudahnya ramainya sebuah pasar di sekitar kita. Bela diri menjadi fenomena rahasia, tokohnya selalu disebut-sebut dalam berbagai kedok seperti Jawara, Petarung, Guru Pencak Silat, Pelatih, Murid sebuah perguruan atau bahkan Preman dll.
Beberapa budaya etnis Nusantara menjadikan Pencak Silat sebagai identitas kebudayaannya. Antara lain Betawi, Sunda, Banten, dan Minangkabau. Adanya istilah Jawara di Banten menjadi sebuah komunitas tersendiri yang cukup berpengaruh di bidang politik kedaerahan atau Pertunjukan Debus yang disebut-sebut sebagai atraksi turunan dari keahlian berpencak.
Juga pengaruh  adat pernikahan seperti di Betawi dengan adanya atraksi sejenis drama Bela diri Pencak Silat yang disebut Palang Pintu. atau kata "Suduk" yang berarti Tikam untuk orang Banjar. Itu dikarenakan bila seseorang Banjar memiliki musuh maka cara menghancurkan musuh tersebut adalah ditikam dengan Lading, ini merupakan semacam terusan adat jaman bahari karena adanya ketrampilan menggunakan keris yang hanya bisa melakukannya dengan teknik menikam (menusuk).
Pencak Silat telah menyebar sampai ujung kampung paling dalamnya di seluruh Nusantara. Berbagai daerah dan perguruannya bisa menjadi bukti bahwa bela diri ini adalah milik Indonesia dalam hal ini etnis Melayu. Penyebarannya mungkin sudah berabad-abad yang lalu hingga menjadi semacam sistem Pendidikan Non Formal kuno.
Karena Non Formal jadinya tak ada akademi manapun menjadikannya sebagai jurusan di sebuah Fakultas tersendiri. Hidup di setiap dada pengamalnya atau bernaung di sebuah perguruan tradisional dan modern. Pencak Silat tetap hadir sebagaimana budaya makan Nusantara seperti nasi liwet, nasi goreng, dan nasi-nasi lainnya.
Karena ADA maka Penulis memberi contoh diri sendiri,
Anggap saja Penulis adalah Pengamal bela diri Pencak Silat, bentuk intinya adalah LATIHAN rutin harian dan mingguan. Ini karena keterbatasan Penulis dalam memperdalam ilmu Pencak Silat, soalnya tidak mendapatkan tenaga dalam, kesaktian tinggi, atau ajian Brajamusti. Juga cuma suka nonton sinetron Mak Lampir, membaca komik silat Wiro Sableng, Pendekar Bodoh dll.
Yah latihan cuma didapat dari sebuah perguruan KBPS Asma di Purwokerto sebagai kenangan masa-masa sekolah SMA......(Sweet seventeen).

JURUS TEGUH

 


Intruksinya adalah sebagai berikut,

Pembukaan jurus: Hormat silat pasangan jurus.....
Dalam kuda-kuda kanan depan dan kedua tangan pasangan jurus, lakukan tangkis kiri geser kaki kanan ke samping kanan diiringi tangan kanan menangkis ke samping tubuh kiri, setelah itu sepak kaki kanan ke depan, siap-siap posisi inti jurus.
Pukul kanan, tangkis kanan iringi dengan melepaskan pukulan kiri secara bersamaan, kembali ke posisi semula. Sepak kaki kiri ke depan pukul tangan kiri tangkis kekiri iringi dengan pukulan kanan ke depan....pertahankan!
Pelintir kepalan tangan kanan seolah-olah dipegang lawan, ini membuka pergelangan tangan dari kuncian lawan. Beset lepaskan tangan dari kuncian lawan, kaki kanan maju tangan kanan menyikut lawan, tambahi dengan pukulan ke arah kepala lawan.......
Balik badan dengan teknik membalik langkah....pukul kanan kiri, sepak kanan ke samping kanan. Mulai lagi dari teknik pukulan kanan ke depan sama seperti di awal jurus.
Jurus yang dipergakan di video hanya seperempatnya saja, bila satu jurus utuh lakukan empat kali dalam empat arah berlainan. Jadi waktu memeragakan sebuah jurus cukup lama dan memeras keringat untuk disebut olah raga. Begitu juga untuk nomor pertandingan seni waktunya adalah sekitar tiga menit sekali peragaan untuk mendapatkan penilaian.
Kebetulan hari minggu ini Penulis berlatih di sebuah kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, latihan hanya hafalan dari sebuah perguruan yang pernah Penulis bernaung di dalamnya. Tak terbersit pikiran apa makna setiap gerakan/teknik bela diri, apa lagi sampai filosofinya. Tapi rasanya itu sudah cukup mewakili bahwa jurus bela diri Pencak Silat lumayan rumit.
Tekniknya ada pukulan, tangkisan, tendangan, kuncian, teknik menyikut??? (Teknik menyikut jarang terlaksana dalam nomor tarung loohhh), membalik badan sebagai lengkah jurus selanjutnya, langkah-langkah atau tapak hitungan dll. Satu jurus ini saja sudah mewakili apa itu bela diri Pencak Silat.
Realitasnya hidup dengan Bela diri Penulis menjalaninya SENDIRIAN, tingkatnya hanya pecinta dan pengamal jurus. Paling-paling selama ini Penulis berstatus mantan siswa sebuah perguruan di kota kelahiran Penulis yaitu Purwokerto. Juga bagaimana mengembangkannya lebih lanjut sangat sulit, tak ada kemajuan atau cara mengembangkannya misalnya dengan menciptakan jurus sendiri.
Cukup menghafal sampai puluhan tahun dengan manfaat kesehatan badan. Lumayan ketika memeragakannya di ISI Penulis masih sanggup melakukan jurus Teguh ini sampai empat kali dengan arah empat mata angin (Wuih mungkin empat arah ini juga bisa disebut sebagai semacam filosofi), tak mudah menjaga stamina sampai usia menjelang lima puluh tahun seperti Penulis ini.Kebugaran tubuh yang didapat cukup menjauhkan Penulis dari Obat-obatan dan perawatan Rumah Sakit yang menyedot ongkos hidup.

 
SALAM JURUS





Tuesday, January 31, 2017

Jalan Asana

Setiap orang mencari pengalaman spiritual sebagai jalan kebahagiaan. Jangan salah spiritual bukan hanya ibadah saja, bila Anda melakukan perjalanan menghibur diri itupun sudah spiritual karena pengalaman mendapatkan kesenangan dari hiburan.
Menghibur diri dan mendapatkan pengalaman mengesankan ini yang didapat Penulis dari Asana
Oh pengertian Asana, yah itu lebih berupa pergerakan anatomi manusia mencapai kelenturan agar tercapai keseimbangan jiwa dan raga. Tapi ini pengertian dangkal saja biar memudahkan dalam menterjemahkan Yoga sebagai wujud kebesaran jagad raya.
Jadi ikuti saja apa yang didapat dari pengalaman Penulis berlatih Asana hingga hari ini.
Tubuh itu modal yang aneh, selalu minta segala yang nyaman. Duduk di kursi yang enak, berdiri di jalan, tanah yang rata. Berbaring di kasur yang empuk sampai makan dan minum yang lezat, bahkan bila perlu mendapat pelayanan dari orang lain sebagai yang dipertuan (majikan).
Tuntutan itu berlangsung seumur hidup karena manusia adalah makhluk sosial ekonomi. Pemenuhan kebutuhan hidup tak bisa dihindari walaupun hidup dalam persaingan antar individu.Hidup lebih mirip perlombaan balap, siapa cepat Dia menang!!!

INDIVIDU

Itu Anda sendiri?

Bisa jadi begitu, Coba sekarang tutup kedua telinga Anda.....Apa yang terdengar?

Bila bisa mendengar suara-suara dari tubuh kita sendiri syukurlah, itu menandakan bahwa sebenarnya tubuh yang masih hidup ini sangat BERISIK.
Tak perlu sampai bisa membedakan jenis-jenis suara dalam tubuh kita itu sudah kepastian bahwa kegaduhan di luar tubuh sebanding dengan aktifitas organ dalam tubuh yang menghasilkan jenis keributan. Hanya kematian yang bisa menghentikan suara-suara ribut dalam tubuh kita. Biarkan semua itu berlangsung, kita mencoba mendengarkan suara-suara itu hanya sebagai perbandingan dengan dunia nyata.
Di dalam agama manapun tidak ada perintah untuk bisa menguasai keributan dalam tubuh yang terjadi secara spontanitas. Itu sudah KODRAT mutlak............

Menutup telinga mencoba mendengar suara-suara dalam tubuh sendiri adalah bentuk ritual Asana. Yoga mengajarkan persatuan, itu bebas hendak menyatukan jiwa raga, Yin Yang, Lelaki Perempuan, Mikro dan Makro Kosmos dll. Asana bukan perlombaan kalah menang tapi hanya memahami tubuh dan melatihnya hingga mendapat kenyamanan maksimal secara individual.

Jalan Asana ini yang dihayati Penulis seumur hidup hingga saat menjadi judul artikel ini.


                                                 Contoh sebuah Asana "Paschimotasana"

Menempuh jalan seperti yang Penulis contohkan dalam gambar 'Anda menjadi lebih sedikit diatas normal menjalani kehidupan'. Jadi Asana merupakan nilai tambah keseharian kita bila rutin melatihnya. Tak usah berlebihan manfaat yang diperoleh berlatih Asana, latihan yang ditempuh Penulis selama beberapa tahun menjadi milik pribadi dan belum menjadi konsumsi publik.

Dus Asana adalah milik diri sendiri, mungkin bila Penulis adalah orang tenar semacam publik figur justru tak bisa menikmati latihan rutin yang sudah terjadwal sekian puluh tahun.
Ada banyak sekali jenis Asana, ribuan jumlahnya Pembaca bisa mencari rujukannya dalam berbagai buku tentang Yoga.
Seribu manfaat dari berbagai buku tentang Yoga tak perlu dikemukakan di sini, terkadang bahkan Penulis tak peduli manfaat-manfaat tersebut karena lebih penting mendapatkan pengalaman spiritual berlatih Asana.

              "Melegakan tubuh dari segala hambatan karena keterbatasan anatomi manusia"

Bila sudah tunai melatihnya kepuasan batin adalah bonus.........

Namaskar