Monday, September 11, 2017

Karya Tulis Tarung Jurus versi I



      TARUNG JURUS versi I
                                                         (Sebuah Karya Tulis)
Tulisan ini tidak bermaksud merubah jenis nomor Tarung Pencak Silat yang sudah berlaku baik itu dari IPSI, Kejuaraan Tingkat Nasional maupun Internasional. Bahkan bila ada kejuaraan terbatas dalam sebuah Perguruan maupun kejuaraan yang berunsur kedaerahan.
Tujuan Penulis adalah memperkaya nomor Tarung Pencak Silat sehingga makin menambah khasanah yang sudah diakui, mungkin bila disamakan dengan Tarung Derajat yang sudah resmi sebagai bela diri baru, tulisan ini tidak mencapai bentuk seperti itu. Tulisan ini hanya merupakan turunan dari nomor kejuaraan Pencak Silat.
Sumber-sumbernya berasal dari banyaknya teknik-teknik dalam kandungan jurus yang ada di Perguruan maupun Pencak Silat daerah di wilayah Nusantara agar tetap bisa dilestarikan. Akar masalahnya adalah Pencak Silat memiliki kekhasan di berbagai daerah dan Perguruan atau aliran yang tidak terakomodasi dalam nomor Tarung yang sudah diakui sebagai kejuaraan. Misalnya berdasarkan aliran, kedaerahan, komunitas, bahkan mungkin sebagai milik keluarga turun temurun.
Penulis mencontohkan diri sendiri atas latihan-latihan jurus yang dikoleksi, misalnya jurus satu yang dinamakan Jurus Teguh mengandung teknik sebagai berikut,
Dalam kuda-kuda kanan depan, PUKUL….tangkis kanan pukul kiri, Tendang kaki kiri lakukan teknik yang sama dengan di atas….TAHAN, Pelintir tangan kanan yang ditahan BESETdengan tangan kiri, kuda-kuda direndahkan….SIKUT kanan sambil majukan kaki kanan…PUKUL atas….
SELESAI
Ada teknik pukulan, tangkisan, tendangan, pelintir pergelangan tangan yang berarti tangan dalam keadaan terpegang lawan, beset berarti melepaskan diri dari kuncian lawan, sikut kanan sebuah teknik yang jarang ada di perguruan lain, dan sebagainya.
Teknik-teknik inilah yang ditekankan untuk bisa diperagakan dalam nomor Tarung gagasan Penulis.
Gagasan ini massih mentah dan baru terealisir dalam imaginasi, masih harus dijabarkan dalam praktek dan peragaan untuk diakui resmi sebagai nomor Tarung dalam sebuah kejuaraan, hal ini masih cita-cita terpendam hingga saat ini.
Penilaian utama adalah siapa Petarung yang berhasil melakukan teknik jurus terhadap lawan, Petarung tersebut berhak mendapatkan nilai (Poin) berdasarkan kriteria yang sudah diatur. Dari selisih nilai (Poin) yang didapat antar Petarung bisa diketahui seorang Pemenang dan Peringkatnya dalam sebuah Even Kejuaraan.
Anggap saja tulisan ini masih teori belaka. Walaupun begitu Penulis mencoba menelaahnya dengan fakta-fakta, yaitu latihan jurus yang rutin dilakukan harian selama ini.
Penulis berargumentasi nomor tarung ini untuk mengakomodasi Petarung yang lebih mengutamakan teknik sebagai perolehan nilai untuk kemenangan.
Alasan paling kuatnya menjadikan nomor tarung ini menjadi sebuah nomor tersendiri adalah adanya nomor seni yang merupakan penilaian jurus berdasarkan nilai estetika jurus dan kerapian teknik yang diperagakan. Jurus yang diperagakan harus juga bisa dipraktekan saat bertarung.
Penulis menganggap ada dua tipe Petarung pertandingan Pencak Silat. Maaf anggapan ini ada karena tidak didukung dengan pengamatan di lapangan. Tipe pertama adalah Petarung yang mengandalkan serangan keras biasanya berupa pukulan dan tendangan untuk menjatuhkan lawan hingga Knock Out.
Petarung ini memang berlatih dengan menu latihan seperti memukul sansak, menendang dengan sasaran benda keras, menyerang bagian tubuh yang lemah seperti kepala, perut bawah, leher dll. Selain itu biasanya Petarung tipe ini mengandalkan fisik sebagai penunjang meraih kemenangan.
Pertarungan selalu seru, keras lawan keras. Siapa yang lebih dulu mampu memasukan serangan ke bagian tubuh yang diincar menjadi poin (Nilai) atau bila tercapai lawan jatuh hingga tidak mampu memberikan perlawanan lagi (Knock Out).
Seorang Petarung yang berhasil meng KO lawan langsung menjadi Pemenang, dan bila tidak terjadi insiden KO tinggal dihitung selisih nilai serangan yang masuk sebagai kemenangan angka.
Untuk Petarung tipe ini Penulis mengusulkan nomor Tarung tersendiri yaitu TARUNG JURUS versi II.
Tipe kedua adalah Petarung yang mengandalkan teknik untuk mendapatkan Poin. Tipe Petarung ini berlatih teknik-teknik yang cukup rumit agar bisa diterapkan dalam pertarungan. Kemenangan diperoleh karena seorang Petarung memiliki banyak teknik serangan dan berhasil menyarangkannya pada tubuh lawan.
Penulis membayangkan sebuah masalah bila dua tipe Petarung diatas tersebut melakukan pertarungan, tentu akan terjadi kontradiksi. Sulit seorang Petarung tipe kedua melayani Petarung tipe pertama yang hanya mengincar tubuh menyerang sampai Knock Out.
Untuk itulah dibedakan nomor Tarung tipe pertama dan kedua.
Dalam kejuaraan Pencak Silat tak ada pembagian nomor tarung, kedua tipe Petarung bisa berjumpa saling kalah mengalahkan. Untungnya sasaran serangan dalam kejuaraan Pencak Silat sudah dibatasi hingga tidak mencolok adanya kedua tipe Petarung tersebut.
Dengan adanya aturan hanya boleh memasukan serangan ke bagian dada dan perut lawan maka kedua tipe Petarung tersebut hanya samar-samar keberadaannya. Apa lagi setiap Petarung dilindungi dengan kostum di tubuhnya menghindari cedera bila terkena pukulan dan tendangan.
Penulis tidak menyebut ini kelemahan di kejuaraan Pencak Silat, teruskan saja yang sudah ada karena sudah menjadi nomor yang diakui secara internasional.
Nomor Tarung yang digagas Penulis adalah penyesuaiannya dengan Jurus. Misalnya dari sepuluh jurus yang dilatih selain bernama juga terkandung banyak nama-nama tekniknya. Dalam jurus satu diatas sudah diterangkan.
Jurus-jurus lainnya makin banyak jumlah nama tekniknya, ada kelit, sempok, pukulan dobel, tendangan putar, sapuan, bantingan, giles, pancingan, dorongan kaki dll. Nah teknik-teknik dalam kandungan jurus inilah yang menjadi tujuan Penulis menjadi poin meraih kemenangan terhadap lawan.
Karenanya Penulis menamakan nomor ini sebagai nomor TARUNG JURUS versi I.
Jadi TARUNG JURUS versi I ini sesuai dengan tipe Petarung kedua yang lebih mengutamakan teknik hingga mengumpulkan nilai untuk meraih kemenangan.
Penulis mencontohkan diri sendiri.
Berlatih jurus puluhan tahun tidak pernah bertanding dengan siapapun, hasilnya pukulan dan tendangan tidak keras. Tubuh Penulis sendiri biasa saja karena berlatih lebih banyak sebagai hobi. Tapi kalau stamina lumayan masih bisa diandalkan untuk kegiatan lapangan.
Pencak Silat menjadi gaya hidup, menyesuaikan dengan latihan. Bila menghadapi masalah dengan orang lain mencoba mampu membatasi mana yang diprioritaskan dan berpikir logis. Dan yang jelas latihan jurus itu bermanfaat mengurangi naluri berkelahi, soalnya berlatih saja sudah capai apa lagi berkelahi sungguhan!
Pencak Silat menjadi seni budaya yang dikuasai Penulis sebagai penghayatnya. Jangan sampai budaya Melayu ini hilang ditelan jaman. Semoga Penulis cukup diperhitungkan sebagai pelaku budaya bidang bela diri ini.
Penilaian Nomor Tarung Jurus versi I
Penulis mulai menjabarkan detail gagasan karya tulis ini, bila disebut pencipta Tarung syukurlah. Bisa masuk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bukan benda, apa lagi bila Penulis sampai dinyatakan sebagai nama penciptanya.
Nomor tarung ini tidak mengubah peraturan yang sudah diakui secara internasional. Sampaipun pelindung badan masih tetap bisa diberlakukan. Begitu juga untuk arena pertandingan, tidak ada yang berubah.
Dua orang Petarung berada di arena matras saling berhadapan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Untuk kelas Petarung Penulis cenderung memakai sistem lama yaitu,
Kelas Usia Dini- A B C Putera/Puteri
Kelas Remaja   - A B C Putera/Puteri
Kelas Dewasa   - A B C Putera/Puteri
Penulis menyukai bentuk kelas seperti ini untuk mendekatkan pada budaya sastra lisan Melayu yaitu Pantun. Pantun memiliki bait kata persamaan bunyi sebagai puisi yang begitu indah dengan tingkatan usia. Tingkatannya adalah pantun anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua (Pantun nasehat). Jika diterapkan dalam kelas Tarung Pencak Silat tentu menambah banyak perolehan pemenang dan kriteria prestasinya. Penulis lebih berkeyakinan menghidupkan Pencak Silat dengan dasar budaya setempat agar mudah dijadikan model pendidikan karakter Nasional.
Bentuk kelas-kelas pertarungan Pencak Silat seperti ini menyesuaikan dengan tradisi perguruan-perguruan yang sudah ada. Penulis berargumentasi bahwa Perguruan Pencak Silat termasuk sistem pendidikan kuno yang masih bertahan hingga era modern ini.
Saat masih berlatih di perguruan Penulis masih kecil menjadi tingkatan yunior, sistem perguruannya belum berkembang jadi setiap angkatan bisa menerima siswa segala usia. Rata-rata perguruan Pencak Silat di seluruh Indonesia adalah seperti ini. Jadi bila menjadi komunitas maka akan berkumpul dalam ragam usia, terkadang prestasi tidak terlalu ditonjolkan dalam perguruan tradisional, cukup loyalitas pada Guru besarnya saja.
Perguruan Pencak Sialt menjadi komunitas sendiri membentuk pengajaran dari seorang Guru Besarnya. Ada yang bertahan hingga sekarang seperti Cimande, Cikalong, Syahbandar dll. Banyak juga yang musnah tinggal cerita tutur saja, atau bahkan cuma legenda rakyat setempat saja.
*Coba pikir misalnya adanya legenda di daerah kelahiran Penulis yaitu Banyumas. Ada legenda Ksatria Kamandaka dengan kemampuannya menyaru sebagai Lutung Kesarung. Legenda tersebut selalu disertai bukti adanya benda cagar budaya dan klaim tentang desa-desa yang selalu menyatakan mereka adalah turunan dari tokoh tersebut.*
Dengan demikian jangan heran siswa-siswa perguruan dalam setiap angkatan tahunnya bisa terdiri dari anak-anak, remaja, hingga dewasa dan mungkin orang tua yang masih mencoba berolah raga untuk kesehatan. Perguruan juga tidak mutlak pelatihan bela diri saja, juga mungkin menjadi komunitas pengajian, seni pertunjukan, atau praktek asketik. Warga di dalamnya sering bergabung karena loyalitas dan keterikatan sebuah keluarga.
Cukuplah argumentasi Penulis tentang kelas dalam Tarung Jurus versi I ini, pendekatannya selalu budaya Melayu atau daerah setempat.
Nilai/Poin teknik Tarung Jurus versi I
-Pukulan                     - 1(Satu)
-Tendangan                 - 2(Dua)
-Menjatuhkan lawan   - 3(Tiga) terdiri dari, 1. Bantingan
                                                                      2. Kuncian
                                                                      3. Menggempur kuda-kuda lawan dll
Bentuk Teknik Pasif   :
-Menangkis                                                           - Poin 1(Satu)
-Melepaskan diri dari teknik menjatuhkan lawan - Poin 1(Satu)
Yang termasuk Teknik Pasif dalam jurus contohnya adalah Kelit, Giles, Melepaskan diri dari kuncian, bantingan, sapuan, cekikan di leher dll.
Bila itu berupa hindaran, elakan, sempok, pancingan dalam tarung terpaksa bernilai 0 (Nol) karena tidak bersentuhan tubuh antar Petarung. Biarpun begitu bila terjadi jenis teknik ini lihat segi estetika, etika, dan sportifitasnya. Nantinya rangkaian hindaran dan elakan yang berhasil diterapkan bisa mendapat kategori Keindahan sebuah pertarungan. Dan untuk kedua Petarung bisa mendapat kategori ini baik untuk yang kalah maupun yang menang.
Ingat dalam Tarung Pencak Silat menghindar, mengelak dari serangan memungkinkan cukup dengan menggeser langkah, merubah posisi kuda-kuda, membuang badan menjauhi lawan dll. Semua teknik itu ada dan mungkin terjadi dalam pertarungan karena berlakunya langkah/tapak sebagai ciri bela diri ini. Makanya bila terjadi teknik-teknik tersebut biarpun tidak bernilai tetapi bisa masuk kategori estetika, etika, dan sportifitas.
Pencak Silat adalah dua kata yang selalu dilakukan bersama-sama, jadi dalam tarung ini kedua Petarung wajib memperagakan estetika berupa langkah/tapak saat peragaan teknik jurus mencapai nilai (Poin). Langkah/tapak ini yang membedakan Pencak Silat dengan bela diri lain.
Dengan demikian segi sportifitas dan estetika selalu diterapkan bersama-sama. Makanya dalam sebuah even pertandingan nantinya ada kategori pertarungan yang tersaji paling indah dan sportif. Penghargaan ini diberikan untuk sebuah pertarungan baik bagi pemenang maupun Petarung yang kalah.
Peraturan Tarung
Untuk Wasit dan Juri Penulis mengadopsi peraturan Tarrung Etang. Begitu juga untuk pengaturan Ronde. Karena Pencak Silat berasal dari Indonesia untuk penanda ronde gunakan saja alat musik tradisional Nusantara, misalnya bunyi Bende (Gong) atau Bedug dll.
Seorang Wasit selain memandu pertarungan juga penentu mana serangan yang masuk sebagai Poin. Titik beratnya adalah keberhasilan seorang Petarung memperagakan teknik mencapai Poin.
Kejelian Wasit sangat diperlukan karena ia juga bertindak sebagai Pengadil. Diperlukan syarat Wasit pertandingan yang berkompeten dan netral supaya tidak memihak seorang Petarung.
Mungkin terjadi subyektifitas diri seorang Wasit. Hal ini karena Wasit berbeda penguasaan materi teknik sebagai Poin. Sedangkan Petarung berlatar belakang perguruan dan aliran yang sangat berbeda saat bertarung. Dalam hal ini penilaian Wasit tetap menjadi acuan semua pihak. Mungkin aliran-aliran atau latar belakang perguruan disesuaikan agar setiap Petarung bisa meksimal melakukan peragaan teknik yang dikuasai untuk meraih Poin sebanyak-banyaknya.
 Untuk itu seperti pada Tarung Etang, diperlukan Tiga Juri sebagai penilai dan penentu kemenangan seorang Petarung. Dua orang adalah Juri dari dua kubu masing-masing Petarung dan satu Juri netral agar terjadi selisih poin yang adil.
Setiap Wasit menyatakan berhasilnya sebuah teknik diperagakan seorang Petarung. Maka Wasit tersebut segera memberi Poin dengan pengesahan dari Tiga Juri pertandingan.
Wasit cukup melihat dua Juri menyatakan sahnya sebuah teknik diperagakan Petarung sebagai Poin. Misalnya tiga Juri diberi bendera merah dan biru untuk penanda Petarung berhasil melakukan teknik mencapai Poin (Nilai) dengan mengibarkannya ke atas.
Simulasi Tarung
Tujuan Penulis paling utama menciptakan/menyusun Tarung Jurus ini adalah agar terjadi peragaan teknik Jurus dengan modal dasar kecerdasan dan strategi. Selain juga kecepatan dan kecermatan Petarung, misalnya siapa paling cepat memasukan serangan.
Sesungguhnya Penulis dalam praktek sehari-hari hanya berlatih jurus. Satu rangkaian jurus adalah bentuk Tarung secara imaginasi. Serangan, tangkisan, kuncian berurutan, bila itu terjadi dalam Tarung sesungguhnya maka rangkaian teknik yang menjadi keberhasilan Petarung memperoleh poin maksimal bisa menjadi jurus Hak Milik.
Jadilah Petarung Jurus, teknik-teknik yang berhasil diperagakan akan menjadi abadi dalam bentuk dokumentasi, bahkan mendapat pengakuan oleh lembaga bela diri penyelenggara even kejuaraan.
Ini pemaparan Penulis dalam imaginasi,
Dua orang Petarung masing-masing bersabuk merah dan biru saling berhadapan. Dipandu seorang Wasit dua Petarung saling memberi hormat baik kepada lawan maupun kepada Juri dan Penonton di luar arena.
Begitu tanda ronde berbunyi,
Pertarungan dimulai dengan Wasit memberi aba-aba untuk segera masing-masing Petarung mengeluarkan kemampuannya. Tak lupa Pencak dengan Langkah-langkah harus diberlakukan kedua Petarung mengitari arena lingkaran sesuai aturan matras kejuaraan resmi.
“Langkah/Tapak adalah hasil kejeniusan suku-suku Nusantara sehingga menjadikan Pencak Silat berbeda dengan bela diri lainnya di dunia. Dengan langkah itu adalah membuka seribu jalan teknik-teknik menyerang, menangkis, mengunci menjadi rangkaian JURUS bermakna filosofis dan estetika.”
Kedua Petarung boleh mulai saling menyerang. Untuk teknik Pukulan dan Tendangan sudah jelas sasaran di tubuh lawan, ini menyesuaikan dengan kejuaraan Pencak Silat yang hanya boleh menyarangkan serangan di area dada dan perut di mana bagian tubuh ini dilindungi dengan rompi khusus.
Bentuk tarung akan terlihat ke arah mana jalannya. Apakah hanya saling serang menyerang dengan pukulan dan tendangan saja atau mengeluarkan teknik menjatuhkan lawan.
Bila seorang Petarung berhasil memasukan pukulan atau tendangan pada sasaran di tubuh lawan yang sudah ditentukan segera Wasit menyatakannya dengan menunjuk ke seorang Petarung sebagai perolehan Poin.
Dengan sendirinya pertarungan dihentikan sementara, walaupun begitu waktu Ronde terus berlanjut. Dihentikannya pertarungan dan Wasit menunjuk seorang Petarung memperoleh Poin juga memberi kesempatan kepada tiga Juri untuk mengesahkannya dengan mengangkat bendera merah atau biru.
Bila bendera yang dikibarkan sesuai dengan pernyataan Wasit berarti Poin tersebut Sah. Wasit cukup melihat dua dari tiga Juri yang mengibarkan bendera merah atau biru yang berkibar sebagai penentu telah disahkan.
Bila tiga Juri mengesahkan Poin seorang Petarung dengan pengibaran bendera sesuai warnanya maka berarti Poin mutlak.
Bila dua Juri mengesahkan Poin seorang Petarung dan satu Juri mengibarkan bendera sebaliknya Wasit tetap berpegang pada dua Juri yang mengesahkan keputusannya. Wasit melihat sudah cukup kuat teknik yang diperagakan Petarung sebagai Poin.
Bila hanya satu Juri yang mengesahkan keputusan Wasit dan dua Juri yang lain mengibarkan dua bendera merah dan biru, langsung Poin dibatalkan karena itu berarti masuknya serangan diragukan dua Juri penilai.
Bila tiga Juri mengibarkan bendera merah dan biru semuanya maka itu berarti tidak terjadi keberhasilan teknik peragaan sebagai Poin. Pertarungan diteruskan tanpa perlu memberi Poin pada kedua Petarung.
Poin yang sudah disahkan Wasit dan Juri diperlihatkan di papan pengumuman untuk menunjukan skor pertandingan. Jadi Penonton atau Suporter bisa melihat skor pertandingan seperti di kejuaraan volley atau bulutangkis.
Hal sebaliknya bila kedua Petarung lebih mengarah pada teknik menjatuhkan lawan sebagai kemenangan maka pukulan dan tendangan yang masuk boleh diabaikan. Satu gebrakan teknik menjatuhkan lawan diperagakan seorang Petarung dibiarkan sampai tercapai Poin atau tidak. Abaikan saja Petarung yang mencoba memukul atau menendang, lebih penting teknik menjatuhkan lawan yang terjadi itu tercapai diperagakan seorang Petarung.
Penulis percaya teknik menjatuhkan lawan selalu berupa rangkaian dari beberapa langkah, rangkaian gerak tangan, dan Petarung harus saling bersentuhan, kuda-kuda berubah karena gempuran serangan dll. Jadi untuk menilai teknik menjatuhkan lawan cukup rumit, peragaannya memerlukan kecerdasan, ketrampilan, ketepatan, strategi, posisi yang tepat, dan kecermatan tinggi dari seorang Petarung. Karenanya teknik menjatuhkan lawan yang berhasil diperagakan memiliki Poin tertinggi yaitu 3 (Tiga).
Supaya terbukti bahwa seorang Petarung memiliki kecerdasan, ketrampilan dan strategi untuk menang dalam sebuah pertarungan maka harus mencapai 10 Poin. Bagi seorang Petarung untuk mencapai sepuluh poin tentu harus melakukan berbagai variasi teknik serangan. Coba pikirkan saja sebuah pertarungan untuk cepat mendapatkan kemenangan seorang Petarung paling tidak melakukan teknik menjatuhkan lawan tiga kali ditambah satu pukulan atau tendangan, tentu itu tuntutan yang tidak mudah.
Pencapaian Poin sampai sepuluh (10) hanya contoh, setiap even kejuaraan berhak memberlakukan nilai sendiri berdasarkan kepentingan prestasi. Ini cuma karangan Penulis saja, Oke…
Dengan pencapaian nilai mencapai 10 sebagai pemenang maka Penonton atau Suporter pun cukup puas. Yang terjadi pertandingan menjadi adu kecerdasan dan ketrampilan serta sstrategi baik bagi Petarung yang menang maupun Petarung yang kalah. Apalagi bila seorang Petarung berhasil mencapai nilai 10 hanya dalam satu ronde, pujian jelas ditujukan pada Petarung tersebut.
Bagaimana kalau kedua Petarung berhasil mencapai draw 9 Poin. WOW…itu pertandingan yang seru sekali, mungkin terjadi jual beli teknik serangan. Untuk itu dilakukan penentuan sekali lagi siapa yang paling dulu berhasil menyarangkan teknik mencapai nilai 10 Poin, jadilah sebuah kejuaraan yang menarik.
Kalau sudah draw 9 : 9 kemudian ada Petarung berhasil memasukan serangan dengan nilai 3 tentu jumlah poinnya menjadi 12, tapi yang dua Poin hanya nilai tambahan. Nilai tambahan ini nantinya diperhitungkan saat penentuan peringkat dalam sebuah even kejuaraan.
Sistem pertandingan Tarung Jurus versi I ini sama dengan Tarung Etang yaitu sistem Kompetisi, jadi seluruh peserta pertandingan akan mendapat giliran untuk saling kalah mengalahkan. Untuk sistem kompetisi ini masih harus dijabarkan, Penulis melihat pada asaz keadilannya. Pada Tarung Jurus versi I ini titik berat penilaian pada teknik jurus, jadi insiden Knock Out atau terluka sebisa-bisa dihindari.
Teknik-teknik jurus perguruan, perorangan, komunitas, jurus bercorak kedaerahan, jurus ciptaan seorang Guru Besar, kreasi penghayat Pencak Silat dll, semua bisa dicobakan dalam even pertandingan Tarung Jurus versi I ini. Inilah tujuan Penulis yang tetap berlatih jurus walaupun hanya sekedar hafalan saja. Jurus bila dilatih seorang penghayatnya biarpun hanya mantan sebuah perguruan adalah HAK MILIK nya.
Penulis berkeyakinan,
“Seorang penghayat Pencak Silat tak pernah berlatih jurus Ia adalah Pendusta.”
Tulisan ini semoga bisa menjadi sumbangan gagasan dalam bela diri yang dihayati Penulis, AMIN.
Juga dengan terselenggaranya kejuaraan Tarung Jurus versi I ini mungkin seorang pemenang dengan peringkat atas memiliki dokumentasi atas perjuangannya. Teknik-teknik yang telah diperagakan sebagai Poin itu bila terus dilatihnya bisa menjadi jurus HAK MILIK mutlak karena ada bukti saat pertandingan, tentu sangat manis sebagai kenangan.
Ronde diperlukan untuk memberi waktu istirahat pada Petarung, bersiap-siap kembali masuk arena pertarungan, mengatur siasat dll. Jumlah ronde tidak mutlak diatur pokoknya bila ada seorang Petarung berhasil mencapai nilai 10 SELESAI. Satu rondepun tak masalah, jeda setiap terjadi teknik serangan masuk tidak menghentikan waktu ronde.
Hal ini memungkinkan dalam satu ronde bisa terjadi satu, dua, tiga kali gebrakan teknik serangan perolehan Poin. Syukur satu ronde bisa terjadi tiga teknik menjatuhkan lawan hingga setiap Tarung Jurus versi I ini idealnya diperlukan dua, tiga ronde saja.
Kemungkinan paling lamanya pencapaian nila 10 adalah empat lima ronde. Jadi selain enak ditonton juga menguji stamina Petarung yang berlaga, juga akan ketahuan penguasaan teknik seorang Petarung, misalnya teknik sapuan, bantingan, kuncian, gempuran kuda-kuda dll.
Dalam even kejuaraan bila sudah berakhir akan ketahuan peringkat-peringkat dari Petarung yang telah menyelesaikan pertandingan. Peringkat Petarung ini tahun-tahun mendatang makin matang dan diakui resmi biarpun hanya tingkat RT sekalipun…..He He He.
Dari nilai-nilai yang didapat peserta Tarung bisa ketahuan prestasinya. Penulis tak menjabarkan karena belum pernah dipraktekan, semuanya masih imaginasi Penulis belaka.
Dalam satu pertarungan akan terjadi sebuah teknik serangan masuk. Teknik-teknik ini pasti memiliki nama, nah Juri dari kubu Petarung yang berhak menyatakan nama teknik tersebut sebagai tema pertarungan.
Penulis percaya nama teknik dalam bahasa daerah ribuan jumlahnya. Mungkin tekniknya sama tapi nama di perguruan dan daerah berbeda. Siapa Petarung yang menang ialah yang mengabadikan nama teknik tersebut, jadi inilah penghargaan berdasarkan bentuk Tarung Jurus versi I ini tercapai.
Tujuan Penulis membuat gagasan Tarung Jurus versi I ini adalah penghargaan kepada Petarung, Pemenang, dan penghargaan pada peragaan teknik yang berhasil menjadi Poin. Makin sulit dan rumit teknik yang berhasil menjadi Poin itu menjadi perjuangan seorang Petarung. Makin sulit dan rumit sebuah teknik diperagakan bisa didokumentasikan.
Petarung yang menang maupun kalah tetapi berhasil memperagakan teknik jurus yang sulit dan seru tetap mendapat penghargaan. Jadi berlatih jurus bertahun-tahun tidak sia-sia walaupun tidak bernaung dalam perguruan manapun.
Tulisan ini masih berupa karangan Penulis belaka. Dalam penyajiannya masih harus dikuatkan dengan praktek, foto, video, testimoni orang-orang, pendapat atau bahkan kritik dari pembaca. Bila disebut pencipta tampaknya kurang sesuai, tapi pemikiran atau gagasan ini tetap menjadi Hak Kekayaan Intelektual atas nama Penulis.
Bila ada kejuaraan yang ternyata banyak memiliki persamaan dengan gagasan atau karangan tulisan Penulis ini, itu tetap menjadi hak even kejuaraan tersebut. Silahkan memberi nama berbeda agar tidak melanggar Hak Cipta Karya Penulis ini.
Karya tulis ini sekedar karangan, mencapai jurnal resmi apa Penulis tak tahu apa-apa. Penulis percaya banyak orang lain yang lebih berkompeten dalam bidang ini, semoga sumbangan Penulis ini bisa menjadi bahan perbandingan orang-orang yang sekiranya memiliki bidang yang sama dengan Penulis, menjadi penghayat bela diri Pencak Silat.
Selamat berlatih jurus dan teruslah menggalinya sampai mendapat gagasan atau ide tulisan dan praktek. Selamat bertemu kembali dalam artikel tulisan lain sesuai selera Penulis.
Wasalam.

Karya Tulis Tarung Etang



       TARUNG ETANG   
      (Sebuah Karya Tulis)
Sudah ada tulisan artikel di blog Penulis tentang Tarung Etang, tapi isinya mengadopsi dari sebuah draf naskah novel milik Penulis. Karena itu Penulis mencoba memulainya sebagai karya tulis tersendiri untuk menguatkan bentuk gagasan Tarung sebagai kejuaraan dari bela diri Pencak Silat. Nomor Tarung ini merupakan pengayaan dari bentuk-bentuk tarung yang sudah diselenggerakan secara resmi baik itu tingkat Nasional maupun Internasional.
Penulis coba membahas Tarung Etang lebih detail. Tarung ini sudah ada jauh sebelum Penulis lahir. Bahkan jejaknya ada dalam sebuah Tarian milik Pura Mangkunegaran. Soal nama tarian klasiknya Penulis kurang mengetahui, Penulis mendapatkan sumbernya dari sebuah artikel di sebuah surat kabar Kompas tapi sudah tak hapal tanggal dan tahun penerbitannya.
Dinyatakan permainan Etang dijadikan sebagai pembuka sebuah tarian untuk menggambarkan suasana damai di sebuah wilayah kerajaan Mataram Islam. Tentu menarik dikaji bahwa saat itu permainan ini sudah digemari anak-anak di jaman berkuasanya raja-raja Mataram. Dengan demikian permainan Etang adalah sebuah jejak sejarah, sudah dikenal di seluruh wilayah pecahan-pecahan kerajaan Mataram Islam.
Nama permainannya Etang tanpa Penulis mengetahui dari bahasa mana berasal kata tersebut. Penulis tak memusingkan asal-usul nama dan bahasa penamaannya, pokoknya Penulis tahunya sejak kecil itu permainan Etang.
Permainan Etang menjadi kenangan masa kecil Penulis bersama dengan teman-teman sebaya. Saat itu adalah era tahun delapan puluhan, terutama menginjak sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD). Kemudian bersekolah di SMP Penulis sudah tidak mendapati permainan ini dilakukan anak-anak kecil lagi. Lenyap juga berbagai permainan ketangkasan lainnya seperti Gobag Sodor, Barlen, Anggar dll. Permainan yang masih eksis sampai sekarang adalah berundi kelereng, Yoyo, Gasing, atau Petak Umpet.
Penulis tertarik dengan permainan Etang karena bisa dikembangkan mencapai nilai olah raga. Yaitu menjadi nomor Tarung yang bisa diselenggarakan sebagai ajang prestasi dalam sebuah kejuaraan resmi. Sayang sampai menjadi karya tulis ini semuanya bagi Penulis masih cita-cita dan angan-angan belaka. Tapi tak apa Penulis tetap mencoba membuat artikelnya agar bisa dibaca dan diketahui khalayak ramai.
Sederhananya permainan ini dilakukan dua orang saling berhadapan. Jadi sengaja atau tidak dua orang saling berhadapan sebagai lawan, dalam bela diri posisi kuda-kuda bertarung. Kuda-kudanya ringan saja, sikapnya tak sampai seperti jenis kuda-kuda Pencak Silat yang berbagai macam ragamnya. Kedua tangan menjadi alat untuk mencapai sasaran di tubuh lawan. Sasaran serangan adalah seluruh area kepala dan area kaki dari mulai paha sampai lutut. Tangan sebagai senjata tangan kosong harus bisa menyentuh dua area tubuh lawan untuk mendapatkan poin (Nilai).
Saat di masa kecil, begitu tangan mengenai area kepala dan kaki seseorang bisa disebut pemenang. Sang pemenang berhak maju menghadapi orang lain untuk mendapatkan siapa paling banyak mencapai kemenangan dari beberapa pemain yang hadir. Misalnya terdapat tiga orang anak, satu orang akan berhadapan dua kali. Bila bisa mengalahkan keduanya maka ia lah juaranya. Jadi terdapat urutan pemenang satu sampai tiga, tentu yang urutan tiga belum pernah menang sama sekali. Semakin banyak pesertanya semakin banyak lawan yang dihadapi. Saat masih kecil Penulis sangat bangga bila menang biarpun tidak keseluruhan, asalkan yang dihadapi misalnya lawan yang lebih tua atau berbadan besar itu berarti sangat hebat.
Yang dicontohkan Penulis adalah sederhananya permainan saat masih kecil. Bila tangan seorang lawan berhasil mengenai sasaran serangan, yang terkena disebut MATI atau tak berkutik. Soalnya permainan ini tanpa wasit, apalagi juri penilai.
Untuk menjadi nomor Tarung sebagai ajang meraih prestasi maka permainan yang sederhana ini harus dimodifikasi. Terutama untuk bisa diterima sebagai nomor tarung mencapai prestasi kejuaraan. Gagasan Penulis adalah dalam pemaparan berikut ini.
Diperlukan seorang Wasit pemandu pertarungan, satu juri netral dan dua juri dari masing-masing kubu Petarung. Dan tak lupa peserta (Petarung) pertandingan yang jumlahnya cukup banyak untuk tercapainya sebuah even kegiatan. Jadilah tarung Etang ini sebagai sebuah nomor Tarung tersendiri dalam kejuaraan bela diri Pencak Silat.
Di sini Penulis artikel menyatakan klaim sebagai HAK CIPTA dari ; TARUNG ETANG
Karena latar belakang Penulis dari bela diri Pencak Silat maka nomor tarung ETANG bisa menggunakan arena matras kejuaraan Pencak Silat. Matras arena pertarungan Pencak Silat adalah berupa garis melingkar di tengahnya terdapat dua garis untuk petarung saling berhadapan. Gambarannya Penulis tak terlalu mendetail karena mencukupi dengan aturan arena pertandingan berbagai kejuaraan dunia Pencak Silat masa kini.
Seorang Wasit adalah berposisi sebagai pemandu pertarungan sekaligus pemberi nilai bila seorang Petarung berhasil mengenai sasaran di tubuh lawan. Karena itu Wasit dipilih betul-betul dari pihak netral agar tidak subyektif saat menyatakan keberhasilan Petarung mengenai sasaran dan menyatakan sebagai pemenang sebuah pertarungan. Bila seorang Petarung berhasil menyarangkan serangn dengan menyentuh area sasaran serangan yang telah ditentukan Wasit segera harus menyatakan sebagai Poin.
Satu serangan tangan Petarung berhasil menyentuh area serangan tubuh lawan menjadi poin bernilai satu. Pertarungan dihentikan lebih dahulu untuk mendapatkan pengesahan dari tiga juri pertandingan. Poin diumumkan Wasit menjadi poin yang terkumpul seorang Petarung yang berhasil menyarangkan serangan di area serangan lawan. Begitu seterusnya.
Seorang Petarung menjadi pemenang setelah terkumpul poin sesuai kesepakatan even pertandingan, mislanya tercapai sepuluh (10) Poin. Maka ada kemungkinan kedua Petarung mencapai nilai sembilan (9) bersama-sama. Nah sebagai penentu pemenangnya diperlukan satu angka lagi sebagai pemenang pertarungan yaitu siapa yang lebih dulu menyarangkan serangan ke area serangan lawan.
Dengan sistem seperti di atas maka setiap Petarung akan mendapat giliran satu persatu dari peserta sebuah even pertandingan, dan mungkin dalam sebuah kelas tertentu pula. Melihat cara bertarungnya pertandingan nomor Tarung Etang adalah memiliki ketangkasan dan kelincahan bergerak. Seorang Petarung dituntut memiliki kecepatan dan harus saling dahulu mendahului mengumpulkan poin.
Kemungkinan lebih banyak Petarung nomor Etang ini bertubuh ramping. Bobot/ berat badan tubuh Petarung nomor ini mungkin banyak yang di bawah 80 kg. Soalnya dalam tarung ini tidak diperlukan melumpuhkan lawan sampai Knock Out (KO), tangan cukup menyentuh area tubuh serangan lawan yaitu area kepala dan area kaki dari paha ke bawah sampai tumit (Mata kaki).
Keputusan Wasit mutlak tak bisa digugat apa lagi setelah disahkan bersama tiga juri pertandingan. Poin yang terkumpul bisa dilihat Penonton di papan arena seperti halnya poin-poin di kejuaraan bulu tangkis atau tenis meja.
Bila kedua Petarung masing-masing berhasil menyarangkan serangan ke lawan bersamaan, maka hak Wasit menentukan poin kemenangan terhadap seorang Petarung yang lebih dahulu menyarangkan serangan berdasarkan pengamatannya. Ini hak mutlak Wasit karena berada di jarak paling dekatnya para Petarung bertanding.
Dengan sistem pertarungan di atas maka setiap even pertandingan bisa diperoleh peringkat Petarung. Misalnya terdapat sepuluh Petarung bertanding akan diketahui siapa Petarung paling banyak menangnya dan poin yang diperoleh, juga berurutan dari peringkat satu sampai sepuluh di mana Petarung peringkat sepuluh paling banyak kekalahannya dan poin paling sedikit terkumpul. Mungkin nantinya peringkat-peringkat di bawah lima bila sebuah even pertandingan terselenggara berkesinambungan setiap tahun bisa didegradasi sehingga akan tercipta semacam kompetisi divisi I, divisi II, dan seterusnya.
Setiap pertarungan tetap diperlukan Ronde. Jadi ada ronde 1, 2, 3, dan seterusnya. Waktu ronde samakan saja dengan ronde pertarungan Tinju, misalnya 3 menit. Ronde diperlukan untuk memberi kesempatan Petarung beristirahat dan mengatur strategi pada ronde berikutnya untuk mendapatkan poin dan pemenang. Tapi jumlah ronde tidak mutlak diatur, sebuah pertarungan bila sudah ada seorang Petarung mendapatkan nilai (Poin) sepuluh (10) dinyatakan pemenang biarpun masih di ronde pertama sekalipun.
Di sini Penulis menyatakan sebuah pemikiran tentangWwasit dan Ronde sebagai perbedaaan dengan jenis Tarung lainnya. Biasanya sebuah jenis Tarung dipimpin Wasit memandu pertarungan hanya untuk memisahkan, memberi peringatan, memulai pertarungan dan memerintahkan Petarung istirahat ketika bel ronde berbunyi atau berakhir. Penilaian masuk serangan dilakukan oleh Juri pertandingan di luar arena.
Di dalam Tarung ETANG dan jenis Tarung ciptaan Penulis Wasit memiliki kekuasaan mana sebuah serangan Petarung dinyatakan Poin. Tentu setelah juga disahkan Juri pertandingan di laur arena, jadi kesahihan masuk serangan menjadi poin bisa dipertanggungjawabkan semua pihak. Karenanya Wasit benar-benar orang terpilih dan diketahui latar belakangnya sebagai orang netral dan tidak menilai berdasarkan subyektifitasnya sendiri.
Ada Jeda setiap Petarung berhasil menyarangkan serangan ke lawan untuk disahkan oleh Wasit dan tiga Juri pertandingan menjadi poin. Waktu ronde tetap berlanjut sampai selesai, Jeda setiap pengesahan poin Petarung adalah bagiannya. Jadi bisa dihitung setiap ronde kemungkinan telah diperoleh beberapa poin untuk masing-masing Petarung.
Bila demikian kemungkinan setiap Petarung untuk mencapai seorang pemenangnya selalu di bawah lima ronde. Lima ronde terhitung cukup memeras stamina atlet Petarung Etang juga memuaskan Penonton. Jadi ronde diperlukan hanya benar-benar untuk istirahat Petarung, mendapatkan instruksi dari Pelatih, dan perapihan penampilan Petarung misalnya pengeringan keringat, memberi minum pada Petarung yang kehausan dll.
Gagasan Tarung ini masih mentah, belum dipraktekan di arena manapun. Jadi akan banyak kekurangannya diketahui bila coba dipraktekan. Yang penting bagi Penulis mencoba memaparkannya sebagai sebuah hasil Hak Karya Cipta lebih dahulu walaupun hanya melalui tulisan.
Kemudian saat dipraktekan tentu akan banyak ditemui berbagai aturan baru yang bisa dikembangkan. Juga kemungkinan mana bentuk-bentuk pelanggarannya, misalnya saat menyerang area kepala adalah mata tidak boleh menjadi sasaran serangan. Sangsinya ditentukan berat ringannya, tentu menyerang mata sangat berat sangsinya karena bisa berupa pengurangan nilai atau bahkan didiskualifikasi. Bayangkan saja seorang Petarung yang matanya tersentuh tangan lawan, tentu sangat sakit bahkan bila terluka bakalan gagal melanjutkan pertandingan. Jadinya untuk Petarung yang sengaja maupun tidak menyerang mata terpaksa didiskualifikasi dan pengurangan poin karena pelanggaran berat.
Imaginasi Penulis saat mencoba Tarung ETANG.
Dalam latihan jurus yang rutin dilatih Penulis ada jurus Colok. Jurus ini berasal dari perguruan Pencak Silat KBPS Asma di Purwokerto. Jurus ini banyak menggunakan tangan terutama bagian jari dengan menyasar arah mata lawan.
Tentu sangat berbahaya!
Juga di arena pertandingan Penccak Silat mengincar mata lawan atau area kepala lawan hanya akan mendapat ganjaran sangsi dan diskualifikasi, ibaratnya wong cuma memukul kepala saja sudah pelanggaran sangat berat.
Tapi karena ada jurus Colok yang tetap dilatih jadinya Penulis menghubungkannya dengan nomor TARUNG ETANG, ternyata sangat cocok. Sasaran diubah cukup hanya menyentuh area kepala dan ditambah dengan area kaki mulai dari paha hingga mata kaki. Juga dengan cara demikian jurus Colok yang hanya menyasar mata dikembangkan agar tidak hanya menyerang bagian mata lawan saja, juga mencari celah lawan yang lemah di bagian kakinya.
Jadi jurus Colok tetap bisa dipraktekan tanpa mengubah tujuan mengalahkan lawan, cuma harus diperhalus dan terarah tanpa melukai siapapun. Bahkan serangan dikembangkan tidak hanya area kepala tapi juga ditambah area kaki dari paha sampai mata kaki lawan.
Tarung Etang hanya menyasar menyerang area kepala dan kaki lawan, terus bagian tubuh yang lain boleh tidak menjadi sasaran untuk mendapatkan poin?
Nah untuk bagian tubuh terutama badan, dalam Pencak Silat sudah diatur sebagai sasaran mendapatkan nilai yaitu pukulan dan tendangan, terutama untuk bagian dada dan perut. Tapi untuk urusan Tarung bagian ini Penulis sendiri sudah menyusunnya dalam jenis tarung berbeda yaitu Tarung Jurus versi I dan Tarung Jurus versi II.
Saat berimaginasi Tarung Etang Penulis mendapati,
Memiliki teknik menyerang dengan tangan bebas ke area kepala dan area kaki lawan mulai dari paha hingga mata kaki. Kuda-kuda ringan bisa bergeser kanan maupun kiri. Kedua tangan selalu bergerak mencari celah sasaran atau bersentuhan dengan kedua tangan lawan yang juga mengincar bagian kepala dan kaki kita. Maju mundur menyorongkan tangan ke sasaran, menangkis bila tangan lawan hendak menyentuh kepala atau kaki kita. Kaki jarang terangkat karena beresiko kena sentuhan tangan lawan.
Selalu waspada dan cermat karena biarpun kita agresif menyerang tetap beresiko kebobolan oleh trik serangan lawan. Dan yang pasti karena sebuah pertandingan tetap harus mensupremasikan fair play. Kalah menang adalah suatu kepastian dari sebuah pertarungan di pertandingan kejuaraan manapun. Itu adalah prestasi yang didambakan setiap Atlet olah raga apapun.
Penulis menerima kritik, saran, masukan untuk menjadikan kesempurnaan karya tulis ini. Juga menerima segala kelengkapan media apapun misalnya artikel rujukan untuk melengkapi pengetahuan Penulis yang terbatas ini.
Penulis berusaha untuk terus menambahai kelengkapan karya tulis ini agar semakin lengkap dalam bentuk misalnya Foto dokumentasi, Video contoh tarung ETANG, atau bahkan Revisi terus menerus menjadi jurnal Nomor TARUNG ETANG.
Demikian paparan Penulis sebagai Pencipta TARUNG ETANG.
Semoga bermanfaat dikemudian hari……..NUWUN.

      


Journal Latihan



          Journal Latihan
Apa yang ditulis Penulis ini sangat subyektif. Sifatnya sangat pribadi, tapi tak apalah menjadi tulisan agar bisa dibaca publik. Toh yang ditulis bukan keseluruhan kegiatan sehari-hari. Penulis membatasi bidang yang boleh dinyatakan menjadi bagian hidup sebagai praktisi. Kegiatan lain seperti ibadah, pekerjaan, ataupun kegiatan rumah tangga bukan merupakan konsumsi publik.
Perubahan adalah sesuatu yang abadi. Begitu juga dengan Journal Latihan yang dipraktekan Penulis. Latihan sepuluh tahun yang lalu adalah berbeda dengan keadaan sekarang. Semakin lanjut usia kematangan jiwa makin beranjak kedewasaan. Sepuluh tahun yang lalu fisik sedemikian bugar sekarang mulai merasakan berkurang, mungkin sepuluh tahun lagi journal latihan yang tertulis ini hanya menjadi kenangan belaka.
YOGA, PENCAK SILAT, JOGGING
Ketiga bagian praktisi ini campur aduk dalam diri Penulis. Menjadi warna-warni kehidupan rutin harian, menjadi teman seumur hidup, media hiburan, ajang profil diri agar berbeda dengan orang lain dll.
Penulis menjabarkan kegiatan di suatu hari,
Jam 3 dini hari, Penulis terbangun dari mimpi karena mendengar suara adzan awal dari masjid terdekat. Penulis bisa bangun dini hari seperti ini sebagai rutinitas sudah sangat berbahagia. Orang pada umumnya sedang terlelap dibuai mimpi……
Mulailah kegiatan Penulis secara berurutan,
SESI MEDITASI
Terdiri dari dua bagian, dilakukan dalam asana Padmasana (Teratai). Padmasana merupakan sikap mayoritas yang digunakan untuk mencapai ketenangan sekaligus kesahajaan. Banyak bukti-bukti asana ini sebagai jalan mencapai keseimbangan hidup. Candi Borobudur dengan profil Budha adalah yang mudah ditemui di lingkungan sekitar kita. Puncaknya adalah stupa yang merupakan nirwana (moksa, bebas dari hukum inkarnasi). Eiitt….tak usah diperpanjang bagian ini……He He He Penulis bukan pakarnya.
Meditasi yang dipraktekan Penulis terdiri dari campuran.
1.      GROUNDING (Terhubung Bumi dan Langit)
2.      Afirmasi (Mantra), Getaran Suara, Pembersihan Cakra
Grounding dan Pembersihan Cakra diambil dari buku Kundalini karangan Hermansyah Efendi. Sedangkan Afirmasi, Getaran suara dari buku Kundalini karangan Adnan Krishna. Pelaksanaannya tidak mutlak persis buku tersebut, Penulis berkreasi sendiri karena yang tahu keadaan diri ini adalah pribadi kita sendiri. Persoalan Kundalini sendiri Penulis tak tahu apa-apa, bukan beban untuk mendalaminya.
Pemaparannya dalam bentuk tulisan cukup rumit tapi melatihnya sederhana sekali, juga tak membutuhkan waktu lama. Meditasi tak usah dipaksakan, setiap kali berlatih akan terasa tidak pernah sempurna. Kuncinya adalah betah dalam sikap Padmasana, siapapun yang pertama kali melakukan meditasi bakalan banyak mengalami kebingungan terutama dalam mengolah pikir berupa visualisasi, apa lagi unsur dalam pelaksanaannya terdapat berbagai mistik seperti cakra, mantra, dan Getaran suara yang sejatinya semu belaka.
Hanya waktu yang akan menjawab kenapa kita membutuhkan Meditasi hingga akhirnya menjadi kebutuhan harian.
Soal manfaat Penulis tak begitu peduli, pokoknya melatihnya rutin karena bila beberapa hari meninggalkannya rasanya ada yang kurang. Yang penting jangan menjadikan meditasi ini lebih penting dari beribadah dan bekerja untuk mencari penghasilan. Juga pelaksanaannya carilah waktu yang tidak bertabrakan dengan kedua kewajiban kita hidup di dunia ini.
SESI ASANA
Latihan asana ini juga campuran, Penulis tidak mutlak menerapkan asana Yoga dengan dasar-dasar dari lembaga kursus resmi. Cara Penulis berlatih hanya mencontoh dari gambar literatur sebuah perguruan Pencak Silat Asma berupa gerakan dan manfaat serta ditambah doa Asma Ul-Husna.
Justru Penulis mengagumi Guru Besar perguruan KBPS Asma yang telah menggabungkan Asana dengan doa Asma Ul-Husna, ini semacam terobosan di dalam akulturasi spiritual tanpa mencampuradukan ajaran agama. Hasil pemikiran Beliau telah membuat Penulis berketetapan melatihnya tanpa perlu khawatir terjadi sinkritisme agama.
Setelah itu Penulis berlatih mencontoh dari gambar buku-buku Yoga yang ada di pasaran Indonesia. Salah satunya buku berjudul Yoga dan Seks karangan Yogi Chetanand, yang lainnya adalah dari berbagai jenis latihan teman-teman Penulis biarpun bukan bagian dari Yoga Asana.
Sering saat berada di pondok kerja Penulis berlatih asana, nah teman-teman Penulis tak mau kalah melakukan gerakan keahliannya. Penulis pun sering mengagumi kemampuan beberapa teman Penulis dalam olah gerak yang jarang bisa dilakukan orang. Nah beberapa gerakan tersebut diadopsi Penulis untuk menambah variasi asana.
Bisa dikatakan Penulis melatih Yoga secara otodidak, kuncinya sederhana, seringan mungkin (Pelan-pelan) menyesuaikan dengan kemampuan tubuh. Waktulah yang akan menjawwab peningkatan kemampuan asana. Pertama menjalaninya dari gerakan pelan-pelan yang tidak sempurna itu semakin hari akan semakin tertantang dari segi fisik.
Jangan khawatirkan tentang tubuh, sungguh tubuh itu karunia dari Tuhan yang paling ajaib. Segala kemampuan sampai tingkat kesulitan yang tinggi sekalipun bila melatihnya rutin akan tercapai semacam kelenturan yang luar biasa.
Penulis mendapatkan pengalaman berlatih adalah keterbatasan tempat di hutan Kalimantan. Tempat berlatih terbatas di palbet untuk tempat tidur, terdiri dari dua zak beras/kain yang dibentangkan dalam pondok darurat kegiatan survey perusahaan.
Dari pengalaman berlatih di pondok kegiatan survey inilah teknik berlatih didapat. Karena itu hasil latihan bila dipraktekan untuk orang lain tidak disarankan karena tingkatnya berbahaya. Lebih baik berlatih mengikuti lembaga kursus Yoga yang resmi karena lebih berstruktur dan bertahap dari pemula, ini saran dari Penulis.
Asana-asana yang bisa dilatih saat di palbet dominan dalam posisi duduk dan berbaring. Asana dengan posisi berdiri tak memungkinkan bahkan dihindari. Di sinilah kelemahan utama saat berlatih di palbet pondok kegiatan survey.
Asana-asana latihannya: Salabhasana, Cobra, Unta, Dhanurasana, Halasana, Sit up dll. Sikap Sirsasana malah dapat diperagakan karena kedua tangan maish bisa berpegang pada dua kayu penyangga palbet kanan kiri.
Ketika mula-mula berlatih setiap Asana dilatih sekedar dilakukan, ini jadi semacam cara menaklukan tubuh sedikit demi sedikit, tujuannya anggap saja sebagai Kemenangan atas Asana. Jadi bayangkan saja ada sepuluh Asana dilatih maka setiap satu sesi tersebut hanya memakan waktu tidak lebih empat menit. Itupun belum mahir, Asana yang belum sepenuhnya dikuasai biarkan apa adanya dilakukan sekedar mencapai jumlah yang sudah dikoleksi.
Perlahan dari satu dua bulan, kemudian berganti tahun setiap Asana makin mahir dan membutuhkan waktu lebih panjang. Tapi juga tidak pernah berdurasi lama, paling banter sesi Asana sekitar lima belas menit. Benturannya adalah kegiatan lain yang juga menjadi produktivitas kerja sehari-hari, utamakan hal ini.
SESI JURUS
Jurus berasal dari kenangan Penulis berlatih di Perguruan Pencak Silat KBPS Asma di Purwokerto. Tak ada kemajuan berarti dalam melatihnya, hanya hafalan terus menerus. Kenangan itu dipraktekan di perantuan Penulis di Kalimantan.
Jurus dan Asana dilatih di tempat berbeda, bila Asana dilatih saat berada di pondok kerja dan waktunya malam hari, maka latihan Pencak Silat dilakukan bebas di tempat terbuka di siang hari. Kalau mengingatnya Penulis bisa tertawa sendiri, saking bebasnya sampai telanjang cuma memakai celana dalam, aman.
Waktu berlatih biasanya setelah istirahat siang dari survey mencari tegakan kayu di blok kegiatan. Tempat berlatih mencari yang bertanah datar biasanya ketemunya di jalan angkutan kayu, dorongan traktor penyeret kayu, bekas camp tarik penebang kayu, tepi sungai dan telaga berpasir yang datar dll. Yang penting ternaungi rindangnya tajuk pepohonan supaya tidak kepanasan.
Tertulis di diary Penulis,
27 November 1998
Musibah menimpa pondok kerja Pembebasan III, sepotong pohon meranti telah roboh ditimpa angin ribut dan menghancurkan segala-galanya. Seorang anak buahku sekaligus temanku mengalami kecelakaan (Idrus/Bima).
Peristiwa terjadi tgl 15November jam setengah empat sore saat Aku hendak Berlatih SILAT.
Keadaan tak bisa kuatasi, yang jelas Aku hanya bisa secepatnya minta bantuan dengan turun ke camp km 4…….dst.
Latihan di hutan Kalimantan (1996-2001) boleh dikatakan merupakan puncak kebugaran tubuh Penulis. Latihan menggenjot stamina dan penempaan fisik hampir seperti keajaiban, mungkin tak pernah bisa tercapai lagi. Push up 100x, Scot jump 100x, Sit up 100x itu sudah biasa. Latihan Jurus berupa dua Jurus masing-masing dengan bagian tubuh bagian kanan dan kiri hingga sampai empat kali peragaan.
Peragaan Jurus dilakukan dengan tubuh bagian kanan dan kiri bisa jadi Hak Penulis, semacam penemuan biarpun tidak diPatenkan. Hal ini karena anggapan Penulis metode ini menjadikan keseimbangan tubuh yang sangat bermanfaat, jadi kita yang berlatih dengan metode ini tetap tidak kalah dengan seorang yang kiddal. Tentu tetap berbeda berlatih dengan bagian tubuh kiri, terasa tetap lemah. Tujuan Penulis adalah sebagai variasi dan membiasakan rutinitas hidup menggunakan bagian tubuh kanan dan kiri dalam waktu hampir bersamaan.
Tidak nyaman mula-mula berlatih Jurus dengan cara kidal ini, Penulis melihat di perguruan manapun cara ini tidak lazim. Tapi juga Penulis melihat sebagai celah kelemahan setiap peraga sehingga bila mampu melakukannya itu menjadi kebaikan bagi tubuh maupun kejiwaan. Urusan ini bagi Penulis masih gelap, sebab tidak membuatnya sebagai semacam observasi atau penelitian, tak ada data dukungannya.
Puncak kebugaran tubuh Penulis mencapai puncaknya berupa kemampuan seperti push up yang mencapai 100x, Sit up 100x, Scot jump 100x dll. Otot-otot terbentuk tak kalah dengan orang yang biasa berlatih di club-club Fitnes. Semuanya berguna bagi kegiatan Penulis sebagai surveyor di hutan blok kegiatan perusahaan kayu. Bila orang lain misalnya menaiki bukit nafasnya sudah sangat tersengal-sengal maka Penulis bisa mendakinya sedikit lebih ringan. Di sinilah Penulis menyadarinya sebagai ajang profil membedakan diri dengan orang kebanyakan.
Di camp perusahaan Tanjung Raya di Kuala Kurun Penulis berlatih seorang diri. Banyak saja jenis olah raga yang dilakukan penghuni camp tapi biasanya dilakukan karena ditunjang fasilitas perusahaan. Ada tenis meja, bola volley, bulu tangkis, sepak bola dll. Apa yang Penulis lakukan sangat pribadi sifatnya hingga sekarang di perantuan Yogyakarta ini.
Seperti sekarang ini,
Berdasarkan pengalaman berlatih maka perubahan latihan lebih banyak karena pembagian waktu. Di Yogya ini Penulis lebih sering berlatih malam hari, atau bahkan pagi hari sebelum panas menyengat. Itu karena waktu siangnya banyak tersita untuk jenis pekerjaan sebagai pengusaha kecil setingkat Pedagang Kaki Lima (PKL).
Dua jurus tetap dibiasakan melakukannya lebih ringan bahkan tidak terlalu bertenaga karena dilakukan di ruang sempit kamar kos. Gerakan teknik jurus jelas tidak sempurna, seperti kelit misalnya sering hanya dilakukan imaginasi belaka. Walaupun hal tersebut tidak mengubah esensinya sebagai rangkaian teknik jurus berkaidah Pencak Silat.
Jujur saja Penulis sulit mengembangkan latihan lebih baik lagi yang penting urutannya sudah benar misalnya untuk jurus Giles, jurus Potong itu di mana inti gerakannya sebisa-bisa tetap sesuai fungsinya, atau jurus Teguh yang begitu sederhana tapi sikap tubuh dituntut sesuai sifat jurusnya teguh pendirian dll. Tak lupa setiap memperagakan jurus pasti terbayang semacam bentuk tarung imaginasi. Rupanya inilah nilai seni dari peragaan jurus, sebuah keindahan yang terbentuk karena hidup sebenarnya adalah bentuk pertarungan sesuai naluri bela diri.
Tapi jangan salah biarpun gerakannya sudah sangat diringankan ternyata nafas tetap tersengal-sengal. Terkadang setiap selesai peragaan satu jurus harus berhenti barang sebentar atau membungkukan tubuh untuk mengurangi mual di perut. Satu jurus yang hanya satu dua menit itu cukup menguras tenaga dan pikiran.
Kok pikirran?
Menghafal kan sudah kerja pikiran, Oke!
Karena gerakan jurus sudah mendarah daging membuat sikap tubuh menyesuaikan dengan gerak otot motorik yang teratur. Kejujuran itulah hasilnya, tubuh tak bisa menipu bila sedang lelah, atau hanya berhasil melakukan jogging sepuluh putaran lapangan Alun-alun kidul, He He He yang tentunya bisa dibanggakan karena kebenarannnya.
Dari sepuluh jurus dibagi dalam waktu seminggu ternyata tidak cukup, biasanya semua baru bisa diperagakan dua minggu. Itupun bila lancar tanpa halangan, sejatinya hidup di dunia ini pasti ada saja halangan yang memaksa kebiasaan kita tersendat. Jadi sepuluh jurus bisa terlaksana sampai tiga minggu bahkan satu bulan itu sudah biasa.
Seminggu bisa melakukan semua jenis olah raga sampai tiga kali sudah sangat baik. Biasanya bila sudah tiga hari berturut-turut berhasil melaksanakannya nah tubuh seperti menuntut istirahat atau jenuh. Liburkanlah barang sehari toh menu tiga kali seminggu itu sudah sangat memenuhi syarat di kalangan olah raga apapun.
Bila sakit misalnya yang paling sering dialami Penulis adalah Flu, hentikan senua jenis latihan. Istirahat dan berobat agar secepatnya sembuh, olah raga bukan penyembuh dari sakit seperti itu. Olah raga adalah kegiatan yang mendukung kesehatan manusia, jadi jangan salah seorang atlet prestasinya bagus seperti apapun bila sakit ia tetap harus berobat.
Demikian Journal Latihan ini sebagai artikel dianggap selesai, di masa mendatang Penulis bersyukur bila masih mampu menapakinya sebagai menu harian.
Wasalam