Monday, September 11, 2017

Karya Tulis Tarung Jurus versi II



            TARUNG JURUS versi II
                                                     (Sebuah Karya Tulis)
Pencak Silat adalah bidang bela diri yang merupakan kegeniusan lokal suku-suku di wilayah Nusantara. Penyebarannya tercatat hampir di seluruh Asia Tenggara. Dalam sejarahnya tidak secara tertulis, bukti-bukti seperti penafsiran di relief Candi Borobudur, naskah-naskah kuno lontar, dan babad masih merupakan teka-teki karena masih dugaan belaka.
Pencak Silat keberadaannya bisa disamakan dengan sastra Pantun Melayu, musik tradisi seperti Gamelan, Angklung, dan Kecapi Dayak. Dimungkinkan pernah menjadi bagian militer di beberapa kerajaan Melayu dan Jawa, memiliki riwayat tokoh dan perkembangan sendiri yang menonjol di beberapa daerah.
Bentuk Perguruan walaupun paling sederhananya membuktikan bahwa telah ada sistem pendidikan yang berunsur olah raga dan olah batin dalam bentuk bela diri tanpa campur tangan penguasa politik di masa lalu, dalam hal ini berupa kerajaan era Hindu Budha dan Islam.
Kondisi daerah sangat menentukan corak perkembangan Pencak Silat, sebelumnya nama-nama bela diri ini bermacam-macam. Pokolan Betawi, Mpa Sila (Bima), Sendeng (Bugis), Kunto (Kalimantan), Silek (Minangkabau) dll. Dalam perkembangannya menjadi pertunjukan seni diiringi musik tradisi sebagai turunannya.
Yang menguatkan Pencak Silat sebagai bela diri asli Nusantara (Indonesia) adalah berdiri sendiri. Biarpun mungkin ada pengaruh dari Tiongkok dan India tetapi tidak berkiblat ke negara yang peradabannya lebih maju tersebut. Bela diri-bela diri lain seperti Karate, Kempo, Yudo dari Jepang, Tae Kwon Do dari Korea, Wushu, Kung Fu dari China memiliki sumber dan jejak dari Tiongkok yaitu Biara Shao Lin.
Berdasarkan latihan yang pernah dilalui Penulis bisa diketahui jejak asal-usul bangunan pondasi bela diri Pencak Silat. Perguruan lain tentu akan memiliki struktur yang berbeda dan memperkaya khasanah budaya ini. Penulis pernah melatih beberapa Jurus kembangan,
-Cimande
-Cikalong
-Shan Thung (Pengaruh Tiongkok?)
Dari tiga nama jurus kembangan ini saja sudah ketahuan Pencak Silat merupakan akulturasi beberapa bela diri daerah dan pengaruh asing terutama Tiongkok kuno. Silahkan membahas sendiri-sendiri dari perguruan asal masing-masing.
Penulis tidak berpanjang lebar urusan pembahasan Pencak Silat, apa yang diterangkan di atas hanya pembuka dari kegemaran Penulis berimaginasi tentang bela diri ini. Penulis sebagai penghayatnya mencoba menambah bentuk Tarung yang hanya berupa turunan dari pertandingan yang sudah diakui resmi baik tingkat Nasional maupun kejuaraan Dunia.
Artikel ini sudah disinggung sedikit di blog berjudul Tarung Jurus versi I. Sumber-sumbernya tetap dari kandungan jurus Pencak Silat yang berkembang dan tumbuh subur di seluruh Nusantara.
Banyak perguruan Pencak Silat menyatakan sejatinya Silat adalah bela diri untuk membunuh lawan. Bentuk jurus untuk membunuh lawan menjadi ajaran rahasia yang hanya diwariskan turun temurun dari seorang guru kepada murid pilihannya.
Paragraf di atas inilah yang menjadi dasar Penulis membuat gagasan Tarung Jurus versi II.
TARUNG JURUS versi II
Di perguruan Pencak Silat Penulis bernaung diajarkan juga beberapa teknik menyerang yang bertujuan melumpuhkan lawan. Bila dipraktekan sekali terkena serangan teknik ini lawan akan langsung terluka atau terbunuh karena yang diincar bagian tubuh manusia yang lemah. Pada ajarannya membolehkan menyerang area kepala dan bagian-bagian tubuh sensitif untuk secepatnya mengalahkan lawan.
Ajaran tersebut sering tak sadar dilakukan siswa perguruan tempat Penulis bernaung. Tentu saja di pertandingan resmi tidak boleh dipraktekan, akibatnya siswa perguruan Penulis bernaung menjadi gagal, Petarung tersebut banyak melakukan pelanggaran yang mengakibatkan teguran dan diskualifikasi.
Mungkin di masa silam ajaran ini adalah wajar saja, siapapun yang berlatih Pencak Silat pasti diajarkan dan dilatih membunuh lawan. Banyak kisah legenda menunjukannya misalnya adat carok di Madura, penggunaan keris di Jawa masa silam pasti adalah menikam sampai mati sasarannya. Pokoknya apapun keadaannya bila sudah adu tanding maka resiko mati itu sudah biasa.
Ajaran itu ada tapi bukan konsumsi publik. Di Kalimantan ada tradisi Kayau, kemudian karena menjadi sumber pertikaian dan kecurigaan antar mereka sendiri akhirnya terjadi perundingan antar suku Dayak di Tumbang Anoi untuk mengakhiri permusuhan antar kampung dengan kesepakatan memusnahkan tradisi Kayau ini.
Kayau menjadi sisa trauma setiap warga kampung Dayak, menjadi kisah turun temurun sesama mereka. Seorang pendatang yang mencurigakan kehadirannya bisa dituduh pelaku tradisi ini. Biarpun telah ada kesepakatan di Tumbang Anoi yang dihadiri pejabat Hindia Belanda untuk mengakhiri permusuhan dan pertikaian, ternyata tetap terbukti saat kerusuhan etnis Dayak dan Madura  baik itu di Sambas maupun di Sampit tahun 2001.
Tertulis di Diary Penulis,
27 Maret 2001
Habis sholat Isya langsung masuk ke dalam kelambu lagi. Masuk kegiatan di Perapihan ini sudah tak lancar lagi seperti dulu. Akibat kerusuhan di Palangkaraya mencari barang logistik sangat kurang. Jadi tak heran tgl 27 ini beberapa jenis barang sudah habis. Pekerjaan terhambat…..dll.
                                                                                                Aldi Camp Tarik, TRI II
Kemudian,
27 April 2001
Sebulan di Camp saja. Tak ada kegiatan. Pokoknya inilah hari-hari dengan banyak menganggur. Keadaan Perusahaan sedang dalam ketidakpastian…..dst.
Ini memori Penulis yang tertuang dalam Diary sebagai kenang-kenangan saat merantau di Kalimantan. Kaitannya adalah peristiwa kerusuhan antar etnis Dayak versus Madura, banyak korban di kedua belah pihak. Muncul kembali pembantaian manusia dengan bentuk Kayau, sangat mengerikan!!!!
Alasan Penulis menyusun Tarung ini adalah pengalaman saat masih bernaung di perguruan. Penulis menyaksikan pertandingan tingkat kabupaten antar perguruan Pencak Silat di Purwokerto tahun 80 an.
Salah satu peserta telah memeragakan pertarungan keras, sedemikian kerasnya hingga suasana arena pertarungan sangat mencekam. Pertarungan menjadi sangat menegangkan karena keganasan Petarung ini. Penulis tak menyebutkannya karena hanya memori saat masih bersekolah di SMP, tujuannya menjadi fakta untuk menguatkan Karya Tulis ini.
Hari pertama Petarung ini berhadapan dengan Petarung perguruan lain, sudah terlihat kerasnya pertarungan. Lawannya terpancing ikut melakukan gaya tarung keras lawan keras ini. Yang terjadi adalah begitu ronde berbunyi langsung terjadi gebrakan dengan serangan pukulan dan tendangan hampir tak terkendali, boleh dikata keduanya membabi buta saling menyerang.
Rupanya itu kesengajaan juga dari pelatihnya, Petarung ini sudah disiapkan bertarung sangat keras, melabrak lawan sekuat-kuatnya toh saat itu tak ada aturan ketat sistem Tarung Pencak Silat. Jangan heran saat masa remaja Penulis bangga akan bela diri ini karena kelengkapannya, seorang penghayat Pencak Silat pukulannya boleh seperti Tinju, kerasnya seperti Karate, tendangannya seakurat Tae Kwon Do tapi juga boleh seluwes bantingan Yudo dll.
Makanya di arena Tarung Pencak Silat bisa terjadi berbagai jenis tarung, nah untuk Karya Tulis ini dicontohkan Petarung gaya keras bahkan cenderung brutal yang pernah disaksikan Penulis. Karena saling labrak bahkan sampai menerkam pun tak peduli, terjadilah insiden robohnya lawan hingga sampai pingsan. Langsung Petarung ini dinyatakan sebagai pemenang, hal tersebut hari pertama sampai terjadi dua kali terhadap petarung berlainan perguruan.
Menarik tapi juga sangat tragis karena masih longgarnya aturan Tarung Pencak Silat saat itu. Nah hari kedua Petarung yang telah berhasil merobohkan dua orang lawannya sampai pingsan maju menghadapi Petarung lain perguruan lain dalam babak selanjutnya. Anggap saja hari pertama adalah babak perdelapan final, kemudian babak perempat final berdasarkan sistem gugur.
Berarti hari kedua ini adalah babak semi final. Dua orang Petarung saling berhadapan, lawan sudah tahu keadaan hari pertama di mana Petarung ini sudah berhasil menjatuhkan lawan sampai dua kali dengan insiden Knock Out bahkan sampai digotong keluar arena karena pingsan. Tapi tak mungkin menghindar, maka lawannya ini juga tak mau kalah gertak, langsung menyerang ganas tak peduli aturan, untung memang setahu Penulis Petarung ini tak melanggar misalnya menyerang area kepala atau kemaluan. Jadi kemenangannya sampai dua kali Knock Out itu murni tanpa pelanggaran.
Saat pertarungan terjadi demikian keras tiba-tiba Petarung yang di hari pertama berhasil meng KO dua kali itu terjatuh dan bahkan pingsan. Gemparlah seisi arena pertandingan, semua tak mengira bila Petarung yang sudah berhasil menang sangat spektakuler ini sekarang terbalas KO sampai pingsan. Wasit pemandu pertarungan sendiri sampai bertanya pada Petarung yang berhasil menjatuhkan Petarung lawannya ini di mana kenanya sampai pingsan. Sayang Petarung lawannya juga tak mengetahui pasti karena pertarungan yang terjadi sangat keras membabi buta. Maka pingsannya Petarung ini justru menjadi misteri di ajang pertandingan kejuaraan tingkat Kabupaten ini.
Demikian apa yang disaksikan Penulis.
Kemenangan KO tetap diberlakukan, dan rata-rata Petarung mencari menang dari insiden KO ini, mungkin terasa lebih sempurna bila berhasil menjatuhkan lawan hingga tak berdaya. Kondisi inilah yang membuat Penulis menyuguhkan Karya Tulis TARUNG JURUS versi II, yaitu untuk mengakomodasi Petarung yang memang berlatih untuk menguatkan kerasnya serangan tangan dan kaki. Sederhananya serangan itu berupa pukulan dan tendangan serta memanfaatkan bagian tubuh lawan agar secepatnya roboh.
Petarung yang mengandalkan fisik dan kerasnya serangan tangan dan kaki menyerang bagian tubuh yang lemah adalah ada. Bela diri adalah naluri manusia, seseorang bila memiliki lawan maka dalam imaginasinya mampu memperlakukan lawan dengan sadis, mengalahkannya dengan taktik hingga tak berdaya.
Tapi dalam kenyataannya hal tersebut sulit terjadi, lawan apa lagi yang sudah dianggap musuh adalah makhluk yang sulit didikte, selalu disegani, dan tidak mudah dikalahkan dengan cara apapun, bahkan bisa jadi musuh tersebut memang memiliki kemampuan yang lebih baik dalam segala hal.
Pertandingan adalah satu-satunya jalan mengadu strategi dan saling mengalahkan secara legal, dalam jenis tarung ini boleh sampai Knock Out walaupun dibatasi. Dengan demikian terciptalah tarung ini dengan nama sesuai minat Penulis TARUNG JURUS versi II.
Peraturan TARUNG JURUS versi II
Petarung menjadi pemenang bila berhasil memperoleh angka yang diperselisihkan. Siapa yang mengumpulkan nilai terbanyak dinyatakan menang angka. Bila tercapai insiden Knock Out segala nilai yang didapat Petarung bisa diabaikan.
Ada kemungkinan diperoleh nilai sama, pertarungan dinyatakan Draw. Juaranya tetap diberikan kepada pemenang bertahan bila terjadi jumlah angka perolehan yang sama. Dalam hal ini Juri sangat menentukan penilaian karena pukulan dan tendangan yang masuk bisa dinilai berbeda-beda tergantung subyektifitasnya.
Tarung jurus versi II memakai sistem gugur, itu karena dalam pertarungaan bila terjadi insiden Knock Out maka yang kalah kemungkinan tidak mampu melanjutkan pertarungan dikarenakan cedera. Tarung ini lebih menekankan hasil serangan tangan dan kaki berupa pukulan dan tendangan, tangkisan tak diperlukan karena tujuannya memang menaklukan lawan dengan serangan keras dan bertenaga.
Insiden benturan sering tak terelakan dalam tarung ini, karenanya Wasit segera melerai kedua Petarung dengan memberi jarak agar teknik pukulan dan tendangan bisa diperagakan maksimal. Naluri bela diri yang paling mudahnya adalah memukul dan menendang, ini prinsip dari TARUNG JURUS versi II.
Sasaran serangan di tubuh lawan mulai dari kepala, badan sampai perut. Pukulan dan tendangan bisa diarahkan pada sasaran-sasaran tersebut untuk mendapatkan nilai atau melumpuhkan lawan hingga Knock Out. Berkebalikan dengan TARUNG JURUS versi I tarung ini tidak mengincar kuda-kuda atau tangan dan kaki untuk dikunci.
Area terlarang diserang adalah bagian belakang kepala dan kemaluan. Bila sampai terkena bisa dinyatakan pelanggaran. Petarung yang melakukannya sengaja atau tidak disengaja mendapat teguran dan bisa didiskualifikasi.  Tarung ini sudah sangat beresiko besar cedera sehingga keselamatan Petarung sangat diutamakan. Begitu terjadi serangan mengenai kepala misalnya segera dihentikan untuk mendapat kejelasan masih bisa atau tidaknya Petarung yang terkena melanjutkan pertarungan.
Karena pertarungan bisa hanya mencapai menang kalah untuk satu even maka untuk tingkat amatir bisa dengan sistem gugur. Bisa juga dengan kesepakatan antar kubu Petarung untuk mendapatkan pemenang misalnya dengan bayaran tampil. Mungkin bisa disebut profesional tapi Penulis belum bisa membahasnya karena belum dipraktekan nyata.
Lembaga kejuaraan TARUNG JURUS versi II bisa seperti lembaga Tinju Pro, jadi bisa menjadi perebutan gelar dengan jadwal tarung yang sudah tertentu. Paling aturan Tarung harus menyesuaikan sebagai bagian Jurus Pencak Silat. Jadi asal perguruan, aliran, daerah asal Petarung, nama-nama teknik yang diperagakan sesuai pakem Pencak Silat berupa tapak, teknik pukulan dan tendangan, menjaga jarak dll.
Diperlukan satu orang Wasit dan Tiga Juri sebagai penentu kemenangan seorang Petarung. Bila tidak terjadi insiden KO maka diperhitungkan nilai masuk serangan berdasarkan obyektifitas Tiga Juri sebagai patokan. Satu Juri netral dan Dua Juri dari kubu masing-masing Petarung.
Jika terjadi Draw maka pemenang bertahan berhak menerima kembali gelarnya. Gelar juara diberlakukan berdasarkan lembaga penyelenggara. Prinsip hiburan dikedepankan, ingat Pencak Silat sudah berkembang mencapai Olah Raga, Seni, dan Budaya. Jadi penonton bukan hanya dijejali perkelahian tapi juga mendapatkan kepuasan batin karena telah menyaksikan pertarungan yang menarik dan memikat.  Nilai seorang Petarung dipertaruhkan bukan hanya karena bisa menghancurkan lawan tapi juga dituntut menampilkan sebuah pertunjukan bermutu ketrampilan bela diri.
Simulasi Tarung
Dua orang Petarung bersabuk merah dan biru saling berhadapan. Pelindung badan tak diperlukan karena area serangan cukup bebas. Area kepala, leher, dada sampai perut boleh dijadikan sasaran serangan. Area terlarang adalah belakang kepala dan kemaluan, jika terkena merupakan pelanggaran berat. Siapapun Petarung yang melakukannya langsung digugurkan dalam kejuaraan even apapun.
Mungkin area kepala perlu dilindungi dengan semacam helm, begitu juga dengan tangan dan kaki sebagai alat serang, perlu dilindungi dengan sarung tinju dan sepatu khusus. Dalam Tarung Jurus versi II ini kemungkinan paling dominan adalah melepaskan serangan dalam bentuk pukulan dan tendangan.
Wasit memandu pertarungan, memisahkan dua Petarung bila saling berpelukan, menjaga jarak antar Petarung agar masing-masing bisa maksimal melakukan serangan, menghentikan pertarungan bila kemungkinan terjadi Knock Out, dan melindungi Petarung dari kemungkinan cedera berat dll.
Untuk serangan tangan dan kaki yang masuk pada kedua Petarung dinilai oleh tiga Juri pertandingan. Karena melepaskan tendangan lebih sulit maka nilainya adalah Dua bila berhasil masuk ke sasaran tubuh lawan. Menang angka, Draw bisa tetap dinyatakan siapa yang berhak sebagai juaranya. Dari ronde ke ronde sudah bisa dilihat siapa yang paling banyak menyarangkan serangan. Kecuali seorang Petarung berhasil menyerang lawan sampai KO, maka Petarung tersebut diutamakan sebagai juaranya. Knock Out berarti kalah teknik atau lumpuh tak berdaya tak mampu melanjutkan pertarunga.
Pertarungan yang tersaji menarik bisa mendapat kategori tersendiri. Tarung ini merupakan turunan dari pertarungan resmi kejuaraan Pencak Silat jadi kriterianya tinggal mengikuti kejuaraan yang sudah ada.
Keputusan Juri mutlak, Menang angka, Draw, atau Knock Out dinyatakan langsung setelah tiga Juri mengesahkannya. Wasit tinggal mengikuti keputusan Juri dengan mengangkat tangan seorang Petarung sebagai pemenangnya.
Kejuaraan Tarung Jurus versi II ini bisa terselenggara amatir maupun profesional. Segi komersialnya bisa dilegalkan, ini berbeda dengan Tarung Jurus versi I yang begitu ketat aturannya, hanya terselenggara dalam even semacam kompetisi, atau turnamen.
Kejuaraan Tarung Jurus versi II berlangsung dengan sistem gugur atau bila terselenggara bisa juga antara dua Petarung yang diatur dengan kesepakatan. Menang kalah ditentukan oleh penyelenggara yang berhak memberikan gelar juara dan mempertahankannya dengan terus bergulir pada peringkat-peringkat Petarungnya.
Yang penting aturan tarungnya tetap memakai akidah bela diri Pencak Silat.
Tulisan ini hanya karangan belaka, bila dipraktekan akan banyak sekali ketahuan kekuarangannya. Penulis berpedoman hasil karangan ini sebagai ciptaan dalam lingkup bela diri Pencak Silat. Semuanya bersumber dari Jurus, jadi Tarung Jurus versi II ini hanya turunan dari kejuaraan resmi Pencak Silat.
Penulis menyamakan saja dengan bela diri Tarung Derajat, nah tarung ini adalah ciptaan dari seorang petarung jalanan Bapak Ahmad Derajat. Penulis tahu tak mungkin melampaui kemampuan beliau, semoga sumbangsih tulisan ini bisa diterima untuk kemajuan bela diri Pencak Silat yang kita cintai ini.
Penulis terinspirasi dari model tarung di awal tulisan yang pernah disaksikan saat kejuaraan tingka kabupaten. Seorang Petarung yang mengandalkan fisik, serangan tangan dan kaki yang keras, mengincar tubuh lawan untuk menang dengan capaian melumpuhkan lawan sampai Knock Out.
Kenyataannya Petarung-petarung tipe seperti ini faktanya ada bahkan cukup banyak jumlahnya, jadi untuk kejuaraannya diperlukan even Tarung tersendiri. Tarung Jurus versi II inilah yang mengakomodasi jenis Petarung tipe pertama ini seperti tulisan yang dikarang Penulis berjudul Tarung Jurus versi I.
Tulisan ini hanya berupa Karya Tulis, masih sangat banyak kekurangannya. Penulis berkomitmen mengembangkannya dalam tambahan artikel, dokumentasi, dan bentuk-bentuk kejuaraan yang mendekati susunan Karya Tulis ini.
Tak lupa Penulis menyatakan berani menyusun tulisan ini sebagai artikel yang dipublikasikan karena memang berlatih JURUS, itu adalah bagian kecil hidup Penulis sehari-hari. Jadi penjabarannya biarpun hanya imaginasi berkembang terus. Penulis mengakui keterbatasan usia, mau diapakan lagi hasil latihan bela diri Pencak Silat bila tak dipraktekan? Makanya bisa menjadi Karya Tulis ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.
Tulisan ini boleh dikritik, ditambah, diperbaiki orang lain. Syukur bila ada yang mencoba mempraktekannya kemudian menjadikannya sebagai uji banding imaginasi Penulis. Artikel ini adalah Hak Kekayaan Intelektual milik Penulis, itu saja.
Matur nuwun.

Karya Tulis Tarung Jurus versi I



      TARUNG JURUS versi I
                                                         (Sebuah Karya Tulis)
Tulisan ini tidak bermaksud merubah jenis nomor Tarung Pencak Silat yang sudah berlaku baik itu dari IPSI, Kejuaraan Tingkat Nasional maupun Internasional. Bahkan bila ada kejuaraan terbatas dalam sebuah Perguruan maupun kejuaraan yang berunsur kedaerahan.
Tujuan Penulis adalah memperkaya nomor Tarung Pencak Silat sehingga makin menambah khasanah yang sudah diakui, mungkin bila disamakan dengan Tarung Derajat yang sudah resmi sebagai bela diri baru, tulisan ini tidak mencapai bentuk seperti itu. Tulisan ini hanya merupakan turunan dari nomor kejuaraan Pencak Silat.
Sumber-sumbernya berasal dari banyaknya teknik-teknik dalam kandungan jurus yang ada di Perguruan maupun Pencak Silat daerah di wilayah Nusantara agar tetap bisa dilestarikan. Akar masalahnya adalah Pencak Silat memiliki kekhasan di berbagai daerah dan Perguruan atau aliran yang tidak terakomodasi dalam nomor Tarung yang sudah diakui sebagai kejuaraan. Misalnya berdasarkan aliran, kedaerahan, komunitas, bahkan mungkin sebagai milik keluarga turun temurun.
Penulis mencontohkan diri sendiri atas latihan-latihan jurus yang dikoleksi, misalnya jurus satu yang dinamakan Jurus Teguh mengandung teknik sebagai berikut,
Dalam kuda-kuda kanan depan, PUKUL….tangkis kanan pukul kiri, Tendang kaki kiri lakukan teknik yang sama dengan di atas….TAHAN, Pelintir tangan kanan yang ditahan BESETdengan tangan kiri, kuda-kuda direndahkan….SIKUT kanan sambil majukan kaki kanan…PUKUL atas….
SELESAI
Ada teknik pukulan, tangkisan, tendangan, pelintir pergelangan tangan yang berarti tangan dalam keadaan terpegang lawan, beset berarti melepaskan diri dari kuncian lawan, sikut kanan sebuah teknik yang jarang ada di perguruan lain, dan sebagainya.
Teknik-teknik inilah yang ditekankan untuk bisa diperagakan dalam nomor Tarung gagasan Penulis.
Gagasan ini massih mentah dan baru terealisir dalam imaginasi, masih harus dijabarkan dalam praktek dan peragaan untuk diakui resmi sebagai nomor Tarung dalam sebuah kejuaraan, hal ini masih cita-cita terpendam hingga saat ini.
Penilaian utama adalah siapa Petarung yang berhasil melakukan teknik jurus terhadap lawan, Petarung tersebut berhak mendapatkan nilai (Poin) berdasarkan kriteria yang sudah diatur. Dari selisih nilai (Poin) yang didapat antar Petarung bisa diketahui seorang Pemenang dan Peringkatnya dalam sebuah Even Kejuaraan.
Anggap saja tulisan ini masih teori belaka. Walaupun begitu Penulis mencoba menelaahnya dengan fakta-fakta, yaitu latihan jurus yang rutin dilakukan harian selama ini.
Penulis berargumentasi nomor tarung ini untuk mengakomodasi Petarung yang lebih mengutamakan teknik sebagai perolehan nilai untuk kemenangan.
Alasan paling kuatnya menjadikan nomor tarung ini menjadi sebuah nomor tersendiri adalah adanya nomor seni yang merupakan penilaian jurus berdasarkan nilai estetika jurus dan kerapian teknik yang diperagakan. Jurus yang diperagakan harus juga bisa dipraktekan saat bertarung.
Penulis menganggap ada dua tipe Petarung pertandingan Pencak Silat. Maaf anggapan ini ada karena tidak didukung dengan pengamatan di lapangan. Tipe pertama adalah Petarung yang mengandalkan serangan keras biasanya berupa pukulan dan tendangan untuk menjatuhkan lawan hingga Knock Out.
Petarung ini memang berlatih dengan menu latihan seperti memukul sansak, menendang dengan sasaran benda keras, menyerang bagian tubuh yang lemah seperti kepala, perut bawah, leher dll. Selain itu biasanya Petarung tipe ini mengandalkan fisik sebagai penunjang meraih kemenangan.
Pertarungan selalu seru, keras lawan keras. Siapa yang lebih dulu mampu memasukan serangan ke bagian tubuh yang diincar menjadi poin (Nilai) atau bila tercapai lawan jatuh hingga tidak mampu memberikan perlawanan lagi (Knock Out).
Seorang Petarung yang berhasil meng KO lawan langsung menjadi Pemenang, dan bila tidak terjadi insiden KO tinggal dihitung selisih nilai serangan yang masuk sebagai kemenangan angka.
Untuk Petarung tipe ini Penulis mengusulkan nomor Tarung tersendiri yaitu TARUNG JURUS versi II.
Tipe kedua adalah Petarung yang mengandalkan teknik untuk mendapatkan Poin. Tipe Petarung ini berlatih teknik-teknik yang cukup rumit agar bisa diterapkan dalam pertarungan. Kemenangan diperoleh karena seorang Petarung memiliki banyak teknik serangan dan berhasil menyarangkannya pada tubuh lawan.
Penulis membayangkan sebuah masalah bila dua tipe Petarung diatas tersebut melakukan pertarungan, tentu akan terjadi kontradiksi. Sulit seorang Petarung tipe kedua melayani Petarung tipe pertama yang hanya mengincar tubuh menyerang sampai Knock Out.
Untuk itulah dibedakan nomor Tarung tipe pertama dan kedua.
Dalam kejuaraan Pencak Silat tak ada pembagian nomor tarung, kedua tipe Petarung bisa berjumpa saling kalah mengalahkan. Untungnya sasaran serangan dalam kejuaraan Pencak Silat sudah dibatasi hingga tidak mencolok adanya kedua tipe Petarung tersebut.
Dengan adanya aturan hanya boleh memasukan serangan ke bagian dada dan perut lawan maka kedua tipe Petarung tersebut hanya samar-samar keberadaannya. Apa lagi setiap Petarung dilindungi dengan kostum di tubuhnya menghindari cedera bila terkena pukulan dan tendangan.
Penulis tidak menyebut ini kelemahan di kejuaraan Pencak Silat, teruskan saja yang sudah ada karena sudah menjadi nomor yang diakui secara internasional.
Nomor Tarung yang digagas Penulis adalah penyesuaiannya dengan Jurus. Misalnya dari sepuluh jurus yang dilatih selain bernama juga terkandung banyak nama-nama tekniknya. Dalam jurus satu diatas sudah diterangkan.
Jurus-jurus lainnya makin banyak jumlah nama tekniknya, ada kelit, sempok, pukulan dobel, tendangan putar, sapuan, bantingan, giles, pancingan, dorongan kaki dll. Nah teknik-teknik dalam kandungan jurus inilah yang menjadi tujuan Penulis menjadi poin meraih kemenangan terhadap lawan.
Karenanya Penulis menamakan nomor ini sebagai nomor TARUNG JURUS versi I.
Jadi TARUNG JURUS versi I ini sesuai dengan tipe Petarung kedua yang lebih mengutamakan teknik hingga mengumpulkan nilai untuk meraih kemenangan.
Penulis mencontohkan diri sendiri.
Berlatih jurus puluhan tahun tidak pernah bertanding dengan siapapun, hasilnya pukulan dan tendangan tidak keras. Tubuh Penulis sendiri biasa saja karena berlatih lebih banyak sebagai hobi. Tapi kalau stamina lumayan masih bisa diandalkan untuk kegiatan lapangan.
Pencak Silat menjadi gaya hidup, menyesuaikan dengan latihan. Bila menghadapi masalah dengan orang lain mencoba mampu membatasi mana yang diprioritaskan dan berpikir logis. Dan yang jelas latihan jurus itu bermanfaat mengurangi naluri berkelahi, soalnya berlatih saja sudah capai apa lagi berkelahi sungguhan!
Pencak Silat menjadi seni budaya yang dikuasai Penulis sebagai penghayatnya. Jangan sampai budaya Melayu ini hilang ditelan jaman. Semoga Penulis cukup diperhitungkan sebagai pelaku budaya bidang bela diri ini.
Penilaian Nomor Tarung Jurus versi I
Penulis mulai menjabarkan detail gagasan karya tulis ini, bila disebut pencipta Tarung syukurlah. Bisa masuk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bukan benda, apa lagi bila Penulis sampai dinyatakan sebagai nama penciptanya.
Nomor tarung ini tidak mengubah peraturan yang sudah diakui secara internasional. Sampaipun pelindung badan masih tetap bisa diberlakukan. Begitu juga untuk arena pertandingan, tidak ada yang berubah.
Dua orang Petarung berada di arena matras saling berhadapan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Untuk kelas Petarung Penulis cenderung memakai sistem lama yaitu,
Kelas Usia Dini- A B C Putera/Puteri
Kelas Remaja   - A B C Putera/Puteri
Kelas Dewasa   - A B C Putera/Puteri
Penulis menyukai bentuk kelas seperti ini untuk mendekatkan pada budaya sastra lisan Melayu yaitu Pantun. Pantun memiliki bait kata persamaan bunyi sebagai puisi yang begitu indah dengan tingkatan usia. Tingkatannya adalah pantun anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua (Pantun nasehat). Jika diterapkan dalam kelas Tarung Pencak Silat tentu menambah banyak perolehan pemenang dan kriteria prestasinya. Penulis lebih berkeyakinan menghidupkan Pencak Silat dengan dasar budaya setempat agar mudah dijadikan model pendidikan karakter Nasional.
Bentuk kelas-kelas pertarungan Pencak Silat seperti ini menyesuaikan dengan tradisi perguruan-perguruan yang sudah ada. Penulis berargumentasi bahwa Perguruan Pencak Silat termasuk sistem pendidikan kuno yang masih bertahan hingga era modern ini.
Saat masih berlatih di perguruan Penulis masih kecil menjadi tingkatan yunior, sistem perguruannya belum berkembang jadi setiap angkatan bisa menerima siswa segala usia. Rata-rata perguruan Pencak Silat di seluruh Indonesia adalah seperti ini. Jadi bila menjadi komunitas maka akan berkumpul dalam ragam usia, terkadang prestasi tidak terlalu ditonjolkan dalam perguruan tradisional, cukup loyalitas pada Guru besarnya saja.
Perguruan Pencak Sialt menjadi komunitas sendiri membentuk pengajaran dari seorang Guru Besarnya. Ada yang bertahan hingga sekarang seperti Cimande, Cikalong, Syahbandar dll. Banyak juga yang musnah tinggal cerita tutur saja, atau bahkan cuma legenda rakyat setempat saja.
*Coba pikir misalnya adanya legenda di daerah kelahiran Penulis yaitu Banyumas. Ada legenda Ksatria Kamandaka dengan kemampuannya menyaru sebagai Lutung Kesarung. Legenda tersebut selalu disertai bukti adanya benda cagar budaya dan klaim tentang desa-desa yang selalu menyatakan mereka adalah turunan dari tokoh tersebut.*
Dengan demikian jangan heran siswa-siswa perguruan dalam setiap angkatan tahunnya bisa terdiri dari anak-anak, remaja, hingga dewasa dan mungkin orang tua yang masih mencoba berolah raga untuk kesehatan. Perguruan juga tidak mutlak pelatihan bela diri saja, juga mungkin menjadi komunitas pengajian, seni pertunjukan, atau praktek asketik. Warga di dalamnya sering bergabung karena loyalitas dan keterikatan sebuah keluarga.
Cukuplah argumentasi Penulis tentang kelas dalam Tarung Jurus versi I ini, pendekatannya selalu budaya Melayu atau daerah setempat.
Nilai/Poin teknik Tarung Jurus versi I
-Pukulan                     - 1(Satu)
-Tendangan                 - 2(Dua)
-Menjatuhkan lawan   - 3(Tiga) terdiri dari, 1. Bantingan
                                                                      2. Kuncian
                                                                      3. Menggempur kuda-kuda lawan dll
Bentuk Teknik Pasif   :
-Menangkis                                                           - Poin 1(Satu)
-Melepaskan diri dari teknik menjatuhkan lawan - Poin 1(Satu)
Yang termasuk Teknik Pasif dalam jurus contohnya adalah Kelit, Giles, Melepaskan diri dari kuncian, bantingan, sapuan, cekikan di leher dll.
Bila itu berupa hindaran, elakan, sempok, pancingan dalam tarung terpaksa bernilai 0 (Nol) karena tidak bersentuhan tubuh antar Petarung. Biarpun begitu bila terjadi jenis teknik ini lihat segi estetika, etika, dan sportifitasnya. Nantinya rangkaian hindaran dan elakan yang berhasil diterapkan bisa mendapat kategori Keindahan sebuah pertarungan. Dan untuk kedua Petarung bisa mendapat kategori ini baik untuk yang kalah maupun yang menang.
Ingat dalam Tarung Pencak Silat menghindar, mengelak dari serangan memungkinkan cukup dengan menggeser langkah, merubah posisi kuda-kuda, membuang badan menjauhi lawan dll. Semua teknik itu ada dan mungkin terjadi dalam pertarungan karena berlakunya langkah/tapak sebagai ciri bela diri ini. Makanya bila terjadi teknik-teknik tersebut biarpun tidak bernilai tetapi bisa masuk kategori estetika, etika, dan sportifitas.
Pencak Silat adalah dua kata yang selalu dilakukan bersama-sama, jadi dalam tarung ini kedua Petarung wajib memperagakan estetika berupa langkah/tapak saat peragaan teknik jurus mencapai nilai (Poin). Langkah/tapak ini yang membedakan Pencak Silat dengan bela diri lain.
Dengan demikian segi sportifitas dan estetika selalu diterapkan bersama-sama. Makanya dalam sebuah even pertandingan nantinya ada kategori pertarungan yang tersaji paling indah dan sportif. Penghargaan ini diberikan untuk sebuah pertarungan baik bagi pemenang maupun Petarung yang kalah.
Peraturan Tarung
Untuk Wasit dan Juri Penulis mengadopsi peraturan Tarrung Etang. Begitu juga untuk pengaturan Ronde. Karena Pencak Silat berasal dari Indonesia untuk penanda ronde gunakan saja alat musik tradisional Nusantara, misalnya bunyi Bende (Gong) atau Bedug dll.
Seorang Wasit selain memandu pertarungan juga penentu mana serangan yang masuk sebagai Poin. Titik beratnya adalah keberhasilan seorang Petarung memperagakan teknik mencapai Poin.
Kejelian Wasit sangat diperlukan karena ia juga bertindak sebagai Pengadil. Diperlukan syarat Wasit pertandingan yang berkompeten dan netral supaya tidak memihak seorang Petarung.
Mungkin terjadi subyektifitas diri seorang Wasit. Hal ini karena Wasit berbeda penguasaan materi teknik sebagai Poin. Sedangkan Petarung berlatar belakang perguruan dan aliran yang sangat berbeda saat bertarung. Dalam hal ini penilaian Wasit tetap menjadi acuan semua pihak. Mungkin aliran-aliran atau latar belakang perguruan disesuaikan agar setiap Petarung bisa meksimal melakukan peragaan teknik yang dikuasai untuk meraih Poin sebanyak-banyaknya.
 Untuk itu seperti pada Tarung Etang, diperlukan Tiga Juri sebagai penilai dan penentu kemenangan seorang Petarung. Dua orang adalah Juri dari dua kubu masing-masing Petarung dan satu Juri netral agar terjadi selisih poin yang adil.
Setiap Wasit menyatakan berhasilnya sebuah teknik diperagakan seorang Petarung. Maka Wasit tersebut segera memberi Poin dengan pengesahan dari Tiga Juri pertandingan.
Wasit cukup melihat dua Juri menyatakan sahnya sebuah teknik diperagakan Petarung sebagai Poin. Misalnya tiga Juri diberi bendera merah dan biru untuk penanda Petarung berhasil melakukan teknik mencapai Poin (Nilai) dengan mengibarkannya ke atas.
Simulasi Tarung
Tujuan Penulis paling utama menciptakan/menyusun Tarung Jurus ini adalah agar terjadi peragaan teknik Jurus dengan modal dasar kecerdasan dan strategi. Selain juga kecepatan dan kecermatan Petarung, misalnya siapa paling cepat memasukan serangan.
Sesungguhnya Penulis dalam praktek sehari-hari hanya berlatih jurus. Satu rangkaian jurus adalah bentuk Tarung secara imaginasi. Serangan, tangkisan, kuncian berurutan, bila itu terjadi dalam Tarung sesungguhnya maka rangkaian teknik yang menjadi keberhasilan Petarung memperoleh poin maksimal bisa menjadi jurus Hak Milik.
Jadilah Petarung Jurus, teknik-teknik yang berhasil diperagakan akan menjadi abadi dalam bentuk dokumentasi, bahkan mendapat pengakuan oleh lembaga bela diri penyelenggara even kejuaraan.
Ini pemaparan Penulis dalam imaginasi,
Dua orang Petarung masing-masing bersabuk merah dan biru saling berhadapan. Dipandu seorang Wasit dua Petarung saling memberi hormat baik kepada lawan maupun kepada Juri dan Penonton di luar arena.
Begitu tanda ronde berbunyi,
Pertarungan dimulai dengan Wasit memberi aba-aba untuk segera masing-masing Petarung mengeluarkan kemampuannya. Tak lupa Pencak dengan Langkah-langkah harus diberlakukan kedua Petarung mengitari arena lingkaran sesuai aturan matras kejuaraan resmi.
“Langkah/Tapak adalah hasil kejeniusan suku-suku Nusantara sehingga menjadikan Pencak Silat berbeda dengan bela diri lainnya di dunia. Dengan langkah itu adalah membuka seribu jalan teknik-teknik menyerang, menangkis, mengunci menjadi rangkaian JURUS bermakna filosofis dan estetika.”
Kedua Petarung boleh mulai saling menyerang. Untuk teknik Pukulan dan Tendangan sudah jelas sasaran di tubuh lawan, ini menyesuaikan dengan kejuaraan Pencak Silat yang hanya boleh menyarangkan serangan di area dada dan perut di mana bagian tubuh ini dilindungi dengan rompi khusus.
Bentuk tarung akan terlihat ke arah mana jalannya. Apakah hanya saling serang menyerang dengan pukulan dan tendangan saja atau mengeluarkan teknik menjatuhkan lawan.
Bila seorang Petarung berhasil memasukan pukulan atau tendangan pada sasaran di tubuh lawan yang sudah ditentukan segera Wasit menyatakannya dengan menunjuk ke seorang Petarung sebagai perolehan Poin.
Dengan sendirinya pertarungan dihentikan sementara, walaupun begitu waktu Ronde terus berlanjut. Dihentikannya pertarungan dan Wasit menunjuk seorang Petarung memperoleh Poin juga memberi kesempatan kepada tiga Juri untuk mengesahkannya dengan mengangkat bendera merah atau biru.
Bila bendera yang dikibarkan sesuai dengan pernyataan Wasit berarti Poin tersebut Sah. Wasit cukup melihat dua dari tiga Juri yang mengibarkan bendera merah atau biru yang berkibar sebagai penentu telah disahkan.
Bila tiga Juri mengesahkan Poin seorang Petarung dengan pengibaran bendera sesuai warnanya maka berarti Poin mutlak.
Bila dua Juri mengesahkan Poin seorang Petarung dan satu Juri mengibarkan bendera sebaliknya Wasit tetap berpegang pada dua Juri yang mengesahkan keputusannya. Wasit melihat sudah cukup kuat teknik yang diperagakan Petarung sebagai Poin.
Bila hanya satu Juri yang mengesahkan keputusan Wasit dan dua Juri yang lain mengibarkan dua bendera merah dan biru, langsung Poin dibatalkan karena itu berarti masuknya serangan diragukan dua Juri penilai.
Bila tiga Juri mengibarkan bendera merah dan biru semuanya maka itu berarti tidak terjadi keberhasilan teknik peragaan sebagai Poin. Pertarungan diteruskan tanpa perlu memberi Poin pada kedua Petarung.
Poin yang sudah disahkan Wasit dan Juri diperlihatkan di papan pengumuman untuk menunjukan skor pertandingan. Jadi Penonton atau Suporter bisa melihat skor pertandingan seperti di kejuaraan volley atau bulutangkis.
Hal sebaliknya bila kedua Petarung lebih mengarah pada teknik menjatuhkan lawan sebagai kemenangan maka pukulan dan tendangan yang masuk boleh diabaikan. Satu gebrakan teknik menjatuhkan lawan diperagakan seorang Petarung dibiarkan sampai tercapai Poin atau tidak. Abaikan saja Petarung yang mencoba memukul atau menendang, lebih penting teknik menjatuhkan lawan yang terjadi itu tercapai diperagakan seorang Petarung.
Penulis percaya teknik menjatuhkan lawan selalu berupa rangkaian dari beberapa langkah, rangkaian gerak tangan, dan Petarung harus saling bersentuhan, kuda-kuda berubah karena gempuran serangan dll. Jadi untuk menilai teknik menjatuhkan lawan cukup rumit, peragaannya memerlukan kecerdasan, ketrampilan, ketepatan, strategi, posisi yang tepat, dan kecermatan tinggi dari seorang Petarung. Karenanya teknik menjatuhkan lawan yang berhasil diperagakan memiliki Poin tertinggi yaitu 3 (Tiga).
Supaya terbukti bahwa seorang Petarung memiliki kecerdasan, ketrampilan dan strategi untuk menang dalam sebuah pertarungan maka harus mencapai 10 Poin. Bagi seorang Petarung untuk mencapai sepuluh poin tentu harus melakukan berbagai variasi teknik serangan. Coba pikirkan saja sebuah pertarungan untuk cepat mendapatkan kemenangan seorang Petarung paling tidak melakukan teknik menjatuhkan lawan tiga kali ditambah satu pukulan atau tendangan, tentu itu tuntutan yang tidak mudah.
Pencapaian Poin sampai sepuluh (10) hanya contoh, setiap even kejuaraan berhak memberlakukan nilai sendiri berdasarkan kepentingan prestasi. Ini cuma karangan Penulis saja, Oke…
Dengan pencapaian nilai mencapai 10 sebagai pemenang maka Penonton atau Suporter pun cukup puas. Yang terjadi pertandingan menjadi adu kecerdasan dan ketrampilan serta sstrategi baik bagi Petarung yang menang maupun Petarung yang kalah. Apalagi bila seorang Petarung berhasil mencapai nilai 10 hanya dalam satu ronde, pujian jelas ditujukan pada Petarung tersebut.
Bagaimana kalau kedua Petarung berhasil mencapai draw 9 Poin. WOW…itu pertandingan yang seru sekali, mungkin terjadi jual beli teknik serangan. Untuk itu dilakukan penentuan sekali lagi siapa yang paling dulu berhasil menyarangkan teknik mencapai nilai 10 Poin, jadilah sebuah kejuaraan yang menarik.
Kalau sudah draw 9 : 9 kemudian ada Petarung berhasil memasukan serangan dengan nilai 3 tentu jumlah poinnya menjadi 12, tapi yang dua Poin hanya nilai tambahan. Nilai tambahan ini nantinya diperhitungkan saat penentuan peringkat dalam sebuah even kejuaraan.
Sistem pertandingan Tarung Jurus versi I ini sama dengan Tarung Etang yaitu sistem Kompetisi, jadi seluruh peserta pertandingan akan mendapat giliran untuk saling kalah mengalahkan. Untuk sistem kompetisi ini masih harus dijabarkan, Penulis melihat pada asaz keadilannya. Pada Tarung Jurus versi I ini titik berat penilaian pada teknik jurus, jadi insiden Knock Out atau terluka sebisa-bisa dihindari.
Teknik-teknik jurus perguruan, perorangan, komunitas, jurus bercorak kedaerahan, jurus ciptaan seorang Guru Besar, kreasi penghayat Pencak Silat dll, semua bisa dicobakan dalam even pertandingan Tarung Jurus versi I ini. Inilah tujuan Penulis yang tetap berlatih jurus walaupun hanya sekedar hafalan saja. Jurus bila dilatih seorang penghayatnya biarpun hanya mantan sebuah perguruan adalah HAK MILIK nya.
Penulis berkeyakinan,
“Seorang penghayat Pencak Silat tak pernah berlatih jurus Ia adalah Pendusta.”
Tulisan ini semoga bisa menjadi sumbangan gagasan dalam bela diri yang dihayati Penulis, AMIN.
Juga dengan terselenggaranya kejuaraan Tarung Jurus versi I ini mungkin seorang pemenang dengan peringkat atas memiliki dokumentasi atas perjuangannya. Teknik-teknik yang telah diperagakan sebagai Poin itu bila terus dilatihnya bisa menjadi jurus HAK MILIK mutlak karena ada bukti saat pertandingan, tentu sangat manis sebagai kenangan.
Ronde diperlukan untuk memberi waktu istirahat pada Petarung, bersiap-siap kembali masuk arena pertarungan, mengatur siasat dll. Jumlah ronde tidak mutlak diatur pokoknya bila ada seorang Petarung berhasil mencapai nilai 10 SELESAI. Satu rondepun tak masalah, jeda setiap terjadi teknik serangan masuk tidak menghentikan waktu ronde.
Hal ini memungkinkan dalam satu ronde bisa terjadi satu, dua, tiga kali gebrakan teknik serangan perolehan Poin. Syukur satu ronde bisa terjadi tiga teknik menjatuhkan lawan hingga setiap Tarung Jurus versi I ini idealnya diperlukan dua, tiga ronde saja.
Kemungkinan paling lamanya pencapaian nila 10 adalah empat lima ronde. Jadi selain enak ditonton juga menguji stamina Petarung yang berlaga, juga akan ketahuan penguasaan teknik seorang Petarung, misalnya teknik sapuan, bantingan, kuncian, gempuran kuda-kuda dll.
Dalam even kejuaraan bila sudah berakhir akan ketahuan peringkat-peringkat dari Petarung yang telah menyelesaikan pertandingan. Peringkat Petarung ini tahun-tahun mendatang makin matang dan diakui resmi biarpun hanya tingkat RT sekalipun…..He He He.
Dari nilai-nilai yang didapat peserta Tarung bisa ketahuan prestasinya. Penulis tak menjabarkan karena belum pernah dipraktekan, semuanya masih imaginasi Penulis belaka.
Dalam satu pertarungan akan terjadi sebuah teknik serangan masuk. Teknik-teknik ini pasti memiliki nama, nah Juri dari kubu Petarung yang berhak menyatakan nama teknik tersebut sebagai tema pertarungan.
Penulis percaya nama teknik dalam bahasa daerah ribuan jumlahnya. Mungkin tekniknya sama tapi nama di perguruan dan daerah berbeda. Siapa Petarung yang menang ialah yang mengabadikan nama teknik tersebut, jadi inilah penghargaan berdasarkan bentuk Tarung Jurus versi I ini tercapai.
Tujuan Penulis membuat gagasan Tarung Jurus versi I ini adalah penghargaan kepada Petarung, Pemenang, dan penghargaan pada peragaan teknik yang berhasil menjadi Poin. Makin sulit dan rumit teknik yang berhasil menjadi Poin itu menjadi perjuangan seorang Petarung. Makin sulit dan rumit sebuah teknik diperagakan bisa didokumentasikan.
Petarung yang menang maupun kalah tetapi berhasil memperagakan teknik jurus yang sulit dan seru tetap mendapat penghargaan. Jadi berlatih jurus bertahun-tahun tidak sia-sia walaupun tidak bernaung dalam perguruan manapun.
Tulisan ini masih berupa karangan Penulis belaka. Dalam penyajiannya masih harus dikuatkan dengan praktek, foto, video, testimoni orang-orang, pendapat atau bahkan kritik dari pembaca. Bila disebut pencipta tampaknya kurang sesuai, tapi pemikiran atau gagasan ini tetap menjadi Hak Kekayaan Intelektual atas nama Penulis.
Bila ada kejuaraan yang ternyata banyak memiliki persamaan dengan gagasan atau karangan tulisan Penulis ini, itu tetap menjadi hak even kejuaraan tersebut. Silahkan memberi nama berbeda agar tidak melanggar Hak Cipta Karya Penulis ini.
Karya tulis ini sekedar karangan, mencapai jurnal resmi apa Penulis tak tahu apa-apa. Penulis percaya banyak orang lain yang lebih berkompeten dalam bidang ini, semoga sumbangan Penulis ini bisa menjadi bahan perbandingan orang-orang yang sekiranya memiliki bidang yang sama dengan Penulis, menjadi penghayat bela diri Pencak Silat.
Selamat berlatih jurus dan teruslah menggalinya sampai mendapat gagasan atau ide tulisan dan praktek. Selamat bertemu kembali dalam artikel tulisan lain sesuai selera Penulis.
Wasalam.