Monday, September 11, 2017

Karya Tulis Tarung RAGA



         TARUNG RAGA
                                                       (Sebuah Karya Tulis)
Artikel ini benar-benar hanya karangan belaka. Penulis tak peduli akan masuk kategori apa karena bukan bidangnya. Maklum seumur hidup selalu aktif  berolah raga dan bekerja  punya hobi yang mendarah daging, begitu merasuk pada diri Penulis.
Penulis seorang pengkhayal, termasuk kelas berat sehingga mengganggu diri sendiri saat bersosialisasi di masyarakat. Dunia yang menyendiri ini mengakibatkan rasa rendah diri dan pesimis akan masa depan. Masa muda yang produktif justru menjadi masa-masa sulit dari segi kejiwaan.
Siapa yang pernah mengalami keadaan yang sama?
Ini saran dari Penulis,
Mulailah Menggerakan tubuh melakukan aktifitas, membaca, berolah raga, dan rekreasi. Jadikanlah kegiatan-kegiatan tersebut sebagai rutinitas, terutama kegiatan yang berada di alam terbuka.
Jangan berpikir olah raga untuk melangsingkan tubuh, mengurangi berat badan dll. Biarpun itu benar tetapi sangat relatif, tujuan utama adalah kesehatan jiwa dan raga. Menjalaninya sebagai rutinitas harian lebih penting secara perlahan, meningkat dari pemula hingga mahir, dan menjadikannya sebagai rekreasi seumur hidup.
Satu kegiatan Penulis adalah pernah berlatih bela diri Pencak Silat dan Yoga di perguruan KBPS Asma Purwokerto. Menjadi kenangan masa kecil yang akhirnya menjadi rutinitas harian walaupun dari segi materi pengajaran kurang mendalam.
Wujudnya adalah sekarang ini, mencoba membuat sebuah Karya Tulis berjudul TARUNG RAGA.
Satu pemikiran sudah lama bercokol di otak Penulis. Bukan tentang Jurus yang dilatih tapi bentuk-bentuk kejuaraan Pencak Silat. Kejuaraan itu sudah resmi terselenggara, apa lagi yang harus dibahas?
Penulis menyesuaikan saja, tinggal mengakui dan menaati yang sudah ada. Cuma Penulis penasaran, terutama dari segi fisik. Pencak Silat kebanyakan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bertubuh ramping. Ini bukan kelemahan justru kelebihan berlatih bela diri Pencak Silat karena menjadi tuntutan seorang atletnya.
Bagaimana untuk orang-orang berbadan gemuk/berbobot lebih dari rata-rata ukuran tubuh orang biasa?
Masih bisakah orang-orang berbobot lebih itu melakukan gerak olah jurus?
Setahu Penulis berdasarkan pengamatan untuk seorang Petinju tak masalah berbobot badan lebih karena kelasnya pasti masuk kelas berat. Daya pukulannya masih menghunjam keras mampu menggetarkan gelanggang dan menjatuhkan lawan hingga Knock Out.
Tapi akan sulit untuk orang bertubuh gemuk melakukan jurus yang banyak teknik lompatannya, apa lagi sampai bersalto nomor senam. Tapi orang-orang berbobot tubuh lebih ini juga tetap perlu berolah raga untuk kesehatan dan prestasi.
Yang dialami Penulis sekarang setelah mencapai usia 45 ke atas adalah kenaikan berat badan. Masih mampu menggenjot tubuh dengan latihan-latihan berat, tapi menyadari ada yang berubah di bagian perut. Di bagian ini timbul jaringan lemak yang menonjol ke depan, tak bisa menipu dari pandangan orang bahwa Penulis mengalami kegemukan.
Latihan-latihan olah raga Penulis sudah cukup memadai melatih bagian perut. Ada Sit Up, Push Up, dan Scot Jump. Kuda-kuda bangku untuk kekuatan paha, mengangkat tubuh saat selonjor, menggerak-gerakan kaki turun naik saat berebah dll. Ternyata latihan-latihan ini sudah tidak berhasil mengurangi jaringan lemak di perut, tubuh Penulis makin melar dan perut menonjol ke depan. Jadi yang dialami Penulis adalah alamiah, jaringan lemak terbentuk karena metabolisme tubuh makin menurun.
Membiarkan bagian perut berlemak tanpa aktifitas adalah keputusasaan. Tak bisa melawan kehendak alam, tetap bisa berolah raga jenis lain. Tetap memperhatikan bagian perut, melatih jaringan-jaringan lemak yang tumbuh sebagai metoda olah raga baru masih berlangsung hingga kini. Semoga Penulis bisa mendapat jurus latihan yang cocok untuk perut agar tetap sehat seumur hidup.
Salah satu gagasan Penulis untuk meraih prestasi olah raga bagi orang-orang yang berbobot tubuh lebih adalah Tarung Raga. Inilah hasil Karya Tulis Penulis semoga bisa dicerna para pembaca.
Penulis terinspirasi dari gulat Sumo. Gulat Sumo merupakan bagian tradisi Jepang yang tak disebarkan ke luar negeri. Siapapun Pegulat Sumo biarpun dari luar negeri mereka hanya boleh mengikuti turnamen yang diselenggarakan di dalam negeri Jepang. Sumo bagian dari ritual tradisi Sinto dan menjadi benteng terakhir brigade pasukan pengawal Kaisar.
Ada fakta menarik di hutan Kalimantan, setahu Penulis orang utan adalah primata yang hidup dari pohon ke pohon. Namun bila sudah tua kemampuannya menurun, orang utan yang sudah tua dan berbobot tubuh berlebih ini akan turun dari pohon dan hidup merayap di tanah.
Orang utan bisa menjadi prinsip gagasan TARUNG RAGA. Penulis belum pernah melihat orang utan bertarung, pernah bertemu di sebuah ruas jalan dorongan traktor pengangkut kayu. Sang orang utan begitu berjumpa dengan manusia segera bergerak naik dari perdu ke perdu hingga ke ketinggian yang aman dari jangkauan manusia yang memergokinya. Yang luar biasa adalah kemampuan tangan dan kaki orang utan tersebut, dari ketinggian dahan di tebing ia menggertak kami dengan mematahkan dahan yang sama besarnya dengan genggaman tangannya.
KRAK!
Langsung patah agar manusia yang memergokinya takut dan tak mengganggu dirinya di wilayah kekuasaannya.
Kehebatan lengan dan kaki orang utan sama kuatnya. Itu bisa disamakan dengan orang bertubuh gemuk, pasti menyimpan potensi di tangan dan kakinya terutama dalam pertarungan fisik sebagai senjata andalannya.
Prinsip utama Tarung Raga adalah adu fisik membenturkan tubuh ke tubuh lawan sampai terdapat seseorang terdorong atau terjatuh. Itulah yang disebut adu Raga, bobot tubuh sangat menentukan dan menjadi andalan setiap Petarungnya. Dari benturan antara tubuh yang masing-masing berbobot tubuh lebih ini sudah ketahuan kalah menangnya.
Benturan Raga bukan pada area kepala, area yang dibenturkan selanjutnya disebut Gebrakan adalah dada dan perut. Untuk pria bagian perut sangat menentukan, kalau untuk kaum hawa mungkin lebih beragam karena lemak lebih menyebar ke seluruh tubuh.
Barulah setelah satu Gebrakan terjadi tangan dan kaki saling menyerang. Area serangan adalah dari dada dan perut lawan. Area kepala harus bebas dari serangan untuk masing-masing mampu melancarkan taktik/ teknik untuk meraih kemenangan.
Teknik mencapai kemenangan sederhana, pertarungan lebih pada adu bobot tubuh sebagai penentuan poin yang diraih.
-Mendorong tubuh lawan      (SURUNG)      Poin 1
-Menjatuhkan lawan              (TIBA)             Poin 2
-Mengangkat tubuh lawan,     (BEKUK)         Poin 3
(Melumpuhkan serangan lawan)
Satu Gebrakan kemudian terjadi serangan tangan dan kaki ke tubuh (Raga) sudah bisa diketahui siapa pemenangnya.
Bila seorang Petarung berhasil mendorong lawan hingga keluar dari arena disebut SURUNG. Kemungkinan ini adalah teknik paling mudahnya bagi seorang Petarung mendapat poin. Begitu kaki lawan yang didorong keluar dari batas yang ditentukan sudah bisa disebut poin.
Bila seorang Petarung berhasil menjatuhkan lawan saat adu bobot tubuh baik itu masih dalam arena maupun jatuh di luar arena menjadi poin kemenangan. Poin TIBA lebih tinggi dari SURUNG yaitu 2.
Bila seorang Petarung berhasil mengangkat tubuh lawan, atau melumpuhkan serangan lawan dengan misalnya mengunci hingga lawan tak berkutik disebut BEKUK. Poinnya lebih tinggi lagi yaitu 3, keberhasilan membekuk lawan jelas lebih membutuhkan upaya berat. Terdiri dari strategi yang dipasang atau pergerakan tangan dan kaki untuk membuat tubuh lawan tak berkutik melakukan perlawanan.
Penulis cenderung menyebut pertarungan sebagai Gebrakan. Diperlukan tiga gebrakan untuk menjadi pemenang penuh. Satu gebrakan sudah terlihat poin apa yang didapat, misalnya SURUNG (1), TIBA (2), dan BEKUK (3).
Bila sudah tercapai gebrakan dengan berbagai nilai yang diperoleh paling tinggi menjadi pemenang. Bila terjadi dua gebrakan dengan hasil berbagi angka sama ditentukan gebrakan ketiga sebagai penentuan kalah menang.
Tiga gebrakan sudah cukup untuk menunjukan dominasi seorang Petarung terhadap lawannya, juga memuaskan penonton karena permainan memiliki unsur hiburan. Juga dengan tiga gebrakan seorang Petarung dituntut memasang strategi yang jitu untuk melakukan teknik mencapai poin tertinggi sebagai kemenangan.
Terjadi berbagai prediksi pertarungan.
Seorang Petarung mungkin menang mutlak tiga gebrakan berturut-turut dari teknik-teknik SURUNG, TIBA, dan BEKUK.
Seorang Petarung mungkin menang dua gebrakan dan satu kali kalah, asal dua gebrakan tersebut poinnya lebih tinggi dari satu gebrakan yang kalah dinyatakan sebagai pemenang. Bila lawan berhasil mendapat poin lebih tinggi dalam satu gebrakan maka diteruskan gebrakan keempat sebagai penentuan. Bila sampai pada gebrakan keempat malah terjadi Draw tambahi satu gebrakan kelima, tentu itu adalah pertarungan yang sangat seru dan memuaskan penonton.
Ingat pertarungan TARUNG RAGA ini lebih berunsur hiburan dan ketangkasan, jauh dari insiden cedera fisik. Satu gebrakan terjadi kedua Petarung dipersilahkan istirahat dan mempersiapkan diri kembali. Satu gebrakan sudah langsung ketahuan poin perolehan seorang Petarung. Barulah tiga gebrakan sebagai penentu kemenangan.
Sistem pertandingan bisa kompetisi maupun gugur. Bila sistem kompetisi yang dipilih maka akan terjadi pemeringkatan berdasarkan poin dan teknik yang berhasil diperagakan masing-masing Petarung. Sedangkan bila sistem gugur sudah mencukupi bila nantinya ada penentuan juara 1, 2, dan 3. Sedangkan Petarung yang kalah langsung berguguran tanpa hasil apapun.
Tarung Raga mungkin tidak masuk kategori bela diri Pencak Silat. Penulis membuat Karya Tulis ini dengan maksud memperkaya khasanah Tarung untuk mendapatkan prestasi. Lembaga Tarung Raga jelas sangat berbeda dengan Tarung Jurus versi I dan Tarung Jurus versi II yang bernaung di bendera lembaga bela diri Pencak Silat.
Jenis latihannya mungkin tak pernah menjadi Jurus, sama dengan Tarung Etang yang sangat sederhana. Perbedaan prinsip-prinsip tarung adalah dasar penulisan Karya Tulis ini. Seorang berbobot tubuh berat membutuhkan latihan tersendiri, bukan kelincahan gerak Petarung tapi justru kelenturan tubuh dan keluwesan bergerak. Bobot tubuh yang berat tak bisa diubah sampai langsing. Orang gemuk banyak diderita sebagian masyarakat karena keturunan, usia, kelainan hormon dll. Tapi tubuh tetap harus dilatih agar mencapai tingkat kesehatan maksimal.
Latihan utama seorang berbobot badan berat adalah kelenturan otot-otot di seluruh tubuh. Kelenturan menjadi modal bertarung, bukan membesarkan otot seperti Bina Raga. Tak perlu berlatih angkat beban atau dengan alat pembentuk tubuh. Dalam Tarung Raga saat membenturkan tubuh ke lawan penilaiannya lebih pada kelenturan dan keluwesan gerak.
Jika benturan terjadi sedemikian lentur dan luwes maka sifat kerasnya berkurang. Tercapailah harmoni indah masing-masing tubuh Petarung, itulah yang bisa disahkan Wasit, Juri, dan diketahui Penonton di sekeliling arena.
Mungkin sekali melatih kelenturan tubuh seorang yang gemuk badannya perlu dalam bentuk ketahanan stamina. Orang-orang gemuk tetap perlu mengeluarkan kelebihan kalorinya dengan jalan kaki jarak jauh. Untuk otot-otot tubuh supaya harmonis samakan saja dengan jenis Yoga, lebih penting mengalahkan tubuh sendiri agar bisa hidup selaras dengan alam.
Dalam soal jalan kaki jarak jauh Penulis mencontohkan diri sendiri. Saat jalan kaki imaginasi menjadi kuat sekali, apa-apa yang dibayangkan dan dipikirkan seolah-olah bisa menjadi kenyataan. Inilah yang didapat Penulis, semacam daya kreasi akibat pergerakan otot motorik.
Tarung-tarung yang dipaparkan Penulis adalah hasil pemikiran saat acara jalan-jalan ini. Dari satu hari, satu tahun menempel di otak Penulis, akhirnya dicoba tuangkan dalam sebuah Karya Tulis.
Jadi tidak penting bentuk tarung paparan Penulis ini nanti diterapkan atau tidak. Juga boleh dipraktekan orang lain dan diklaim sebagai ciptaannya, atau diplagiat siapapun….Penulis bisa memakluminya.
Lebih penting imaginasi Penulis dituangkan dalam bentuk tulisan, mungkin nanti direvisi terus menerus dengan berbagai tambahan dokumentasi, foto peragaan dll.
Aturan TARUNG RAGA
Diperlukan seorang Wasit sebagai pemandu tarung, dan penentu seorang Petarung mendapat poin saat terjadi gebrakan. Satu gebrakan pasti sudah diperoleh seorang pemenangnya. Jadi setelah dinyatakan poin perolehan seorang Petarung maka dilanjutkan kegebrakan selanjutnya setelah masing-masing diberi kesempatan menata kembali penampilannya.
Tiga orang Juri mencukupi untuk mengesahkan setiap poin yang didapat seorang Petarung. Satu Juri netral dan dua Juri dari masing-masing kubu Petarung. Juri cukup mencatat dan melihat bukti-bukti sahnya seorang Petarung mengalahkan lawannya. Misalnya seberapa kaki keluar dari arena karena dorongan, ingat faktor bobot tubuh sebagai alat penentu adalah titik berat sahnya sebuah poin.
Jadi bila ada seorang Petarung Raga terjatuh tanpa ada gebrakan tubuh lawan tubuh itu adalah kecelakaan bukan poin.
Jurilah yang nantinya akan mengumumkan peringkat seorang Petarung bila itu sistem kompetisi. Atau bila sistem gugur tinggal menentukan juara 1, 2, dan 3 pada setiap even kejuaraan.
 Karena masih karangan bebas maka tulisan ini bisa berubah-ubah sesuai selera Penulis. Bila dipraktekan di lapangan yang terjadi di arena itulah aturan baku yang sesungguhnya. Aturan-aturan dibuat satu persatu dengan berbagai kemungkinan yang terjadi di arena pertandingan dan kesepakatan antar Petarung serta Panitia pertandingan.
Syukurlah bila suatu waktu tulisan ini dianggap sebagai pemula sebuah bentuk Tarung yang menarik dan memenuhi kriteria kejuaraan yang berbobot tinggi. Penulis berlatih Pencak Silat sendirian, sebagai cara menghargai diri sendiri memutuskannya menulisnya dalam bentuk artikel. Mungkin pembaca suatu ketika membutuhkannya sebagai referensi atau pegangan untuk menambah semangat berlatih.
Ada gagasan Penulis, yaitu memberi penghargaan kepada orang-orang yang berlatih intensif dalam bela diri Pencak Silat biarpun hanya semacam surat bertanda tangan sebuah penyelenggara resmi bela diri.
Penghargaan itu diberikan setiap tahun, maka bila sepuluh tahun sudah terkumpul sampai 10 surat bertanda tangan, tentunya cukup membanggakan. Itulah hasil jerih payah, suka duka menghayati bela diri Pencak Silat.
Syukur bila kemudian menjadi Pelatih, Pencipta Jurus atau menjadi Guru Besar, Juara tingkat apapun baik itu kejuaraan daerah, nasional maupun internasional. Lumayan juga bila sampai divideokan atau sampai jadi artis film sebagai sebuah profesi.
1.      Faktanya Penulis berlatih Pencak Silat sendirian. Menghayatinya dalam berlatih bagian inti berupa Jurus. Untuk terus melatihnya supaya tetap fokus adalah dengan berimaginasi lawan tanding.
2.      Dari ide dua orang saling berhadapan akan muncul hubungan yang menghasilkan prinsip. Ini bukan saling berhadapan rebutan cewek, tapi berupa adu fisik menunjukan kemampuan dari apa yang dilatihnya sehari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
3.      Gagasan Tarung ini sebenarnya sangat sederhana. Penulis mendapatkannya dari imaginasi dua orang saling berhadapan itu saja, kemudian terjadilah beberapa interaksi diantara keduanya.
Interaksi dua orang saling berhadapan menjadi lawan tanding menghasilkan bentuk Tarung. Penulis menyesuaikan dengan bela diri Pencak Silat menelurkan gagasan Tarung secara terbatas yaitu TARUNG ETANG, TARUNG JURUS versi I, TARUNG JURUS versi II, dan terakhir TARUNG RAGA.
Untuk menciptakan gagasan Penulis belum bisa mempraktekannya, apa lagi mendemonstrasikan di depan publik sebagai bukti puncak prestasi Penulis. Karena itulah hingga saat ini Penulis masih berkutat mendokumentasikan ide-ide/ gagasan dalam lingkup bela diri Pencak Silat dalam bentuk tulisan berupa artikel.
Kesimpulan:
1.      Tarung ETANG adalah permainan berunsur bela diri, kedua Petarung saling menyerang untuk memperoleh poin kemenangan. Alat utamanya adalah kedua tangan menyerang dan menangkis dengan sasaran area kepala dan area kedua kaki lawan.
2.      Tarung JURUS versi I merupakan pertarungan di mana kedua Petarung harus menghasilkan teknik-teknik bela diri yang bila dirangkai akan menjadi JURUS.
3.      Tarung JURUS versi II merupakan Tarung turunan dari kandungan Jurus. Kedua Petarung saling menyerang mengandalkan kemampuan fisik dan tenaga. Hasilnya menjadi pemenang angka atau menang Knock Out. Pertarungan dibatasi tetap dalam kaidah bela diri Pencak Silat untuk membedakannya dengan tarung sejenis seperti Tinju.
4.      Tarung RAGA merupakan tarung yang dikhususkan untuk orang dengan bobot tubuh berlebih. Prinsipnya adalah saling menggebrak adu bobot tubuh sebagai pemenang. Setiap terjadi satu gebrakan sudah diperoleh teknik dan poinnya. Dicukupkan mencapai tiga gebrakan untuk mendapatkan bukti kemampuan seorang Petarung.
Tulisan ini masih boleh direvisi terus menerus. Bila Penulis disebut Pencipta TARUNG RAGA ini sudah sangat bersyukur, masuk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Jika ada tulisan sejenis atau praktek yang memiliki persamaan dalam artikel ini, itu adalah hak orang lain. Disarankan agar mengubah nama Tarung dan membedakan dengan kalimat-kalimat yang telah ditulis oleh Penulis.
Penulis menerima kritik, saran, masukan dalam bentuk apapun dari pembaca. Penulis menyadari tulisan ini sangat banyak kekurangan karena keterbatasan kemampuan Penulis.
Wasalam.
  

Karya Tulis Tarung Jurus versi II



            TARUNG JURUS versi II
                                                     (Sebuah Karya Tulis)
Pencak Silat adalah bidang bela diri yang merupakan kegeniusan lokal suku-suku di wilayah Nusantara. Penyebarannya tercatat hampir di seluruh Asia Tenggara. Dalam sejarahnya tidak secara tertulis, bukti-bukti seperti penafsiran di relief Candi Borobudur, naskah-naskah kuno lontar, dan babad masih merupakan teka-teki karena masih dugaan belaka.
Pencak Silat keberadaannya bisa disamakan dengan sastra Pantun Melayu, musik tradisi seperti Gamelan, Angklung, dan Kecapi Dayak. Dimungkinkan pernah menjadi bagian militer di beberapa kerajaan Melayu dan Jawa, memiliki riwayat tokoh dan perkembangan sendiri yang menonjol di beberapa daerah.
Bentuk Perguruan walaupun paling sederhananya membuktikan bahwa telah ada sistem pendidikan yang berunsur olah raga dan olah batin dalam bentuk bela diri tanpa campur tangan penguasa politik di masa lalu, dalam hal ini berupa kerajaan era Hindu Budha dan Islam.
Kondisi daerah sangat menentukan corak perkembangan Pencak Silat, sebelumnya nama-nama bela diri ini bermacam-macam. Pokolan Betawi, Mpa Sila (Bima), Sendeng (Bugis), Kunto (Kalimantan), Silek (Minangkabau) dll. Dalam perkembangannya menjadi pertunjukan seni diiringi musik tradisi sebagai turunannya.
Yang menguatkan Pencak Silat sebagai bela diri asli Nusantara (Indonesia) adalah berdiri sendiri. Biarpun mungkin ada pengaruh dari Tiongkok dan India tetapi tidak berkiblat ke negara yang peradabannya lebih maju tersebut. Bela diri-bela diri lain seperti Karate, Kempo, Yudo dari Jepang, Tae Kwon Do dari Korea, Wushu, Kung Fu dari China memiliki sumber dan jejak dari Tiongkok yaitu Biara Shao Lin.
Berdasarkan latihan yang pernah dilalui Penulis bisa diketahui jejak asal-usul bangunan pondasi bela diri Pencak Silat. Perguruan lain tentu akan memiliki struktur yang berbeda dan memperkaya khasanah budaya ini. Penulis pernah melatih beberapa Jurus kembangan,
-Cimande
-Cikalong
-Shan Thung (Pengaruh Tiongkok?)
Dari tiga nama jurus kembangan ini saja sudah ketahuan Pencak Silat merupakan akulturasi beberapa bela diri daerah dan pengaruh asing terutama Tiongkok kuno. Silahkan membahas sendiri-sendiri dari perguruan asal masing-masing.
Penulis tidak berpanjang lebar urusan pembahasan Pencak Silat, apa yang diterangkan di atas hanya pembuka dari kegemaran Penulis berimaginasi tentang bela diri ini. Penulis sebagai penghayatnya mencoba menambah bentuk Tarung yang hanya berupa turunan dari pertandingan yang sudah diakui resmi baik tingkat Nasional maupun kejuaraan Dunia.
Artikel ini sudah disinggung sedikit di blog berjudul Tarung Jurus versi I. Sumber-sumbernya tetap dari kandungan jurus Pencak Silat yang berkembang dan tumbuh subur di seluruh Nusantara.
Banyak perguruan Pencak Silat menyatakan sejatinya Silat adalah bela diri untuk membunuh lawan. Bentuk jurus untuk membunuh lawan menjadi ajaran rahasia yang hanya diwariskan turun temurun dari seorang guru kepada murid pilihannya.
Paragraf di atas inilah yang menjadi dasar Penulis membuat gagasan Tarung Jurus versi II.
TARUNG JURUS versi II
Di perguruan Pencak Silat Penulis bernaung diajarkan juga beberapa teknik menyerang yang bertujuan melumpuhkan lawan. Bila dipraktekan sekali terkena serangan teknik ini lawan akan langsung terluka atau terbunuh karena yang diincar bagian tubuh manusia yang lemah. Pada ajarannya membolehkan menyerang area kepala dan bagian-bagian tubuh sensitif untuk secepatnya mengalahkan lawan.
Ajaran tersebut sering tak sadar dilakukan siswa perguruan tempat Penulis bernaung. Tentu saja di pertandingan resmi tidak boleh dipraktekan, akibatnya siswa perguruan Penulis bernaung menjadi gagal, Petarung tersebut banyak melakukan pelanggaran yang mengakibatkan teguran dan diskualifikasi.
Mungkin di masa silam ajaran ini adalah wajar saja, siapapun yang berlatih Pencak Silat pasti diajarkan dan dilatih membunuh lawan. Banyak kisah legenda menunjukannya misalnya adat carok di Madura, penggunaan keris di Jawa masa silam pasti adalah menikam sampai mati sasarannya. Pokoknya apapun keadaannya bila sudah adu tanding maka resiko mati itu sudah biasa.
Ajaran itu ada tapi bukan konsumsi publik. Di Kalimantan ada tradisi Kayau, kemudian karena menjadi sumber pertikaian dan kecurigaan antar mereka sendiri akhirnya terjadi perundingan antar suku Dayak di Tumbang Anoi untuk mengakhiri permusuhan antar kampung dengan kesepakatan memusnahkan tradisi Kayau ini.
Kayau menjadi sisa trauma setiap warga kampung Dayak, menjadi kisah turun temurun sesama mereka. Seorang pendatang yang mencurigakan kehadirannya bisa dituduh pelaku tradisi ini. Biarpun telah ada kesepakatan di Tumbang Anoi yang dihadiri pejabat Hindia Belanda untuk mengakhiri permusuhan dan pertikaian, ternyata tetap terbukti saat kerusuhan etnis Dayak dan Madura  baik itu di Sambas maupun di Sampit tahun 2001.
Tertulis di Diary Penulis,
27 Maret 2001
Habis sholat Isya langsung masuk ke dalam kelambu lagi. Masuk kegiatan di Perapihan ini sudah tak lancar lagi seperti dulu. Akibat kerusuhan di Palangkaraya mencari barang logistik sangat kurang. Jadi tak heran tgl 27 ini beberapa jenis barang sudah habis. Pekerjaan terhambat…..dll.
                                                                                                Aldi Camp Tarik, TRI II
Kemudian,
27 April 2001
Sebulan di Camp saja. Tak ada kegiatan. Pokoknya inilah hari-hari dengan banyak menganggur. Keadaan Perusahaan sedang dalam ketidakpastian…..dst.
Ini memori Penulis yang tertuang dalam Diary sebagai kenang-kenangan saat merantau di Kalimantan. Kaitannya adalah peristiwa kerusuhan antar etnis Dayak versus Madura, banyak korban di kedua belah pihak. Muncul kembali pembantaian manusia dengan bentuk Kayau, sangat mengerikan!!!!
Alasan Penulis menyusun Tarung ini adalah pengalaman saat masih bernaung di perguruan. Penulis menyaksikan pertandingan tingkat kabupaten antar perguruan Pencak Silat di Purwokerto tahun 80 an.
Salah satu peserta telah memeragakan pertarungan keras, sedemikian kerasnya hingga suasana arena pertarungan sangat mencekam. Pertarungan menjadi sangat menegangkan karena keganasan Petarung ini. Penulis tak menyebutkannya karena hanya memori saat masih bersekolah di SMP, tujuannya menjadi fakta untuk menguatkan Karya Tulis ini.
Hari pertama Petarung ini berhadapan dengan Petarung perguruan lain, sudah terlihat kerasnya pertarungan. Lawannya terpancing ikut melakukan gaya tarung keras lawan keras ini. Yang terjadi adalah begitu ronde berbunyi langsung terjadi gebrakan dengan serangan pukulan dan tendangan hampir tak terkendali, boleh dikata keduanya membabi buta saling menyerang.
Rupanya itu kesengajaan juga dari pelatihnya, Petarung ini sudah disiapkan bertarung sangat keras, melabrak lawan sekuat-kuatnya toh saat itu tak ada aturan ketat sistem Tarung Pencak Silat. Jangan heran saat masa remaja Penulis bangga akan bela diri ini karena kelengkapannya, seorang penghayat Pencak Silat pukulannya boleh seperti Tinju, kerasnya seperti Karate, tendangannya seakurat Tae Kwon Do tapi juga boleh seluwes bantingan Yudo dll.
Makanya di arena Tarung Pencak Silat bisa terjadi berbagai jenis tarung, nah untuk Karya Tulis ini dicontohkan Petarung gaya keras bahkan cenderung brutal yang pernah disaksikan Penulis. Karena saling labrak bahkan sampai menerkam pun tak peduli, terjadilah insiden robohnya lawan hingga sampai pingsan. Langsung Petarung ini dinyatakan sebagai pemenang, hal tersebut hari pertama sampai terjadi dua kali terhadap petarung berlainan perguruan.
Menarik tapi juga sangat tragis karena masih longgarnya aturan Tarung Pencak Silat saat itu. Nah hari kedua Petarung yang telah berhasil merobohkan dua orang lawannya sampai pingsan maju menghadapi Petarung lain perguruan lain dalam babak selanjutnya. Anggap saja hari pertama adalah babak perdelapan final, kemudian babak perempat final berdasarkan sistem gugur.
Berarti hari kedua ini adalah babak semi final. Dua orang Petarung saling berhadapan, lawan sudah tahu keadaan hari pertama di mana Petarung ini sudah berhasil menjatuhkan lawan sampai dua kali dengan insiden Knock Out bahkan sampai digotong keluar arena karena pingsan. Tapi tak mungkin menghindar, maka lawannya ini juga tak mau kalah gertak, langsung menyerang ganas tak peduli aturan, untung memang setahu Penulis Petarung ini tak melanggar misalnya menyerang area kepala atau kemaluan. Jadi kemenangannya sampai dua kali Knock Out itu murni tanpa pelanggaran.
Saat pertarungan terjadi demikian keras tiba-tiba Petarung yang di hari pertama berhasil meng KO dua kali itu terjatuh dan bahkan pingsan. Gemparlah seisi arena pertandingan, semua tak mengira bila Petarung yang sudah berhasil menang sangat spektakuler ini sekarang terbalas KO sampai pingsan. Wasit pemandu pertarungan sendiri sampai bertanya pada Petarung yang berhasil menjatuhkan Petarung lawannya ini di mana kenanya sampai pingsan. Sayang Petarung lawannya juga tak mengetahui pasti karena pertarungan yang terjadi sangat keras membabi buta. Maka pingsannya Petarung ini justru menjadi misteri di ajang pertandingan kejuaraan tingkat Kabupaten ini.
Demikian apa yang disaksikan Penulis.
Kemenangan KO tetap diberlakukan, dan rata-rata Petarung mencari menang dari insiden KO ini, mungkin terasa lebih sempurna bila berhasil menjatuhkan lawan hingga tak berdaya. Kondisi inilah yang membuat Penulis menyuguhkan Karya Tulis TARUNG JURUS versi II, yaitu untuk mengakomodasi Petarung yang memang berlatih untuk menguatkan kerasnya serangan tangan dan kaki. Sederhananya serangan itu berupa pukulan dan tendangan serta memanfaatkan bagian tubuh lawan agar secepatnya roboh.
Petarung yang mengandalkan fisik dan kerasnya serangan tangan dan kaki menyerang bagian tubuh yang lemah adalah ada. Bela diri adalah naluri manusia, seseorang bila memiliki lawan maka dalam imaginasinya mampu memperlakukan lawan dengan sadis, mengalahkannya dengan taktik hingga tak berdaya.
Tapi dalam kenyataannya hal tersebut sulit terjadi, lawan apa lagi yang sudah dianggap musuh adalah makhluk yang sulit didikte, selalu disegani, dan tidak mudah dikalahkan dengan cara apapun, bahkan bisa jadi musuh tersebut memang memiliki kemampuan yang lebih baik dalam segala hal.
Pertandingan adalah satu-satunya jalan mengadu strategi dan saling mengalahkan secara legal, dalam jenis tarung ini boleh sampai Knock Out walaupun dibatasi. Dengan demikian terciptalah tarung ini dengan nama sesuai minat Penulis TARUNG JURUS versi II.
Peraturan TARUNG JURUS versi II
Petarung menjadi pemenang bila berhasil memperoleh angka yang diperselisihkan. Siapa yang mengumpulkan nilai terbanyak dinyatakan menang angka. Bila tercapai insiden Knock Out segala nilai yang didapat Petarung bisa diabaikan.
Ada kemungkinan diperoleh nilai sama, pertarungan dinyatakan Draw. Juaranya tetap diberikan kepada pemenang bertahan bila terjadi jumlah angka perolehan yang sama. Dalam hal ini Juri sangat menentukan penilaian karena pukulan dan tendangan yang masuk bisa dinilai berbeda-beda tergantung subyektifitasnya.
Tarung jurus versi II memakai sistem gugur, itu karena dalam pertarungaan bila terjadi insiden Knock Out maka yang kalah kemungkinan tidak mampu melanjutkan pertarungan dikarenakan cedera. Tarung ini lebih menekankan hasil serangan tangan dan kaki berupa pukulan dan tendangan, tangkisan tak diperlukan karena tujuannya memang menaklukan lawan dengan serangan keras dan bertenaga.
Insiden benturan sering tak terelakan dalam tarung ini, karenanya Wasit segera melerai kedua Petarung dengan memberi jarak agar teknik pukulan dan tendangan bisa diperagakan maksimal. Naluri bela diri yang paling mudahnya adalah memukul dan menendang, ini prinsip dari TARUNG JURUS versi II.
Sasaran serangan di tubuh lawan mulai dari kepala, badan sampai perut. Pukulan dan tendangan bisa diarahkan pada sasaran-sasaran tersebut untuk mendapatkan nilai atau melumpuhkan lawan hingga Knock Out. Berkebalikan dengan TARUNG JURUS versi I tarung ini tidak mengincar kuda-kuda atau tangan dan kaki untuk dikunci.
Area terlarang diserang adalah bagian belakang kepala dan kemaluan. Bila sampai terkena bisa dinyatakan pelanggaran. Petarung yang melakukannya sengaja atau tidak disengaja mendapat teguran dan bisa didiskualifikasi.  Tarung ini sudah sangat beresiko besar cedera sehingga keselamatan Petarung sangat diutamakan. Begitu terjadi serangan mengenai kepala misalnya segera dihentikan untuk mendapat kejelasan masih bisa atau tidaknya Petarung yang terkena melanjutkan pertarungan.
Karena pertarungan bisa hanya mencapai menang kalah untuk satu even maka untuk tingkat amatir bisa dengan sistem gugur. Bisa juga dengan kesepakatan antar kubu Petarung untuk mendapatkan pemenang misalnya dengan bayaran tampil. Mungkin bisa disebut profesional tapi Penulis belum bisa membahasnya karena belum dipraktekan nyata.
Lembaga kejuaraan TARUNG JURUS versi II bisa seperti lembaga Tinju Pro, jadi bisa menjadi perebutan gelar dengan jadwal tarung yang sudah tertentu. Paling aturan Tarung harus menyesuaikan sebagai bagian Jurus Pencak Silat. Jadi asal perguruan, aliran, daerah asal Petarung, nama-nama teknik yang diperagakan sesuai pakem Pencak Silat berupa tapak, teknik pukulan dan tendangan, menjaga jarak dll.
Diperlukan satu orang Wasit dan Tiga Juri sebagai penentu kemenangan seorang Petarung. Bila tidak terjadi insiden KO maka diperhitungkan nilai masuk serangan berdasarkan obyektifitas Tiga Juri sebagai patokan. Satu Juri netral dan Dua Juri dari kubu masing-masing Petarung.
Jika terjadi Draw maka pemenang bertahan berhak menerima kembali gelarnya. Gelar juara diberlakukan berdasarkan lembaga penyelenggara. Prinsip hiburan dikedepankan, ingat Pencak Silat sudah berkembang mencapai Olah Raga, Seni, dan Budaya. Jadi penonton bukan hanya dijejali perkelahian tapi juga mendapatkan kepuasan batin karena telah menyaksikan pertarungan yang menarik dan memikat.  Nilai seorang Petarung dipertaruhkan bukan hanya karena bisa menghancurkan lawan tapi juga dituntut menampilkan sebuah pertunjukan bermutu ketrampilan bela diri.
Simulasi Tarung
Dua orang Petarung bersabuk merah dan biru saling berhadapan. Pelindung badan tak diperlukan karena area serangan cukup bebas. Area kepala, leher, dada sampai perut boleh dijadikan sasaran serangan. Area terlarang adalah belakang kepala dan kemaluan, jika terkena merupakan pelanggaran berat. Siapapun Petarung yang melakukannya langsung digugurkan dalam kejuaraan even apapun.
Mungkin area kepala perlu dilindungi dengan semacam helm, begitu juga dengan tangan dan kaki sebagai alat serang, perlu dilindungi dengan sarung tinju dan sepatu khusus. Dalam Tarung Jurus versi II ini kemungkinan paling dominan adalah melepaskan serangan dalam bentuk pukulan dan tendangan.
Wasit memandu pertarungan, memisahkan dua Petarung bila saling berpelukan, menjaga jarak antar Petarung agar masing-masing bisa maksimal melakukan serangan, menghentikan pertarungan bila kemungkinan terjadi Knock Out, dan melindungi Petarung dari kemungkinan cedera berat dll.
Untuk serangan tangan dan kaki yang masuk pada kedua Petarung dinilai oleh tiga Juri pertandingan. Karena melepaskan tendangan lebih sulit maka nilainya adalah Dua bila berhasil masuk ke sasaran tubuh lawan. Menang angka, Draw bisa tetap dinyatakan siapa yang berhak sebagai juaranya. Dari ronde ke ronde sudah bisa dilihat siapa yang paling banyak menyarangkan serangan. Kecuali seorang Petarung berhasil menyerang lawan sampai KO, maka Petarung tersebut diutamakan sebagai juaranya. Knock Out berarti kalah teknik atau lumpuh tak berdaya tak mampu melanjutkan pertarunga.
Pertarungan yang tersaji menarik bisa mendapat kategori tersendiri. Tarung ini merupakan turunan dari pertarungan resmi kejuaraan Pencak Silat jadi kriterianya tinggal mengikuti kejuaraan yang sudah ada.
Keputusan Juri mutlak, Menang angka, Draw, atau Knock Out dinyatakan langsung setelah tiga Juri mengesahkannya. Wasit tinggal mengikuti keputusan Juri dengan mengangkat tangan seorang Petarung sebagai pemenangnya.
Kejuaraan Tarung Jurus versi II ini bisa terselenggara amatir maupun profesional. Segi komersialnya bisa dilegalkan, ini berbeda dengan Tarung Jurus versi I yang begitu ketat aturannya, hanya terselenggara dalam even semacam kompetisi, atau turnamen.
Kejuaraan Tarung Jurus versi II berlangsung dengan sistem gugur atau bila terselenggara bisa juga antara dua Petarung yang diatur dengan kesepakatan. Menang kalah ditentukan oleh penyelenggara yang berhak memberikan gelar juara dan mempertahankannya dengan terus bergulir pada peringkat-peringkat Petarungnya.
Yang penting aturan tarungnya tetap memakai akidah bela diri Pencak Silat.
Tulisan ini hanya karangan belaka, bila dipraktekan akan banyak sekali ketahuan kekuarangannya. Penulis berpedoman hasil karangan ini sebagai ciptaan dalam lingkup bela diri Pencak Silat. Semuanya bersumber dari Jurus, jadi Tarung Jurus versi II ini hanya turunan dari kejuaraan resmi Pencak Silat.
Penulis menyamakan saja dengan bela diri Tarung Derajat, nah tarung ini adalah ciptaan dari seorang petarung jalanan Bapak Ahmad Derajat. Penulis tahu tak mungkin melampaui kemampuan beliau, semoga sumbangsih tulisan ini bisa diterima untuk kemajuan bela diri Pencak Silat yang kita cintai ini.
Penulis terinspirasi dari model tarung di awal tulisan yang pernah disaksikan saat kejuaraan tingka kabupaten. Seorang Petarung yang mengandalkan fisik, serangan tangan dan kaki yang keras, mengincar tubuh lawan untuk menang dengan capaian melumpuhkan lawan sampai Knock Out.
Kenyataannya Petarung-petarung tipe seperti ini faktanya ada bahkan cukup banyak jumlahnya, jadi untuk kejuaraannya diperlukan even Tarung tersendiri. Tarung Jurus versi II inilah yang mengakomodasi jenis Petarung tipe pertama ini seperti tulisan yang dikarang Penulis berjudul Tarung Jurus versi I.
Tulisan ini hanya berupa Karya Tulis, masih sangat banyak kekurangannya. Penulis berkomitmen mengembangkannya dalam tambahan artikel, dokumentasi, dan bentuk-bentuk kejuaraan yang mendekati susunan Karya Tulis ini.
Tak lupa Penulis menyatakan berani menyusun tulisan ini sebagai artikel yang dipublikasikan karena memang berlatih JURUS, itu adalah bagian kecil hidup Penulis sehari-hari. Jadi penjabarannya biarpun hanya imaginasi berkembang terus. Penulis mengakui keterbatasan usia, mau diapakan lagi hasil latihan bela diri Pencak Silat bila tak dipraktekan? Makanya bisa menjadi Karya Tulis ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.
Tulisan ini boleh dikritik, ditambah, diperbaiki orang lain. Syukur bila ada yang mencoba mempraktekannya kemudian menjadikannya sebagai uji banding imaginasi Penulis. Artikel ini adalah Hak Kekayaan Intelektual milik Penulis, itu saja.
Matur nuwun.