Friday, August 30, 2019

Novel Pergerakan yang Senyap



BAB 1
     Apa yang terjadi?
Sebuah pernyataan muncul di dada Bowo. Bulan Juli 2017 di pagi yang dingin menggigit dan kekeringan yang sedang melanda kawasan Yogya selatan. Bowo membuka kios stempelnya dan dari seberang jalan mendapat sapaan senyum manis seorang perempuan istri tetangganya.
Mendung berkabut terkadang jatuh gerimis tak sampai membasahai aspal jalan yang terus berdebu sepanjang hari. Sebuah keramaian etalase Yogya, Malioboro ah itu dekat saja dari tempat usahanya, sudah bukan hal yang mengherankan. Selalu menjadi jujugan wisatawan karena membuat penasaran pelancong. Bowo tenang-tenang saja, tujuannya merantau bukan untuk menghambur-hamburkan uang.
Sebaliknya berbagai kejadian secara pribadi menimpanya dirasa unik, sebuah konflik mewarnai hidupnya selama beberapa tahun ini. Bagi Bowo pribadi itu sangat menyita waktunya, bahkan sampai memerah tenaga dan pikiran untuk suatu bentuk penyelesaiannya.
Bowo sendirian, di lain pihak?
Sekarang Bowo tahu ia telah sekian tahun dikeroyok seluruh anggota keluarga di dekat tempat tinggalnya. Itu berarti di pihak keluarga tersebut Bowo adalah rival berat, lawan yang tak mudah dikalahkan bahkan dengan berbagai jebakan maut yang dipasang bertahun-tahun.
Satu kesimpulan telah didapatnya, kemungkinan dari orang-orang yang telah menyerangnya adalah psikopat. Bukti-bukti telah dikumpulkannya sekarang tinggal menerapkan cara mengantisipasinya. Bowo bukan psikiater, ia hanya mendapatkan gejala kejiwaan orang-orang yang mempermasalahkannya dari mesin pencari google. Datanya melimpah tapi sulit menjadi pegangan dalam praktek kehidupan sehari-hari.
Ada banyak perhitungan saat menghadapi individu, perasaan sangat bermain. Segala tuduhan subyektif akan luruh dengan sendirinya karena interaksi sosial di masyarakat. Jadi mesin google itu bukan patokan yang utama, tetap hati nurani kita yang menjadi acuan pembenaran sebuah tuduhan.
Apalagi peristiwa-peristiwa terus bergulir, bulan Juli ini adalah catatan puncak dari fenomena yang dialami Bowo. Ialah munculnya perempuan Ani yang menjadi pokok dan inti permasalahan konflik dengan keluarga besarnya. Bowo berhadapan dengan seluruh anggota keluarga besar Bapak Jonan dengan segala intrik-intriknya.
Perempuan Ani, namanya masih mendebarkan dada Bowo. Perasaan yang selalu dipertentangkan batinnya, pernah terjalin atau tepatnya salah tafsir telah terjadi. Anggap saja Bowo yang tergila-gila pada Ani, selalu mengejarnya hingga bertahun-tahun kemudian tercampak dengan sendirinya karena Ani menikah dengan lelaki lain.
Benarkah itu berarti Bowo berada di pihak yang kalah?
Iyalah.....
Gelagatnya saja yang berliku-liku bahkan dahsyat untuk kejiwaan Bowo. Mungkin seumur hidupnya inilah fenomena aneh yang dialaminya terhadap seorang perempuan. Untuk menerima kenyataan bahwa Ani sudah menjadi milik orang lain ternyata membutuhkan waktu panjang. Bukan dari pihaknya saja bahkan untuk keluarga besar Bapak Jonan sendiri masih begitu rentan. Bowo yang sering merasa bersalah sebab ia telah andil begitu besar terhadap akibat-akibat yang ada terhadap Ani, mungkin itu tragedi.
Ani muncul, di mana suaminya berada?
Tak ada yang menjawab, gelagat pergerakan yang terlihat tetap sama dari tahun ke tahun, inilah aksi-aksi sepihak keluarga Bapak Jonan. Berulang-ulang, menetap dengan bentuk skenario drama, manuver-manuver jebakannya hanya akan membahayakan posisi Bowo di mata masyarakat sekitar. Juga tanpa tujuan yang jelas, tidak ada kalah menang, benar salah, baik buruk dan yang jelas sudah melanggar pidana walaupun tak tersentuh aparat hukum.
Hanya kronologinya selalu dicatat Bowo menjadi serangkaian kejadian menarik. Sulit membahasnya dari sudut-sudut ilmiah, terjadi begitu wajarnya sampai masyarakat sekitar tidak tahu menahu bahwa telah terjadi konflik diantara tetangga dekatnya. Bowo sendiri membahasnya secara subyektif, yang dijabarkannya ini adalah sudut pandang hidupnya terhadap fenomena kejadian yang terus dialaminya entah sampai kapan.
Perempuan Ani, Oktober 2015 menikah dengan seorang pemuda dari Bali. Kabarnya seorang mahasiswa S2 dari keluarga pegawai negeri sipil. Saat itu keadaan sangat mendesak karena perempuannya hamil duluan. Ah itu kasus biasa saja di masyarakat, buktinya tak ada warga sekitar yang menyindir kondisi kedua mempelai karena menjadi tanggung jawab keduanya, resmilah suami istri ini sah.
Mungkin hanya satu pihak saja yang terganggu oleh pernikahan Ani, ialah Bowo yang langsung terjungkal sakit hati. Harapannya untuk bisa menyunting gadis pujaannya kandas, jungkir balik sampai remuk redam, patah hati seperti cacing menggelepar karena kena panas matahari. Putuslah segala harapannya selama ini, sekali lagi ini hanya di pihak perorangan, Bowo.
Fuiihh Bowo itu apanya Ani?
Bowo menyatakan Ani memang kekasih hatinya, hanya sampai posisi itu. Soalnya ia tak pernah terhubung langsung dengan anak perawan keluarga terhormat tersebut. Bahkan dengan menikahnya Ani selesailah sudah permasalahan yang membelitnya selama ini. Pokoknya tak ada istilah pacaran diantara mereka berdua, kisahnya bukan drama romantis.
Sayang konflik masih bergulir, mungkin pihak keluarga bapak Jonan masih belum terima atas kesalahan perbuatan Bowo terhadap mereka yang tentu subyektif sekali. Bowo tetap diseret dalam pusaran masalah keluarga tersebut, maka terjadilah berbagai bentrokan diantara pihak-pihak yang bertikai.
Beberapa tindakan dari anggota keluarga bapak Jonan sudah mengarah pada tindak kekerasan. Sulit bagi Bowo memastikan sebagai kebenaran, apalagi kemudian Bowo tahu telah tidak disengaja melibatkan pihak lain yaitu Adi yang ternyata tetangga lain gang di kampung sehingga menambah kesulitan di pihaknya.
Bagi Bowo sungguh sulit untuk meneruskan, “tingkat kesalahannya sangat besar sudah tidak bisa ditoleransi!”
Makanya tahun 2017 ini Bowo pasif, membuat sikap tak melayani lagi apapun tindakan dan pergerakan anggota keluarga Bapak Jonan. Bahkan dianggapnya berakhir seiring lenyapnya Ani yang konon mengikuti suaminya di Bali.
Bulan Juli 2017 inilah perempuan Ani muncul, Bowo pun mewaspadainya kembali....
Dari sejak awal 2017 tetap ada pergerakan anggota keluarga Bapak Jonan memancing masalah terhadap Bowo. Setiap bulan ada nomor masuk HP nya kemudian diiringi dengan aksi-aksi manuver keluarga tersebut di depan kios usahanya di eks kampus Stiekers.
Ada kesan masalah sengaja dibuat rumit agar Bowo terus berusaha memecahkannya dengan berbagai bentuk semacam uji coba. Itu karena keluarga ini adalah berlatar belakang pengajar. Bapak Jonan dan ibunya adalah seorang guru, ustad dan tokoh masyarakat untuk lingkungan sekitarnya. Makanya itu semacam hak mereka menguji mental Bowo yang diaduk-aduk sampai dasarnya hingga mengacaukan kegiatan kesehariannya.
Pertengahan Juli 2017,
Bowo baru datang dari tempatnya menyeting desain klise stempel. Sudah siang tinggal menanti kedatangan pemesan untuk pengambilannya. Duduk di belakang etalase kios kaki lima, di sinilah keluarga Bapak Jonan selalu mengincar dirinya dalam berbagai aksi manuver dalam bentuk skenario dramatis.
Lalu lintas jalan Parangtritis ramai kendaraan, merupakan jalur cepat menuju dalam dan luar kota. Riwayat eks kampus Stiekers sudah tamat, tanah seluas lima hektar itu tak lebih dari taman parkir bus-bus pariwisata yang sepi, jarang disinggahi bus wisata karena berfungsi sebagai cadangan belaka.
Dari mulut gang yang sempit muncul sepeda motor Mio. Bowo segera mengetahuinya dikendarai Jodi anak ganteng Bapak Jonan. Itu sudah biasa, ah tidak kakak Ani selalu muncul dengan aksi yang memiliki makna tertentu sudah sejak bergulir masalah dari tahun 2009.
Kali ini istimewa, siapa lagi kalau bukan perempuan yang diboncengkannya. Itu Ani yang bersembunyi menghindari bentrok mata dengan Bowo tetapi memperlihatkan segala profil identitas dirinya untuk ditujukan pada lelaki yang sudah bermasalah sejak lama.
Semuanya aksi sepihak.....
Cukup sulit menyeberang jalan ramai, Bowo leluasa memandang aksi kakak beradik tersebut. Jelas tujuannya, perlahan menyeberang melintasi depan kios Bowo. Ani sempat melirik tajam Bowo yang duduk membelakangi etalase kios berisi peralatan stempel. Segera ada sensasi terasa bagi lelaki yang sampai hampir setengah abad ini membujang. Dilirik perempuan cantik siapa yang tak geer?
Apalagi semua pergerakan yang berada di depannya memang ditujukan kepada dirinya. Semuanya merupakan kelanjutan masalah yang lama bergulir, seharusnya sudah selesai tapi....
Ini yang membuat Bowo gregetan, sebab sesungguhnya selama tahun 2017 ini ia telah mencoba menghindari segala potensi benturan antara dirinya dengan anggota keluarga Bapak Jonan.
Itu karena atas saran dari Bapak ketua RT tempat Bowo mengontrak. Jadi bukan hanya dirinya saja yang pernah mendapat kasus serupa dari pihak keluarga Bapak Jonan. Beberapa tetangganya juga tahu keras kepalanya watak anggota keluarga tersebut.
Sedangkan Ani sampai saat ini perempuan tersebut adalah istri dari seorang lelaki yang telah menikahinya karena berhasil merenggut keperawanannya sekaligus menanamkan benih di rahimnya.
“Bila saja Ani memiliki kesibukan mengurus rumah tangga dan anaknya mungkin kasus sudah selesai, aku bebas dari cengkeraman ancaman keluarga Bapak Jonan walaupun tersingkir sebagai pihak yang kalah,” Bowo berujar sendiri.
Kasus bergulir liar, Ani keguguran. Bowo pun dikeroyok kembali dengan kasus-kasus lama, itu terjadi tahun 2016. Baru berakhir dengan desas-desus Ani mengikuti suaminya yang meneruskan studi S2 ke luar negeri, Inggris.
Bowo tak begitu saja mempercayai kabar tersebut. Kemampuan keluarga Bapak Jonan dan keluarga menantunya tak mencapai setinggi itu. Sekarang inilah buktinya, kakak beradik dengan Ani sebagai inti masalah telah melintas. Manuver sepihak terjadi sebagai berlanjutnya masalah lama.
Di mana suami Ani?
Pertanyaan itu selalu datang pada diri Bowo tanpa pernah ada jawaban. Lebih baik juga selamanya Bowo tak tahu apa-apa tentang orang-orang yang mempermasalahkannya ini. Bowo dalam keadaan hidup paling minuspun sekarang tetap bisa melanjutkan kegiatan sehari-harinya. Itulah dasar kenapa Bowo tetap bertahan hidup di Yogya.
Oh melintasnya Jodi dan Ani sebenarnya sudah didahului pemantauan Udin beberapa jam yang lalu. Jadi antara satu aksi dengan aksi lain saling berkaitan, selalu ada kelanjutannya.
Tapi bagi Bowo semua itu sudah tidak penting. Aksi-aksi sepihak keluarga Bapak Jonan sudah menetap bertahun-tahun, tiddak ada yang baru dan hanya pengulangan masalah. Sebenarnya keluarga ini tak mendapatkan tujuan terbaik dalam hidupnya, selalu berujung kekecewaan.
Kegagalan dalam semua bidang, Bowo tak perlu menyebutkannya.
Buktinya setahun saja, tak ada perubahan signifikan semua anggota keluarga tersebut. Misalnya dari segi fisik bangunan rumah maupun reputasi di masyarakat sekitar. Semua itu menjadi rahasia yang ditutup-tutupi dengan berbagai cara. Paling mudahnya adalah dengan berdusta dari fakta yang ada.
Penilaian Bowo yang paling mudahnya, “Pada punya pekerjaan apa sih kok sempat-sempatnya punya waktu mengeroyok diriku bertahun-tahun?”
He He He Bowo yang pekerjaannya bentuk wiraswasta PKL saja sudah mati-matian mempertahankannya. Ia sampai rela kehilangan pacar dan sampai sakit hati karena diputus Ani begitu saja. Semuanya agar kegiatannya lancar dan perutnya tidak mengamuk kelaparan.
Esoknya Bowo melihat sesuatu di kamar kontrakannya. Sekeping pecahan kaca jendela belakang kamar kontrakannya tergeletak di lantai. Sesuatu telah terjadi tapi tidak mengejutkannya. Maunya pihak di sana membuat teror yang membangkitkan ketegangan jiwa Bowo naik tinggi, semacam kepanikan karena memiliki masalah yang berbelit terus menerus.
Bowo menimang-nimang pecahan kaca yang tergeletak di lantai, hanya satu keping tidak ada yang terhambur berserakan. Diperhatikannya sekitar lantai kalau-kalau ada benda keras lain, nihil. Berarti telah ada seorang melemparkan benda keras hingga memecahkan kaca jendela tapi benda keras tersebut tak masuk ke dalam kamar, mungkin terpental keluar dengan sendirinya.
Oalah nasib nasib....
Kaca jendela kok jadi sasaran kemarahan. Bowo cuma meleletkan lidahnya saat melihat sisa kaca yang masih terpasang di kisi jendela. Lobang pecahannya makin melebar karena ini sudah peristiwa yang kedua kalinya dilempar benda keras. Yang pertama akhir 2014, bukti-buktinya disimpan Bowo rapih. Berupa kepingan kaca dan benda keras berupa bekas kran air minum dari logam. Sekarang ada lagi, tapi Bowo sebal hingga membuangnya saja masuk tong sampah.
Pelakunya?
Gak bakalan ketahuan, jelas si pelempar batu mencari waktu yang tepat saat Bowo beraktifitas di luar kamar. Tujuannya masih berkaitan dengan kemunculan Ani bermanuver hari sebelumnya.
Yang diserang adalah mental Bowo, bila terpancing tentu bakalan membalas. Maunya Bowo dibuat kebingungan dan kemudian membuat tindakan konyol yang menyenangkan hati pihak yang memusuhinya. Mungkin agenda tersembunyi keluarga ini adalah menjatuhkan nama baik Bowo di masyarakat umum karena bertindak kurangajar bahkan mencapai kriminal.
 Maunya masalah lama terus memacu ketegangan jiwanya dan terus terpancing memperebutkan Ani sebagai piala kemenangan kejuaraan. Padahal kemenangan bulat total poin adalah menantunya yang sekarang lenyap, bahkan bila dihitung sudah sangat lama satu dua bulan setelah menikah di bulan Oktober 2015.
Entah kenapa bersembunyi seperti itu, sama sekali tidak memperkenalkan diri kepada tetangga sekitar rumah mertuanya. Sekali lagi isu-isu yang konon kabarnya sangat dibesar-besarkan, kuliah S2 di negaranya Ratu Elizabeth karena reputasinya sudah internasional.
Sesuatu yang lucu bagi Bowo, Ani sendiri kuliah di UGM. Itu sudah termasuk unversitas terkemuka di Indonesia, masuk fakultas Farmasi lagi yang nyata jurusan favorit. Coba pikir bila berprestasi tinggi saja anak ini bisa menggapai beasiswa ke luar negeri. Kan tidak perlu berdarah-darah hamil duluan untuk mendapatkan mahasiswa lain yang dianggapnya bonafid (mungkin). Akhirnya dia sendiri yang kena batunya, tahun 2017 ini bila tak lanjut kuliah berarti Ani sudah drop out.
Tapi berita yang beredar baru-baru ini, Ani selesai kuliahnya di UGM  kemudian melanjutkan S2 bersama suaminya di Bali. Berita itu dari mulut Ibu Jonan kepada tetangga-tetangga kanan kirinya.
Hebat!
Yang sial Bowo, biarpun bukan apa-apa tapi terus diseret dalam masalah keluarga Bapak Jonan. Bila dilanjutkan sampai tingkat apapun statusnya tak lebih dari seorang pecundang.
Di sinilah Bowo bertahan mati-matian agar tindakannya tidak keluar dari jalur. Dirinya terancam terlibat banyak kasus, urusannya SARU, sukses tidak sukses terancam pidana dan pelanggaran etika masyarakat.
Itu sudah terjadi akhir tahun 2016, Bowo mencoba konsultasi dengan Ketua RT dan tetangganya. Kemudian benturan dengan Adi yang ternyata bukan suami perempuan Ani. Itu adalah blunder di pihaknya. Semuanya menyalahkan pihaknya sebagai terlalu mengada-ada, “kere munggah bale!” ujar Kepala Dukuh menuduhnya.
Makanya tahun 2017 ini ia mundur total menghindari segala benturan dengan keluarga Bapak Jonan. Tampaknya cukup efektif, paling tidak untuk kejiwaannya yang tegang sudah menurun. Begitu juga perasaannya pada sosok perempuan Ani, sudah boleh dibilang bukan urusan hati lagi.
Soal cantik yah artis-artis sinetron itu cantik semua, apa Bowo harus jatuh cinta pada figur-figur yang hanya bisa dilihat dalam layar televisi doang?
Kalau perempuan Ani sih sosoknya jelas ada di sekitar tempat tinggalnya, cuma juga tidak pernah tersentuh atau teraba badannya. Kencan pacaran pun tidak pernah, itu yang membuat argumentasinya lemah saat mencoba melaporkan kasus-kasus yang menimpanya pada beberapa sesepuh kampung.
Sekarang Ani sudah muncul memperlihatkan diri di depan Bowo, jelas tak sampai itu saja aksinya. Pasti berlanjut hingga mencapai tujuan tertentu, cuma seperti yang sudah-sudah tak akan agresif.
Hari-hari selanjutnya yang muncul hanya Bapak Jonan, Udin dan Jodi yang terus menerus memantau Bowo di kios stempel. Bentuk-bentuknya selingan kegiatan inti mereka saja, sambil menyelam minum air.
Bowo hanya mewaspadai ketika Ibu Jonan muncul memphoto copy di kios seberang jalan. Itu berarti pihak keluarga tersebut serius menyatakan aksi sebagai masalah untuk diajukan kepada Bowo. Perempuan paruh baya ini menjadikan dirinya sebagai wakil tak resmi agar masalah diantara Bowo dengan pihak keluarganya, biasanya harus diterjemahkan sebagai awal pergerakan.
Tapi ini bukan puncak masalah, tak lama lagi mungkin ada aksi semacam penentuan. Semuanya akan diperlihatkan kepada Bowo sebagai masalah serius. Bowo menyatakan bobotnya tinggi. Soalnya kalau percintaan romantis yang bahkan seperti kisah Romeo dan Juliet itu hanya terjadi diantara sepasang kekasih. Yang dialami Bowo itu sudah bentuk pengeroyokan, seluruh anggota keluarga sudah terlibat.
Hal itulah yang menyimpulkannya pada penilaian, bentuk aksi-aksi sepihak keluarga Bapak Jonan adalah kamuflase, sangat disengaja untuk mempengaruhi kejiwaan dan mentalnya. Dan itu sangat memuaskan jiwa-jiwa yang bersemayam dalam dada mereka.
Bowo cuma mencari rujukannya di google, itu kemungkinan adalah psikopat tanpa bisa memvonisnya. Gejala-gejala anggota keluarga memiliki kecenderungan psikopat tinggi inilah yang sekarang diamati Bowo terus.
Hari jumat.
Nah jam 8 sudah muncul Ani diboncengkan Jodi, tampil sangat menawan. Yang dipakai motor Beat yang merupakan sepeda motor tunggangan Ani semasa SMA dan kuliahnya. Sangat terbaca Bowo diberi sajian memori saat Ani masih lajang. Di balik punggung kakaknya Ani memandang tajam Bowo. Sinar matanya tak pernah bisa menipu, itu aura perhatian terhadapnya.
Juga aksinya memang ditujukan untuk Bowo, ini kelanjutannya. Menyeberang jalan melintas depan kios Bowo paling dekatnya. Ani melirik Bowo, itu sudah jelas. Kalau Bowo ya apa adanya membelakan mata menangkap obyek perempuan seksi dalam balutan gaun resmi biru hitam.
Sudah berlalu, ternyata tidak.
Lima belas menit kemudian dari arah berlawanan Ani mengendarai motor Beatnya sendirian menyeberang jalan depan kios Bowo. Jadilah Bowo mulai bertanya-tanya, “ada apa?”
Ternyata muncul lagi di mulut gang, memboncengkan Ibunya yang juga berdandan resmi, oh mungkin ada acara. Bowonya yang sadar keluarga itu sedang menghadiri acara pernikahan di kampung setempat. Mereka jelas diundang sebagai tamu, di gapura menuju kampung terdapat hiasan janur kuning sederhana.
Berarti pikiran Bowo salah?
Makanya Bowo pasif dari dulu, serba salah dalam bertindak. Ditelitinya terus aksi-aksi anggota keluarga Bapak Jonan. Inti dari masalah tetap berada pada kehadiran perempuan Ani yang beberapa bulan lalu lenyap. Konon mengikuti suaminya di Bali yang kuliah menggapai gelar Magister. Ah ternyata berturut-turut setelah memboncengkan ibunya, kembali lagi menjemput bapaknya. Lengkaplah sudah....
Malam sabtunya tepat tengah malam pukul 00.12 WIB Bowo terbangun dari tidur lelapnya karena gedoran keras dinding kamar kosnya. Lagi-lagi peristiwa tahun 2013 kembali terjadi. Orang yang menggedor dinding kamarnya pasti melakukannya untuk membuat perhitungan adu kekerasan. Pelakunya tetap anggota keluarga Bapak Jonan, dalam hal ini terpusat pada Udin sebagai masalah pribadi.
Melayaninya?....Percuma!
Hal itu akan membuat pelakunya yang diduga Bowo sebagai psikopat makin terangsang mencapai sensasi menyenangkan jiwa sakitnya. Psikopat akan mempermainkan obyek penderita sampai tersiksa. Justru tidak terbersit pikiran untuk menyelessaikan akar masalah. Bukti-bukti ini sudah ditangani Bowo terutama terhadap Udin yang ketahuan berdarah dingin alias sadis.
Maunya pelaku penggedor dinding kamar kosnya adalah mendramatisir situasi. Bila Bowo tegang dan khawatir apa lagi sampai keluar untuk melayaninya....oh tidak, untuk seorang psikopat Bowo tak lebih adalah obyek, korban yang harus menderita hidupnya.
Bowo keluar juga dari kamar tapi tidak mengejar pelakunya. Cukup memperkirakan bagaimana ketukan pada dinding kamar kosnya sampai membuatnya terbangun dari buaian mimpi indahnya. Memang tak mungkin bila itu tetangganya yang iseng belaka, suara gedoran pada dinding kamar jelas memakai batu agar terdengar jelas membuatnya terganggu.
“He He He bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan mereka kalau begini?”
Hari sabtunya yang ada juga peristiwa yang berulang-ulang terjadi. Udin, Jodi dan Bapak Jonan memantaunya dalam waktu berlainan. Coba berkomunikasi melalui HP kan gampang....
Ada sih setiap bulan keluarga tersebut memberinya nomor telepon. Tetapi semuanya sudah dihapus, lagi pula itu juga trik-trik dari keluarga tersebut untuk mempermainkan Bowo agar makin menyenangkan kejiwaan abnormal mereka.
Takdir saja yang bicara lain, Bowo kena giliran masalah. Ada anggota keluarganya sakit sampai harus berobat. Satu-satunya jalan masuk rumah sakit, pemberitahuan melalui telepon ia harus mudik ke Purwokerto untuk ikut merawat anggota keluarganya.
Hari minggu Bowo meluncur ke Purwokerto. Tuhan punya rencana ternyata Bowo harus ikut merawat anggota keluarganya sampai setengah bulan lebih. Pertikaian pun terputus begitu saja.
Itulah yang terjadi.




  




           

Sunday, October 15, 2017

HATAPRADIPIKA



        HATAPRADIPIKA
Penulis berlatih Yoga, Meditasi, dan Pencak Silat. Sampai saat ini masih berlangsung. Untuk menambah pengetahuan sering hanya mendasarkan pada dunia maya dengan mencari di berbagai media sosial. Salah satunya adalah dari Group Facebook Yoga Indonesia.
Penulis mengambil satu manuskrip karangan Pujangga besar pengajaran Yoga yaitu Begawan Patanjali. Namanya HATAPRADIPIKA, maksud penulis adalah seberapa besar kesesuaian antara manuskrip kuno yang berisi ajaran Yoga dengan praktek latihan Yoga yang sehari-hari dilakukan penulis.
1.69 na vesha-dharanam siddheh karanam na cha’at-kathakriyaiva karanam siddheh satyamatanna samsayah
1.70 pithani kumbhakaschitra divyani karanani cha sarvanyapi ha, habhyase raja-yogha-phalavadhi
“asana (postur), aneka kumbhaka, dan dalam artian sarana ilahiah lainnya, semua harus dilakukan dalam praktek Hatha Yoga, hingga (kemudian) buah dari raja yoga-diraih”
Sedangkan pengertian Raja Yoga terdapat dalam manuskrip dari Patanjali Yoga Sutra, Asthanga Yoga.
11.1 tapah svadyay-esvarapranidharani kriya-yogah
11.2 samadhi-bhavana-attah kiesa tani-karana-arthas ca
11.3 avidya-asmita-raga-dvesa-abhirivesah kiesah
“hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapah), mempelajari ajaran-ajaran kebaikan secara mandiri (svdhyay), dan menyerahkan diri, kerja, dan hasil kerja dalam ranah pengabdian kepadanya (esvarapranidharani), ini disebut kriya yoga- hal ini dilakukan untuk melenyapkan kekotoran batin yang menyebabkan penderitaan (karma) dan untuk mencapai kebahagiaan spiritual (samadi)
Kebodohan atau kegelapan batin (avidya), egoisme (asmita), kelekatan atau kecintaan pada ragawi (raga), kebencian (dvesa), dan kecintaan yang sangat pada kehidupan sehingga amat takut mati (abhirivesah) adalah lima kekotoran batin (panca kiesah)”
Penulis mencoba menafsirkannya secara bebas menuruti selera sendiri, jadi jangan menjadikan tulisan ini sebagai pembenaran mutlak. Siapapun boleh menafsirkan karena setiap orang memiliki latar belakang berbeda, kalau untuk penulis mencoba menyesuaikan dengan hasil latihan selama bertahun-tahun yang tidak pernah mencapai kesempurnaan.
Yoga dalam pemahaman penulis berdasarkan praktek latihan adalah Asana Yoga dan Meditasi. Biarpun bercampur dengan latihan Jurus Pencak Silat tapi bidangnya bisa digabungkan tanpa saling meniadakan. Soal metodanya benar atau salah kurang mengetahui, ini akibat latihan didapat secara otodidak dengan petunjuk yang termasuk sembarangan saja mencatut dari berbagai sumber.
Seberapa besar pendekatan Yoga penulis dengan manuskrip kuno Patanjali Yoga Sutera ini?
Masih jauh???? Ya tidak apa-apa!!
Tak mengapa untuk fisik lumayan bisa mencapai kesehatan raga. Lagi pula penulis mendapati latihan asana dan meditasi selama ini lebih banyak untuk hiburan karena dilakukan waktu-waktu senggang.
Juga melatihnya tidak murni asana dan meditasi, bercampur-campur dengan gerak senam aerobik dan bela diri yang semuanya masih tanggung. Tingkat penulis dalam semua jenis latihan hanya sebagai peminat saja. Semuanya diraih penulis hanya untuk mendapatkan semacam identitas diri yang sedikit berbeda dengan orang lain.
Asana-asana yang dikuasai terpotong-potong, tidak ada metoda dalam gerak seperti yang diajarkan lembaga kursus bersertifikat. Lembaga kursus tersebut standarnya sudah sangat aman untuk semua kalangan. Penulis dalam berlatih cuma mencontoh gerak dari gambar-gambar di buku yoga yang banyak beredar di Indonesia.
Tercantum kata aneka kumbhaka- penulis tak tahu artinya, juga tak perlu membahasnya. Jadi biarpun mendekatkan diri dengan Hatapradipika untuk aneka kumbhaka ini penulis tak memahaminya. Apa lagi melatihnya rutin, walaupun mungkin juga tak sengaja telah melakukannya sehari-hari.
Mungkin aneka kumbhaka berhubungan dengan pengaturan nafas yang disebut pranayama. Ini bukan bidang penulis, pengetahuan penulis hanya tahu sedikit dari berbagai artikel yang berhubungan dengan yoga dan kesehatan.
…..dan dalam sarana ilahiah lainnya,…..
Kalimat laanjutan Hatapradipika mungkin mudah ditafsirkan, kata ilahiah menyatakan pendekatan pada Tuhan. Yang dimaksud mungkin adalah ritual ibadah. Soal agama silahkan menyesuaikan dengan yang dianut masing-masing. Seluruh ritual ibadah adalah untuk menghadirkan adanya kekuasaan yang maha mutlak pada setiap umat manusia.
Menurut pendapat penulis kalimat ini bukan menyatakan Hatapradipika lebih tinggi dari ajaran agama tetapi keberadaan manuskrip ini saat agama-agama besar sudah berkembang di seluruh belahan dunia.
Jadi bentuknya hanya sebuah kesimpulan dari fenomena-fenomena yang sudah ada.
Mungkin yang paling mendekati latihan dari penulis untuk kalimat di atas adalah Meditasi. Penulis cukup rutin melakukan meditasi, lebih ke olah pikiran dari pada mendekatkan diri pada mistik agama.
Duduk bersila (Padmasana), bernafas teratur sekedarnya, melakukan visualisasi Grounding (Terhubung ke langit dan bumi), membersihkan cakra, afirmasi (Mantera) dan latihan getaran suara.
Padmasananya bagian dari Asana Yoga, bernafas teratur mungkin masuk Pranayama dan kemudian visualisasi anggap saja itu semacam mistik. Sedangkan Mantera/Afirmasi merupakan bagian bahasa lisan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu contohnya adalah doa, dzikir, mantera berbagai upacara ritual agama atau sekedar memanfaatkannya untuk sarana mengundang roh nenek moyang/klenik.
Kalau untuk penulis saat bermeditasi semuanya bercampur-campur atau sekaligus.
Penulis berpendapat meditasi adalah kelanjutan latihan asana untuk mencapai puncak intelektual dan spiritual. Bukti-bukti tentang kemampuan intelektual dan spiritual bisa dilihat dari monumen kuno yang bertebaran di seluruh Indonesia. Diantaranya adalah semegah-megahnya candi Borobudur, candi Prambanan dll semuanya adalah pengejawantahan atau bisa ditafsirkan sebagai pencapaian laku meditasi.
Stupa, Lingga, Yoni, Meru dll merupakan lambang-lambang pencapaian kesempurnaan. Jalannya adalah laku meditasi yang terprogram, Tentu sebenarnya sangat menarik bila dikaji dari sejarah, kemungkinan besar saat didirikannya berbagai monumen kebesaran Hindu Budha sudah ada sistem pendidikan dengan metoda praktek meditasi. Mungkin bila sistem pendidikannya diterapkan jaman sekarang setara dengan universitas.
Ahli-ahli meditasi mungkin saat itu bertebaran, sekarang metodanya banyak yang lenyap karena terkubur di tanah akibat bencana alam maha dahsyat. Tinggallah yang tersisa berupa monumen bangunan candi yang penuh dengan keheningan para penciptanya.
Soal meditasi penulis sekedar meluangkan waktu melatihnya, bukan inti dari kehidupan sehari-hari, lebih tepatnya adalah sarana hiburan. Lumayanlah keseharian penulis menjadi bervariasi karenanya.
Itulah yang bisa penulis paparkan soal meditasi.
…..semua harus dilakukan dalam praktek Hatha Yoga…..
Menafsirkan kalimat dari naskah kuno memang bisa berubah-ubah, semakin ahli seseorang dalam penguasaan kajian sejarah makin tahu makna yang tersembunyi di kalimat tersebut di atas. Mungkin banyak pujangga yang bisa membuat tafsir yang lebih baik berdasarkan versinya.
Terbaca seolah-olah Hatha Yoga adalah yang terbaik, padahal itu hanya penggambaran dari hasil latihan. Bagi penulis cukuplah mencakup apa-apa yang dipraktekan sehari-hari. Jadi penulis berlatih asana, aneka kumbhaka, meditasi, dan berbagai ritual ibadah menurut ajaran agama berjalan terus, menjadi kebiasaan atau kemampuan.
Hatha Yoga di sini adalah kemampuan, kekuatan, di artikel lain adalah Matahari dan Bulan (Persatuan), silahkan membuat penafsiran sendiri.
Kebiasaan tentu akan mencapai kemampuan, penguasaan, dan pengalaman. Cakupannya sederhana saja untuk penulis, yaitu dari hasil latihan asana yoga selama ini.
Sudahkah penulis mencapainya?
Oh tak perlu sesempurna naskah Hatapradipika ini. Satu dua kemampuan mencukupilah, penulis menyatakan tak mampu menguasai semua bidang yang sangat idealis tersebut. Tapi kalau ikhtiar atau usaha boleh dong…..
Soal kekurangan di sana-sini itu manusiawi sekali.
…..hingga (kemudian) buah dari Raja Yoga-diraih….
Mudah menggambarkan seorang raja. Seorang yang duduk di kursi singgasana yang dipenuhi kekayaan dan kekuasaan serta kehormatan. Paling mudah menggambarkan raja adalah pasti secara materi sangat berlimpah. Sangat banyak contohnya, rata-rata orang yang sukses dalam bisnis pun disebut raja.
Penulis tentu saja tak menyebut diri mencapai Raja Yoga. Berlatih asana, aneka kumbhaka, meditasi, dan ritual ibadah cukup sebagai tabungan masa depan. Karena melatihnya mulai umur likuran maka saat mencapai umur setengah abad ini tahu saja hasil tabungannya sudah seberapa…..lumayan ternyata.
Kesehatan masih memadai, bisa menjadi modal kegiatan lain tanpa banyak hambatan, Alhamdulillah.
Raja Yoga itu bagaimana sih?
Keterangannya dijelaskan pada Yoga Sutra karangan Begawan Patanjali, Hasthanga Yoga.
……hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (Tapah), mempelajari ajaran-ajaran kebaikan secara mandiri (svdhayay), dan menyerahkan diri, kerja, dan hasil kerja dalam ranah penyerahan kepadanya (esvarapranidhanani), ini disebut kriya yoga…..
Perhatikan kata yoga, bisa tersirat di bagian mana saja. Dari awal ada asana yoga, raja yoga, hasthanga yoga, sekarang kriya yoga. Bila membaca naskah Bhagavad Gita maka dari bab 1 sampai berakhir semua judulnya selalu berakhir kata yoga.
Bagi penulis sekarang yoga adalah prosesnya, bukan tujuan akhir. Jalannya macam-macam, sekarangpun jalannya melalui kriya yoga seperti yang tertulis di atas.
Kriya Yoga ada tapah, penulis tahunya itu Tapa dalam budaya Jawa. Hidup mengasingkan diri mencapai tataran spiritual. Budaya Jawa sarat dengan laku tapa ini, boleh dikata setiap tempat yang berkaitan dengan leluhur orang Jawa bisa menjadi wisata spiritual ala Jawa.
Tapi dari naskah Hatha Yoga ini penulis melihat hidup sederhana dan disiplin sudah bisa disebut tapah. Cukuplah itu menjadi rujukan dari berbagai fenomena tapa yang ada di Jawa.
Kemudian swdhayay, mudah saja membahasakannya dalam bahasa Indonesia, swadaya. Kalimat ini adalah program-program kemandirian dalam berbagai bidang untuk mencapai kesejahteraan. Dalam hal ini lebih ke urusasn kejiwaan mencapai kebaikan di masyarakat.
…..dan menyerahkan diri, kerja dan hasil kerja dalam ranah pengabdian kepadanya….
Bayangkan tentu sempurna sekali seseorang yang bisa mencapainya. Idealisme seperti ini yang belum bisa dilakukan penulis. Bilapun mencapainya dengan tertatih-tatih sudah harus bersyukur.
Bila ketiganya bisa dilaksanakan bersama disebut Kriya Yoga.
Bila membaca naskah-naskah kuno memang banyak berkaitan dengan spiritual, tingkatan penulis dalam menapakinya baru sekedar coba-coba. Tak ada peningkatan berarti, hidup biasa-biasa saja, artinya masih jauh dari pencapaian yang disebut oleh pengarangnya Begawan Patanjali.
Kelanjutan Hasthanga Yoga,
….hal ini dilakukan untuk melenyapkan kekotoran batin yang menyebabkan penderitaan (karma) dan untuk mencapai kebahagiaan spiritual (samadi)…
Inilah kondisi seseorang yang mencapai hatapradipika. Lepas dari penderitaan di dunia dan mendapatkan nikmat yang digambarkan situasi samadi (keheningan yang dalam). Tapi terserah pembacca saja menafsirkannya berdasarkan latar belakang dan pengetahuannya.
Bagi penulis naskah ini lebih baik mendekatkan diri pada budaya Jawa yang bisa sangat fleksibel karena pernah mendapatkan pengaruh budaya Hindhu Budha. Jadi jangan kaget dalam keseharian orang jawa istilah karma dan samadi sudah melekat banyak sekali dalam adat. Kisah-kisah dunia pewayangan didominasi laku budaya ini, dan bisa diterima semua kalangan.
Gara-gara penulis berlatih asana dan meditasi maka begitu ada naskah hatapradipika dicoba sebagai pembanding. Bayangkan sudah rutin melatihnya tapi tidak tahu apa-apa yang ditujunya, mau tersesat ke mana ya?
Toh setelah membaca dan sedikit mempelajarinya penulis yakin bukan seorang Pakar Yoga, mungkin cukup sebagai penikmat karena dalam melatihnya mendapat sedikit manfaat……
Penulis mengakhiri tulisan dengan tambahan tentang apa yang disebut kekotoran batin menurut Asthanga Yoga yang disebut Panca Klesah,
Kebodohan atau kegelapan batin (avidya), egoisme (asmita), kelekatan atau kecintaan pada ragawi (raga), kebencian (dvesa), dan kecintaan yang sangat pada kehidupan sehingga amat takut mati (abhinivesah).
Namaste.




Jathilan 2017



JATHILAN
Selama setengah abad Penulis hidup belum pernah menonton apa itu seni Jathilan (Ebeg, Bms). Karena itulah saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta tahun 2017 akhirnya tergerak juga untuk menonton seni tradisi yang merakyat ini.
Jujur Penulis menyatakan dari dulu tidak menonton seni ini karena ada efek negatif, menjurus klenik!
Komunitas-komunitas Jawa di perantauan seperti Kalimantan ternyata banyak menjadikan seni jathilan sebagai identitas. Jathilan di tanah rantau lebih sering disebut seni Kuda Lumping.
Biarpun dikenal sebagai seni tradisi Jawa tetapi kuda lumping juga digemari orang-orang dari suku lain terutama warga asli daerah tersebut. Mereka mengagumi karena pertunjukan tersebut memiliki atraksi-atraksi di luar kebiasaan masyarakat.
Seni ini berkembang di tengah masyarakat sama seperti tayub dan reog Ponorogo. Jadi keberadaannya berada di luar istana. Karenanya seni tari ini bersifat egaliter, milik semua kalangan, dan boleh melibatkan semua warga tanpa pandang bulu. Tapi biasanya seni ini berkembang di tengah masyarakat agraris (Kultur Tani).
Seni pertunjukan ini menggambarkan peperangan, ketrampilan para ksatria berperang di atas kuda tunggangan memerangi musuh yang digambarkan menimbulkan huru-hara berupa buta (raksasa) biasanya berkostum topeng barongan.
Penulis pernah membaca artikel tentang sni kuda lumping ini, konon menggambarkan perang di padang Karbala. Ini adalah perangnya cucu nabi Muhammad SAW yaitu Husen RA yang dibantai kaum Muawiyah. Artikel ini mencatat keterangan bahwa asal-usul seni ini mendapat pengaruh kuat aliran Islam Syiah yang pernah berkembang di jaman awal-awal Islam di Nusantara.
Tapi dalam perkembanganya sama sekali tidak berunsur keagamaan. Pengaruh kepercayaan lokal berupa animisme dan dinamisme sangat kental, mungkin akhirnya tumpang tindih menjadi kolaborasi yang unik.
Bahkan kemudian ada tambahan pertunjukan berunsur samanisme (Perdukunan) yang mempraktekan keadaan kesurupan (Intrance) sebagai klimaks acara tarian ini. Di bagian pertunjukan yang mempraktekan para penari kerasukan inilah yang menjadikan jathilan begitu sangat menarik ditonton. Tingkah polah penari yang kerasukan tak mungkin dilakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya oleh seseorang. Kerasukan ini dilakukan oleh dukun-dukun yang menjadi pengontrol para penari agar tetap dalam kendalinya.
Saat Penulis menonton tari ini coba menuliskannya dalam beberapa sesi mulai dari awal hingga berakhir.
Sesi pertama adalah persiapan pasukan berkuda hendak maju perang. Delapan penari memperagakan gerak tari dengan kuda kepang dan cambuk yang siap diperagakan sebagai ketrampilan menunggang kuda. Sesi ini menampilkan gerak simbolis ksatria maju berperang menegakan kebaikan dari keangkara murkaan sang musuh.
Bila melihat gerakan tarinya yang berdurasi sekitar sepuluh menit, itu sudah menguras stamina penari. Sesi ini berakhir dalam bentuk barisan berkuda duduk bersiaga sejajar kanan kiri membiarkan lapangan tengah kosong. Penari diberi minum karena memang kehausan, dan juga melepaskan beberapa kostum yang akan mengganggu nantinya bila sampai di acara puncak.
Sesi kedua adalah munculnya empat penari bertopeng barongan yang menggambarkan buta (pasukan raksasa) yang harus diperangi oleh ksatria berkuda. Kostumnya menggambarkan kegemparan, kegelapan dan mengobarkan kerusakan di seluruh arena perang.
Pasukan barongan sebagai buta (Raksasa) menantang perang dengan berbagai manuver di depan pasukan berkuda yang siap memeranginya. Mulai ada atraksi dengan dipantau oleh seorang pawang dengan melakukan sebaran bunga sesaji dan membakar batangan dupa lidi.
Reaksi dari uba rampe yang dilakukan pawang membuat para raksasa bertingkah ganas dan buas walaupun masih terkendali dalam formasi barisan dan gerak tari. Para raksasa menanti perlawanan dari pasukan berkuda yang berada dalam sikap duduk angkuh.
Masuk sesi ketiga,
Pasukan berkuda memperagakan ketrampilannya memerangi pasukan raksasa dengan formasi dua penari maju bertempur, menyerang dan memainkan cambuk sebagai pengusir para buta yang menyebarkan keangkara murkaan.
Dari pinggir lapangan dalam formasi sejajar dua penari masuk ke tengah lapangan mengitari sudut-sudut lapangan, maju, mencambuk, berputar di tengah saling mengisi bagian kanan dan kiri posisi kuda masing-masing dan berakhir kembali ke posisi semula di barisan pinggir lapangan. Adegan ini sampai empat kali karena ada delapan penari yang memperagakannya.
Sesi keempat,
Para raksasa memperagakan tarian yang menggambarkan keganasan membuat keonaran di arena medan perang, mengamuk karena diperangi oleh para kesatria, sedangkan pasukan berkuda makin kompak berkumpul menghimpun kekuatan di tengah arena agar bisa terus memerangi amukan para buta yang tak terkendali.
Gendhing dibunyikan monoton namun sangat menghentak. Di sinilah sebenarnya para pawang bergerak di dua sisi yaitu di pihak pasukan buta dan pasukan berkuda. Mempraktekan ritual memasukan makhluk-makhluk alam lain pada para penari.
Gnedhingpun ditabuh bertalu-talu, tahu-tahu kedua pasukan yang saling berhadapan bergerak liar tak terkendali. Arena perang berubah memilukan, pasukan berkuda bergerak liar sebagian menabrak pagar pembatas penonton, kemudian terjungkal tak berdaya.
Arena tari jadi kcau balau dengan tingkah polah penari-penari baik itu para buta maupun ksatria yang kerasukan. Inilah klimaks acara…….
Sinden pun menyanyikan lagu yang memilukan diiringi gendhing yang menyayat hati. Keadaan tersebut menggambarkan peperangan yang tadinya penuh gelora semangat kepahlawanan menjadi medan yang menyedihkan. Tapi bagi penonton justru sangat menarik karena mendapatkan tontonan polah tingkah penari-penari yang dalam keadaan intrance (Kerasukan).
Ada penari yang bertingkah seperti celeng (Babi hutan), anjing, ataupun monyet (kera). Beberapa penari seolah masih kurang manjing jadi akhirnya makan bunga mawar sesaji dan dupa lidi yang masih terbakar.
Dalam adegan di group lain konon lebih mengerikan lagi, ada yang sampai makan pecahan beling torong lampu minyak, sabut kelapa, ayam mentah atau gabah padi mentah dll.
Atraksi inilah yang menjadi ciri khas perbedaannya dengan seni tari rakyat lain. Bagi penulis sendiri,
“Kasihan penarinya, jelas sangat tersiksa seluruh badannya.”
Tak semua penari mencapai kerasukan, tapi terkadang membuat adegan histeris membuat penonton ketakutan. Misalnya muncul tiba-tiba dari dalam kolong bawah panggung, berlari naik panggung dan menabrak beberapa peralatan musik gamelan.
Pokoknya makin kacau balau arena tari makin menarik bagi penonton.
Gambaran kekacauan arena perang dalam tari ini yang membuat stereotipenya mirip dengan peperangan antara cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Husein Ra saat berperang melawan bani Muawiyah.
Bagi kaum syiah itu adalah peperangan yang tak adil, bagi mereka Imam Husein terbunuh sebagai martir suci, sedangkan bagi pihak Muawiyah kemenangan itu dirayakan besar-besaran. Itulah mengapa kaum syiah kemudian memperingatinya sebagai perayaan hari suci mereka, biasanya saat merayakan perkabungan itu kaum syiah melukai dirinya sampai berdarah misalnya di keningnya sebagai ungkapan belasungkawa. Hari suci ini disebut hari Asyura setiap tanggal 10 Muharam.
Ada satu penari yang biarpun kerasukan tetapi terkendali pergerakannya. Ia tetap bisa menari dengan ritme alunan gendhing dengan baik. Penari ini berputar di arena sampai akhirnya duduk bersila diam di sudut paling belakang arena tari, soal kerasukannya itu terlihat dari matanya yang membelak tetapi tak terlihat lagi bola mata hitamnya.
Di sinilah tugas Pawang (Dukun) menyembuhkan masing-masing penari sebagai akhir acara tarian. Satu persatu para penari yang kerasukan disadarkan dengan metode yang mereka kuasai. Mereka yang membuat mereka pula yang harus mengobatinya.
Bila satu penari berhasil disadarkan langsung lemas tak berdaya, bahkan beberapa diantaranya sampai harus digotong keluar dari arena lapangan. Memang setahu penulis seorang yang baru tersadar dari kesurupan harus beristirahat total sampai bugar kembali fisiknya.
Asyiknya bagi penonton memang di bagian-bagian ini. Tingkah polah orang yang kesurupan berbeda-beda, ada yang mudah diobati tetapi ada yang membandel. Misalnya disuruh mendekatpun tidak mau, malah melompat-lompat menjauhi sang Pawang. Maka banyak adegan yang membuat penonton tertawa-tawa geli menyaksikan tingkah orang yang dalam keadaan tak sadarkan diri itu.
Pawang (Dukun) atau samanisme merupakan bagian dari animisme dan dinamisme. Jangan salah kebudayaan manusia purba di semua wilayah dunia pernah mencapai masa ini. Jadi ini bukan kepercayaan asing bagi semua bangsa di dunia. Pawang atau Dukun adalah orang-orang yang menguasai pengobatan berbagai penyakit, terutama untuk kasus-kasus kesurupan, penjinak binatang liar, penjinak hujan, kelahiran bayi (Paraji), atau ramalan masa depan seseorang.
Biasanya Pawang (Dukun) ini dalam praktek kemampuannya selalu mengadakan upacara ritual mengundang roh nenek moyang. Roh-roh ini bersemayam di gunung, hutan, batu besar, pohon besar, sampai sungai atau tempat-tempat yang dianggap wingit oleh masyarakat biasa. Pawang bisa berkomunikasi dengan roh-roh tersebut, inilah yang dianggap kelebihan mereka. Untuk mengundang roh-roh tersebut berupa upacara sederhana dengan sesaji, aroma dupa dan membaca mantera. Ritual-ritual Pawang ini penuh dengan pamali (pantangan) dan takhayul.
Keberadaannya sangat menyesuaikan dengan lingkungan, jadi seperti di Jawa maka ritualnya banyak mengundang roh dengan berbagai nama lokal seperti demit, prewangan dll. Setahu penulis saat di Kalimantan ada Dukun yang mengundang warik (Beruk) dalam upacara penyembuhannya. Jadi riwayat samanisme ini sudah sangat tua, jauh lebih tua dari usia seni jathilan.
Bagi Penulis pribadi berpendapat,
“Intrance atau kesurupan seperti seni jathilan tidaklah masuk sebagai tingkatan spiritual.”
Intrance hanya mencapai ekspresi seni, merupakan pengaruh lingkungan karena lebih mirip undangan pesta dari makhluk tak kasat mata yang ada di sekitar alam bumi ini.
Intrance atau kesurupan disebabkan pengaruh lingkungan. Unsur-unsurnya diambil dari berbagai media yang ada di alam. Jadi tidak heran saat kesurupan seseorang ada yang bisa bicara dengan berbagai bahasa sekitar, ada juga yang bertingkah seperti monyet, celeng, anjing dll. Unsur-unsur tersebut ada di lingkungan komunitas manusia dan bisa mempengaruhi seseorang yang biasanya berbakat kesurupan.
Unsur-unsur di alam sekitar yang disebut roh dalam kepercayaan animisme dan dinamisme inilah yang dimanipulasi oleh para dukun untuk berbagai kepentingannya. Ada yang lari ke penyembuhan, ramalan nasib, penjinak binatang liar, penjinak hujan. Dan yang disaksikan penulis sekarang adalah dimasukan dalam sesi seni tari jathilan.
Kalau melihat sekilas saat menyadarkan para penari yang kesurupan, unsur-unsur dari alam sekitar yang disebut roh-roh tersebut hanya menempel, tak sampai merasuki jiwa penari. Bila sampai merasuk badan efeknya tentu mengerikan sekali, lebih merusak dari obat narkoba atau alkohol yang dikonsumsi manusia. Buktinya saat Pawang menyadarkan penari yang kesurupan selalu berusaha menarik dan membuang keluar seolah-olah ada makhluk yang telah menempel di badan sang penari agar lepas dari ikatan. Makhluk-makhluk yang menempel itu bisa berupa jenis binatang atau manusia.
Untuk budaya animisme dan dinamisme itu sudah merupakan tinggalan nenek moyang kita. Bisa dilihat dari instrumen musik yang ada  berupa gamelan. Bahannya yang berasal dari perunggu (campuran seng dan tembaga) sudah menunjukan keberadaan sebuah kebudayaan purba yaitu jaman logam perunggu.
Alat musik dari perunggu menyebar di seluruh Nusantara. Nadanya non diatonik, jadi biarpun getaran nadanya berbeda dan janggal tetap teratur karena ada perhitungannya. Jangan heran bila peralatan musik gamelan ini bisa melagukan lagu daerah hingga sampai lagu pop dan lagu barat. Saat penulis menonton seni jathilan alat musiknya sudah ditambah drum dan keyboard. Jadi kedua alat musik berbeda aliran ini bisa saja berpadu padan.
Kalau seni tari jathilan, he he he ini cuma imaginasi penulis saja. Coba lihat kudanya, kuda palsu ini kok bisa ada padahal hewan tersebut bukan asli Indonesia?
Di sinilah kemungkinan tari ini diperagakan memang oleh kelompok-kelompok agama Islam Syiah. Mungkin itu untuk peringatan gugurnya Imam Husein di padang Karbala. Namun karena penganutnya sedikit dalam kelompok-kelompok kecil maka perkembangan aliran ini tidak dominan di Nusantara.
Apa lagi kemudian pengaruh agama Islam Syiah memudar, maka tari perang ini akhirnya kemasukan berbagai unsur lokal. Tak heran akhirnya dikomandani oleh pawang-pawang  (Dukun) hingga sekarang ini. Maka keberadaannya mudah diterima masyarakat Nusantara yang sejak jaman dahulu masih memegang tegeuh tradisi animisme dan dinamisme.
Kalau ini tak perlu diperdebatkan, itu cuma ulasana pribadi penulis saja.